Teman saya , Ibu Kim, pernah bercerita tentang putrinya yang tiba-tiba berubah menjadi pendiam dan penuh kemarahan. Sejak semester satu bangku universitas putrinya berhenti ke gereja. Ia lebih senang menenggelamkan diri dengan coumputer game dan internet daripada terlibat dengan aktivitas pemuda di gereja. Hatinya menjadi dingin dan penuh kepahitan bukan hanya kepada ibunya tapi juga kepada Tuhan.
Barusan ini Ibu Kim akhirnya bercerita tentang masa lalunya. Ibu missionary yang hampir berusia 50 tahun ini telah kehilangan suaminya lebih dua puluh tahun yang lalu. Waktu itu putri mereka baru berusia satu tahun. Suaminya menjadi korban tabrak lari pengendara truk yang sampai saat tidak pernah ditemukan siapa.
Sebagai ibu muda, ibu Kim ditinggal kebingungan dengan tanggung jawab membesarkan putri tunggalnya yang masih kecil. Ia bekerja dari pagi hingga malam serta mendidik anaknya untuk lebih cepat dewasa dan mandiri. Sebagai contoh, anaknya sudah harus mengurus diri sendiri sejak berusia 4 tahun. Ibunya hanya menunjukkan sekali bagaimana cara ke sekolah dan seterusnya ia harus melakukannya sendiri. Putri kecil ini juga tidak pernah menerima kasih atau pelukan ibunya karena setiap kali putrinya mendekat dan butuh perhatian Ibu Kim selalu berkata “Pergi sana, Mama capek”. Pikirnya, menarik diri dan tidak menunjukkan kasih akan melatih putrinya untuk tabah dan kuat. Selain itu, pekerjaan memang telah menguras seluruh energinya.
Saat ini, Ia jauh dari putrinya yang berada di Korea Selatan. Sambil duduk di salah satu coffee shop di Indonesia, ia berkata kepada saya, “Seandainya waktu bisa diulang, saya akan peluk dan cium anak saya sebanyak yang saya bisa”, katanya menahan air mata. “Waktu melihat Nancy memeluk dan mencium anak-anak setiap sore pulang kerja, hati saya menangis. Hal itu yang tidak pernah saya lakukan dulu.”
Ibu ini telah memberikan pelajaran yang berharga bagi seorang ibu dan wanita pekerja seperti saya.
1. Kasih Bukan Tanda Kelemahan
Menunjukkan kasih bagi anak-anak anda bukan berarti melatih mereka untuk lemah dan tidak mandiri. Sebaliknya, kasih menguatkan. Anak-anak perlu tahu bahwa orang tua mereka mengasihi mereka dan ini tidak bisa dilakukan jika orang tuanya bersikap dingin dan kaku. Ekspresikan kasih, pujian dan dukungan buat anak-anak anda. Apa yang anda lakukan sekarang bak investasi yang akan anda nikmati nantinya di masa yang akan datang.
2. Kasih Tidak Bisa Ditunda
Seorang yang membuat roti dan memanggangnya tapi kemudian ingat bahwa ia lupa membubuhkan garam tidak bisa menambahkannya setelah roti itu jadi. Sama seperti cinta kasih, jika anda tidak memberikannya selagi anak-anak anda kecil, anda tidak bisa menambahkannya nanti ketika mereka dewasa. Harta bisa disimpan, investasi bisa ditabung, tapi kasih tidak bisa ditunda. Ia harus diberikan pada waktunya karena menunda berarti terlambat.
3. Kasih Manusia Tidak Sempurna
“Mama tidak bisa mengganti apa yang dulu sudah hilang, tapi mama percaya Yesus ada saat itu” tulis ibu Kim kepada anaknya yang jauh. “Kasih mama tidak sempurna, tapi kasih Yesus selalu sempurna”, lanjutnya.
Benar, meskipun kita berusaha menjadi orang tua yang baik tetapi tetap ada kekurangan, kesalahan dan ketidakseimbangan. Banyak yang terjadi bukan karena kesengajaan tapi karena ketidaktahuan. Jadi, jangan merasa bersalah jika anda gagal menjadi orang tua yang baik. Kasih manusia memang tidak sempurna tapi kasih Yesus itu sempurna. Doakan dan serahkan hidup anak-anak kita kepada Tuhan. Ajarkan mereka tentang kasih yang sempurna itu.
4. Harga Untuk Kasih yang Sempurna
Untuk memberikan kasih yang sempurna itu harganya tidak murah. Yesus harus menjadi manusia dan mati di kayu salib. Hanya pengorbanan dari seorang manusia yang sempurna dan tanpa cela yang dapat mengampuni dosa seluruh manusia. Itulah yang dilakukan Yesus. Paskah adalah waktu bagi kita untuk merenungkannya.
Masuk ke rumah sakit di bangsal anak-anak memang bukan merupakan impian setiap ibu. Malam-malam yang harus dilalui tanpa tidur nyenyak karena selalu diiringi nyanyian tanigsan anak-anak cukup menyiksa, menambah beban mental karena khawatir dengan keadaan anak sendiri.
Di kamar kami ada beberapa pasien lain yang juga sedang menjalani nasib ini. Ibu-ibu muda dari bebagai latar belakang sosial, pendidikan, kepercayaan, pekerjaan, tapi disatukan oleh nasib anak mereka yang terserang penyakit.
