Saat ini dunia ribut membicarakan Susan Boyle. Padahal dua bulan sebelumnya ia hanyalah wanita desa separuh baya yang tidak menarik perhatian siapapun. Susan baru menerima takdirnya sebagai selebrity dunia setelah lolos dalam babak penyisihan Britain Got Talent April lalu.
Mengapa Susan begitu istimewa?
Karena ia berbeda dari peserta lainnya yang mengandalkan penampilan menarik untuk menunjang bakat mereka. Penampilan Susan, ditambah usianya yang hampir 50 tahun justru mengundang tawa dan ejekan. Sebelum ia mulai menyanyi, tidak ada satupun di dalam ruangan yang akan menyangka bahwa ia akan menjadi wanita paling populer dalam sejarah
Youtube. Tapi ketika ia mulai membuka mulutnya dan menyanyikan lagu I Dreamed a Dream, wajah para penonton yang tadinya meremehkan berubah menjadi takjub. Spontan mereka berdiri dan memberikan tepuk tangan.
Satu bulan sejak penampilannya tersebut, Youtube telah mengundang ratusan juta pengunjung. Susan Boyle pun menjadi tokoh entertainment baru yang diwawancarai talk show dan stasiun paling terkemuka seperti Oprah, Larry King, CBS, ABC, Fox dan NBC.
Kemanakah Susan yang bersuara indah pergi selama ini? Mengapa dunia baru mengenalnya pada saat ia berusia 47 tahun?
“Aku tidak pernah diberikan kesempatan sebelumnya” kata Susan kepada juri Britain Got Talent yang salah satunya adalah pria berlidah tajam, Simon Cowell.
Tenyata ada hal-hal di luar daripada sekedar mimpi dan bakat yaitu, kesempatan. Tanpa kesempatan mimpi kita tidak bisa diwujudkan dan bakat kita terkubur hidup-hidup. Karena tampangnya, kesempatan selama ini seakan lari menjauhinya. Ia sering diejek orang karena wajah dan penampilannya. Bukan hanya kesempatan di bidang tarik suara namun juga kesempatan untuk mendapatkan jodoh dan pekerjaan. Sampai saat ini Susan masih single dan mengaku belum pernah di cium, ia hanya pernah bekerja sebagai voluenteer di gereja dan komunitas. Selama itu juga Susan harus merawat ibunya yang belum lama meninggal dunia, keadaan yang membuat ia harus menunda mengejar semua mimpi-mimpinya.
Susan sangat familiar dengan kekecewaan, penolakan, ejekan dan hinaan namun bertekad untuk mewujudkan mimpinya. Untung saja ada Britain Got Talent yang memberikan Susan
kesempatan untuk menampilkan bakatnya tanpa melihat image-nya secara keseluruhan. Kesempatan ini tidak mau dilewatinya, meski ia harus menghadapi berlapis-lapis barisan manusia yang dengan sikap sinis mereka memaksanya untuk mundur.
Selain kesempatan, Susan juga terkenal karena apa yang dinamakan momentum. Walau banyak penyanyi muda, cantik yang juga bersuara malaikat tapi Susan merebut hati dunia. Momentum ini justru datang dari sikap sinis dan negatif para pendengarnya. Betapa terkejutnya ketika mereka mendengar Susan bernyanyi. Perubahan emosi yang besar antara sebelum Susan menyanyi dan sesudahnya telah menciptakan momentum bagi kesuksesan ini. Seseorang yang di remehkan dan mengundang tawa serta cibiran, ternyata memiliki bakat yang luar biasa. Salah satu juri mengatakan Susan adalah “Kejutan terbesar selama 3 tahun acara Britain Got Talent mengudara”
Faktor ketiga yang memegang peranan atas kepopuleran Susan adalah promosi, tentu saja ini karena peran internet dan media massa lainnya
. Merekalah yang mendongkrak Susan naik. Menjadikan citranya menarik untuk diceritakan berulang-ulang. Tokoh-tokoh terkenal seperti Oprah, Larry King dan Simon Cowell juga ikut membantu membuat Susan terkenal.
Di sekitar kita banyak orang yang meremehkan kemampuan kita karena terlebih dulu menilai dari penampilan luar. Barangkali itu juga yang menyebabkan banyak orang yang berbakat mengubur mimpi mereka dalam-dalam dan tidak berani tampil ke depan. Takut malu, takut salah, takut diejek dan menjadi bahan tertawaan membuat banyak dari kita mengabaikan potensi yang Tuhan sudah berikan.
Bertahun-tahun lalu banyak yang tertawa karena suara saya yang terlalu manja dan cempreng. Saya juga sering disindir karena gugup dan gemetar waktu berbicara di depan banyak orang. Namun ini tidak pernah menghentikan keiginan saya untuk mengemukakan pendapat dan berbicara di tempat umum. Bagi beberapa orang sikap saya tidak tahu malu atau tidak tahu diri. Kenekadan ini berbuah hasil, karena sampai sekarang saya bisa berkhotbah, mengajar, menulis atau dengan cara apa saja agar orang lain mengetahui apa yang saya pikirkan. Lama kelamaan rasa takut salah atau ditertawakan orang berkurang diganti oleh rasa percaya diri. Rasa percaya diri inilah yang menjadi lahan subur untuk membuat potensi kita bertumbuh.
Setelah mengalahkan rasa minder ini tugas kita berikutnya adalah bermimpi, percaya dan mewujudkan mimpi jadi kenyataan. Kemudian nantikanlah tiga hal seperti yang diterima Susan Boyle: kesempatan, momentum dan promosi, kebetulan tiga hal ini butuh campur tangan Tuhan. Berbahagialah mereka yang menerimanya karena mereka pantas disebut beruntung (LUCKY) atau diberkati (BLESSED).
Tags: Entertainment, Inspirational
“Banyak orang yang menderita karena perbuatan saya. Penderitaan yang akan muncul kemudian juga tidak bisa dibilang. Saya tidak dapat melakukan apa-apa karena tekanan ini. Saya tidak bisa membaca atau menulis. Hidup dan mati bukankah hanyalah dua nature yang berbeda?”
