Archive for the “Uncategorized” Category

Setelah tiga bulan tinggal di Hong Kong akhirnya kami balik lagi ke Korea. Kedatangan kami di sambut oleh teriknya musim panas di bumi Morning Calm ini. Saya bolak balik gelisah, baju anak-anak sudah ditanggalkan namun di dalam rumah masih terasa seperti dalam oven. Meski ingin menghemat akhirnya toh AC window yang disimpan di gundang dikeluarkan juga. Musim panas di Korea sangat singkat, sehingga AC bukanlah suatu keharusan.

Ini pertama kali melalui musim panas di rumah yang kami tinggal sekarang dan dua bulan lagi kami juga harus pindah. Pindahan yang ke-5 dalam kurun waktu 6 tahun pernikahan kami.

Pindah rumah adalah hal yang paling melelahkan tapi entah kenapa harus selalu terjadi. Berhari-hari mengepak barang diikuti berhari-hari kadang bermingu-minggu lagi untuk menatanya.

Pada waktu tiba di Korea 8 tahun lalu saya tinggal di asrama. Setiap tiga bulan kami harus mengangkat semua harta benda kami dan pindah kamar, no excuse. Setelah menikah keadaan tidak juga jauh berbeda.

Bertahun-tahun hidup nomaden kami akhirnya belajar untuk hidup simple tanpa pernak-pernik. Kami sudah biasa meringkas barang-barang dengan menyimpan barang yang diperlukan saja. Harta utama yang harus kami pertahankan adalah buku-buku yang jumlahnya ratusan belum termasuk buku dan perlengkapan homeschooling Joel.

Membuang barang menjadi suatu keharusan. Meski setiap kali mengumpulkan barang untuk di buang hati saya tersayat menghitung jumlah yang telah kami keluarkan untuk membeli barang-barang tersebut, tapi di dalam hati juga ada perasaan plong karena beban jadi berkurang.

Boleh dikata barang milik kami tidak banyak tapi kalau lagi ngepak untuk pindah rumah atau berpergian saya sering ‘amaze’ dengan jumlahnya berjibun. Sekarang di tambah dengan barang milik anak-anak yang jumlahnya tidak kalah dari orang dewasa.

Pindah rumah ini juga selalu mengingatkan saya bahwa apapun miliki kita di bumi ini hanyalah sementara. Rumah yang dibangun ratusan bahkan miliaran rupiah tidak akan dimiliki selamanya. Apa yang menjadi harta kita yang yang kekal adalah apa yang sedang disediakan Yesus sekarang bagi orang-orang yang percaya. Disanalah tempat kita berada dari kekal sampai kekal.

Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. (Yoh 14:2-3)

Comments No Comments »

Dengan apakah aku bisa membuktikan keberadaan Tuhan? Apakah dengan Ilmu Pengetahuan, dengan pengalaman pribadi, dengan rasio atau bukti-bukti? Aku tidak memiliki sedikit pun dari yang dimiliki oleh jutaan orang percaya yang saat ini membaktikan hidup mereka untukNya. Aku hanyalah bagian kecil dari gerakan besar yang ada di muka bumi ini. Aku hanya kebetulan mengalami kemelut, pengalaman pahit, doa yang tertunda, tapi siapa yang tidak mengalaminya?

Jika timbul pertanyaan yang mempertanyakan kedaulatan Tuhan, keadilanNya, apakah aku cukup memiliki bukti dan pengetahuan untuk itu? Bukankah aku hanyalah satu dari orang kebanyakan, tidak lebih dari yang rata-rata. Disisi lain, aku juga hanya penerima hadiah yang tidak pantas mempertanyakan pemberinya berapa nilai hadiah tersebut.

Tanpa anugerah aku pun tidak akan pernah sampai pada tahap seperti ini. Siapa manusia dengan kepandaiannya sendiri dapat mengerti apa yang telah Tuhan lakukan dan dari situ timbul iman percaya? Bukankah iman sendiri adalah anugerah?

Betapa tidak pantas ketika aku mulai menuntut Penguasa untuk melakukan apa yang kuinginkan. Betapa kecil dan terbatasnya pikiranku jika mempertanyakan keadilanNya. Hidupku sendiri seperti rumput dipadang , sebentar tumbuh, kering, kemudian terbang ditiup angin. Singkat dan pasti akan berakhir.

Ia memberi dan Ia mengambil. Semua yang kupunya datang daripadaNya. Aku datang telanjang ke dunia ini dan akan meninggalkannya dalam keadaan yang sama. Dari tidak ada aku menjadi ada, untuk mengalami kasih juga kegetiran. Ah, betapa sejujurnya akupun ingin pergi dan meninggalkan tubuh ini. Bagianku telah aku lakukan walau tidak sempurna. Dan sekarang adalah bagianNya.

Tidak ada yang dapat menghindar dari akibat dosa yang telah menghancurkan bumi ciptaan ini. Mengapa harus ada kelahiran? Mengapa tersenyum untuk satu lagi jiwa yang lahir untuk merana? Bukankan kita harus menangis karena telah menarik satu lagi makhluk surga dari tempatnya yang indah untuk hidup bersama kita di bumi fana ini?

Sesungguhnya seorang bayi dilahirkan untuk menderita demikian seterusnya hingga ia dipanggil pencipta. Itulah sebabnya, hal pertama dilakukan seorang bayi adalah menangis. Menangis karena tanpa kehendaknya sendiri dilahirkan. Menangisi hari-hari yang harus ia lewati sebelum menjadi tua, sakit, dan kembali ke asalnya. Apa yang bisa dibanggakan manusia dari hidupnya?