Beda Ibu, Beda Pola Asuh
a. Ibu yang dingin dan suka mengancam
Ibu pertama, datang pagi hari di hari Sabtu. Anaknya adalah penyebab
lingkaran di bawah mata saya bertambah dalam karena kurangnya tidur. Semalaman anak yang berusia sekitar 1,5 tahun itu juga pasti tidak tidur dan energinya telah terbuang untuk menangis. Ibunya kelihatan frustasi menghadapi kerewelan anaknya itu dan sayangnya tidak tahu cara yang tepat untuk meredakan lengkingan-lengkingan tajam bayi lucu itu. Dimulai dengan membujuk “Diam nak, jangan nangis”, kemudian ketika frustasinya semakin tinggi “Kenapa sih kamu menangis terus?”, diteruskan dengan ancaman “Kalau nggak diam ibu pergi lagi loh” kalimat yang tidak bisa diwujudkannya karena suami yang menjaga anaknya semalam telah pulang untuk tidur. Tidak ada yang bisa menggantikannya.
b. Ibu yang panik dan suka berbohong
Ibu kedua yang masuk ke bangsal kami, kelihatan panik. Setelah dua hari di rumah sakit lain, tidak ada perubahan yang mereka alami kecuali uang keluarga melayang berjuta-juta. Ia mengeluh dengan pelayanan rumah sakit dan menganggap suster-susternya judes. Kasihan juga teman saya yang satu itu yang berharap suster yang super sibuk datang mengganti popok anaknya yang sedang diare. Dengan tidak rela akhirnya ia mengerjakan sendiri dan meninggalkan popok penuh kotoran itu di toilet dalam posisi tidak tergulung. Kali ini gantian saya yang sewot karena tiap kali masuk toilet pemandangan dan bau yang tidak menyenangkanlah yang saya alami.
Si ibu panik ini adalah seorang pengusaha yang sibuk bekerja sepanjang hari dan mempercayakan bayinya dijaga mertua. Anak kecil ini tentu tidak punya bonding dengan ibu pencari nafkah ini. Meski biaya rumah sakit yang sangat besar dapat dibayar dengan mudah, tangisan rasa sakit tidak bisa diredakan orang tuanya. Untuk menenangkan anaknya ibu ini senantiasa berkata “Diam ya, itu nenek datang” sambil menunjuk ke mobil tamu rumah sakit yang lalu lalang. Sementara itu jeritan anaknya tidak mereda sedikitpun.
c. Ibu cemas yang penuh perhatian
Selanjutnya, Ibu ketiga yang masuk membuktikan bahwa kami telah tinggal di rumah sakit itu cukup lama sehingga beberapa orang datang dan pergi. Ibu ceria yang penuh perhatian dengan anak yang hampir tidak kedengaran suaranya. Ibu yang berceloteh sepanjang hari dan mengajak mengobrol anaknya yang juga berusia sekitar 1,5 tahun seakan-akan anak itu adalah mahasiswa kelas komunikasi. Rasanya ia cukup beruntung karena anaknya tidak menderita kolik seperti anak saya dan kedua bayi terdahulu. Tidak ada jeritan atau lengkingan tajam yang memekikan telinga orang lain dan menyayat hati ibunya.
Saya baru sadar bahwa sebagian wanita berbicara terlalu banyak jika mereka tegang. Masalahnya tidak semua yang sadar kepada siapa mereka bisa berbicara. Kepada seorang bayi yang vokabularinya masih terbatas dan butuh tidur tentu bukan pendengar yang tepat. Tentangga kamar yang kurang tidur berhari-hari juga bukan pendengar yang baik.
Respon Ibu Menentukan Kepribadian Anak di Masa Depan
Anak pertama, dengan ibu yang dingin dan sering mengancam. Mempunyai bonding yang tidak kuat dengan ibunya, akan belajar bahwa perasaannya tidak penting. Ia adalah seorang yang tidak patut di kasihi dan mendapat perhatian. Tidak ada yang perduli dengan apa yang dirasakannya dan jika ia berani mengekspresikan perasaan negatifnya maka akan ada konsekuensi negatif juga yang akan diterimanya. Ia akan belajar meredam atau menekan emosinya, menghindari hubungan terlalu dekat, takut pada intimasi dan tentu saja krisis kepercayaan diri.
Pada tahap perkembangan anak ini, mereka belajar untuk memisahkan menanamkan rasa percaya mereka kepada individu di luar diri mereka. Dalam hal ini ibu atau pengasuh dekat lainnya. Gagalnya pengasuh membaca signal atau respon yang salah terhadap kebutuhan mereka akan membuat kemampuan anak untuk mempercayai sesuatu di luar dirinya terganggu.
Anak kedua, lahir dari ibu yang juga sibuk dan tidak tidak terlibat. Kebutuhan emosinya diisi dengan janji kosong untung menenangkannya sementara tapi dengan segera ia akan belajar bahwa apa yang ia harapkan tidak akan menjadi kenyataan. Anak ini akan bertumbuh menjadi anak yang tidak mengerti batasan-batasan . Ia tidak mempu membedakan yang benar dari yang salah. Ia juga kesulitan untuk mengerti mana yang bisa dan yang tidak bisa. Ia akan menjadi seorang yang memaksa, menuntut atau yang tidak perduli sama sekali.
Anak ketiga, sedikir beruntung karena menerima kompensasi dari kecemasan ibunya lewat perhatian yang berlebih-lebihan. Pada usia sekolah ia akan menerima mainan mahal atau gadget canggih sebelum usia pantasnya. Apalagi jika si ibu sibuk dan memberi anaknya hadiah bahkan lebih banyak lagi untuk menutupi rasa bersalah atau rasa tidak mampu. Ibunya memastikan bahwa sebelum anaknya membutuhkan sesuatu, apapun itu telah tersedia.
Sedikit sama dengan anak kedua yang tidak mengerti batasan-batasan, ia akan menjadi orang yang punya paradgima yang salah tetang dunia di sekitarnya. Tidak diberi kesempatan bagi keperibadiannya dibentuk lewat tantangan dan masalah akan membuat mereka tidak mencapai tahap kematangan jiwa. Di kemudian hari, jika ada masalah yang tidak bisa dihindari, mereka cenderung menyembunyikan diri, menarik diri, depresi atau nekad tanpa pikir resiko.