Itu adalah sebagian dari pesan singkat yang diltulis oleh bekas presiden Korea Selatan sebelum menemui ajalnya dengan cara melompati tebing setinggi 30 meter, dinihari Sabtu 23 May 2009.
Eks-presiden yang sedang dalam penyidikan sehubungan dengan kasus suap sebesar $6.4 juta itu tidak sanggup menahan tuduhan dari hati nuraninya sendiri. Setelah beberapa hari menyendiri dan menolak makan, Roh mengambil keputusan ini.
Sebelum menghadapi eksekusi ia telah menghukum dirinya sendiri dengan berkata , “Jangan menyesal. Jangan salah siapa-siapa. Semua ini adalah takdir. Tolong jasad saya dikremasi dan buatkan kuburan kecil di dekat rumah.” Kremasi adalah pilihan dari sebagian besar masyarakat Korea dengan pertimbangan ekonomis dan efisiensi, namun tidak biasa untuk mereka yang memiliki status, kedudukan atau yang meninggal dalam usia lanjut. Boleh dikata kremasi bukanlah pilihan untuk mengubur negarawan sekelas Roh Moo Hyun.
Pada saat menduduki jabatan tahun 2003, Roh memang mengambil sumpah untuk berperang melawan korupsi. Sebagai bekas pengacara dan pejuang hak azasi manusia Roh dikenal sebagai politisi yang bersih.
Apa sebenarnya yang dipikirkannya sebelum mengambil keputusan naas seperti itu?
Dalam suratnya tentu saja tersirat rasa bersalah, depresi, dan keputusasaan. Baginya, mati atau hidup tidak memiliki perbedaan.
Sebagai warga negara asing yang tinggal di Korea selama 9 tahun, saya menganggap keadaan negara ini tidak bisa dibandingkan dengan tanah air tercinta Indonesia terutama dalam hal korupsi-korupsian. Jauh. Saya tidak pernah mengalami adanya pungutan liar selama berurusan dengan briokrasi. Tidak ada ‘uang tilang’, ‘uang administrasi’ atau ‘uang rokok’ sejauh yang saya tahu. Bahkan tidak ada uang tip untuk restoran atau delivery. Tukang reparasi selalu menerima fee berdasarkan receipt yang mereka pegang dan menolak kelebihannya. Mereka terlalu gengsi untuk menerima persenan macam itu. Dalam hal ‘uang haram’ kesan saya untuk negara ini baik-baik saja.
Meskipun Korsel masih tergolong negara yang angka korupsinya tinggi tapi pemerintah dan rakya
t dengan serius memeranginya. Dengan kepribadian dan mentalitas mereka, menurut saya, tidak akan sulit untuk berubah.
“Saya sangat malu terhadap teman-teman sebangsa. Saya menyesal telah mengecewakan anda semua.” Kata Roh Moo Hyun kepada wartawan beberapa waktu lalu. Kemudian ia menulis di websitenya “Anda harus segera melupakan saya. Saya bukan lagi simbol dari nilai yang sedang anda kejar. Saya tidak lagi pantas untuk berbicara atas nama demokrasi, kemajuan dan keadilan”
Rasanya tidak enak membicarakan kejelekan seseorang yang sudah meninggal. Pemerintah pun telah menutup kasusnya menyusul tragedy ini. Selama hidupnya Roh dikenal sebagai negarawan yang bersih dan seperti itulah ia ingin dikenang. Godaan sesaat telah membuyarkan mimpinya, namun sebelum menerima tuduhan, cacian, ejekan, ia mengakhiri semuanya. Orang-orang akan tetap merasa kehilangan dirinya. Selamanya ia dikenang sebagai seorang yang bersih dan bertanggung jawab untuk kesalahan yang diperbuatnya, meski hukumannya dieksekusi dan dijalaninya sendiri. Baginya nama baik lebih berharga daripada permata mulia.
Bagaimana dengan politisi di negara kita? Saya geli campur gemes melihat para pejabat yang bergelimang harta dan kekayaan berlenggang kangkung di jalanan. Meskipun ada KPK yang telah berhasil menangkap beberapa diantaranya tapi rasannya mustahil untuk mengadili semua yang bersalah. Penjara pasti tidak cukup. Lagi pula siapa yang akan memerintah? Rasanya kecil besar pejabat-pejabat kita semuanya korup. Jika mereka bersih, maka sistemnya yang kotor. Mana bisa yang bersih hidup di air yang kotor? Jika mereka tidak gugur, mati, tentunya akan bermutasi dan menyesuaikan diri.
Adakah rasa bersalah yang menggelitik hati nurani mereka? Paling tidak lewat peristiwa ini.
Read More about Roh Moo Hyun Life, Death and Scandal.
Tags: Arti Hidup, Politic

Pada saat pemilihan presiden suara terbanyak rakyat Amerika adalah Obama: kulit hitam, liberal, pro aborsi dan pro pernikahan sesama jenis. Namun pada saat pemilihan Idol, lihat siapa yang mendapatkan suara terbanyak? Kris Allen, seorang mahasiswa yang juga nyata sebagai penganut Kristen yang taat. Bekerja sebagai Worship Leader di gerejanya dan menikah dengan gadis pujaan hatinya. Ia merebut hati jutaan pemirsa dengan kemampuan vokal dan kepiawaiannya bermain berbagai alat musik meskipun wajahnya tampannya jauh dari terminologi sophisticated.
Sebenarnya banyak yang berpendapat bahwa urusan suara, talenta, performa, ia tidak bisa dibandingkan dengan runner-upnya, Adam Lambert. Adam memiliki range suara yang luar biasa, terlatih dalam teater, berbadan tinggi dan sangat tampan. Penampilannya selalu ditunggu-tunggu dengan berbagai surprise unjuk kebolehan, sampai-sampai AI 2009 disebut “The Adam Lambert Show”. Adam yang chic and stylish itu tahu bagaimana menonjolkan kelebihannya dan sangat menguasai arena. Ia tipe entertainer sejati, artistic by nature, dan Hollywood type by destiny.
