Archive for the “Purpose Driven Life” Category
Minggu lalu, saya, ibu mertua, anak-anak kami Joel (4) dan Mathew (1) mengadakan perjalanan dari Hong Kong menuju Macau. Kami akan mengunjungi gereja yang baru dirintis di Macau sekaligus mendapatkan perpanjangan ijin tinggal di Hong Kong.
Transportasi antara Hong Kong dan Macau hanya bisa ditempuh lewat laut dan memakan waktu sekitar satu jam. Tidak masalah, beberapa Ferry bermesin jet turbo tersedia setiap 30 puluh menit. Menumpang armada-armada ini tidak bedanya dengan berada di pesawat terbang karena kenyamanannya mengantar ratusan pelancong, commuter dan penjudi kelas dunia menuju Las Vegas Asia itu.
Namun, cuaca hari itu sangat buruk, hujan deras, kilat sambar menyambar, angin kencang. Sebagai informasi Hong Kong adalah kota yang cuacanya tidak bisa diprediksi, sesaat hujan lebat namun beberapa detik kemudian matahari bersinar cerah. Kota ini juga dikenal dengan bencana alam yang ekstrim terutama typhoon dan tanah longsor.
Hujan dan angin serta badai yang di lautan sangat ganas seakan tidak senang menyambut kunjungan pertama saya ke kota Macau. Kapal ferry tumpangan kami dihempas gelombang setinggi, oh God, I can’t describe it. Rasanya seperti sedang berada di jet coaster, permaianan yang paling tidak saya sukai. Bedanya jet coaster yang terdapat di Disneyland misalnya, hanya berlangsung selama lima menit dan semua penumpang tahu bahkan berekspektasi dengan turmoil buatan itu. Saat ini, tidak ada seorangpun yang memiliki keinginan lain selain dari menikmati perjalanan yang tenang dan damai serta selamat sampai tujuan.
Beberapa saat ombak membawa naik kapal kami naik dan detik berikutnya menghempasnya kebawa tanpa ampun. Para penumpang berteriak-teriak dan beberapa orang muntah-muntah. Saya sendiri pusing, mual dan ingin muntah juga namun berusaha untuk tetap tenang dan tidak mengangis. Meskipun sebenarnya dalam hati perasaan takut, tegang, panik, tentu saja concern utama saya adalah kedua anak saya yang juga sangat ketakutan. Saya berdoa, berbahasa roh, bertobat, let God knows that I love Him, anything. Saya dan mami bergantian memeluk Joel dan Mathew erat-erat , berdoa dan menenangkan mereka.
Di tengah perjalanan tiba-tiba layar TV menanyangkan bagaimana cara mengenakan pelampung diperagakan oleh seorang model yang rapih, ayu dan lemah lembut. Yang dengan tenang, lambat, penuh senyum, menaruh penampung di lehernya seakan khawatir tatanan rambutnya rusak karena pelampung tersebut. “Iklan meyesatkan!” kata saya dalam hati. “Keadaan bahaya, penumpang panik, tidak akan setenang itu dan lagi ngapain senyum saat sedang terjadi evakuasi?”
“Percuma!” kata saya lagi, masih dalam hati dan kesal sekali. “Mengapa peragaan itu ditayangkan sekarang? Mengapa tidak dari tadi sebelum kapal berangkat? Dimana kaptennya mengapa tidak memberi kata-kata yang menenangkan? Mengapa kami tidak diberi tahu sebelumnya supaya siap sedia menghadapi disaster ini? Apakah ada cara untuk kembali? Kapan kapten akan memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan atau kembali ke pangkalan? Kapan dan bagaimana proses evakuasi dimulai? Siapa yang akan menolong kami? Apakah di atas sudah ada helikopter yang sidap sedia? Dan bagaimana dengan Joel dan Mathew? Apa yang harus saya lakukan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya? Oh, God, is this the time?”
Pertanyaan-pertanyaan ini dan seribu pertanyaan berkecamuk dihati saya. Sampai akhirnya kami tiba di Macau setelah satu setengah jam diombang-ambing gelombang dan dihempas badai. Semua lewat, badai mungkin tidak seburuk yang saya kira. Kapal tidak tenggelam dan kami selamat.
Namun, saya belajar dua hal. Pertama, Be ready for the unpredictable!. Kata orang kita harus siap sedia bahkan untuk kemungkinan terburuk. Prediksikan hal-hal tidak terprediksi. Kesiapan dan informasi membuat kita lebih tenang dan berpengharapan. Kedua, pelajari prosedur keamanan. Seringkali ketika pramugari memperagakan prosedur evakuasi, para penumpang pesawat memalingkan wajah, pura-pura tidur, baca koran, seakan-akan itu adalah pertunjukkan yang paling membosankan dan sangat tidak diharapkan. Sang pramugari juga tahu bahwa peragaannya tidak diinginkan sehingga sering melakukannya dengan asal-asalan dan secepat mungkin meyelesaikan tontonan konyol tersebut. Padahal, jika situasi bebahaya itu tiba tidak ada seoragnpun yang memiliki waktu untuk belajar.
