Tuntutan zaman sekarang membuat sebagian besar ibu harus bekerja dan meninggalkan anak mereka dirawat orang lain. Buat sebagian orang situasi ini sungguh tidak terelakkan. Oleh karena itu jika para ibu ini disuguhi dampak negatif dari anak yang tidak diasuh langsung oleh ibunya tentu akan menambah perasaan bersalah, cemas bahkan depresi.
Sebagai ibu, kita bisa memilih untuk tidak bekerja dengan resiko kebutuhan keluarga tidak akan terpenuhi dengan baik termasuk kebutuhan fisik dan emosi dari anak-anak tercinta. Kita juga bisa memilih untuk tetap bekerja dengan resiko kehilangan kesempatan untuk merawat anak –anak kita. Daripada menebarkan sikap menghakimi mari memilih untuk mencari solusi dari dilema ini.
Yang perlu diketahui oleh para ibu bahwa bonding atau ikatan batin antara ibu dan anak terbentuk pada satu tahun pertama kehidupan, bahkan dari dalam kandungan ibu. Momen setelah seorang bayi dilahirkan sangat penting karena saat inilah sang bayi mulai belajar membangun rasa percaya kepada dunia yang baru dikenalnya. Jika kebutuhan emosinya seperti cinta kasih dan perhatian terpenuhi, itu akan memberinya rasa aman dan berharga. Demikian juga dengan kebutuhan fisik seperti rasa lapar dan haus yang cepat ditanggapi membuat sang bayi kecil ini belajar percaya pada pengasuhnya.
Walaupun kebutuhan emosi kita perlu untuk dipenuhi dalam segala tahap perkembangan, tapi pada saat bayilah fondasi itu dibangun. Pentingnya seorang bayi untuk memiliki satu figur yang secara konsisten memenuhi dan menanggapi kebutuhannya memberikannya kepastian bahwa kehadirannya di dunia memang didambakan. Sebaliknya hilangnya figur yang memberikan semua kebutuhan itu akan membuat bayi itu percaya bahwa ia tidak layak untuk dikasihi. Dengan fondasi yang kuat, anak akan bertumbuh dengan rasa aman dan percaya pada dunia disekitarnya.
Setelah dewasa, anak-anak yang tidak memiliki fondasi emosi yang kuat akan menjadi orang-orang yang tidak percaya diri, takut pada keintiman dan merasa tidak berharga. Mereka juga akan kesulitan untuk memberi dan menerima kasih sayang. Pada kasus yang lebih berat bayi akan bertumbuh menjadi anak dengan karakter bermasalah bahkan anti sosial. Anak yang sejak kecil ditelantarkan atau mengalami kekerasan fisik dan mental akan mengalami kerusakan jiwa nantinya. Karena rasa percaya pada pengasuh adalah emosi paling dasar yang dibangun seorang manusia, maka jika dasar itu tidak terbentuk dengan sempurna atau rusak, maka emosi apapun yang dibangun di atasnya akan mudah hancur.
Di bawah ini adalah tips sederhana untuk meninggalkan anak dijaga orang lain.
1. Percayakan Anak Pada Orang yang Bisa Dipercaya
Dalam keadaan ibu yang sibuk bekerja dan tidak dapat menghidarinya, penting untuk menyerahkan pengasuhan bayinya kepada orang yang bisa dipercaya. Biasanya ibu atau ibu mertua senang jika harus membantu menjaga cucu. Dalam keadaan lain, seorang figur yang memiliki naluri keibuan untuk mengasihi anak juga bisa membantu. Seorang teman saya memercayakan anaknya kepada bekas pengasuhnya waktu kecil yang telah mengikuti keluarganya selama puluhan tahun. Tentu ini akan memberikan rasa tenang untuk sang ibu dan untuk bayinya.
2. Biarkan Anak Memiliki Figur Pengasuh yang Kuat
Meninggalkan anak dijaga oleh nanny atau babysitter yang kurang pengalaman dan tidak diketahui karakternya sama saja menempatkan bayi kita di kandang singa. Secara fisik singa itu tidak memakan anak kita, tapi secara emosional ia akan mencabik-cabiknya. Tentu saja tidak ada seorang ibu yang dengan sadar mau menyerahkan anaknya dicabik-cabik singa manapun juga.
