Archive for the “Laugh Out Loud” Category

Telat kali ya baru ngepost New Year Resolutionsnya sekarang? Sebenarnya website ini ingin saya rubah tampilannya sejak masuk tahun baru kemarin, namun berhubung berbagai kesibukan jadinya tertunda. Tertunda juga nulisnya sampe dua minggu euyy, padahal di kepala lumayan banyak ide yang ingin ditulis cuman tanggung banget. Maklum yang akan ngerjain kan my beloved husband, dia yang punya telenta dan kretifitas sih.

Saat ini nando masih ngerjain foto untuk header buat surprise, mudah2 an memang bisa surprise ya. Selain itu saya juga ingin ngeluncurin website berbahasa Inggris . Template udah ada, dibeli dari Template Monster, hadiah Natal, Anniversary dan Tahun Baru di gabung, dari suami. Idih, ekonomis (baca: irit) banget ya?

Tahun ini saya juga berdoa sambil bermohon supaya terjadi mujizat pada mekanisme tubuhku sehingga bisa tidur lebih nyenyak dan e’e’ lebih lancar. Dua hal yang penting bagi well being kehidupan tapi yang tidak ku miliki. Saya iri banget dengan nando yang bisa dalam sekejap, sebelum hitungan 10 bisa langsung ngorok. Selain kesal karena alunan yang tidak merdu dan tidak dibutuhkan itu, saya juga jengkel dengan kenyataan bahwa saya harus tetap terjaga kadang sampai berjam-jam setelah itu.

“Kosongkan pikiran sayang, jangan mikirin apa-apa” sarannya selalu.

“Sudah dicoba, susah. Jika memang segampang itu, tentu masalah susah tidur tidak ada dalam sejarah manusia” pikir saya.

Selain dari tidurnya yang cepat dan mudah, nando juga buat kesal dengan kebiasaannya untuk pamitan sebelum buang hajat. Dan itu bisa tiga kali sehari, kayak minum antibiotika. Hari ini saya ngomong ke dia “Ya udah kalau mau ke belakang pergi aja gak usah bilang-bilang!” Hampir saja dia lupa tadi waktu mau pamitan lagi “eh. Sorry” katanya, buru-buru ke belakang sambil nyerahin Mathew ke tangan saya.

Untuk yang ini, nando juga kasih tips : “Jongkok aja di closet ada rasa atau nggak yang penting rutin, nanti juga keluar sendiri”

“Sudah dicoba, tapi nggak bisa!” kata saya. “Gampang amat sih solusinya?” Masalah BAB ini sudah saya derita sejak masih anak-anak atau remaja, lupa pastinya, yang jelas sudah lama banget.

Tahun ini sedikit malu-malu, takut ngerepotin Tuhan untuk soal bobo dan be’ol , saya berdoa “Tuhan berikan mujizat tidur nyenyak dan e’e lancar dong”. Saya percaya mujizat masih terjadi.

Resolusi yang lain adalah, keinginan saya untuk bisa lebih mengeksplore potensi-potensiku, siapa tahu masih ada yang keselip. Diumur segini bukan tidak mungkin masih ada bakat tersembunyi atau belum berkembang. Usia tidak pernah menjadi hambatan untuk belajar dan berkarya. Jika dihadapkan dengan usia, saya selalu berpatokan pada Bapa Abraham yang menerima penggenapan janji Tuhan diusia 100 tahun dan Musa yang menemukan panggilannya di usia 40. I still have time.

Beberapa tahun yang lalu saya lumayan banyak nulis puisi -walau untuk konsumsi sendiri- dan ngarang lagu –walau kebayakan sirna karena gak ada yang direkam-. Tahun ini kepengen menggali lagi kemampuan –kemampuan itu, siapa tahu kepeleset jadi orang terkenal. Lol.

Tony Buzan, penulis buku Brain Child mengatakan bahwa beda jenius dan bukan jenius adalah: orang jenius memakai 3% kapasitas otaknya sedangkan yang tidak jenius memakai 1%. Jadi kemana sisanya?

Somehow orang kalau terdesak, di push, diperes-peres, ditonjok-tonjok bisa keluar potensi yang nggak pernah terasah. Misalnya kalau seseorang lagi jatuh cinta, gampang banget bikin puisi cinta atau menulis surat berlembar-lembar padahal dalam keadaan biasa boro-boro puisi buat jurnal tiga paragraf aja acak kadut.

Tahun ini, hopefully, ada puisi-puisi dan lagu-lagu baru lagi.

Setelah itu… last but not least. Bener ini ‘not the least’ resolution, terakhir saya tulis karena saya pikir ini adalah lompatan terbesar.

Awal tahun ini nando memberi sebuah tantangan ” Sayang, lajut sekolah lagi ya di SNU”

“What?? SNU (Seoul National University) Nggak pernah terpikirkan dan terbayangkan sebelumnya, SNU adalah Harvard-nya Korea. Mana bisa?? Background saya kan Seminary.

“Bercanda kali, ngapain SNU mending Online atau ke Universitas lain yang tidak terlalu menakutkan” jawab saya.

Hanya saja, malamnya saya nggak bisa tidur (nah lho, kebisaaan kan?) Dada saya berkecamuk, antara rasa tertantang dan gemetar, apalagi setelah buka website dan lihat requirementnya jadi tambah gemetar lagi. “No..no.. I’m not that smart and not qualified” kata saya berulang-ulang pada diri sendiri juga digedein volumenya supaya didengar Nando.

Tapi nando tidak mundur dari tantangannya. “Siapa bilang kamu tidak qualified? Tuhan kita kan Tuhan yang besar”.

“Iya Tuhan kita memang besar, tapi ini kan SNU, you know?” saya masih saja ngeyel. Namun saja semakin dipikirin kok saya semakin resah.