Hidup kita juga sering mengalami badai, ada yang kecil dan ada yang besar, ada yang bisa diprediksi dan ada yang tidak. Penuhi diri kita dengan informasi dan prosedur penyelamatan jauh sebelum semuanya terjadi. Salah satu sumber informasi yang paling andal adalah Firman Tuhan. Misalnya, Tuhan berkata barangsiapa yang mengikut Yesus harus memikul salibnya, membuat setiap orang Kristen harusnya tahu bahwa kekeristenan tidaklah semata-mata kekayaan, kemakmuran, hidup penuh berkat, bebas dari setiap masalah. Prediksikan masalah, penolakan, pengkhianatan, kegagalan, sakit penyakit dan kematian. Kita tidak akan luput dari hal-hal yang demikian. Menjadi Kristen adalah menjadi manusia biasa yang memiliki Tuhan yang luar biasa.
4 Comments »
Sejak mengenal Yesus pertama kali, saya banyak mengalami puncak dan lembah. Saya telah menyaksikan bagaimana Tuhan lewat Roh Kudusnya bekerja. In fact, saya percaya diberikan beberapa karunia roh. Saya mengalami masa-masa dipakai Tuhan dan menyaksikan mujizat. Melihat orang bertobat dan hidupnya diubahkan Tuhan.
Namun ada saatnya saya juga berada di lembah. Saat seperti itu Allah menjadi lain dan tidak ‘terkenali’. Ia bukan seperti Tuhan yang biasanya, penuh kasih, perduli, menjawab doa, memberi kekuatan, mengampuni dosa. Ia terasa jauh, dingin dan tidak terjangkau.
Tak perduli berapa lama dan berapa banyak saya menyaksikan pekerjaan Tuhan, dalam hati saya pernah timbul keraguan: “apakah Tuhan benar-benar ada?” atau “jika Tuhan benar-benar ada apakah ia perduli?” atau “mengapa Tuhan meninggalkanku?”
Saya tidak tahu apa yang dialami saudara, tapi jika saudara mengalami seperti yang saya alami maka anda juga mengalami apa yang dialami nabi-babi besar seperti Elia dan Yohanes bahkan Tuhan Yesus.
Elia, setelah mengalami kemenangan di gunung Karmel lari ketakutan dan bersembunyi karena di ancam Izebel. Setelah Tuhan memakainya untuk membunuh 400 nabi Baal, menurunkan api dari langit, mengadakan hujan, tiba-tiba ia tidak yakin jika Tuhan sanggup melepaskannya dari tangan seorang wanita.(I Raja2 19)
Yohanes pembabtis setelah lebih 30 tahun melayani Tuhan, hidup di hutan dgn makan madu dan belalang, membaptis Tuhan Yesus, menyaksikannya mujizat yang dilakukan Yesus, kemudian bertanya “apakah benar Ia Mesias yang akan datang itu atau adakah yang lain?” (Matius 11)
Bahkan Yesus pada saat tergantung di kayu salib berseru “Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”
MENGAPA???
Ada 4 Penyebab orang berada dalam keraguan ttg Tuhan
1. Kelelahan
Setiap kemengangan akan diikuti oleh masa kekelaman. Sehabis berperang prajurit akan merasa kelelahan. Baik secara fisik, mental, rohani jika kita terlalu lelah maka iman kita akan menjadi lemah. Saat itulah iblis akan menaruh keraguan dihati kita.
Elia merasa lelah setelah pertarungannya dengan nabi2 Baal bahkan dgn tangannya sendiri ia telah membunuh mereka (1 Raj 19:1), maka kelelahanlah ia.
Tidak perduli berapa banyak mujizat yang kita saksikan. Seperti bangsa Israel di Padang Gurun yang menyaksikan mujizat, jika kita lelah maka kita lemah.
Solusi: Berjaga-jaga. Jangan terlalu lelah. Kita haru menjaga stamina rohani. Minum multivitamin dan makanan bergisi akan menjaga stamina kita. Exercise akan menjaga kebugaran kita. Maksudnya secara fisik , jiwa dan roh kita harus menjaga stamina kita.
2. Kesendirian
Pada waktu menerima ancaman Izebel Elia memilih meninggalkan bujangnya dan lari sendiri (1 Raj 19:3). Kesendirian membuat kita lemah. Kita butuh fellowship, persekutuan dan saudara. Jika saudara lemah maka saudara yang lain bisa menguatkan.
Jangan tinggalkan pertemuan ibadah dan pelayanan. Ini salah satu kesalahan Elia. Elia lari dari pelayanannya di ayat 9 dan 13 Tuhan bertanya : “apa yang sedang engkau kerjakan disini elia?” Kemudian di ayat 15 Tuhan berkata” Pergilah kembalilah ke jalanmu…”
Ada tugas penting yang akan diberikan Tuhan tapi Elia jatuh dalam dosa “mengasihani diri sendiri”. Jika kita meninggalkan pelayanan kita tidak melayani maka focus kita akan beralih ke diri sendiri.
Iblis seperti singa yang mengaum-ngaum mencari cela untuk menjatuhkan kita jika lengah (1 Pet 5:8).Keadaan sendiri memudahkan pekerjaannya ini!
Solusi: Jangan malu untuk minta batuan doa dan sharing masalah. Dan jangan pernah meninggalkan pelayanan dengan alasan ‘need time alone’.
3. Kekecewaan (1 Raj 19, Mat 11)
Baik Elia maupun Yohanes mengalami kekecewaan ini. Di ayat 10 Elia berkata: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan…” Elia tidak menyangka bahwa Tuhan akan membawa ia ke situasi yang sulit setelah apa yang telah ia lakukan bagi Tuhan.
Demikiannya juga dengan Yohanes yang tentu berharap bahwa Yesus akan mengeluarkannya dari penjara, tapi tidak dilakukannya.