Rasa Sakit Tidak Bisa Dihindari, Tapi Bisa Diringankan
Kenyataan ini mungkin menimbulkan pertanyaan kepada ibu-ibu mengenai pola asuh yang benar. Saya ingat, ketika Joel berusia 1,5 dan mengalami apa yang dilami para ibu muda kurang pengalaman. Dalam suatu perjalanan udara, anak saya yang masih dalam kondisi tidak sehat menjerit kesakitan selama 12 jam terbang. Tatapan mata dari para penumpang yang kehilatan sangat terganggu tersebut menusuk hati saya. Para pramugari yang ramah telah kehilangan segala kesabarannya, menuntun saya ke koridor dekat pantry berharap ada ilmu ampuh yang bisa saya keluarkan untuk mendiamkan anak saya. Sayangnya, ilmu saya tidak cukup tinggi, pengetahun parenting saya juga tidak banyak, satu-satunya hal bisa saya lakukan adalah memeluk anak saya erat-erat (bergantian dengan dengan Papanya) sambil menenangkan dengan kata-kata kasih.
Setelah itu, saya baru belajar, bahwa memang tidak ada ilmu yang manjur untuk menenangkan anak kesakitan selain kasih sayang dan ketenangan ibu. Mendengar suara ibu yang merdu penuh kasih sayang yang membuainya mungkin tidak menghilangkan rasa sakitnya. Anak itu belajar bahwa dalam dunia ada masalah, rasa sakit pun tidak bisa dihindari. Yang membuat beda, ada rasa percaya diri dalam anak tersebut bahwa ada orang lain perduli, yang bersama-samanya melewati masa susah tersebut. Anak juga akan belajar sifat empati, kemampuan untuk ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain.
Sebagai orang tua, kita tidak bisa melindungi anak kita dari ‘sakit’nya dunia ini. Paling tidak, tidak selamanya. Memberikannya mereka kesempatan untuk mengalami sakit tapi memberi dukungan, pengertian dan kasih sayang sangat membantu mereka menjadi pribadi yang matang.
Seri “Menemukan Cinta Sejati ” (Part 2)
Orang mengira bahwa pernikahan adalah tempat mereka memadu cinta selama-lamanya. Api asmara yang mereka rasakan selama masa berpacaran akan terus berkobar ketika mereka bersatu. Cintalah yang akan membuat mereka kuat dan berpadu.
Kenyataannya ada yang segera mengalami kekecewaan. Apa yang mereka anggap kecil dan remeh bahkan tidak ada semua sekarang mulai kelihatan mengganggu. Kebiasaan jelek suami, mertua yang terlalu masuk campur, kondisi keuangan yang tidak stabil, bisa membuat bahtera pernikahan terobang-ambing.
Dengan segera ketika efek PEA hilang dan kisah romantika percintaan berakhir banyak yang mengira sudah salah pilih dan terjebak dalam ruangan tanpa pintu keluar. Ternyata mereka memang tertipu oleh mitos yang mereka pegang selama ini.
# 1 – Romantika percintaan akan bertahan selama-lamanya.
Yang benar adalah kita telah tertipu oleh kisah cinta ala Cinderela yang dipersunting pangeran tampan dan berbahagia selama-lamanya. Perasaan berbunga-bunga tidak akan bertahan selamanya. Bulan madu akan berakhir. Masalah dan konflik akan datang menerpa setiap hubungan yang dijalin manusia. Cerita Cinderalla itu harusnya ada kelanjutannya. Kita dapat menambahkan seri-seri berikutnya dengan kisah kita sendiri.
# 2 – Kita akan terus menerus jatuh cinta pada si dia.
Yang normal adalah, anda bisa juga marah dan kesal terhadap dia. Dia bisa membuat anda merasa terganggu. Dia bisa mengorek luka lama yang telah anda kubur bertahun-tahun. Dia bahkan membuat anda sadar kelemahan-kelemahan yang anda tidak ketahui. Dia membuat anda menjadi manusia yang lebih baik jika anda mau berubah. Sebaliknya dia membuat anda merasa seperti monster yang jelek jika tidak bisa menyesuaikan diri. Bersama dia, kelemahan anda menjadi nyata demikian juga dengan kelebihan dan potensi anda.
# 3 – Cinta harus alami dan tidak boleh dipaksakan
Ini tentunya hanya ada di dunia mimpi. Setelah PEA tidak lagi bekerja, anda butuh kokain, kafein atau aphetamine untuk membuat otak kembali bekerja sama seperti waktu anda kasmaran. Jika anda tidak ingin menjadi pecandu obat terlarang, itu berarti anda harus relakan perasaan romantika itu berlalu. Terimalah kenyataan. Yang ada di depan anda bukan Cinderela atau Prince Charming. Yang ada di depan anda adalah manusia lengkap dengan kelemahan dan kelebihannya. Yang membuat cinta bertumbuh adalah komunikasi yang baik. Cinta sejati butuh usaha dan sering perlu untuk dipelajari.
# 4 – Kita jatuh cinta dengan orang yang berbeda dengan orang tua kita
Sebaliknya kita jatuh cinta dengan orang yang memiliki karakteristik yang sama dengan orang tua kita, tertutama karakteristik negatif mereka. Itulah sebabnya ketika kita bertemu dengan sang jantung hati, seakan kita telah mengenalnya seribu tahun. Kedua sejoli akan ditarik mendekat oleh suatu kekuatan yang tidak mereka sadari. Bersama mereka merasa lengkap dan untuh sebagai manusia.
# 5 – Kita jatuh cinta dengan orang yang bertolak belakang sifatnya
Anda yang pendiam akhirnya jatuh hati pada wanita yang cerewet. Atau anda yang boros akhirnya dipertemukan dengan pria yang hemat. Setelah menikah banyak pasangan yang baru menyadari bahwa mereka memiliki luka yang sama dengan pasangan yang telah mereka pilih. Seorang pria menjadi hemat karena kesulitan keuangan yang ia hadapi sejak kecil. Menyimpan uang merupakan caranya bertahan dan merasa aman. Seorang wanita menjadi boros karena ia mau menikmati apa yang tidak bisa ia nikmati dulunya. Berangkat dari luka yang sama mereka meresponi dengan cara yang berbeda.