Yang lebih buruk lagi adalah situasi dimana anak kita diasuh oleh nanny yang keluar masuk. Ini sungguh berbahaya. Karena pengasuh yang selalu berganti, anak tidak dapat membentuk bonding dengan figur tertentu. Untuk itu, selain orang yang dapat dipercaya penting juga untuk tidak mengganti pengasuh, paling tidak pada tahun pertama.
3. Investasikan Kasih Lewat Waktu yang Berkualitas
Para ibu karir juga perlu untuk membayar harga dengan mengorbankan waktu santai mereka untuk mengasuh anak dan membangun bonding dengannya. Memang berat rasanya ketika tubuh penat karena seharian bekerja di rumah masih harus menjaga bayi, namun ini adalah konsekuensi yang harus dijalankan. Jika kita tahu bahwa waktu yang kita berikan adalah investasi berharga untuk kesehatan emosional dan fisik anak kita, tentu kita tidak akan menyia-nyiakan setiap momen.
4. Berikan Kasih, Jangan Merebutnya Dengan Paksa.
Para ibu juga harus merelakan jika diacuhkan oleh buah hati karena ia lebih dekat ke nenek atau pengasuhnya. Jangan merebut kasih anak secara paksa. Anak tidak membutuhkan banyak figur ibu. Malahan pada ekstrimnya, ia hanya memerlukan satu figur untuk membangun bonding. Jika anak bersikap acuh dan tidak butuh, tentu kita harus bersabar. Mungkin setelah anak sedikit lebih besar dan mulai mengerti, ia bisa lebih dekat dengan ibunya. Ingat, kebutuhan emosional anak lebih penting daripada kebutuhan emosional ibu. Mengatasi ibu yang merasa tertolak lebih mudah dari mengatasi anak yang tertolak. Bagi bayi satu tahun, apa pun yang dirasakan itu berarti seluruh dunianya.
ABOUT LIFE
No one can answer the question about ‘the meaning of life’. The meaning of life is not a query, it’s an experience. When your life is meaningful then there’ll be no such question.
We can make our lives meaningful by make them tastier each day. Do the longing of our heart, achieve our special calling and utilize our given potentials.
We can make our lives meaningful by enjoying the nature and surrender to the greater essence. Realizing, the control we have just as big as our brain and the power we have just as big as our heart.
ABOUT LOVE
All started with love and hopefully will end alike. Live your life with love, gain and spread it. Give away more than what you got than you’ll see a miracle: love will never cease. There’ll be no such shortage of love by give it away. When you give, it’ll come back to you more.
Put it into action. Spread its fragrance with a smile. Mix it with your kitchen recipe. Sprinkle it to your future plans. And pour it to those who happen to be around you.
Love is the answer of human psychological need, cure to our physical heat, and food of our spiritual craving. Keep it to yourself and you dry it up. Love just for yourself and you vaporize it.
ABOUT THE CHILDREN
They remind us of our past.
Once we were that innocence, naïve and selfish. Once we were that out of control. Once we embraced the world for our very selves. Once we thought all things are good by their nature.
Then we grow up.
We learned how to keep those feelings inside. Instead of deal with them, we try to hide our childlike characters from outside. Try to cover them with tough face and thick muscle. Thinking we’re strong enough as we should be.
But the child inside never outgrows our age. It doesn’t develop along with our physics. It doesn’t get educate as we are in schools.
The child inside doesn’t grow naturally. It only grows by choices. We make choices to let it grow. We make choices to let it educate. We make choices to let it mature.
The children remind me about my inner feelings, the need of love and acceptance. They also remind me about the future, how my life will end by choices I make today.
The children wake up my inner child to the responsibility of growing up.
ABOUT THE PEOPLE
They come to this world as a result of love of two individuals and great plan of one creator. Love can’t be taken away from their lives.
The world may break up what planned to be the masterpieces, but when the creator gives a retouch, all scars disappear.
@J’Co
“Don’t lose your ideas, quickly write them down”
Saya tidak mengenal Bang Mula, jika kenalan berarti hubungan tradisional seperti tetangga, keluarga jauh, bekas teman sekolah, temannya teman, dst . Namun entah kenapa, beberapa hari sejak kepergiannya, senyum dan sapaannya selalu terbayang. Meski hanya hanya melalui dunia maya ternyata Bang Mula telah menjadi sahabat saya. Saya tahu banyak tentang dirinya (paling tidak sebanyak yang ingin dibagikannnya melalui blog dan FB). Mengenal istri, anak-anak, cucu-cucu, pekerjaan dan imannya, sekali lagi dari sisi yang beliau ingin dikenal lewat tulisan-tulisannya.