Kita juga sering kecewa dengn Tuhan jika apa yang kita harapkan tidak menjadi kenyataan, terutama jika kita sudah giat dan setia.
Solusi: Jawaban Yesus di Matius 11:6 “berbahagialah orang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku! Kekecewaan akan menguasai kita, jika kita ijinkan.
4. Penderitaan
Penderitaan Yesus di kayu salib karena memikul dosa-dosa kita. Penderitaan terberat karena Yesus harus menanggung hukuman yang harusnya menjadi milik kita.
Solusi: know your purpose!!
Hidup tanpa tujuan membuat frustasi. Tapi purpose atau visi menguatkan bahkan di saat paling kelam sekalipun.
2 Comments »
Para penggemar anjing sekalipun pasti tidak suka dengan tampang anjing yang satu ini. Tubuhnya kurus sehingga tulang rusuk nya yang berjajal tampak semua. Moncongnya panjang, sehingga lebih menyerupai moncong serigala daripada model moncong anjing peliharaan. Warna bulunya yang tipis adalah hitam kecoklatan, lebih tepat jika dibilang dekil. Wajahnya kelihatan sangar dan dan tidak ramah namun tidak ada orang yang berminat menjadikannya anjing penjaga karena ukurannya yang kecil. Dan yang terakhir anjing ini liar, tanpa pemilik! Ia senantiasa berkeliaran di samping halaman rumah kami yang luas. Tidak ada yang mau mendekatinya dan ia pun tidak ingin didekati siapapun.
Kesan saya pada anjing liar dekil itu adalah : sombong. Berbeda dengan anjing peliharaan lain yang imut-imut dan manja, menjilat-jilat kaki pemiliknya meminta kasih sayang, melakukan atraksi-atraksi yang menarik perhatian. Meskipun kebanyakan anjing-anjing peliharaan ini manja dan sombong tapi mereka memang pantas untuk dipuja.
Suatu hari anjing kurus jelek itu kelihatan mengandung. Oh my God, saya bahkan tidak tahu jenis kelamin binatang tak bertuan itu. Dan pada hari kami mengetahui bahwa anjing itu telah mengandung, malamnya ia melahirkan lima anak anjing yang lucu-lucu. Keadaan anak-anaknya tidak seperti induknya. Moncong mereka kelihatan lebih lucu, warna kulitnya juga indah-indah. Ada yang hitam, coklat, belang-belang, dan ada juga yang memiliki bulu bercampur warna-warna tersebut. Nyata bahwa pejantannya bukanlah anjing sembarangan. Mereka pasti lebih mewarisi kecantikan ayah mereka yang tidak ketahuan siapa.
Saya tidak bisa percaya kalau kelima anak anjing yang lucu tersebut pernah berada dalam perut anjing kurus itu. Satu-satunya yang membuat saya yakin adalah karena ia sedang menjaga kelima anaknya dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Induk anjing itu kelihatan berbeda pada saat merawat anak-anaknya. Naluri keibuannya membuat hati orang yang melihatnya iba. Dan karena adegan itu terjadi tepat dibawah jedela kamar tidur saya, maka saya berniat memindahkan mereka ke tempat yang lebih nyaman.
Karena tidak berani memindahkan mereka saya minta tolong adik saya untuk melakukannya. Dengan alat pengangkut darurat ia mendekati induk anjing dan anak-anaknya itu. Tinggal selangkah lagi sebelum tangannya menjangkau salah satu anak anjing tiba-tiba terdengar bunyi “GGGRRRRRRR!!!!!” Dengan mata merah dan penuh kemarahan induk anjing itu menatap mata adik saya seakan-akan berkata “Berani sentuh, Tanggung resikonya!” Niat baik kami akhirnya diurungkan. Dan sambil menunggu waktu yang tepat kami membiarkan mereka di tempat semula. Hanya saja kali ini kami memberikan makanan dan minuman untuk mereka.
Keesokan harinya, saya melompat bangun dari tempat tidur dan segera bersiap-siap untuk ke gereja pagi meskipun hampir terlambat. Saya berjalan melewati induk anjing dan kelima anaknya. Mereka sedang tidur dengan wajah damai dan bahagia. Kebahagiaan Sang induk karena bangga dengan kehadiran anak-anaknya, sedangkan anak-anak itu kelihatan tenang dan aman melekat di tubuh induknya. Sekilas saya melihat nampan berisi makanan dan minuman semalam telah kosong. “Pfuhhh..” dengan lega namun sedikit tergesa saya langsung berlari ke gereja.
Ibadah gereja kami dimulai jam 7 pagi dan biasanya selesai dalam waktu 3 jam kemudian. Setelah itu sebagai seorang pemudi yang aktif masih ada beberapa kegiatan lain yang tidak memungkinkan saya untuk pulang sebelum tengah hari. Dan setelah semua kegiatan selesai, waktu yang di tempuh dari gereja ke rumah sekitar 40 menit, sehingga hari itu saya baru bisa tiba di rumah hampir jam 2 siang. Sepanjang hari pikirannya saya selalu teringat anak-anak anjing yang lucu itu. Suatu saat induk itu tidak akan terlalu protektif lagi dan kami bisa mendekati anak-anaknya serta mengajak mereka bermain.