# 6 – Jika ada cinta sejati maka apapun tantangan dalam pernikahan akan menjadi mudah
Karena percaya pada mitos inilah maka orang yang sedang mabuk kepayang tidak memperhitungkan faktor – faktor seperti usia, budaya, agama, latar belakang keluarga, pendidikan dan status sosial. Mereka menganggap hal-hal tersebut akan mereka atasi lewat cinta mereka yang meluap-luap. Kenyataanya, dalam pernikahan masalah sepele bisa menjadi besar. Apalagi hal-hal yang sangat prinsipil dan mendasar tentu akan menjadi jurang pemisah dua pribadi yang berbeda.
# 7 – Cinta sejati di ukur oleh kesetiaan dan komitmen kita dalam pernikahan
Salah besar. Banyak yang tetap menikah bukan karena cinta lagi. Tidak ada lagi rasa saling membutuhkan apalagi mengasihi. Meskipun komitmen pernikahan masih dijaga mereka tidak menikmatinya lagi apalagi merasa bahagia karenya. Banyak pasangan yang telah bercerai meskipun mereka tinggal serumah. Ini dinamakan perceraian emosi. Faktor anak, keluarga, kepercayaan, karir atau nama baik, membuat banyak pasangan bertahan. Jika tidak ada usaha untuk memperbaiki pernikahan dengan komunikasi yang lebih baik maka anda telah momvonis diri untuk dipenjara seumur hidup lewat pernikahan yang anda jalani.
Seri “Menemukan Cinta Sejati” (Part 1)
Cinta membuat orang lupa diri. Cinta membuat segala sesuatu menjadi indah, berbunga-bunga dan sempurna. Apapun yang anda lakukan wajah si dia akan selalu membayang-bayangi. Membuat hidup lebih hidup, semangat yang patah bangkit kembali, hari-hari penuh debar dan penantian. Malam menjadi panjang bila terjaga karena rindu untuk bertemu si dia.
Pada saat seseorang jatuh cinta, tiba-tiba ia menjadi kreatif tiada terkira. Bahkan untuk seseorang yang yang tidak memiliki jiwa seni pun tiba-tiba puisi indah mudah dirangkai dan lagu-lagu cinta tercipta. Dunia seakan milik berdua dan semua kisah cinta seakan bercerita tentang mereka. Menurut lagu orang yang sedang jatuh cinta, ia rela mengarungi 7 samudra, mendaki gunung Himalaya dan menyeberangi lautan api.
Itulah gambaran sekilas mengenai orang yang jatuh cinta. Anda tentu dapat menambah panjang daftarnya. Tapi tahukah apa yang sebenarnya terjadi di dalam otak seseorang yang sedang jatuh cinta?
Para ahli menemukan suatu zat yang di sebut phenylethylamine (PEA) dalam otak seseorang yang sedang kasmaran. Zat inilah yang membuat seseorang memiliki energi meluap-luap, perasaan senang dan nyaman, perasaan tenang dan aman, pikiran positif dan kreatif, berkurangnya rasa sakit serta bertambahnya keinginan seksual. Dari hasil kerjanya zat PEA mirip dengan cara kerja Dopamine yang terdapat pada stimulant dan obat psikoaktif seperti nicotine, cocaine dan amphetamine (anti depressant).
Berapa lama Zat PEA ini bertahan?
Menurut penelitian PEA bertahan 6 bulan sampai 3 tahun. Atau dengan kata lain, cinta sejuta rasa dan perasaan berbunga-bunga yang kita rasakan pada si dia paling lama hidup sampai 3 tahun!
Lalu apa yang terjadi sesudah itu?
Setelah otak kita kembali bekerja normal, mimpi menjadi kenyataan yang harus dihadapi. Tidak ada lagi Prince Charming atau Princess Adorable di hadapan kita. Kita berhadapan dengan seseorang yang nyata, yang lengkap dengan kekurangan dan kelebihannya. Apa yang dulu kita tidak kita rasakan karena efek PEA sekarang tidak bisa diabaikan lagi.
Kita mulai merasa terganggu dengan sikap kekanak-kanakan dan manjanya. Atau kita menjadi tidak tahan karena ia ternyata pencemburu dan terlalu mengontrol. Kita tidak lagi menganggap bau tubuhnya harum semerbak karena penciuman kita yang telah kembali normal akhirnya bisa mendekteksi bau badan yang tidak sedap.
Bagaimana dengan cinta sejati?
Jika cinta kita hanya setinggi pengaruh PEA jadilah kisah cinta kita ala celebrity holywood yang bertahan seumur jagung atau seumur tauge. Tapi jika cinta kita murni melampaui efek kerja zat kimia di kepala, maka kita akan menemukan cinta sejati. Dengan kata lain, cinta sejati, adalah cinta yang telah tahan uji dan mampu menerima pasangan kita apa adanya. Mencintainya bukan berdasarkan perasaan berbunga-bunga, tapi menganggapnya bagian yang tidak terpisahkan dari diri kita sendiri. Cinta sejati adalah cinta yang membuat kita menjadi utuh.
Kalau pemerintah kita menganjurkan Keluarga Berencana dengan dua anak cukup, ada juga keuntungan sampingannya. Paling tidak untuk mengurangi stress para ibu menangani perselisihan di antara anak-anaknya. Anak-anak, serukun apapun keluarganya pasti berantem dan berebut untuk berbagai alasan. Mereka bertengkar waktu bermain, waktu belajar atau waktu makan. Dan semua ini adalah normal.
Perselisihan kakak adik ini bukan hanya terjadi waktu kanak-kanak saat mereja saling berebutan perhatian orang tua saja. Perselisihan masa kanak-kanak yang tidak terselesaikan secara baik akan berpengaruh jangka panjang sampai mereka dewasa.
Tentu sebagai orang tua kita tidak ingin keluarga kita menjadi arena pertempuran apalagi jika harus terbawa sampai tua. Untuk itu perlu cara bijak menghadapi perselisihan anak-anak kita :
1. Perlakukan Setiap Anak Dengan Spesial
Karena setiap individu adalah spesial maka kita perlu untuk memperlakukan setiap anak kita secara spesial. Hindari membanding-bandingkan satu dengan yang lainnya, mempunyai anak favorit atau menjadikan salah satu anak model bagi anak yang lainnya. Berikan perhatian secara pribadi kepada setiap anak. Misalnya, ajaklah anak secara bergantian untuk mengunjungi tempat favorit mereka dan gunakan waktu ini untuk melakukan pembicaraan pribadi.