Saya pernah meminta kesediaan bang Mula untuk memberi endorsement bagi buku pertama saya. Untuk beberapa saat email saya tidak balas. Pikir saya, mungkin beliau sibuk dan email saya sudah bergabung dengan puluhan spam lainnya. Jadi saya email lagi kedua kalinya. Tidak beberapa lama kemudian saya mendapat balasan, “Maaf, maaf, saya terluput membaca message yang sebelumnya. Tentu saja saya mau memberikan endorsement. Kirimlah naskahnya kepada saya. Sekali lagi, saya minta maaf atas keteledoran ini”
“Aduh, amang jangalah itu dibilang keteledoran. Aku juga maklum orang seperti amang ini inboxnya pasti penuh yang kandang-kadang isinya memang perlu abaikan saja” balas saya.
Ah, mengapa beliau yang dituakan dan terkenal seperti itu perlu meminta-minta maaf kepada saya seorang muda yang baru mau belajar menulis? Tentu saja saya merasa malu dan tidak tahu diri. Masih adakah orang yang demikian rendah hati dan peduli dengan orang yang ali-ali dikenalnya?
Meskipun itu tidak pernah terjadi karena karena akhirnya buku saya bisa terbit dan menurut editor saya tidak perlu endorsement tapi saya sangat berterima kasih dengan sikap dan sambutan beliau.
Tentu saya, seperti banyak sahabat Mula Harahap merasa kepergiannya terlalu cepat. Masih banyak obrolan yang tertunda, acara yang harus dihadiri, masalah negara yang perlu campuri, janji yang belum ditepati, rencana yang belum dipenuhi dan cerita tentang Gisella dan Karissa yang belum ketahui.
Masih banyak yang menantikan status Bang Mula dan celotehannya tentang berita hari ini. Kadang lucu, kadang kontroversial, sering kali provokatif, mengundang komen dari yang netral sampai yang nyeleneh. Statusnya mengenai negara dan gereja kadang bikin panas telinga orang-orang yang membacanya namun dalam hati kecil mereka beguman “Benar juga ya” ; “Kok ndak pernah terpikir awak?”; “Ah, itu juga yang selalu kupikirkan tapi mana berani aku utarakan”.
Bang Mula sangat menikmati hidupnya. Menjaga cucu-cucunya yang menjadi sumber cerita dan status lucu, serta memprovokasi orang dengan tulisan yang segar, cerdas, dan tegas. Ia telah menjadi inspirasi dalam arti banyak orang bercermin dari kehidupan Bang Mula. Kehidupan yang sering ditabukan, misalnya mengenai ceritanya waktu menonton video Ariel dan Luna Maya. Kehidupan yang dikamuflasekan lewat status yang memuat liburan ke luar negeri, nunggu peasawat di airport, makan di restoran Jepang, belanja di Singapura, yang semuanya untuk menutupi kekosongan hati dan keputuasaan melihat keporakporandaan neraga kita.
Buat Bang Mula tidak ada yang tersembunyi. Pikiran, perasaan dan keresahannya diungkapkan dengan terang-terangan. Saya percaya dalam hatinya yang bijaksana itu Ia tahu “Ente juga kan punya perasaan yang sama”. Ia tahu apa yang dirasakan dan dipikirkan orang tapi tidak pernah berani mengungkapkannya. Ia mengajari kita yang muda-muda untuk berani berbicara, lupakan dulu norma, sikirkan aturan yang baku, kemudian berkata, “Jangan banyak cingcong, ini pendapatku!”
Dari keberanian dan kebebasan bang Mula mengungkapkan dirinya, kita bisa mengenal sosok yang penuh kasih. Kasih terhadap Tuhan, Negara dan Keluarga. Kasih yang diungkapkan tanpa basa-basi. Terguran tanpa pandang bulu. Seperti ada tertulis “Ia menegur orang yang dikasihinya”
Melihat akhir hidup Bang Mula, dan ucapan belasungkawa di FB-nya membuat saya berpikir, “Beginilah idealnya akhir hidup seseorang”. Banyak yang merasa kehilangan dan belum puas. Disinilah letaknya keabadian bagi Mula Harahap. Ia akan selalu dikenang sebagai seorang yang kreatif, peduli, cerdas, inspiratif, kocak, ramah, rendah hati…dst. Orang hanya memiliki kenangan manis tentang dirinya. Sungguh kontras dengan koruptor yang hidup bergelimang harta dan menuai cacian dan kebencian pada hari matinya. Dari kesederhanaan hidup Mula Harahap, iman dan kepercayaannya, sungguh tidak ada harta yang lebih berharga untuk dimiliki.