Sayang, dibalik talenta dan performa panggung yang luar biasa, Adam juga tampil dengan mata yang digaris tebal maskara dan kostum feminin atau biseksual. Rekamannya berciuman dengan sesama laki-laki juga beredar di youtube. Walau tidak berterus terang tapi ia juga tidak menyangkal jika ada yang menganggapnya sebagai seorang gay. Apakah ini yang mengalihkan voting darinya?
I can’t judge. Namun American Idol adalah pemilihan idola yang berarti memilih seseorang yang paling disukai oleh pemirsa. Bisa jadi talenta, latar belakang atau orientasi sexual masuk dalam paket ini. Kalau memang Adam Lambert harus puas di posisi kedua karena orientasi sexualnya, kenyataan ini tentu bertolak belakang dengan massa yang berbondong-bondong memilih Obama tanpa perduli kebijakan apa yang akan diambilnya terhadap legalisasi perkawinan antara sesama jenis. Seharusnya Pop Culture mengatasi stigma ini, namun nyatanya tidak.
Tags: Entertaiment, Gay, Homoseks
Barusan di TV seorang artis Indonesia yang sangat cantik mengaku kalau sebenarnya ia pemalu dan tidak percaya diri. Meskipun ribuan bahkan mungkin jutaan wanita Indonesia mendambakan kecantikan dan popularitas seperti yang dimilikinya ternyata semua itu bukan jaminan kepuasan dan kebahagiaan.
Pada saat remaja, saya adalah salah seorang dari mayoritas manusia yang merasa tidak puas dengan penampilan fisiknya. Saya minder dan tidak percaya diri. Saya sedih karena tidak memiliki tubuh yang tinggi, kaki panjang dan leher jenjang. Meski banyak yang mengagumi kulit saya yang mulus dan hidung yang mancung tapi itu tidak menghapuskan rasa tidak suka saya pada bagian tubuh saya yang lain. Sesungguhnya saya tidak fokus terhadap kelebihan-kelebihan karena energi terbesar saya adalah memikirkan betapa jeleknya Tuhan telah membentuk saya. Rasanya saya punya alasan yang sangat tepat untuk mengurung diri di rumah sambil meragukan keadilan Tuhan.
Setelah agak dewasa, berjalan dalam proses pembetukan Tuhan, saya akhirnya sadar bahwa kesempurnaan fisik, status sosial, intelegensi, materi dan popularitas tidak mendatangkan kebahagian atau lebih tepat lagi tidak membentuk rasa percaya diri seseorang. Lady Diana, seorang yang sangat jelita, populer dan kaya raya, merasakan ketidakbahagiaan sepanjang hidupnya. Selalu merasa bahwa ia tidak dicintai, tidak dibutuhkan dan tidak berharga. Jika putri cantik itu saja tidak puas dengan hidupnya, apatah lagi dengan gadis desa seperti saya, misalnya.
Kemarin, suami saya posting video di FB, mengigatkan saya pada seorang motivational speaker yang pernah saya tonton sebelumnya. Mungkin banyak diantara kita yang sudah mengenalnya. Namanya Nick Vujicic. Wajahnya tampan, pengusaha sukses, motivator ulung dan pembicara kelas dunia.
Nick tidak memiliki apa yang menjadikan kita manusia utuh: tangan dan kaki. Selain dari potongan daging yang menonjol di bagian kakinya, ia tidak memiliki organ yang bisa dipakai untuk melakukan sebagian besar aktivitas manusia : makan, minum, mandi, menyisir rambut, memakai lotion atau bersosialisasi di Facebook.
Lama sebelum Nick sadar dan malu terhadap cacat tubuhnya, kedua orang tua telebih dulu merasa hancur hati ketika melihat bayi yang harusnya menjadikan mereka pasangan berbahagia ternyata tidak lebih dari seonggok daging yang bergerak. Memiliki anak yang hampir cacat total itu, telah memaku kedua orang tuanya pada salib ‘menjaga-dan-merawat-anak-itu-seumur-hidup’.
Lahir di Australia pada saat peraturan pemerintah tidak mengijinkan anak-anak dengan cacat tubuh mengikuti sekolah umum merupakan siksaan lain yang harus dialami orang tua dan tentu saja Nick sendiri setelah sadar bahwa ia berbeda dengan manusia umumnya. Rasa tertolak dan tidak berharga tentu saja dirasakan mereka. Tidak heran saat berusia 8 tahun, Nick mulai mencoba untuk bunuh diri. Ketika akhirnya hukum pemerintah berubah dan mengijinkan anak-anak seperti Nick bersekolah di sekolah umum, itu hanya memberikan babak baru pada bentuk penolakan yang lain yang diterimanya. Kalau orang sehat saja sering menjadi sasaran empuk bullying, apalagi dengan cacat tubuh seperti yang diderita Nick.
Selain mencoba bunuh diri, Nick juga mencoba untuk membujuk Tuhan, menguji kemahakuasaan-Nya, dengan meminta Ia menumbuhkan tangan dan kaki baginya. Tapi mujizat itu tidak pernah terjadi. Nick kecewa karena Tuhan tidak mendegar doanya. Namun Tuhan ingin memberikan kepada Nick lebih dari sekedar tangan dan kaki. Jika Tuhan menjawab doa Nick dengan menumbuhkan tangan dan kaki, tentu saja tulisan ini tidak pernah terjadi. Saya dan jutaan orang yang terinspirasi dengan kehidupan Nick tidak akan pernah mengenalnya. Ia hanya akan menjadi salah seorang pemuda tampan di kampung sebelah, ayah yang sayang keluarga, kemudian meninggal sebagai orang tua yang renta, tanpa memberikan dampak yang lebih besar bagi dunia.