Setiba di rumah keadaannya sepi, orang-orang pasti sedang berpergian. Kaki saya melangkah melalui tempat dimana anjing-anjing itu berada dan ingin melihat keadaan mereka. Pasti orang rumah lupa memberi makan, kasihan pikir saya. Sedikit berlari saya mendapat mereka. Namun, pemandangan yang saya lihat sangat mencengangkan. Kelima anak anjing yang lucu itu telah meringkuk kehilangan nyawa. Ternyata tempat di bawah jendela kamar saya adalah tempat yang tidak terlindung sinar matahari. Sinarnya yang tanpa ampun itu telah mengeringkan tubuh kelima anak anjing yang baru hadir di bumi semalam.
(more…)
4 Comments »
Pernahkan saudara melihat seseorang yang ‘has it all’? Sukses dalam pelayanan, pendidikan, karir dan keluarga. Meskipun kelihatannya ia tidak memiliki alasan untuk itu atau ada lebih banyak orang yang berdasarkan kemampuan jauh melebihinya, kehidupannya benar-benar beruntung. Meskipun ngomong tak becus ia bisa berkhotbah dan membuat orang bertobat dengan mudahnya. Tanpa usaha keras ia bisa mendapatkan proyek besar atau tanpa pendidikan memadai ia bisa memilki karir bagus. Sementara kebanyakan orang harus merangkak dan bekerja keras, ia mendapatkan semua cuma-cuma.
Banyak yang menerima berkat cuma-cuma ini karena warisan yang diturunkan oleh orang tua, nenek atau buyutnya. Barangkali di garis keturunan orang ini ada ibu atau nenek atau tante yang dengan setia menabung atau berinvestasi. Investasi ini bukan berupa materi atau properti karena peninggalan semacam itu sangat mudah ludes. Ada bentuk tabungan atau investasi lain yang lebih panjang gunanya yaitu kemurahan hati, pelayanan, doa syafaat , setia beribadah, dan lain-lain. Bagi Tuhan semua yang kita lakukan untukNya tidak akan pernah sia-sia (lihat 1 Kor 15:58).
Kalau saat ini saya bisa melayani Tuhan dan menikmati semua berkat Tuhan yang istimewa itupun saya percaya karena ada orang-orang yang telah berinvestasi, terutama mereka yang berada di garis keturunan saya. Waktu kecil karena sering dititipkan dirumah oma saya. Dari situ saya banyak belajar dan memperhatikan kehidupannya. Oma saya adalah janda pensiunan tentara yang sangat sederhana, berjuang untuk menghidupi ke lima anak dengan jumlah pensiun yang tentu saja tidak memadai. Namun, kesehariannya ia selalu mengucap syukur dan bukannya mengeluh.
Tidak banyak, atau kalau boleh dikata belum pernah saya bertemu orang yang saleh seperti oma saya ini. Meski tidak diberkati dengan harta melimpah beliau tetap setia berdoa, beribadah , bahkan melayani Tuhan tanpa lelah. Pikiran, hati, dan perkataannya selalu dipenuhi dengan Firman Tuhan. Oma saya juga sangat takut Tuhan, hidup bukan untuk dirinya melainkan hidup untuk menyembahNya. Sekarang menjelang usia 87 masih sehat dan cantik serta semakin cinta Tuhan.
Setiap tahun waktu pulang berkunjung saya bertemu dengannya, ia selalu berkata “Mungkin tahun depan kita tidak jumpa lagi” (tahu kan maksudnya?).
Namun tahun ini beliau berkata: “Firman Tuhan berkata umur manusia 70 tahun dan kalau kuat 80. Saat ini oma hidup dalam usia bonus dari Tuhan. Oma sudah sering berdoa supaya dipanggil Tuhan, capek sudah, tapi kalau Tuhan beri umur panjang, ini supaya oma tetap berdoa untuk anak cucu.”
Berdoa adalah satu-satunya pelayanan yang bisa dilakukannya setelah beberapa tahun terakhir pendengaraan dan penglihatannya mengalami penurunan. Meski bukan pendeta atau penginjil, Oma saya berkhotbah hingga beliau beusia 80, melayani Tuhan di kebaktian kecil-kecil.
Tiba-tiba, Tuhan membuka mata rohani saya untuk mengenal seseorang ‘to whom the credits are due’. Inilah yang memberikan saya keberanian untuk step out dan rasa percaya diri bediri melayani Tuhan karena saya tahu ada seseorang yang telah menabung untuk saya. Sekarang saya mewarisi berkat turunan dari apa yang telah dilakukannya bagi Tuhan selama berpuluh-puluh tahun dengan setia.
Saya menjadi lebih yakin dan optimis dengan panggilan dan visi yang Tuhan berikan karena saya tahu, this is not all about me. This is about God’s people and this is about people who paid the price. Sebaliknya saya pun tahu bahwa pelayanan kami adalah investasi terbesar yang bisa saya wariskan untuk anak cucu kami. Mereka akan jauh lebih diberkati dari apa yang telah kami terima sekarang.
Untuk itulah, betapa saya ingin mengajak umat Tuhan siapa saja yang membaca tulisan ini untuk tetap setia kepada Tuhan karena apapun yang kita kerjakan tidak akan sia-sia. Anak cucu kita akan mewarisi pelayanan apapun yang kita berikan dengan tulus kepada Tuhan. Kalau kutuk menurut Firman Tuhan diturunkan sampai turunan ke tiga dan keempat terlebih lagi berkat Tuhan. Dan kalau penyakti seperti darah tinggi, diabetes, bahkan kanker bisa diturunkan terlebih lagi pelayanan dan perbuatan baik kita. Tuhan kita setia dan adil, tidak pernah berhutang dan murah hati.