2. Mengajar Cara Positif Mendapatkan Perhatian
Pada dasarnya perselisihan timbul karena anak-anak mau mendapatkan perhatian dari orang tua. Jika salah satu atau kedua orang tua membeda-bedakan anak dan memfavoritkan anak tertentu maka perselisihan ini akan semakin tajam. Demikian juga jika orang tua tidak adil dalam membagi waktu atau menyelesaikan konflik yang terjadi diantara mereka. Buat anak mengerti cara yang baik dan postif untuk mendapatkan perhatian, salah satunya dengan mengemukakan pendapat secara terbuka. Orang tua pun harus menghargai pendapat dan perasaan mereka.
3. Lakukan Aktifitas Bersama
Makan, nonton TV, belajar, beribadah bersama-sama adalah contoh kegiatan yang bisa dilakukan untuk membangun kebersamaan. Outing, piknik dan mendaki gunung adalah contoh lainnya yang dapat dilakukan orang tua untuk membangun team work bagi anak-anaknya. Ketika anak-anak mengalami senang dan pahit bersama-sama maka ikatan emosional mereka semakin kuat. Contoh lain, adalah cara unik untuk melakukan tradisi keluarga misalnya, merayakan natal, tahun baru, ulang tahun, hari ibu dan hari anak secara khusus.
4. Kembangkan Potensi Maksimal Anak
Anak-anak perlu untuk mengenal, menggali dan mengembangkan potensi mereka. Ada anak yang mahir bermain musik, ada yang bersuara merdu, ada yang jago menggambar, ada yang pintar matematika dan masih banyak lagi. Potensi-potensi ini sudah tampak sejak mereka sangat kecil. Orang tua yang bijak, selain menjadikan setiap anak spesial, juga membantu anak mereka mencapai potensi maksimal mereka. Dorong kakak untuk aktif dalam mengksplore dunia sains yang disukainya dan dukung hobi adik dalam bermain musik. Potensi yang berkembang memberikan rasa percaya diri dan mengajarkan cara positif untuk beraktualisasi.
5. Membangun Nilai-nilai Sejak Dini
Nilai-nilai agama dan pengembangan karakter harus dimulai sedini mungkin. Anak yang diajarkan nilai persaudaraan berbeda dengan yang tidak diajarkan sama sekali. Meskipun setiap manusia berkembang dengan membangun nilai moral masing-masing, tapi mengajarkan nilai secara khusus adalah investasi tak ternilai untuk masa depan anak-anak kita. Nilai yang paling penting dibangun adalah nilai agama. Dengan belajar Firman Tuhan dan menarik teladan dari tokoh-tokoh Alkitab, anak-anak belajar hal yang konkrit mengenai karakter ilahi.
Senyum yang memberikan kebahagiaan itu berganti dengan temper tantrum yang mengesalkan. Tawa yang mengguncang dunia itu berganti dengan rengekan yang bikin pusing kepala. Kaki kaki kecil itu dapat berlari kemana saja ia mau dan membuat anda terengah-engah mengejar. Dari orang tua yang bangga dan bahagia, sekarang anda menjadi polisi yang kekurangan energi. Masa-masa menggemaskan bayi anda telah lewat dan mau tidak mau anda menghadapi masa yang di sebut ‘terrible two’.
Jika anda kurang beruntung, anda mungkin akan mengalami apa yang saya alami ketika anak kami Matthew berusia dua tahun. Dada saya yang sering berdegup kencang karena pengalaman hidup dan mati dengan anak ini. Wajah saya yang pucat melihat kepalanya berlumuran darah dan harus dilarikan ke rumah sakit. Ketakutan saya waktu TV kami seberat 50 kg jatuh menimpanya. Teriakan panik saya waktu kepalanya terjepit jendela mobil. Atau dunia yang hampir runtuh saat saya menyaksikan tubuhnya terapung di kolam renang. Ia melanggar hampir semua rambu-rambu yang telah saya buat dan melawan setiap kata ‘jangan’ yang saya ucapkan.
Syukurlah, Matthew yang berusia hampir empat tahun saat ini tidak lagi membuat hidup kami seperti pemain film horror. Ia mulai tenang dan terkendali. Ia mulai memahami apa arti bahaya dan kemampuannya untuk menjaga diri semakin tinggi.
Perlu diingat, walaupun disebut ‘terrible two’ tidak semua anak merepotkan orangtuanya di usia ini. Berikut, untuk menjadi orang tua yang lebih baik seringkali tidak datang secara alami, dalam arti kita juga harus belajar dan berlatih. Sama dengan anak kita yang belajar untuk mengenal dunia dan menaklukkannya tahun demi tahun , orang tua jua belajar untuk mengembangkan kemampuan parenting mereka.
Bagi yang memiliki anak Batita (1-3) tahun ada baiknya mencoba untuk mempraktekkan teknik-teknik di bawah ini:
1. Bangun Pembatas Masa Depan Sekarang
Meskipun setiap anak berbeda dalam menaati batasan yang kita buat tapi kita harus memilikinya. Batasan sebenarnya memberikan rasa aman kepada anak kita. Dengan itu mereka mulai belajar untuk membedakan yang baik dan tidak baik, antara yang boleh dan tidak boleh. Berhasilnya orangtua untuk membuat batasan yang benar, sederhana dan mudah diikuti bukan saja akan mempengaruhi jiwa anak pada saat mereka beusia dua tahun tapi ini juga akan membantu mereka untuk menentukan batasan sepanjang hidup mereka.
2. Serius Jalankan Atau Tinggalkan
Tetap konsisten tidaklah segampang membuat batasan. Misalnya kita membuat aturan “Makan harus duduk di meja makan”, hari ini bisa dikerjakan tapi belum tentu besok kita akan tetap bertahan dengan aturan ini. Bagaimana dengan satu bulan kemudian? Atau bagaimana kalau anak kita harus diasuh nenek yang punya aturan yang berbeda?