?
Sudah beberapa hari ini Matthew tidak bisa dipisahkan dari mobil kuning kecilnya. Tidak ada yang special dengan mobil ini kecuali di bagian depan tubuhnya ditutupi belasan plester obat. Menurut Matthew, mobilnya sakit. Sambil mengelus-ngelus mobil yang bergambar Pororo (character cartoon anak-anak Korea) ia berkata “Pororo appoo” (Pororo sakit), sesekali ia mencium dan meniup lembut. Persis seperti yang kami sering lakukan jika Matthew terluka, -yang mana sering terjadi
-.
Saya memperhatikan tingkah yang lucu itu dan membantu meringankan perasaan sedihnya. Membantu agar mobil pororo itu bisa ikut ke sekolah bersamanya dan tidur di sampingnya di malam hari. Saya kadang ikut mengelus body mobil pororo dengan lembut dan hati-hati sambil memperlihatkan tampang sedih. Saya tidak percaya kalau mobil pororo itu sakit, tapi saya percaya dengan perasaan anak saya. ^^
Ini yang dinamakan sikap ‘prejudice’ anak-anak. Lucu dan menggemaskan tingkah Matthew itu karena dia baru berusia tiga tahun. Tapi bagaimana jika kejadian itu terjadi pada orang dewasa yang berusia 23 tahun, misalnya? Apakah masih lucu? Tentu kita sepakat mengatakan bahwa ia tidak waras.
Sebenarnya tingkah orang dewasa seperti perasaan tidak aman (insecure), kurang self-kontrol (impulsif), menghakimi (prejudice), self-centered, narcissistic, adalah cerminan tingkah anak-anak yang terkunci dalam kepribadian seseorang. Banyak orang yang bertambah dewasa namun sikap anak-anak ini tidak bertumbuh di dalam dirinya.
Yesus mengajarkan agar kita tahu merendahkan diri seperti anak-anak (Mat 18:26), belajar dari kemurnian, kepolosan dan kejujuran mereka. Karena untuk mengerti dan menyambut Kerajaan Sorga kita memerlukan sikap seorang anak kecil. Namun kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan jahat, hitam atau putih, sakit atau sehat, sorga dan neraka adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh orang dewasa (Ibr 5:13)
Salah satu teman kami bertanya, “Do they fight”? sambil melirik ke kedua anak kami yang terus membuat keributan di dalam mobil
“Yes, all the time!” jawab kami serempak.
Siapa yang dapat mencegah dua anak laki-laki usia 6 dan 3 tahun yang sehat, cerdas dan aktif untuk tidak berantem dalam sehari? Walaupun kami mencurahkan kasih sayang, menghindari acara TV yang mempromosikan kekerasan, mengajarkan nilai-nilai persaudaraan, ditambah dengan doa-doa, tumpangan tangan dan cerita Alkitab sebelum tidur, mereka tetap ribut jika berebutan apa saja.
Mereka membuat saya dan ayahnya menjadi “Hakim yang Bodoh “karena ketidakmampuan kami untuk memutuskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Siapa yang pantas duduk di kursi yang berwarna merah atau giliran siapa sekarang memakai komputer?
Meskipun sebagai orangtua kami berusaha adil, tapi apa arti ‘keadilan’ bagi anak berusia 3? Bagi nya, seluruh dunia adalah miliknya. Dan apa arti ‘mengalah’ untuk anak berusia 6? Baginya, Mami dan Daddy lebih sayang adik.
Namun, ada waktu-waktu di mana mereka membuat kami bangga dan terharu. Ketika mereka berpelukan dan saling meminta maaf tiga detik sesudah tonjok-tonjokkan. Ketika mereka tertawa girang dan bermain bersama. Ketika mereka saling memberikan pujian dan menjadi fan berat satu sama lainnya. Ketika bergandegan tangan menuruni tangga rumah. Ketika mereka saling membantu membangun balok-balok. Mereka bercanda, bersukacita, mengasihi satu sama lain.