3 Comments »
Mengapa Tuhan memilih Salomo dan memberkatinya demikian rupa membuat para kritisi Kristen bingung dan bertanya-tanya. Lahir dari seorang ibu yang jelas-jelas merupakan hasil perbuatan dosa tercela, perkawinan orang tuanya bisa dikatakan aib yang memalukan. Namun, dari sekian anak-anak Raja Daud ialah yang terpilih.
Dari khotbah dan pengajaran yang sering saya dengar, Salomo mendapat semua ‘priveleges’ ini karena ia doanya yang sangat populer dalam meminta hikmat (baca 1 Raj 3). Demikianlah, entah berapa banyak orang Kristen yang jungkir balik telah menaikkan doa yang sama dengan harapan mendapatkan paling tidak sedikit dari ‘berkat’ Salomo ini. Sayangnya, banyak yang kecewa karena doa seperti ini ‘just not working’.
Mengapa Salomo mendapat anuegerah yang demikian besarnya?
1. It’s not about him, it’s about the people of God.
Berkat yang diterima oleh Salomo semata-mata bukan karena perbuatan, karakter, latar belakang Salomo yang memukau. Alkitab bahkan tidak pernah bercerita tentang siapa Salomo sebelum ia terpilih jadi raja yang memang tidak significant. Terpilihnya ia menjadi raja yang diberkati semata-mata karena ingin memberkati umatNya dan untuk itu ia bisa memakai siapa saja.
Mengapa Salomo dan bukan anak Daud yang lain? Karena Salomo tidak egois. Ia telah meminta sesuatu bukan untuk dirinya. Ia tidak meminta kekayaan, kekuatan atau nyawa musuhnya. Ia tidak meminta seuatu yang akan dipakai untuk kepentingan dirinya. Ia meminta sesuatu untuk kepentingan umat Tuhan.
Tuhan menjawab doa yang tidak egois. Tuhan memberkati orang yang ingin melayani umatNya. Ia memilih orang berdasarkan rencanaNya untuk menegakkan kerajaanNya.
2. It’s not about him, it’s about people who had paid the price.
Dibalik setiap kejayaan ada orang-orang yang telah membayar harganya. Dibalik setiap kemenganan ada pahlawan-pahlawan yang telah berkorban. Salomo menikmati kejayaan dan kemuliaan juga karena ada orang-orang yang telah membayar harga untuk itu.
Daud, ayahnya, adalah seorang yang sangat berkenan kepada Tuhan bahkan disebut sebagai biji mata Tuhan. Meski merupakan raja pilihan tetapi tidak pernah menikmati kejayaan seperti yang diterima Salomo. Tidak perduli berapa mazmur yang telah diciptakan sebagai tanda kasihnya kepada Tuhan; atau berapa banyak lagu yang diciptakan untuk menaikan pujian kepada Allahnya; atau berapa seringnya petikan harpa tanda penyembahannya, namun hidup Daud tidaklah lebih dari penderitaan. Ia harus terus lari dari teman, musuh, keluarga yang menginginkan nyawanya. Ia hidup dalam perang tanpa akhir, pengungsian dan tangisan. Semua yang ia berikan bagi Tuhan, bangsa dan keluarga tidaklah dinikmatinya hasilnya.
Namun demikian Tuhan adalah Tuhan yang adil yang tidak pernah berhutang. Meskipun Daud tidak menikmati berkat yang harus diterimanya, Tuhan tetap ‘preserved’ semuanya untuk diwariskan kepada anak cucunya. Inilah yang dinamakan sebagai berkat turunan. Dalam hal ini Salomolah yang kecipratan warisan terbesar.
No Comments »
Saudara pembaca, untuk 3-4 minggu kedepan saya tidak posting tulisan atau membalas comment. Mendadak saya harus pulang kampung untuk menjenguk ayah saya yang sedang sakit. Please bantu doa ya….?! Perjalanan kali ini cukup panjang karena harus transit di HongKong dan Singapore. Sedikit update ttg perjalanan ada di diary saya Hidupku di Korea.
Sebelumnya saya ingin membagikan apa yang ada dalam hati saya dan apa yang saya yakini akan terjadi bagi anak-anak Tuhan pada tahun 2008. Saya mengujungi blog Rio, dan membaca postingnya tentang nubuatan untuk tahun ini. Silahkan baca artikel selengkapnya disini.
Saya baru ngeh, kalau angka delapan adalah lambang dari New Beginning atau New Era. Karena Tuhan menciptakan langit dan bumi tujuh hari lamanya sehingga hari kedelapan merupakan hari pertama dari season yang baru. Demikian juga dengan tujuh hari dalam seminggu menjadikan hari kedelapan sebagai hari petama minggu berikutnya.
Secara pribadi, saya bergumul di akhir tahun 2007 bersyafaat dan menaikkan petisi kepada Tuhan. Tahun 2008 berarti telah 20 tahun sejak pertama kali saya mengenal Yesus dan menyerahkan diri untuk melayaniNya (please don’t think I’m too old karena angka 20 tsb , saya lahir baru waktu masih remaja). Tahun 2008 juga berarti tahun ke-8 saya melayani Tuhan di Korea. And I keep asking this question “Is this all what I can do for Your Glory, God?”.
Saya bukan wanita yang penuh ambisi. Saya juga bukan manusia yang haus pengakuan. Bukan pula seseorang yang pengen cari nama. Saya hanyalah seorang hamba yang tahu akan siapa Tuannya. Saya tahu bahwa God has so much in store for his children. Saya yakin bahwa saya bahkan belum setengah mendaki ke puncak yang sedang disediakan Tuhan bagi hidup saya.