Oleh karena itu jangan pernah membuat aturan jika anda tidak serius menjalankannya. Dua atau tiga aturan yang konsisten dijalani lebih baik dari dua puluh tiga aturan yang mudah dilanggar.
3. Ijinkan Einstein Lahir di Rumah Anda
Seringkali rasa ingin tahu anak kita yang berotak Einstein disalahtafsikan sebagai kenakalan. Banyak orangtua yang melarang anak mereka melakukan sesuatu tapi tidak memberikan sarana pengganti untuk menyalurkan bakat jenius mereka.
Ketika anak kami Joel mencoret-coret dinding apartemen sewaan kami yang putih bersih, saya sempat sewot. Saat itu saya belum sepenuhnya menyadari kalau anak kami sedang mencari cara untuk menyalurkan bakatnya. Melarangnya membuat karya seni di dinding adalah benar hanya kalau kita memberikannya cara lain yang lebih baik. Akhirnya kami memberikan buku gambar, papan gambar, meja gambar, atau apa saja yang dapat mengalihkan perhatiannya untuk menggambar di dinding rumah.
Ijinkan anak-anak kita menyalurkan energi mereka secara positif. Berikan wadah untuk mereka berkarya. Izinkan mereka bermain di luar rumah dan berteriak sesuka mereka jika tempatnya memungkinkan. Bawa mereka ke tempat bermain anak-anak semampu kita dan biarkan mereka mengeksplorasi dengan bebas. Biarkan mereka menikmati masa kanak-kanak pada waktu mereka masih kanak-kanak. Dan jika kita berkata ‘jangan’, berikan selalu alternatif lain yang ‘boleh’.
4. Wujudkan Kasih Lewat Tindakan
Saya sering bertemu dengan orang tua yang kelihatannya lebih bermasalah dalam hal tantrum dari anak mereka. Mereka berteriak, membentak, mengancam, bahkan memukul. Tanpa disadari, anak-anak mereka belajar dari apa yang mereka lakukan. Jangan heran kalau anak-anak ini juga belajar untuk mengkspresikan emosi mereka secara negatif dan penuh kekerasan. Akhirnya, lingkaran setan ini menjadi pola hubungan atara orang tua – anak, atau antara anak dengan teman-temannya.
Orang tua yang tetap tenang dan lembut meskipun anak mereka sedang tantrum, adalah model yang terbaik dalam pembentukan kepribadian anak. Kasih itu lemah lembut dan panjang sabar, sebenarnya prakteknya dapat dimulai dari mendidik anak-anak kita.
Tuntutan zaman sekarang membuat sebagian besar ibu harus bekerja dan meninggalkan anak mereka dirawat orang lain. Buat sebagian orang situasi ini sungguh tidak terelakkan. Oleh karena itu jika para ibu ini disuguhi dampak negatif dari anak yang tidak diasuh langsung oleh ibunya tentu akan menambah perasaan bersalah, cemas bahkan depresi.
Sebagai ibu, kita bisa memilih untuk tidak bekerja dengan resiko kebutuhan keluarga tidak akan terpenuhi dengan baik termasuk kebutuhan fisik dan emosi dari anak-anak tercinta. Kita juga bisa memilih untuk tetap bekerja dengan resiko kehilangan kesempatan untuk merawat anak –anak kita. Daripada menebarkan sikap menghakimi mari memilih untuk mencari solusi dari dilema ini.
Yang perlu diketahui oleh para ibu bahwa bonding atau ikatan batin antara ibu dan anak terbentuk pada satu tahun pertama kehidupan, bahkan dari dalam kandungan ibu. Momen setelah seorang bayi dilahirkan sangat penting karena saat inilah sang bayi mulai belajar membangun rasa percaya kepada dunia yang baru dikenalnya. Jika kebutuhan emosinya seperti cinta kasih dan perhatian terpenuhi, itu akan memberinya rasa aman dan berharga. Demikian juga dengan kebutuhan fisik seperti rasa lapar dan haus yang cepat ditanggapi membuat sang bayi kecil ini belajar percaya pada pengasuhnya.
Walaupun kebutuhan emosi kita perlu untuk dipenuhi dalam segala tahap perkembangan, tapi pada saat bayilah fondasi itu dibangun. Pentingnya seorang bayi untuk memiliki satu figur yang secara konsisten memenuhi dan menanggapi kebutuhannya memberikannya kepastian bahwa kehadirannya di dunia memang didambakan. Sebaliknya hilangnya figur yang memberikan semua kebutuhan itu akan membuat bayi itu percaya bahwa ia tidak layak untuk dikasihi. Dengan fondasi yang kuat, anak akan bertumbuh dengan rasa aman dan percaya pada dunia disekitarnya.
Setelah dewasa, anak-anak yang tidak memiliki fondasi emosi yang kuat akan menjadi orang-orang yang tidak percaya diri, takut pada keintiman dan merasa tidak berharga. Mereka juga akan kesulitan untuk memberi dan menerima kasih sayang. Pada kasus yang lebih berat bayi akan bertumbuh menjadi anak dengan karakter bermasalah bahkan anti sosial. Anak yang sejak kecil ditelantarkan atau mengalami kekerasan fisik dan mental akan mengalami kerusakan jiwa nantinya. Karena rasa percaya pada pengasuh adalah emosi paling dasar yang dibangun seorang manusia, maka jika dasar itu tidak terbentuk dengan sempurna atau rusak, maka emosi apapun yang dibangun di atasnya akan mudah hancur.
Di bawah ini adalah tips sederhana untuk meninggalkan anak dijaga orang lain.
1. Percayakan Anak Pada Orang yang Bisa Dipercaya
Dalam keadaan ibu yang sibuk bekerja dan tidak dapat menghidarinya, penting untuk menyerahkan pengasuhan bayinya kepada orang yang bisa dipercaya. Biasanya ibu atau ibu mertua senang jika harus membantu menjaga cucu. Dalam keadaan lain, seorang figur yang memiliki naluri keibuan untuk mengasihi anak juga bisa membantu. Seorang teman saya memercayakan anaknya kepada bekas pengasuhnya waktu kecil yang telah mengikuti keluarganya selama puluhan tahun. Tentu ini akan memberikan rasa tenang untuk sang ibu dan untuk bayinya.