Nick akhirnya berhenti berharap menjadi manusia normal ketika ia sadar bahwa ketidakberuntungannya dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang. Jika ia bisa mengatasi keterbatasannya, apalagi manusia yang utuh tanpa cacat. Ia mulai belajar dan berlatih. Ia belajar untuk menjadi pembicara sejak remaja. Nick lulus pada saat ia berusia 21 tahun dengan double major:
Accounting dan Financial Planning. Ternyata Tuhan memberikan kelebihan kepada Nick, yaitu otak yang encer dan karisma sebagai Public Speaker.
Sampai sekarang, Nick bisa mengerjakan hampir semua yang bisa dikerjakan oleh manusia normal, hanya dengan 2 jari kecil yang tumbuh di kakinya. Ia bisa menulis, mengetik cepat, browsing internet, memancing, bermain golf, berenang dan tentu saja mencetak uang.
Apa yang dicapai oleh Nick menjadikan ia International Motivational Speaker yang didengar oleh baik kalangan Kristen maupun non Kristen. Ia berkeliling dunia untuk memberikan inspirasi dan motivasi bagi orang-orang yang seperti saya dulu, tanpa pengharapan dan tujuan hidup. Selain menjadi pembicara yang karismatik, Nick juga memiliki karir yang sukses di bidang keuangan. Ia memiliki beberapa rumah mewah yang dilengkapi oleh kolam renang pada usia yang relatif sangat muda, menobatkan ia sebagai salah satu Most Wanted Bachelor.
Saat ini, tangan dan kaki bukan lagi kebutuhan utama bagi seorang Nick Vujicic. Bukan juga materi dan popularitas. Ia telah memiliki semuanya. Ia memiliknya bukan karena menjadi seorang manusia yang sempurna, melainkan menjadi manusia yang mengerti arti dan tujuan hidupnya berada di dunia ini. Di wajahnya selalu terpancar senyum bahagia, kepercayaan diri serta kepuasan akan apa yang sedang ia kerjakan.
Diam-diam, sebenarnya saya mengagumi Paula White. Bukan karena ia pengkhotbah yang cantik dan menawan tapi karena gaya berkhotbahnya yang dinamis dan articulate, ciamik deh.
Saya bilang, diam-diam, ini karena saya tidak mau diketahui mengagumi seseorang yang baik kehidupan pribadi, pelayanan maupun pengajarannya ‘under the spotlight’ (huh, dasar pengecut!). Apalagi karena saya tidak pernah belajar dari apa yang ia ajarkan atau khotbahkan. Kalau mau tahu kepada siapa saya banyak belajar membangun doktrin-doktrin saya, mereka adalah tokoh-tokoh Baptis seperti Rick Warren dan Albert Mohler. Dan setelah dididik dan dilatih oleh sekolah injili dan reform, dibesarkan oleh budaya pantekosta, terinspirasi oleh pejuang iman katolik dan berafiliasi dengan gereja karismatik maka latarbelakang theologia saya nggak ada bedanya dengan rujak bebek (manis asam asin lumat menjadi satu rasa tapi tetap bergisi, ehm)
Jadi, mendengar khotbah Paula White, sama seperti makan permen (manis rasanya tapi gisinya nggak ada). Di tambah dengan perceraian, lifestyle, movement-nya lengkap sudah ia menyandang gelar pengkhotbah celebrity, yang harusnya dihindari oleh hamba Tuhan bermartabat dan ingin menjaga nama baiknya seperti menjaga porselen dari cina. Sebenarnya sih, saya hanya sedikit sekali mendengar ia berkhotbah lewat You Tube atau sesekali menonton talk shownya. Kok bisa menghakimi sejauh itu ya?
Baru setelah di Indonesia saya membeli bukunya, iseng-iseng, karena terlanjur nyasar ke Toko Buku Imanuel. Buku yang sudah diterjemahkan, jadi saya belum pernah baca buku aslinya. Saya kaget, bercampur malu. Kaget, karena seluruh isi dari salah satu bukunya hampir sama dengan isi buku saya. Ibarat makanan, ingredient yang sama tapi diolah menjadi masakan yang berbeda. Yang satu Western Food yang lainnya makanan Asian Cuisine. Malu, karena dikira nyolong ide orang, walau sebenarnya orang nggak akan berpikir sejauh itu.
John Jeshurun bilang, gaya tulisan dan isi buku saya mirip dengan Dr. Cecil Osborne, terutama bukunya “The Art of Understanding Youself” Bahasa Indonesia-nya berjudul “Seni Memahami Diri Sendiri” terbitan BPK Gunung Mulia. Terus terang, yang sampai sekarang belum saya dapatkan kopinya untuk dibandingkan. Tapi saya pun meng-google Cecil Osborne dan tahu bahwa beliau adalah penulis dan psikolog Kristen yang sangat terkenal. Saya hampir ‘tersandung’ karena pujian itu. Apalagi saudara John menambahkan bahwa saya punya DNA yang sama dengan Dr. Cecil Osborne, please gw semakin penasaran.
Nah, waktu baca buku Paula, naskah terakhir buku saya sudah jadi dan diedit. Jadi, tidak ada satu noktah ide pun yang saya tiru atau diinspirasi dari tulisannya. Saya sampai berpikir ingin membatalkan menerbitkan buku ini, karena menganggapnya tidak authentic. Tapi setelah itu terpikir, tenaga, waktu, biaya, pengorbanan dan air mata untuk menulis buku ini yang tidak sedikit sehingga tidak ada alasan untuk mundur. Lagipula saya memang nggak nyolong ide kok.
Saya cuman bisa membandingkan, pengalaman hidup, pembentukan Tuhan yang dialami oleh Paula yang mungkin tidak jauh berbeda dari apa yang saya rasakan, alami dan saksikan. Demikian juga dengan privileges yang mendampingi setiap luka hati dan pengalaman pahit. Ternyata hidup ini kelihatan rumit simpulnya tapi sebenarnya simple saja. Esensinya adalah mengerti tujuannya dan hidup di dalamnya. Sekolah kehidupan itu mengajarkan materi yang sama kepada setiap individu, apakah ia orang barat atau timur, orang pulau atau daratan. Sama saja.