Memang selama ini karena berbagai kesibukan sebagai seorang ibu di luar negeri tanpa pembantu, telah membuat ruang gerak saya menjadi terbatas. Tapi tidak itu sama sekali tidak membatasi mimpi saya. Justru saya bersyukur karena waktu-waktu yang Tuhan berikan untuk saya sebagai ibu rumah tangga atau homemaker. Saya lebih banyak belajar, membaca, memperhatikan, menahan diri, bersabar, belajar menanti, tekun menunggu. Dalam hati sebenarnya saya pengen terbang, tapi sayap-saya yang saya miliki belum cukup kuat dan terlatih untuk menahan badai. Huh? Otot-otot iman saya memang masih perlu latihan dan work out supaya cukup kokoh. Sedangkan hati saya perlu diajar untuk menunduk, patuh, taat dan tidak sombong.
Tahun 2008 adalah New Begining, bukan hanya buat saya saja tapi bagi setiap anak Tuhan. Bagi mereka yang tahu menguduskan hari Tuhan, melayani Dia dan menikmati penyembahan kepada Tuhan. Tahun ini adalah waktu dimana Tuhan akan membawa kita menuju ke puncak-puncak kehidupan dalam berbagai aspek (karir, pendidikan, pelayanan, rumah tangga, what ever). Apa saja yang pernah saudara mimpikan! Inilah waktu penggenapannya. Tahun dimana Tuhan membawa anak-anaknya menuju ke puncak dengan kendaraan kemenangan dan memberikan mereka makanan kelimpahan (Baca Yesaya 58:13-14).
“Apabila engkau tidak menginjak-nginjak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudusKu, apabila engkau menyebutkan hari Sabat “hari kenikmatan” dan hari kudus Tuhan “hari mulia”…maka engkau akan bersenang-senang karena Tuhan, dan Aku akan membuat engkau melintasi bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut Tuhanlah yang mengatakannya.”
Saudara yang selama tahun-tahun sebelumnya tahu menguduskan menghormati hari Tuhan, setia beribadah, menikmati penyembahan kepadaNya. You deserve to receive this victory!
4 Comments »
Bagian ini adalah sebagian cuplikan diary saya tahun 2007. Sebelum membaca post ini sebaiknya membaca pendahuluanya di My Defined Moments 2007 .
Sesuatu yang Pasti Datang
12 September 2007
Sesuatu yang pasti datang bagi setiap hamba Tuhan adalah “Stormy weather”. Stormy weather ini dapat berupa abandoned, betrayal, offended, persecuted, etc. Apa yang dialami Paulus terutama yang dibagikan kepada Timotius di 2 Tim 4:10-16, “But the Lord stood with me and strengthen me”
Bukan apa yang kita hadapi yang membedakan kita dengan orang lain –karena setiap orang pasti akan menghadapi situasi yang serupa selama hidupnya- tapi attitude kitalah yang membuat beda dan tentu saja Tuhan mendampingi dan menguatkan orang-orang yang berharap kepadaNya.
Friman Tuhan adalah kuasa yang menguatkan, obat bagi yang sakit, tongkat bagi yang lumpuh, alarm bagi yang dalam bahaya, bahan pelajaran berharga bagi yang ingin diajar.
Blessed 2 Bless
14 Oktober 2007
Setiap orang dipanggil untuk suatu tujuan tertentu. Untuk itulah Tuhan memperlengkapinya dengan talenta, pengalaman, pendididikan maupun lingkungan. Pernah aku berdoa supaya God raise me up. Enough is enough! Setiap orang akan mengalami berada dalam lembah kekelaman but it’s not the place where we belong. “Cukup”! Aku katakan pada jiwaku. Saatnya untuk bangkit dan mencapai hal-hal yang lebih tinggi, kemenangan yang sudah disiapkan Tuhan.
Ya, bagi orang yang menyadari bahwa kekalahan bukan esensi dari kehidupan anak-anak Tuhan. Kejayaan dan kekayaan itulah milik kita.
Indeed, God raised me up. Give me new vision. Grant me new pair of wings. Refresh and strengthen me. As I look back, I can see how ugly I was living in a life I supposed not to be.
I just love to know God and surrender my life to Him. The best choice in my life. He never fails to proof that He’s the one I have to rely on. Now, I openly surrender for Him to mold me. He is the potter and I am the clay. I just want to be useful for other. Blessed to bless. That’s all meant to be.
Hari ini
25 Oktober 2007
Terima kasih untuk hari ini Tuhan, hari yang baru dan tubuh yang segar. Dari apa yang aku alami beberapa hari terakhir, Nando ke HK, tinggal dengan anak-anak, sibuk, capek, kurang tidur tapi hati bersuka cita. Aku percaya bahwa ini semata-mata berkat Tuhan.
Aku bersukur untuk visi yang Tuhan taruh dan hikmat yang Ia berikan. Aku kagum menyaksikan pekerjaan Tuhan yang dahsyat dan ajaib. Aku berterima kasih karena dipulihkan Tuhan. Tahun-tahun kelabu telah berlalu. Waktu dimana aku terpuruk dan hanya dapat bermimpi, waktu penantian panjang….
Tuhan itu setia
Dia tidak akan gagal
Dia Bapa
Dia sahabat
Di Guru
Hari ini, coretan dibukuku adalah gambaran sukacita dan rasa syukur yang tidak terkira. Aku menanti-nantikan haris esok dimana Tuhan akan menunjukkan hal-hal yang baru. Hidupku, kuakui adalah saluran berkat bagi kemuliaan Tuhan. Apa yang aku terima itulah yang aku salurkan. Aku telah belajar banyak melalui hidup ini. Tuhan telah melatihku dalam berbagai bidang supaya tanganku kuat memegang pedang.