2. Biarkan Anak Memiliki Figur Pengasuh yang Kuat
Meninggalkan anak dijaga oleh nanny atau babysitter yang kurang pengalaman dan tidak diketahui karakternya sama saja menempatkan bayi kita di kandang singa. Secara fisik singa itu tidak memakan anak kita, tapi secara emosional ia akan mencabik-cabiknya. Tentu saja tidak ada seorang ibu yang dengan sadar mau menyerahkan anaknya dicabik-cabik singa manapun juga.
Yang lebih buruk lagi adalah situasi dimana anak kita diasuh oleh nanny yang keluar masuk. Ini sungguh berbahaya. Karena pengasuh yang selalu berganti, anak tidak dapat membentuk bonding dengan figur tertentu. Untuk itu, selain orang yang dapat dipercaya penting juga untuk tidak mengganti pengasuh, paling tidak pada tahun pertama.
3. Investasikan Kasih Lewat Waktu yang Berkualitas
Para ibu karir juga perlu untuk membayar harga dengan mengorbankan waktu santai mereka untuk mengasuh anak dan membangun bonding dengannya. Memang berat rasanya ketika tubuh penat karena seharian bekerja di rumah masih harus menjaga bayi, namun ini adalah konsekuensi yang harus dijalankan. Jika kita tahu bahwa waktu yang kita berikan adalah investasi berharga untuk kesehatan emosional dan fisik anak kita, tentu kita tidak akan menyia-nyiakan setiap momen.
4. Berikan Kasih, Jangan Merebutnya Dengan Paksa.
Para ibu juga harus merelakan jika diacuhkan oleh buah hati karena ia lebih dekat ke nenek atau pengasuhnya. Jangan merebut kasih anak secara paksa. Anak tidak membutuhkan banyak figur ibu. Malahan pada ekstrimnya, ia hanya memerlukan satu figur untuk membangun bonding. Jika anak bersikap acuh dan tidak butuh, tentu kita harus bersabar. Mungkin setelah anak sedikit lebih besar dan mulai mengerti, ia bisa lebih dekat dengan ibunya. Ingat, kebutuhan emosional anak lebih penting daripada kebutuhan emosional ibu. Mengatasi ibu yang merasa tertolak lebih mudah dari mengatasi anak yang tertolak. Bagi bayi satu tahun, apa pun yang dirasakan itu berarti seluruh dunianya.
ABOUT LIFE
No one can answer the question about ‘the meaning of life’. The meaning of life is not a query, it’s an experience. When your life is meaningful then there’ll be no such question.
We can make our lives meaningful by make them tastier each day. Do the longing of our heart, achieve our special calling and utilize our given potentials.
We can make our lives meaningful by enjoying the nature and surrender to the greater essence. Realizing, the control we have just as big as our brain and the power we have just as big as our heart.
ABOUT LOVE
All started with love and hopefully will end alike. Live your life with love, gain and spread it. Give away more than what you got than you’ll see a miracle: love will never cease. There’ll be no such shortage of love by give it away. When you give, it’ll come back to you more.
Put it into action. Spread its fragrance with a smile. Mix it with your kitchen recipe. Sprinkle it to your future plans. And pour it to those who happen to be around you.
Love is the answer of human psychological need, cure to our physical heat, and food of our spiritual craving. Keep it to yourself and you dry it up. Love just for yourself and you vaporize it.
ABOUT THE CHILDREN
They remind us of our past.
Once we were that innocence, naïve and selfish. Once we were that out of control. Once we embraced the world for our very selves. Once we thought all things are good by their nature.
Then we grow up.
We learned how to keep those feelings inside. Instead of deal with them, we try to hide our childlike characters from outside. Try to cover them with tough face and thick muscle. Thinking we’re strong enough as we should be.
But the child inside never outgrows our age. It doesn’t develop along with our physics. It doesn’t get educate as we are in schools.
The child inside doesn’t grow naturally. It only grows by choices. We make choices to let it grow. We make choices to let it educate. We make choices to let it mature.
The children remind me about my inner feelings, the need of love and acceptance. They also remind me about the future, how my life will end by choices I make today.
The children wake up my inner child to the responsibility of growing up.
ABOUT THE PEOPLE
They come to this world as a result of love of two individuals and great plan of one creator. Love can’t be taken away from their lives.
The world may break up what planned to be the masterpieces, but when the creator gives a retouch, all scars disappear.
@J’Co
“Don’t lose your ideas, quickly write them down”
Saya tidak mengenal Bang Mula, jika kenalan berarti hubungan tradisional seperti tetangga, keluarga jauh, bekas teman sekolah, temannya teman, dst . Namun entah kenapa, beberapa hari sejak kepergiannya, senyum dan sapaannya selalu terbayang. Meski hanya hanya melalui dunia maya ternyata Bang Mula telah menjadi sahabat saya. Saya tahu banyak tentang dirinya (paling tidak sebanyak yang ingin dibagikannnya melalui blog dan FB). Mengenal istri, anak-anak, cucu-cucu, pekerjaan dan imannya, sekali lagi dari sisi yang beliau ingin dikenal lewat tulisan-tulisannya.
Saya pernah meminta kesediaan bang Mula untuk memberi endorsement bagi buku pertama saya. Untuk beberapa saat email saya tidak balas. Pikir saya, mungkin beliau sibuk dan email saya sudah bergabung dengan puluhan spam lainnya. Jadi saya email lagi kedua kalinya. Tidak beberapa lama kemudian saya mendapat balasan, “Maaf, maaf, saya terluput membaca message yang sebelumnya. Tentu saja saya mau memberikan endorsement. Kirimlah naskahnya kepada saya. Sekali lagi, saya minta maaf atas keteledoran ini”
“Aduh, amang jangalah itu dibilang keteledoran. Aku juga maklum orang seperti amang ini inboxnya pasti penuh yang kandang-kadang isinya memang perlu abaikan saja” balas saya.