Daripada GRrrr memikirkan kesamaannya, saya mulai memikirkan bahwa pada dasarnya hampir semua masakan mengandung ingredient yang sama, tapi di tangan koki yang berbeda bahan-bahan tersebut menjelma menjadi masakan yang berbeda cita rasa yang memperkaya kasanah kuliner dunia.
Saya juga berhenti untuk menghakimi dan menilai orang lain apalagi hamba Tuhan (ini adalah usaha yang serius) lewat kegagalannya, kelemahannya, masa lalunya bahkan masa kininya. Selanjutnya belajar untuk melihat potensi, masa depan, pengampunan dan pemulihan yang dapat terjadi dalam kehidupannya. Pelayanan yang gagal bukanlah pelayanan yang telah berakhir. Karena pelayanan adalah anugerah bukan prestasi. Yang menerimanya, adalah manusia biasa yang penuh dengan kelemahan dan berpontensi untuk jatuh dan tersandung.
Tuhan juga tidak pernah mencari orang yang sempurna untuk dipakai-Nya bahkan tidak pernah berusaha menyempurnakan seorangpun. Sebab orang yang sempurna tidak bisa melayani dunia yang tidak sempurna ini.
Sebenarnya cuaca siang ini enaknya dipake untuk tidur. Hujan lebat, udara sejuk, rumah sepi, tapi anak-anakku sepertinya belum kehabisan energi untuk bermain dan bercanda. Teriakan dan omelan saya untuk mereka cepat tidur –supaya mami punya time alone- sama sekali tidak digubris mereka. Setelah 3 jam dalam pergumulan -saya hampir menyerah karena kepala terasa senut-senut- dengan sedikit paksaan dan bujukan serta iming-iming hadiah susu coklat hangat setelah bangun, barulah mereka terkapar.
Dari mana datangnya energi anak-anak saya itu? Menurut pengamatan saya, mereka rada beda dengan anak-anak lain yang sebaya. Sering, dalam hati, diam-diam, saya agak malu kalau sedang berada di tempat umum, anak-anak saya berlari-larian, berteriak, berguling-guling di lantai, bernyanyi keras dan sumbang dengan kosakata berantakan, sehingga saya sering mendapat teguran atau pandangan kesal dari penjaga atau pengujung lainnya.
“Jangan salahkan aku dong, emang situ nggak punya anak?”, “Aku bukan orang tua yang buruk dan tidak tahu mendidik anak!”, ” Mereka bukan anak-anak nakal, mereka cuman terlalu bergairah”, “Emang nggak liat ya, kalau aku juga sedang berjuang menenangkan mereka?” Saya sering menerangkan kepada orang-orang yang merasa terganggu itu dengan kata-kata tersebut lewat pandangan mata saya. Semoga mereka bisa mendegarnya. J
Sekarang saya mulai mendapati jawabannya. Sepertinya energi itu adalah factor genetic juga. Lihat saja hari ini, betapa gigihnya saya berjuang untuk menidurkan mereka agar bisa menjangkau laptop, memeriksa FB, membaca berita, menulis sesuatu sambil diitemani secangkir kopi susu. Sakit kepala itu pelan-pelan lenyap ketika ketika otak mulai diaktifkan setelah beberapa hari di-vakum-kan oleh tugas ibu rumah tangga.
Saya pun mencoba mengambil segi positifnya: Tanpa perlu disuruh atau diajar, si Joel – setelah beranjak dari terrible two-nya- jika sedang sendiri sepanjang hari menggambar, menyusun balok atau menciptakan kerajinan tangan. Dan adiknya Matthew, yang masih berusia 2 tahun, setiap hari memberikan saya alasan untuk berolahraga dan latihan beban tanpa perlu mengunjungi gym.
Lama kelamaan saya pun mulai membiasakan diri dan menikmati karunia ini…..
Tags: Daily Life
Beberapa hari ini, nggak biasanya aku bangun lebih pagi dari fajar. Cuaca di musim gugur yang sejuk namun udara kering mengalir masuk melalui celah sempit jendela yang aku biarkan sedikit terbuka. Hidungku perih dan tenggorokkanku kering, tanda-tanda dehidrasi, karena di kamarku tidak ada humidifier. Bunyi kereta juga terdengar dari celah sempit itu karena rumah kami berhadapan dengan jalur subway.
Aku bangun bertanya Tuhan, what to do next? Kesempatan aku bisa sendiri tanpa gangguan adalah emas. Suamiku yang baik hati menginjinkan aku memiliki kamar sendiri sementara ia tidur dengan anak-anak. “Rasanya seperti tinggal di kos-kos-an dan masih single” kataku membuat ia bangga karena telah memberikan aku privacy yang selalu aku dambakan.
Aku memang butuh waktu dan tempat untuk bisa menulis buku pertamaku. Suatu kali ia membawa kedua anak kami dan meninggalkan aku sendirian di rumah. Rumah kami yang tidak begitu besar terasa sunyi dan lapang. Ideku langsung mengalir seperti air dan setelah menyelesaikan berlembar-lembar halaman, aku merasa betapa nyamannya hidup dan kata-kata mulai terangkai dengan gampangnya.
Namun, beberapa hari ini waktu di pagi hari yang tanpa gangguan aku punya. Aku mengambil laptop dan mencoba mengetik beberapa kalimat yang jadinya seperti kosong dan aneh. Ide ku hilang, kreatifitasku entah ke mana. Aku pikir barangkali karena aku membutuhkan secangkir kopi pagi ini. Tapi kopi pun tidak mengerjakan apa-apa di kepalaku. Ide gemilang yang tadinya aku miliki sudah sirna.
Kemana perginya aku tidak tahu. Ada selang waktu beberapa minggu dari waktu mereka muncul terakhir kali. Diantara waktu itu ada banyak yang harus dikerjakan terutama pindahan rumah yang proses beres-beresnya memakan waktu berminggu-minggu, bahkan belum selesai sampai sekarang. Barang yang dibongkar sekarang di tata kembali walau sebenarnya percuma karena anak-anak selalu menemukan cara untuk membongkarnya kembali.