Hari ini beda. Hari ini kasih Tuhan sangat nyata. Hari dimana aku berserah dan berkata “Yes sir, whatever You want, I am Your servant and You are the master.” “Yes sir, whatever it takes, I will obey”
Hari ini aku mengalami hidup baru (sekali lagi). Level dimana Tuhan membawaku ke tempat yang tinggi sehinggga aku bisa melihat lebih banyak dan memahami ‘big picture’nya.
Aku bangga. Aku bahagia. Aku kagum dengan Tuhan yang aku sembah.
6 Comments »
Bagian ini adalah sebagian cuplikan diary saya tahun 2007. Sebelum membaca post ini sebaiknya membaca pendahuluanya di My Defined Moments 2007 .
Major Depresion
12 April 2007
Selama beberapa bulan aku koma. Keadaannya antara hidup dan mati. Hidup, tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Mati ,tapi tidak membusuk (decomposed). Ya, secara spiritual aku koma. Tidak bisa berdoa, baca Alkitab, bahkan tidak tertarik mendengarkan lagu-lagu rohani. Pokoknya seperti sedang terjadi kemarau panjang.
Tidak ada daya untuk bangkit, semangat patah, ambisi hilang, visi kabur. Hidup bukan hidup dan mati bukan mati. Dalam keadaan ini tidak ada yang bisa aku lakukan selain menanti waktunya lewat. Ternyata segala sesuatu ada waktunya.
Tentu ada perasaan guilty, inadequate, unworthy, overwhelmed campur aduk dalam diri. Secara spiritual inilah yang dinamakan Major Depression. Major Depression tidak terjadi secara jiwani dan mentally tapi juga rohani.
Jika ini menyerang, tidak ada yang dapat aku lakukan. Nothing but believe, aku tetap anak Tuhan. “Orang benar akan hidup oleh percayanya” (Habakuk 2:4), ayat yang baru aku baca kemarin.
Aku mencoba membandingkan situasi yang aku alami dengan apa yang dialami oleh nabi Habakuk serta melihat bagaimana atittudenya. Meskipun ia senantiasa bertanya “Why?”, “Why?”, “Why?” Seperti yang selalu ditanyakan oleh orang yang sedang mengalami pergumulan, namun pada akhirnya ia mengakhiri:
Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah. Hasil pohon zaitun mengecewakan sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan. Kambing domba terhalau dri kurungan dan tidak ada lembu sapi dalam kandang. Namun aku akan bersorak-sorak didalam Tuhan, beria-ria dalam Allah yang menyelamatkan aku. (Habakuk 3:17-19).
Anxiety and Endurance
23 April 2007
Hidup sebagai hamba Tuhan banyak tantangan. Tidak ada istilah setengah-setengah. Jika tidak bisa berserah penuh tidak ada cara lain. Dengan dunia ini tidak ada kompromi. Saat hati kita tercemar ambisi duniawi maka kaburlah pandangan rohani.
Pagi ini aku bangun dan berdoa agar Tuhan mengangkat semua rasa kuatir yang menjadi akar dari segala stress yang tidak sehat. Juga pada Tuhan aku lebih berserah, sambil menyanyikan lagu “I surrender all”.
Hidup adalah misteri. Semakin dijalani semakin tidak dimengerti. Semakin banyak yang dialami semakin berliku jalannya. Dulu ada pribahasa yang mengatakan: “Kita harus belajar banyak untuk mengetahui betapa sedikit yang kita tahu.” Sampai pada tahap sekarang aku mengamini kenyataan ini.
Kembali ke rasa kuatir yang aku punya. Memang ini tidak pada tempatnya mengingat satus aku sebagai “hamba” dan status Tuhan sebagai “pencipta”. Perasaan ini muncul akibat interseksi dari kebutuhan rohani dan duniawi. Biarlah aku namakan daerah ini sebagai DMZ (demilitarized zone) dimana ketegangan meningkat, hidup diantara dua dunia yang bertikai.
(banyak hal yang menjadi pergumulan pada masa-masa ini, dan dalam hitungan hari saya akan melahirkan anak kedua)
Satu-satunya cara yang ada dalam menghadapi keadaanku adalah : Endurance!
Yup, kita butuh endurance untuk bertahan dalam situasi ini. Endurance yang berasal dari keyakinan dan pengalaman berjalan bersama Tuhan. Endurance yang berasal dari iman dan pengharapan. Endurance yang berasal dari kedewasaan rohani. Endurance yang berasal dari penyerahan total kepada Tuhan. Endurance adalah percaya bahwa Tuhan adalah setia. Dia adalah kasih. Dia adalah master. Dia adalah bapa, sahabat, penolong, penghibur, damai sejahtera.
God where are You?
23 April 2007
God where are you?
When I call on Your name
When the anxiety fills my heart
So many thing to blame
The road rough and hard
God where are you?
When things going unpleasant
When hope disappear
Still I am Your servant
Your answer I need to hear
God where are you?
When tears falling on my face
When chill and trembling I feel
Tomorrow will I receive another Grace
All the best finally fulfilled
God where are you?
When desperately I need you
When I lost and go astray
Looking for something I don’t even know
Recall the love I’ve betrayed
God where are you?