Ah, mengapa beliau yang dituakan dan terkenal seperti itu perlu meminta-minta maaf kepada saya seorang muda yang baru mau belajar menulis? Tentu saja saya merasa malu dan tidak tahu diri. Masih adakah orang yang demikian rendah hati dan peduli dengan orang yang ali-ali dikenalnya?
Meskipun itu tidak pernah terjadi karena karena akhirnya buku saya bisa terbit dan menurut editor saya tidak perlu endorsement tapi saya sangat berterima kasih dengan sikap dan sambutan beliau.
Tentu saya, seperti banyak sahabat Mula Harahap merasa kepergiannya terlalu cepat. Masih banyak obrolan yang tertunda, acara yang harus dihadiri, masalah negara yang perlu campuri, janji yang belum ditepati, rencana yang belum dipenuhi dan cerita tentang Gisella dan Karissa yang belum ketahui.
Masih banyak yang menantikan status Bang Mula dan celotehannya tentang berita hari ini. Kadang lucu, kadang kontroversial, sering kali provokatif, mengundang komen dari yang netral sampai yang nyeleneh. Statusnya mengenai negara dan gereja kadang bikin panas telinga orang-orang yang membacanya namun dalam hati kecil mereka beguman “Benar juga ya” ; “Kok ndak pernah terpikir awak?”; “Ah, itu juga yang selalu kupikirkan tapi mana berani aku utarakan”.
Bang Mula sangat menikmati hidupnya. Menjaga cucu-cucunya yang menjadi sumber cerita dan status lucu, serta memprovokasi orang dengan tulisan yang segar, cerdas, dan tegas. Ia telah menjadi inspirasi dalam arti banyak orang bercermin dari kehidupan Bang Mula. Kehidupan yang sering ditabukan, misalnya mengenai ceritanya waktu menonton video Ariel dan Luna Maya. Kehidupan yang dikamuflasekan lewat status yang memuat liburan ke luar negeri, nunggu peasawat di airport, makan di restoran Jepang, belanja di Singapura, yang semuanya untuk menutupi kekosongan hati dan keputuasaan melihat keporakporandaan neraga kita.
Buat Bang Mula tidak ada yang tersembunyi. Pikiran, perasaan dan keresahannya diungkapkan dengan terang-terangan. Saya percaya dalam hatinya yang bijaksana itu Ia tahu “Ente juga kan punya perasaan yang sama”. Ia tahu apa yang dirasakan dan dipikirkan orang tapi tidak pernah berani mengungkapkannya. Ia mengajari kita yang muda-muda untuk berani berbicara, lupakan dulu norma, sikirkan aturan yang baku, kemudian berkata, “Jangan banyak cingcong, ini pendapatku!”
Dari keberanian dan kebebasan bang Mula mengungkapkan dirinya, kita bisa mengenal sosok yang penuh kasih. Kasih terhadap Tuhan, Negara dan Keluarga. Kasih yang diungkapkan tanpa basa-basi. Terguran tanpa pandang bulu. Seperti ada tertulis “Ia menegur orang yang dikasihinya”
Melihat akhir hidup Bang Mula, dan ucapan belasungkawa di FB-nya membuat saya berpikir, “Beginilah idealnya akhir hidup seseorang”. Banyak yang merasa kehilangan dan belum puas. Disinilah letaknya keabadian bagi Mula Harahap. Ia akan selalu dikenang sebagai seorang yang kreatif, peduli, cerdas, inspiratif, kocak, ramah, rendah hati…dst. Orang hanya memiliki kenangan manis tentang dirinya. Sungguh kontras dengan koruptor yang hidup bergelimang harta dan menuai cacian dan kebencian pada hari matinya. Dari kesederhanaan hidup Mula Harahap, iman dan kepercayaannya, sungguh tidak ada harta yang lebih berharga untuk dimiliki.
?
Sudah beberapa hari ini Matthew tidak bisa dipisahkan dari mobil kuning kecilnya. Tidak ada yang special dengan mobil ini kecuali di bagian depan tubuhnya ditutupi belasan plester obat. Menurut Matthew, mobilnya sakit. Sambil mengelus-ngelus mobil yang bergambar Pororo (character cartoon anak-anak Korea) ia berkata “Pororo appoo” (Pororo sakit), sesekali ia mencium dan meniup lembut. Persis seperti yang kami sering lakukan jika Matthew terluka, -yang mana sering terjadi
-.
Saya memperhatikan tingkah yang lucu itu dan membantu meringankan perasaan sedihnya. Membantu agar mobil pororo itu bisa ikut ke sekolah bersamanya dan tidur di sampingnya di malam hari. Saya kadang ikut mengelus body mobil pororo dengan lembut dan hati-hati sambil memperlihatkan tampang sedih. Saya tidak percaya kalau mobil pororo itu sakit, tapi saya percaya dengan perasaan anak saya. ^^
Ini yang dinamakan sikap ‘prejudice’ anak-anak. Lucu dan menggemaskan tingkah Matthew itu karena dia baru berusia tiga tahun. Tapi bagaimana jika kejadian itu terjadi pada orang dewasa yang berusia 23 tahun, misalnya? Apakah masih lucu? Tentu kita sepakat mengatakan bahwa ia tidak waras.
Sebenarnya tingkah orang dewasa seperti perasaan tidak aman (insecure), kurang self-kontrol (impulsif), menghakimi (prejudice), self-centered, narcissistic, adalah cerminan tingkah anak-anak yang terkunci dalam kepribadian seseorang. Banyak orang yang bertambah dewasa namun sikap anak-anak ini tidak bertumbuh di dalam dirinya.
Yesus mengajarkan agar kita tahu merendahkan diri seperti anak-anak (Mat 18:26), belajar dari kemurnian, kepolosan dan kejujuran mereka. Karena untuk mengerti dan menyambut Kerajaan Sorga kita memerlukan sikap seorang anak kecil. Namun kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan jahat, hitam atau putih, sakit atau sehat, sorga dan neraka adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh orang dewasa (Ibr 5:13)