Secangkir kopi hampir habis namun ideku yang pergi belum kembali. Ah…<–>
Tags: Daily Life, Memoir
Sehari sesudah Natal tahun 2004, kami menerima telpon dari seorang jemaat bahwa keluarganya yang tinggal di Aceh sedang mengalami bencana. Kami hanya berdoa, menunggu dan berharap tidak ada sesuatu yang buruk terjadi. Kabar yang kami dengar sehari sesudah kejadian korban yang meninggal sekitar 5000 orang. Satu dua hari sesudah Tsunami menghantam Aceh tidak ada yang tahu pasti berapa banyak korban jiwa yang ditelan bencana tersebut kerena terputusnya sarana transportasi dan komunikasi.
Seperti jika mendengar berita musibah lainnya dari tanah air, kami mengira bahwa kejadian ini biasa-biasa saja. Tapi tidak disangka bahwa berita tentang korban dan kerusakan yang parah terus bertambah. Setiap hari jumlah korban meningkat drastic 5000, 25.000, 50.000, 100.000, dan akhirnya 200.000 jiwa!
Nando segera menelpon tv kabel supaya menyambungkan CNN di tv kami. Setiap hari saya mengikuti berita ini dengan dada berdebar-debar. Benar, tidak seorangpun keluarga saya yang tinggal di sana. Aceh, bahkan kedengaran sebagai negeri antah berantah yang nun jauh di sana. Daerah itu juga dikenal sebagai serambi mekah dan sikap antipati mereka terhadap Kekristenan. Dari cerita yang yang saya dengar gereja dan umat Kristen dianiaya di sana.
Namun, saat itu semua itu tidak ada artinya. Belas kasihan memenuhi hati saya. Saya gelisah dan mulai bolak-balik di depan TV sambil sesekali menggendong anak saya yang masih bayi. Air mata mulai mengalir dan semangat nasionalisme mulai terusik. “Saya harus berbuat sesuatu” itulah kata-kata yang senantiasa terulang-ulang di dalam hati. Berbuat sesuatu, tapi apa? Apa bisa dilakukan seorang ibu dengan anak kecilnya menolong salah satu musibah terbesar dalam sejarah tersebut?
Beberapa hari telah lewat dan saat itu kami mengadakan malam doa pergantian tahun. Tidak ada acara tukar kado atau makan-makan enak seperti biasanya. Semua dalam keadaan prihatin dan berduka untuk Negara Indonesia. Apalagi setelah ada konfirmasi bahwa keluarga jemaat kami termasuk dalam korban yang meninggal.
Doa malam kami haturkan sebagian besar untuk Indonesia, para korban dan keluarganya. Suami saya memberikan kata-kata yang membangkitan semangat patriotisme bagi yang hadir. Selama berahun-tahun tinggal di luar negeri kadang lupa dengan kesusahan di tanah air. Jauh dari kampung halaman bisa membawa orang lupa bahwa kita adalah bagian dari bumi pertiwi. Biasanya begitu, tapi tidak saat kami mendengar berita duka ini.
Terkadang gemas dengan media dalam negeri yang lambat dan tidak tanggap dengan musibah ini. Berita yang gencar justru dari luar negeri. Berdasakan berita-berita ini kami pun mengambil inisiatif malam itu juga untuk turun ke jalan mencari perhatian publik. Hal yang tidak pernah kami lakukan dan tidak biasa di Korea. Dengan bekal poster yang kami buat malam itu juga, di tengah cuaca yang benar-benar beku (minus 3-5 derajat), semalam-malaman tidak tidur, kami pun turun ke jalanan.
Tidak disangka bahwa aksi dadakan itu mendapat respon yang luar biasa. Uang receh yang kami terima mengalir sampai 1 juta won (10 juta rupiah) membuat kami semangat untuk mengulangnya lagi. Kali ini target berikutnya adalah subway-subway dan membentuk tim yang lebih banyak lagi. Setelah main petak umpet dengan panjaga akhirnya seluruh tim pulang membawa sumbangan yang lebih banyak lagi.
Saya terharu dengan teman-teman yang nekad membawa poster dan kotak sumbangan di jalan-jalan, wajah dan jaket mereka sama tebalnya. Berbekal bahasa Korea sepotong-potong, mereka belajar bagaimana berkata “ tolonglah saudara-saudara kami di Aceh”.
Ketika salah satu tim yang ditempatkan di Itaewon, dekat base Amerika, seingat saya ada juga di antara mereka yang sinis. “I can’t care” kata salah seorang pejalan kaki bule sewaktu membaca poster besar yang bertuliskan “I care”. Herman, salah satu anggota tim yang tidak mengerti bahasa Inggris dengan tulus dan senyum lebar berkata “thank you sir, God bless you”. Kalimat yang sudah dihafalnya berulang-ulang. Sikap mereka berubah ketika mengetahui bahwa kami adalah orang-orang Kristen dan aktifis gereja. “Mengapa perduli, bukankan mereka membeci kalian?” ada juga yang bertanya seperti itu. “Sebab mereka juga saudara!” itulah jawaban kami .
Walau banyak yang acuh secara keseluruhan simpati yang kami terima mengalir, apalagi setelah diketahui bahwa korban yang terbanyak asalnya dari Indonesia. Beberapa stasiun TV meliput kegiatan kami bahkan membuat film documentary. Gereja Galilliee mengadakan konser amal dengan mengundang artis Kristen Korea yang terkenal mengumpulkan dana yang juga tidak sedikit. Akhir dari semuanya adalah sukses yang tidak pernah kami bayangkan, berawal dari hati yang terusik kemudian berubah menjadi momentum yang besar.
Di tengah kesusahan perbedaan tidak menjadi masalah. Perbedaan agama, kepercayaan ideology, suku, ras, semua menjadi lebur karena kasih menutupi setiap perbedaan.