Mereka membuat kami ingin melakukan apa saja. Mereka menarik kasih yang lebih dalam. Mereka membuat orang tuanya merasa puas.
Bukankah ini juga yang dirasakan oleh Bapa kita di surga, ketika melihat umatnya selalu rukun, bersatu, saling mengasihi dan saling mendukung. Bukankah ini yang akan membuat Ia bangga dan memenuhi segala kebutuhan kita bersama?
Perkelahian, pertengkaran, perseteruan, tidak akan mengubah kasih Tuhan kepada umatNya, tapi jelas mengubah jumlah berkat yang akan kita terima.
“Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.” (Mazmur 133:1-3)


It was annoying and regretful to my grandma when her sick older sister didn’t want to leave her village and move with her into the city. How could she refused living a more comfortable life and surrounded by family, to being sick and alone? It was sad when she finally died on her bed without someone with her.
I can’t understand either when it happens to my own grandma who refuses to leave her tiny house and live in our bigger house. Whenever we succeed transporting her to our home, she will whine and beg to go back just for the sake of her plants. How could she refuses the pour out of attention from the family and keep going back to be alone? Maybe, she’s afraid that death will come while she’s not lying on the bed of her own.
Is this happen to the old people? Nope, It does not. It happens to me as a young person too, with a different degree but the same pattern. There are hidden iron bars confined myself, an unseen rope tied my foot and not let me go more that my presumed comfort zone. We’re detained by our own thinking and arrested by the ground that holds our feet for so long. We’ve been successfully created an imaginary dragon with tongue of fire guarding us day and night.
Numerous chances pass by, freedom fly by, but the prince charming never come by.
We’ll never step up our feet into the bridge. The world isn’t a safe place. It’s scary. It’s too big out there and could be dangerous too. Staying wherever we are, in the place that is familiar with the thing that is predictable makes us feel secure.
Why try a new one if the old one has made us satisfied? Why make a change when it comes with the risk of failure? Why let it go and we have to face uncertainty?
We won’t let it go. We are afraid. We are little kids that never want to grow up. More exposure, more challenges, more responsibilities.
Who want more? We have enough. We are unhappy but we are sufficient.
This prison that we’ve been carrying on from the beginning has no end elsewhere. It ends where it begun. It will return to where it belongs. The glamorous of the city far away can captivate our imagination but not our body. No, it never.
Unless we really aware.
Unless we have gut. Break down the walls in our mind. Take out our weapon. Facing the giant. Conquered the angry dragon. Across the bridge of fire. Walk into the painful road. Get the freedom in the new land.
Be the champion and never look back.
Saya masih ingat kunjungan-kunjungan ke rumah nenek saya waktu masih kecil. Saya biasa tidur di kamarnya yang mungil, di tempat tidur yang dialasi seprai berbau harum. Di meja makannya selalu tersedia makan kesukaan saya yang mengundang selera. Nasi yang saya makan dirumah nenek selalu lebih enak dari nasi yang ada di rumah kami.
Penampilan nenek saya juga selalu memukau. Dengan rambut yang terisir rapi dan senantiasa dicat hitam setiap kali mulai memutih. Pakaian model terbaru yang membungkus tubuhnya yang ramping pantas membuat iri para anak muda. Dan tentunya bau semerbak dari parfumnya selalu menarik saya untuk selalu dekat dengan tubuhnya.
Bukan cuman hal-hal fisik itu saja yang membuat saya kagum, tapi sikapnya yang selalu bersukacita dan mengucap syukur, seakan-akan telah terjadi mujizat setiap hari. Dalam bayangan kanak-kanak saya, nenek saya adalah seorang yang kaya dan berkecukupan.
Setelah beranjak remaja (atau mungkin dewasa, saya lupa tepatnya), barulah saya menyadari bahwa nenek saya adalah seorang janda miskin, -ini kalau dibandingkan dengan orang-orang di lingkungannya-.
Mengapa saya tidak pernah menyadari kenyataan itu waktu saya masih kecil?
Mata kanak-kanak saya yang masih polos dan belum dipengaruhi oleh prinsip-prinsip materialisme dan konsumerisme sama sekali tida bisa membedakan ukuran kaya dan miskin dari sudut materi. Bagi saya, orang yang berbahagia adalah orang yang kaya.