When I miss the way we had before
When love and peace come everyday
All these things I am asking for
Hold me until your very day
(Searching for God’s love; Waiting for the coming of 2nd baby; Experiencing the lowest point in Korea, struggling for family and ministry; Lost vision, spirit and peace; Missing a good relationship with God; Longing for love and support; Hoping for another grace to come.)
1 Comment »
Bagian ini adalah sebagian cuplikan diary saya tahun 2007. Sebelum membaca post ini sebaiknya membaca pendahuluanya di My Defined Moments 2007.
=================
11 April 2007
Seringkali aku berdoa “Lord, let me do something!”. Sejak tamat MDiv empat tahun lalu, menikah dan punya anak sepertinya tidak ada lagi sesuatu yang berarti yang aku lakukan. Selain dari pelayanan yang tidak banyak –dan sekarang praktis sudah tidak ada- hari-hariku diisi dengan menjadi istri dan ibu rumah tangga.
Peran sebagai istri dan ibu ini juga tidak mudah. Banyak penyesuaian pikiran, tingkah laku dan ekspektasi untuk menjadi istri yang baik. Sedangkan menjadi ibu pertama kali untuk seorang anak yang lahir prematur tanpa arahan dan bimbingan orang lain juga menguras tenaga. Terkadang ada perasaan bersalah dengan peran ini. Kok setelah sekolah sekian lama hanya tinggal di rumah mengurus anak dan suami? itupun rasanya tidak bisa aku lakukan dengan baik. Ya, aku merasa bukanlah seorang istri dan ibu yang ideal.
Ambisi dan mimpi yang dulu terasa semakin jauh. Mereka terbang bersama dengan hari-hari yang aku lewati. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun, dan tahun berlalu tanpa ampun tidak meninggalkan apa-apa selain guratan ‘aging’ diwajahku.
Hari ini sekali lagi aku berdoa “Lord, let me do something” Dalam benakku “doing something” adalah memiliki karir, menjadi berkat bagi banyak orang, sibuk dari pagi sampai malam.
Tapi…
Tuhan menyadarkanku akan satu hal. Bahwa apa yang aku lakukan saat ini adalah karir dan pelayanan. Kalau suami melayani sebagai gembala untuk domba-domba, aku melayani gembala dan anak-anaknya. Menjadi istri dan ibu adalah pelayanan dan tentu saja ini bukan pelayanan yang mudah dan gampangan. Banyak yang gagal di bidang ini. Banyak yang menyesal belakangan tapi tak kuasa untuk kembali memperbaikinya.
Hari ini ketika aku melihat Jozey yang beranjak dari usia tiga dan ketika aku mengelus perutku yang membesar menunggu kelahiran anak keduaku bulan depan, aku terjaga. Waktu-waktu seperti ini mahal dan langka. Waktu-waktu ini tidak akan pernah kembali. Anak-anaku akan terus bertumbuh dan semakin tidak membutuhkan aku. Waktu dimana aku sanggup menggendong anakku sangat singkat, dia bertumbuh sangat cepat dan menjadi berat. Mengapa tidak kunikmati saja waktu-waktu indah ini. Bukankah ini adalah salah satu anugerah yang patut disyukuri? Disamping itu aku tetap melayani Tuhan dengan caraNya.
6 Comments »
Bagian ini adalah sebagian cuplikan diary saya tahun 2007. Sebelum membaca post ini sebaiknya membaca pendahuluanya di My Defined Moments 2007.
=================
9 April 2007
Setiap orang akan mengalami pasang surutnya kehidupan, puncak dan lembah perjalanan hidup. Yang membuat beda adalah tanggapan masing-masing terhadap situasi yang dihadapi.
Ada yang bahagia di puncak dan tercampak di lembah.
Ada yang tenang pada saat pasang dan tabah pada datang surut.
Ada yang pongah di atas dan terjaga dibawah.
Ada yang lupa diri, tidak siap, berserah, uring-uringan, kasak-kusuk.
Hasilnya…the survivors keep going on.
Kepada beberapa orang dikaruniakan jiwa survivor. They never quit. Never give up. Apapun keadannya para survivors ini mencari dari dalam motivasi yang dapat membangkitkan semangat yang patah serta mendorong kaki yang lemah melangkah. Mereka sanggup melihat masalah besar seperti hal kecil dan masalah kecil sebagai bukan bukan masalah. Mata mereka terlatih untuk melihat beyond life’s struggle.
Meski untuk menjadi survivor dibutuhkan tulang baja , daging batu dan urat kawat –yang tentunya sangat langkah- setiap orag dituntut untuk menang dalam hal ini. Lagu yang dinyanyikan Mariah Carey, berkata “there’s a hero lies in you”, tentu ditulis oleh seseorang yang percaya bahwa ada karakter ‘hero’ yang dimiliki setiap orang. Hanya saja lingkungan, pengalaman hidup atau kepribadian telah membuat banyak ‘hero-hero’ terkubur hidup-hidup ditubuh pemiliknya. Mereka mati tanpa pernah membuktikan keperkasaannya.
Hidup mungkin sukar. Setiap orang yang menuju puncak akan melewati semak belukar. Di tengah jalan Tuhan menawarkan pertolongan. Bagi beberapa orang yang mengira surga telah datang pada saat menerima Yesus sebagai juruselamat, nyatanya, bagi yang menerima tawaran itu ada salib yang harus dipikul dan kuk yang akan dipasang.
Hidup tidak mudah namun, Dialah yang memberi kelegaan.
===================
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.(Mat 11:28)
2 Comments »
|