Maafkan aku, anak-anakku. Walaupun kehadiranmu adalah kehendak Penguasa tapi akulah yang dipercayakan membawa kalian pada kefanaan ini. Dengan sekuat tenaga aku akan mengasihi kalian tapi aku tak dapat berjanji untuk bisa melindungi kalian dari penderitaan dunia ini. Walau aku berharap dengan kasihku aku dapat mengurangi beban yang harus kalian pikul.

Jika dewasa nanti semoga kalian lebih bisa mengerti apa arti hidup yang singkat ini. Mengapa kalian harus hadir. Melihatnya sebagai satu anugerah dan bukan hukuman.

Comments 4 Comments »

Saya dan suami sering ngobrol, seandainya sejak dulu kita tahu apa yang kita tahu sekarang, how wonderful it is! Dulu kami berdua yang kebetulan sekelas waktu duduk di SMA mengejar Perguruan Tinggi Negeri di tanah air karena selain prestisenya juga karena biayanya yang murah. Niat kami itu gagal. Saya sendiri, walau akhirnya kuliah di PTN tapi yang tidak terkenal.

Nah sekarang mata kami terbuka bahwa begitu banyak kesempatan yang terbuka untuk bersekolah di Luar Negeri terutama untuk yang Advance Study (Master dan Docorate). Sekarang walau ingin melanjutkan sekolah, tapi keadaan kadang tidak mendukung. Karena kesibukan pelayanan dan keluarga, rencana sekolah lagi jadi tertunda-tunda.

Saya ingin mengajak pembaca yang punya niat untuk melanjutkan sekolah ke LN tapi modalnya hanya mimpi sedangkan kocek kosong, jangan menyerah. Banyak kesempatan untuk itu. Saat ini saya attach Bea Siswa yagn ditawarkan oleh Seoul National University (the Most Prestigious University di Korea, Ranking IV di Asia). Coba saja siapa tahu inilah tempat Tuhan menempa Anda lewat jalur academic.

Tips:

  1. Just Try. Jangan takut atau keder untuk melamar Bea Siswa ke LN. Jika tidak mencoba kita tidak akan pernah tahu apa kita diterima atau tidak. Tidak ada salahnya kan untuk mencoba. Kalaupun akhirnya tidak jadi sekolah ke LN, pengalaman itu juga berharga.
  2. Be Diligent. Cari informasi yang lengkap dan jangan sungkan bertanya kepada yang berpengalaman terutama mengenai document-dokumen yang perlu disiapkan. Meskipun pihak Universitas biasanya sudah menjelaskan secara detail mengenai Admission Requirementnya, kadang untuk pemula butuh penjelasan atau bimbingan khusus.
  3. Be prepared. Kebanyakan universitas ini require TOEFL atau GRE, jadi perlu menyiapkan diri untuk mengikuti test ini. Memang butuh biaya yang tidak sedikit (biasanya $170/test), belum lagi jika harus mengikuti kursus. Tapi hasilnya bisa dipakai selama 2 tahun. Anda bisa melamar di beberapa universitas.
  4. Keep Dream About It. Mimpi melahirkan visi. Dan visi membangkitkan semangat juang. Banyak orang yang bersekolah di LN hanya dengan modal nekat, bukan karena banyak uang atau otaknya encer. Mereka adalah orang-orang yang mengejar mimpi mereka dan tidak akan diam sebelum meraihnya. Surround ourselves with people that have similar interest.
  5. Don’t Give Up. Kalau gagal sekali coba lagi dan lagi. Masih banyak peluang kalau kita tidak diterima di satu tempat. Peluang itu lewat kalau tidak dicari cari dan dimanfaatkan.

Ini adalah notice dari SNU untuk Bea Siswa. Selengkapnya dapat dibaca di sini.
(more…)

Comments 4 Comments »

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mendukung dalam doa untuk kesembuhan ayah saya dan mengharapkan perjalanan saya berhasil. Berkat Tuhan akan dikembalikan kepada Anda semua. Buat Soegianto, David, Yobel dan Kandar, thank’s ya (Mungkin telat baru sekarang bilangnya).

Mulanya kepulangan saya ke kampung halaman hanya untuk alasan keluarga yaitu menjenguk ayah saya yang sedang sakit. Karena begitu overwhelmed dengan keadaan beliau tidak kepikiran untuk pelayanan sana sini. Namun ternyata meski berusaha menghindar ada juga yang tahu dan meminta pelayanan yang tentu saja tidak bisa ditolak. Dua hari sebelum berangkat pulang saya melayani dibeberapa tempat (more picture here). Karena sudah harus pulang permintaan untuk pelayanan lajutan terpaksa saya tolak dengan janji akan kembali lagi liburan musim panas nanti J

Pelayanan keluar (outreach) ternyata memberi kesegaran baru tersendiri. Karena sudah sering melayani di gereja sendiri, kadang menjadi hal yang biasa baik bagi para hamba Tuhan maupun jemaat yang mendengar. Saya pun mengajak Nando untuk membuat program outreach yang terencana dan konsisten. Hanya saja sulit untuk mencari waktu yang tepat mengingat kesibukannya selama ini sebagai gembala dan ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asia Pacific, yang cukup sering berpergian meninggalkan jemaat lokal. Nando paling segan untuk meninggalkan jemaat terlalu lama, sampai saat ini belum pernah gereja ditinggal lebih dari du hari minggu berturut-turut.

Comments No Comments »

Comments 2 Comments »

Louisiana Jones Acthitcountersite.com -->