Tidak lagi sekarang, setelah lingkungan memaksa saya untuk mengerti tentang prinsip ekonomi. Apalagi setelah lulus dari fakultas ekonomi, seluruh pelajaran yang saya ingat selama empat tahun berkuliah dapat disimpulkan dalam satu kalimat: “Kepuasan manusia tidak ada batasnya”.
Saya membaca majalah dan melihat cantik serta tampannya para model yang sedang memperagakan pakaian bermerk. Tidak heran waktu remaja, saya hanya ingin memakai baju yang bermerk ke sekolah. Rasanya ketinggalan kalau di badan kita tidak menempel merk yang dikenal orang.
Saya menonton TV yang menayangkan sinetron yang para bintangnya tinggal di rumah megah dan mengendarai mobil mewah. Meskipun selalu ada gadis yang miskin dan kurang beruntung namun pada akhirnya seorang pangeran kaya raya akan mempersunting dirinya untuk menjadi permaisuri. Cerita ala Cinderela ini telah begitu merasuk banyak gadis muda yang menghayalkan tentang pangeran imipian yang menikahinya, tinggal disebuah istana megah dan hidup bahagia selama-lamanya.
Saya pergi ke gereja dan juga menerima pengajaran bahwa Tuhan menginginkan semua manusia hidup kaya dan sehat senantiasa. Ditambahkan lagi, bahwa pada perinsipnya semakin banyak kita memberi maka akan semakin banyak berkat yang akan kita terima. Banyak orang yang tiba-
tiba menjadi dermawan dengan harapan pemberian mereka menjadi investasi yang akan memberikan keuntungan melimpah.
Tanpa disadari, bahwa pandangan kanak-kanak saya yang polos tentang arti kebahagiaan itu telah berevolusi. Disinilah awal mula saya memandang nenek saya sebagai janda malang yang tidak memiliki apa-apa. Saya mulai mengigini apa yang juga dikerjar oleh mayoritas manusia dimuka bumi : uang! Ada salah kaprah besar yang mengganti paradigma saya selama ini : materi = kebahagiaan.
Saya merasa tertipu karena ternyata paradigma itu menyesatkan. Uang, harta benda, materi bukanlah sumber kepuasan. Kekayaan bukan alasan untuk menjadi lebih bahagia. Tanyakan itu pada anak-anak yang belum dikotori oleh agama materialisme itu, mereka tidak memiliki apa-apa namun mereka adalah makhluk yang paling bersukacita di muka bumi ini. Mereka melompat gembira untuk sepotong permen dan tertawa senang ketika diberi kesempatan untuk bermain lumpur di luar rumah. Mereka berbahagia hanya oleh hal-hal yang sederhana dan berterima kasih untuk hal yang kita anggap sepele. Saya sering bangga ketika anak saya berkata “Thank you Mummy” setelah dibuatkan segelas susu coklat, yang kemudian akan dilanjutnya dengan “I love you Mummy, so much!”
Perlu waktu berthaun-tahun untuk mengisi kepolosan pandangan kanak-kanak saya dengan paham materialisme dan saat ini perlu waktu
yang panjang pula untuk membersihkan pikiran saya dari apa yang telah saya terima dari dunia tersebut.
Namun, saya bersyukur sebagai wanita biasa, akhirnya sadar sebelum terlambat. Bukan di rumah penantian atau di tempat tidur kematian, hikmat itu datang. Tidak perlu ada penyesalan karena pengertian tentang kehidupan datang menerpa. Saat ini apa yang terpenting bagi saya adalah mengejar sesuatu yang lebih berharga dari harta benda, dialah HIKMAT. Amsal berkata, “Karena hikmat lebih berharga dari pada permata, apapun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya”
Saya juga bersyukur karena mengenal sumber dari hikmat tersebut dan hidup di dalamnya sejak waktu saya masih sangat muda. “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan”. Takut akan Tuhan ini yang telah menghindarkan saya dari banyak malapetaka yang akan membuat penyesalan seumur hidup. Takut akan Tuhan yang telah menyadarkan saya dari kebodohan-kebodahan yang membelenggu. Hikmat yang timbul darinya akhirnya mengembalikan kita pada kenyataan, pada esensi kehidupan. Hidup sesuai dengan rancangan Ilahi, menurut saya itulah kebahagiaan sejati.