Tapi tidak, saya tidak akan melangkah karena merasa tertantang, saya akan melangkah jika ini kehendak Tuhan. Mata saya selalu terbayang dan di telinga saya selalu tergiang, karena di SNU ada jurusan yang cocok sekali dengan visi dan mimpi saya selama ini, yang pasti akan sangat membantu pelayanan juga bisa di terima di Market Place. Dalam otak saya terjadi koneksi demi koneksi seperti menghubungkan pieces of puzzles. Dalam hati, I keep praying, “Is this something you want me to do??”

Jawabannya? Nantikan saja.. bulan Juni nanti. Saat ini saya lagi akan baru mau mencoba berniat membuat aplikasi. So.. masih jauh. But is this what God want me to do?? I need to know myself.

Comments 5 Comments »

“Nancy, beli pita berwarna merah muda satu setengah meter di Toko ABC!” kata mama sembari memberikan uang seratus perak. Dengan penuh semangat saya meraih uang tersebut dan berlari ke toko yang dimaksud. Sepanjang jalan, saya terus menggumankankan “pita merah muda satu setengah meter, pita merah mudah satu setengah meter” berulang-ulang karena takut lupa akan pesan mama.

Walau toko ABC itu dekat tapi terasa jauh bagi anak seusia saya. Hari itu adalah perayaan ulang tahun pertama yang dipestakan. Di rumah mama sudah menyediakan kue-kue bermacam-macam, saya membantu menghitung dan memasukkannya kedalam plastic tiga biji-tiga biji. Undangan sudah dijalankan. Beberapa anak dekat rumah dan saudara sepupu akan ikut merayakannya, sedangkan yang akan memimpin acara itu adalah Ibu guru kelas satu dari sekolah.

Saya merasa telah menjadi seorang gadis dewasa apalagi diberi kepercayaan untuk pergi ke toko ABC yang jaraknya lumayan jauh karena harus melalui beberapa gang. Biasanya saya tidak diperkenankan pergi sejauh itu, mama sering berkata “hati-hati anjing, mereka suka makan tulang “. Sambil berkata demikian mama akan memastikan dengan bahasa tubuh dan raut wajahnya bahwa tulang yang dimaksud adalah tulang-tulang yang menonjol di tubuh saya. Saya takut pada kenyataan tentang anjing itu karena badan saya yang kecil dan kurus dibadingkan dengan anak-anak lain yang seusia. Dengan berkata demikian mama berharap dua hal: saya tidak akan bermain jauh dari rumah dan saya akan makan lebih banyak lagi.

Acara makan adalah kegiatan yang paling tidak saya sukai waktu itu. Seingat saya, terkadang harus terjadi tawar menawar harga berapa saya harus dibayar untuk sepiring nasi. Dan mengenai anjing, saya pernah terbirit-birit dikejar seekor anjing, membuat perkataan mama selalu menjadi ancaman. Namun saat itu, kebahagiaan karena ulang tahun yang akan dirayakan membuat saya berani melewati gang-gang yang terkenal banyak anjing galaknya. Di kota kelahiran saya, anjing adalah salah satu hewan favorit untuk dipelihara. Biasanya mereka dijadikan penjaga rumah untuk bulan Januari hingga November dan berada di atas meja untuk disantap pada bulan Desember saat Natal tiba.

Sesampai di Toko ABC saya melompat dan mencari encik penjual, tapi tak peduli berapa kali sudah saya mengulang pesan mama, saya lupa apakah yang dikatakannya “pita satu setengah meter atau satu meter setengah”. Saya belum tahu manakan yang lebih benar dari kedua istilah tersebut. Untung saya si encik mengerti maksud saya, walaupun saya tidak yakin benar.

Diperjalanan pulang saya memandang pita merah muda tersebut dengan takjub. Maklum hari ini bukan saja hari pertama ulang tahun saya akan dirayakan tapi juga hari pertama rambut saya akan diikat. Iya benar, seingat saya belum belum pernah rambut saya diikat atau dikucir sebelumnya bukan karena tidak ada pita tapi karena saya tidak berambut. Setidaknya sampai usia lima tahun saat itu, rambut saya masih tipis dan jarang-jarang tumbuhnya. Tidak heran kalau mama menyebut saya “gadis tujuh rambut delapan kutu” artinya lebih banyak kutunya daripada rambut. Dan hari ini pita merah muda ini akan menjadi saksi bahwa saya benar-benar telah beranjak dewasa dan pantas untuk dikucir.

O ya, mama juga telah meminjam kamera untuk mengabadikan moment bersejarah tersebut. Saya membayangkan wajah saya di foto dengan memakai pita tersebut. Pada jaman itu belum ada foto digital, jadi harus menunggu foto dicuci baru bisa melihat hasilnya. Menjadi ‘gadis’ dan ‘dewasa’ adalah dua kata penting . Sebelumnya di dalam foto-foto masa kecil saya, orang akan susah membedakan apakah saya anak cowok atau cewek, tapi dengan rambut yang diikat menjadi dua ditambah pita berwarna merah muda tentu tidak ada yang akan salah kaprah.

Acara ulang tahun berlangsung indah walau tidak meriah. Undangannya tidak banyak kok tapi sangat berkesan, karena itulah perayaan pertama dan terkahir ulang tahun masa kanak-kanak. Tahun-tahun berikutnya saya berpikir, jika seorang hanya merayakan ulang tahun sekali seumur hidup bukankan seharusnya diadakan pada saat ia berusia tujuh belas bukan lima!. Tapi saya tidak pernah menyesal.

Comments 2 Comments »

Louisiana Jones Acthitcountersite.com -->