Saya rasa setiap orang berpontensi untuk melakukan hal-hal yang besar kalau saja hatinya cukup terganggu. Ada energy dan semangat yang membuahkan kreatifitas, keberanian dan kenekadan. Coba bayangkan seringkali potensi orang terkubur hidup-hidup karena sikap yang malu-malu dan takut salah. Kadang kala keberanian itu baru muncul jika keadaan menjadi terdesak atau kasih yang tak terbendung.
Carilah sesuatu yang bisa membuat anda ‘crosing the line’, sesuatu yang mengusik hati nurani dan membangkitan kasih yang berani. Apakah itu karena melihat anak yang putus sekolah, orang tua yang ditinggalkan keluarga, atau tuna wisma yang berkelana. Biasanya orang yang pernah merasakan susahnya hidup akan lebih mudah tergerak hatinya. Sakit yang terpendam di dalam hati akan terasa ringan jika kita hidup untuk menolong orang lain yang nasibnya lebih malang lagi.
Suatu saat, kami mendengar bahwa ada salah satu gereja besar Korea yang ingin membuka pelayanan untuk orang Indonesia. Setelah berdoa untuk beberapa waktu karena tidak ingin salah melangkah, kami akhirnya berjumpa dengan salah satu deaconnya. Deacon wanita separuh baya tersebut segera menghubungkan kami lewat telpon dengan pendeta yang in charge buat orang asing. Setelah beberapa tahun di Korea kami sangat maklum dengan hierarchy seperti ini. Dari hasil pembicaraan dengan pendeta tersebut kami menetapkan waktu untuk bertemu jam 12.30, dua minggu setelahnya.
Tiba hari H-nya pertemuan itu. Nando telah memilih setelah jasnya yang paling baik, abu-abu mengkilat hadiah ulang tahun dari jemaat tahun lalu. Tentu saja saya bangga dengan suami saya yang tinggi dan ganteng itu, apalagi berat badannya sedikit turun karena kami sedang dalam bulan puasa. Setelah memikirkan baju apa yang akan saya kenakan, akhirnya saya puas dengan blus bermerk Zara yang dibeli di Hong Kong pada saat ada sale besar-besaran. Blus coklat keemasan dipadu dengan rok hitam yang setiap kali saya kenakan selalu dapat pujian “sekarang kurusan ya?” .
Kami tiba di gereja itu yang memang diakui sangat besar dan megah, apalagi jika dibandingkan dengan gereja Galillee tempat kami melayani 8 tahun terakhir. Gedung gerejanya modern dan luas. Kami mengenal senior pastornya lewat internet gereja . Ia pernah mengadakan KKR besar di salah kota utama Indonesia yang kabarnya dihadiri 120 ribu orang dalam 3 malam.
Menelusuri jalan dan tangga menurun membawa kami ke sebuah tempat makan yang sangat luas dan padat, karena memang jam itu adalah waktu makan siang. Deacon wanita itu telah berdiri di depan pintu dan menyambut kami masuk ke dalam menuju meja pendeta in charge yang sedang duduk dengan para koleganya.
Ia berdiri menyalami Nando dan melirik saya pada waktu Nando berkata “ini istri saya”, kemudian mempersilahkan kami makan. Tanpa basa-basi pendeta itupun duduk kembali di tempatnya dan melanjutkan perbicangan yang tadi terpotong, meninggalkan kami berdua berdiri terpaku bersama deacon wanita itu yang terus membujuk kami untuk makan. Dan setelah tahu bahwa kami sedang berpuasa ia pun mencari meja lain yang kosong, tepat di belakang pedeta in charge itu.
Nando dan saya yang sedang menggedong Mathew duduk menghadapi meja kosong menanti agenda selanjutnya. Deacon wanita itu kelihatan sibuk yang tidak kami mengerti apa, dan pendeta itu pun acuh membuat kami canggung dan bertanya-tanya. “Shhh, Nan, bukankah kita harus bertemu pendeta itu?, kok sekarang dicuekin?” otak saya mulai bekerja. “Iya, nggak ngerti kenapa” jawab Nando sepeti biasa berusaha sepositif mungkin tanpa komentar lebih lanjut.
Kami duduk di meja kosong itu, Mathew mulai gelisah merengek minta turun, jam terus berjalan, hati terus bertanya, sampai kemudian deacon wanita itu datang dan mengajak kami pindah ke coffee shop di sebelah ruang makan yang juga dipadati oleh berpuluh-puluh orang. Sekali lagi ia pun meninggalkan kami di sana. Anak saya semakin gelisah dan minta turun dan berjalan-jalan. Saya membawanya berjalan mengitari koridor-koridor gereja sambil berdoa, “apakah ini tempatnya?” Banyaknya jemaat yang lalu lalang tidak ada satupun yang menaruh perhatian pada ibu yang sedang berjuang ini. Gereja itu sangat besar dengan jemaat sekitar 8000 orang dan juga melayani beberapa negara asing.
Beberapa kali saya kembali ke coffee shop tempat nando duduk dan mendapati ia sedang sendiri mengutak-atik PDA, “ah, deacon itu belum datang juga, kita harusnya sudah kembali ke gereja” kata saya dalam hati.
Kali keempat saya kembali dan mendapati mereka berdua sedang berbicang-bincang, tanpa pendeta in charge, teman-temannya yang lain telah pergi meninggalkannya. Ketika saya mendekati mereka, terlihat bahwa situasinya sangat tidak menyenangkan. Deacon itu gelisah dan canggung di tempat duduknya. Bahasa Korea Nando yang pas-pasan membuat komunikasi nya tidak lancar dan Mathew yang rewel membuat situasi semakin sulit.
“Apa bapak pendeta akan pindah ke gereja ini?” tanya itu. “Tidak, itu tidak mungkin, saya bekerja untuk Gallilee dan itu sudah 8 tahun tidak mudah untuk pindah” kata Nando. “Kalau memang jadi, istri saya yang akan melayani di sini” perhatian mereka berdua kemudian langsung beralih pada saya. Saya bisa menangkap apa yang digelisahkan deacon ini.