Tags: Arti Hidup
Some of my childhood dreams are flying in an airplane and visit big cities with skyscrapers. I wanted them badly. It doesn’t matter if I have to trade my leisure time for study hard wishing those dreams will come true through good education. I was waiting for the time I might get out from the little town where I grew up.
Some of those childhood dreams are come to realization now. Some moments in my life happened beyond my daydream. I can fly with airplane until it becomes a must and not a pleasure. I can visit big cities and live in a metropolis. I’m out from my sweet little town and be fortunate if I can go back and visit it once a year. Life pretty much an achievement compare to a dream of a little girl.
So much so, it doesn’t instantly making me happier as I would think way back then. Suddenly I really miss what I’ve been away to for so long. I miss the freshness of the air and the smell
of the soil after a rainy day. It was lovely to see a plant near my bedroom window sprouted a flower. I enjoyed when the chilly tree grow after I spread seeds few days before. I love the smell of the tomato fruit when it turns green to red. I even miss some insect that scared me to death of their appearance. And I never thought that I will also miss the neighborhood where everybody know who is doing what.
Now, I dream to have a farm where I can raise my own crops and livestock. After living in the city for so long, I almost never eat something without chemical. How I love to eat a fresh egg from its hen and drink a mango juice that I pick myself from its tree. I also dream to have a pond full of my favorite fish, since eating fish is a fancy treat now.
I question, is life evolving or rotating? The deeper desire inside our heart never fulfilled. We always long for something we don’t have and crave to have something we missed. In that sense, life is not really about achieving our dream. Instead life is about enjoying the process of achieving it. It is about attitude and gratitude.
I’m still in that process, looking forward to future and the blank pages of my days. I wish that I can paint masterpieces on those papers and never be regret about them. Still love to get back what I’ve traded to fulfill my childhood dreams but never be sorry about it. It’s the price I have to pay.
My son is such a beautiful gift to our family. Of course he is getting bigger and don’t want to be called beautiful or baby anymore. It can be understood, he’s just turn 6.
I remember bringing home a tiny little baby, not supposed to exist in this world that day but he made it anyway. His wrinkle and jaundice body, just little bit bigger than a puppy, turn upside down my world in 24 hours. I am not a same person ever.
I also remember the love that seemingly never ended flowing out of my heart. A love that I can’t contained inside. A feeling that need to be given away, and no matter how much it given away it always come back again more.
That was the first time I learn about the un-selfish love, the time God trusted me to be a mother. Such love only heaven can produce. Yes, I couldn’t sleep overnights. My body was swollen out of shape. My routine broke down into pieces. My dream and hope were being reconstructed. But indeed, it was the very first time I felt that no matter how much you love you never lack of it.
I’m proud not only in my arms bestowed a little angel, darling from heaven, but also the responsibility on my shoulders to carry on this grace. The moment I felt complete. Onward I can see the world in different spectacles. And most of all, I can inhale the love of the Father in a new way of understanding. A better understanding.
The years I save as a mother is not quite large in number. He still has his baby voice and his eyes still sparkle innocently. I can see my dreams through those glasses. I used to communicate things beyond thousand of words I spoke. The language of love. Counting my days is never being the same again. It going faster every time, but I couldn’t be more hopeful.
You don’t really expect snow in February as in December when it was about Christmas. It made the sense of Holiday to be holy and jolly. You also don’t expect snow in February as in January, when it makes you feel hopeful and excited.
Snow in February, makes me feel a different person. It brought a deeper feeling and sense about God. Feel His everlasting love. His presence. The eternity of His being. The longevity of His promises.
I’ve grumbled, complained, on how He raised me but finally surrender when it didn’t make sense at all. I can see how I grow and evolve in grace. It’s painful, especially when it comes to the growth spurt, the time God taught so many lessons at a time. It’s delightful, when it ends. I’m able to see myself, the people around me and the world in different perspective.
“The Lord God has given me the tongue of the learned, that I should know how to speak a word in season to him who is weary. He awakens me morning by morning; He awakens my ear to hear as the learned” (Isaiah 50:4).
The snow outside my window, white and pure, still softly pour out to the dirty land. It reminds of the abundant of love and grace given to every each one of us. It makes me feel undeserved yet accepted.