“Chipsanim (sebutan deacon dalam bhs Korea), kami punya beban untuk orang Indonesia yang tinggal di sekitar gereja Anda ini. Kami tidak minta dibayar. Kalian tidak perlu memikirkan bagaimana harus membayar kami, karena kami self supported. Saya percaya jika pelayanan ini datangnya dari Tuhan maka Ia yang akan menyediakan.” Seketika aura gelisah diwajahnya berubah menjadi senyum dan bibirnya mengucapkan “kamsahamnida (thank you)” sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia kemudian dari hati ke hati menerangkan bagaimana mereka (para deacon) harus harus mengeluarkan uang secara pribadi untuk pelayanan ini dan gereja tidak memiliki dana untuk membayar hamba Tuhan asing.
Kami akhirnya berpamitan walau pembicaraan belum selesai karena telah mendapatkan keyakinan bahwa ini bukan tempat untuk kami. Mereka sama sekali tidak siap untuk melayani komunitas orang Indonesia dan memiliki praduga yang negatif terhadap kami. Kami merasa sikap acuh dan enggan mereka muncul karena menganggap kami sedang mencari bantuan keuangan, yang sama sekali tidak dalam pikiran kami saat itu.
Di perjalanan kami membahas sikap pendeta in charge yang acuh dan arogant tersebut. Saya secara pribadi banyak salah kaprah dengan hamba-hamba Tuhan yang mengaku-ngaku punya hati misi tapi secara bersaamaan bersikap negatif terhadap hamba Tuhan asing. Saya menyaksikan bagaimana misionary Korea di perlakukan seperti malaikat ketika melayani di Indonesia, tapi merasa bahwa kami tidak sedikitpun di pandang sebelah mata.
Untuk orang-orang seperti ini Tuhan Yesus sangat tegas menegur dan memperingatkan,
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri. (Matius 23:15).
Saya bersyukur bahwa di surga nanti, Tuhan tidak akan menggolong-golongkan hamba Tuhan berdasarkan suku, bangsa dan ras, tidak juga dengan seberapa besar ukuran gereja yang dilayani. “Ministry is something that we receive and not somenthing that we achieve” (Rick Warren). Apapun yang sedang kita layani adalah kepercayaan yang diberikan Tuhan bukan berdasarkan kemampuan dan kepandaian kita melainkan karena kasih anugerah serta rencana Kerajaan-Nya.
Facebook memang canggih. Karena adanya media ini kita akhirnya bisa dihubungkan dengan teman dan sahabat yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Saya pun tidak ketinggalan untuk memanfaatkan FB mencari teman-teman lama. Salah satu teman yang bertemu karena FB adalah Yola, teman SMP saya yang telah berpisah 20 tahun lamanya.
Kami janjian untuk bertemu dan bertukar certia.
Yola memiliki cerita yang hampir mirip dengan yang saya alami. Ia adalah anak dari seorang cedekiawan dan dosen senior di salah satu Universitas Negeri. Sebagaimana keinginan setiap orang tua agar anak-anak mereka sekolah tinggi dan sukses demikian juga keinginan dari orang tua Yola. Selesai pendidikan sarjana, ayahnya mengusahakan agar anaknya ini bisa melanjutkan sekolah di Luar Negeri. Ia pun dikirim ke Eropa.
Namun, Yola yang sejak di bangku Universitas aktif dalam pelayanan Mahasiswa merasa memiliki panggilan untuk terjun ke dalam pelayanan full time. Tentu saja orang tuanya menentang. Segala macam cara dipakai mereka untuk mengembalikan kewarasan anak yang diharapkan ini, termasuk diusir dari rumah. Sayangnya ini tidak menggoyahkan niat Yola untuk tetap melayani di badan pelayanan yang tidak memiliki gaji tetap. Ya, sampai sekarang setelah 12 tahun melayani kawan saya ini hanya hidup dari iman.
Mestinya, orang-orang seperti Yola yang meninggalkan kenyamanan hidup dan cita-cita duniawinya diberkati Tuhan melimpah-limpah. Tapi berkat yang diterimanya sama sekali berbeda dengan definisi berkat yang kita ketahui selama ini. Ia bertemu dengan seorang pria teman sepelayanan dan memutuskan untuk menikah tanpa ada masa pacaran. Mereka pun hidup bahagia dan dikarunia seorang putri. Memasuki tahun ke-lima pernikahan mereka, suaminya di diagnosa menderita tumor otak. Dua minggu kemudian Yola, telah menjadi janda muda di tambah dengan beban pelayanan yang harus dijalaninya sendiri.
Saat bertemu saya, Yola sedang dalam transisi untuk pindah agar lebih dekat dengan orang tuanya. Ayahnya yang dikasihinya ternyata menderita kanker dan harus menjalani berbagai treatment. Yola, yang kelihatan tabah, berkata bahwa ia sangat mengharapkan kesembuhan ayahnya. “Waktu suamiku sakit, saya tidak berdoa untuk kesembuhannya dan menyerahkan dia pada tangan Tuhan, namun kali ini saya berdoa supaya papa bisa sembuh” katanya.
Mengapa yang buruk bisa menimpa orang baik-baik? Baru saya mendengar khotbah yang mengatakan bahwa orang Kristen hidup tanpa masalah karena Yesus telah memikul-Nya. Kenyataannya tidak demikian. Masalah, kesusahan dan kemalangan orang percaya sama sekali tidak berbeda dengan orang lain.
Jadi dimana terletak perbedaannya???
Kenyataan ini adalah salah satu hal yang mengusik hati nurani saya. Sekian tahun saya mencari tahu apa artinya “hidup yang diberkati”, berharap hidup makmur, sehat, pintar, jauh dari kesusahan dan kemalangan, sukses dan tidak pernah gagal. Sayangnya, roda berputar dari atas ke bawah dan sebaliknya. Hidup penuh liku-liku. Apa yang saya dapatkan selama tahun-tahun pembentukan Tuhan ini dituangkan dalam buku pertama saya “turning HURT into HOPE” Saya berharap melalui pengalaman orang lain, pembaca dapat diberkati dan dikuatkan terutama dalam melewati lembah kekelaman.
Tags: Inspirational, Spirituality


