Archive for the “Global Warming” Category

Walau bumi terus berputar matahari terus bersinar, bulan dan bintang tidak kehilangan gemerlapnya aku tak mengerti ‘mengapa?’ . Walau roda kehidupan terus bergulir, business tetap berjalan, pasar modal terus dibuka, pekerja menerima upahnya dengan sukacita, aku bertanya ‘mengapa?’.

Walau bahu diusahakan bidang, kepala tegak dan bibir senyum; walau aku masih berdiri di mimbar untuk bersaksi dan berkhotbah; walau aku melihat wajah-wajah yang basah dengan air mata mendengar perbuatan-perbuatanNya; walau aku terus menerus menguatkan mereka yang lemah dan dalam kemelut supaya bertahan dan menang; walau aku terus berdoa untuk umatNya dan melihat doa itu dijawab meskipun mustahil karena memang mujizat masih terjadi; dan masih ada beribu ‘WALAU’ lainnya menandakan kehidupan di dunia masih berjalan seperti biasa.

Jari-jariku kapalan memetikkan gitar dan memencet tuts piano menyanyikan lagu mengatasi derita. Aku mengira dengan lagu dan penyembahan aku bisa lebih efektif mengungkapkan isi hati kepadaNya. Mataku yang bengkak tidak berhenti menelusuri Buku Penguasa mencari kekuatan, jawaban atau kemiripan cerita.

Entah apa yang dipikiran Penguasa ketika ia mempercayakan beban yang semakin lama semakin berat ini. Apakah aku kuat sekuat raksasa meskipun bodynya tidak lebih besar dari ukuran rata- rata. Atau karena aku perlu latihan khusus agar dengan ukuran ini otot-ototku bisa seperkasa Superwoman. Atau karena persediaan air mataku harus dikuras habis agar kolam penampungannya dapat dicuci bersih dan kalau perlu direnovasi agar bisa menampung lebih banyak air lagi. Mungkin juga aku harus dilatih untuk berdoa dan mengerang dalam sakit yang luar biasa agar bisa mengerti apa ’sakit’ yang sebenarnya.

Di mata Penguasa tidak ada hitung-hitungan ala penduduk bumi. Semua ada dalam dimensi kekekalan dan rencana global kerajaan. Meski beribu pertanyaan tapi tidak semua perlu jawaban dan tidak semua akan terjawab. Betapa kecilnya manusia dibanding dengan Penguasa yang memiliki titel “Berdaulat”. Betapa terbatasnya pikiran ciptaan ini sehingga tidak mungkin memahami apa yang dipikirkan Penciptanya.

Walau ada harapan agar Penguasa mengintervensi dan memutarbalikkan hukum alam, tak ada yang sanggup memaksaNya. Tak juga makhluk kecil penerima kasih anugerah yang dipungut dari yang terbuang. Dengan apakah ia akan menuntut Penguasa, apakah karena ketidakadilan di bumi ini yang sangat nyata, atau karena sikapNya yang seolah-olah tidak perduli sehingga kejahatan dan kehancuran ada dimana-mana? Sekali lagi hitung-hitungan ala penduduk bumi tidak berlaku bagiNya.

Meskipun isi hatinya terhadap penduduk bumi telah tertulis di dalam Buku-Nya, yang dipercayai cukup dan menyeluruh, tetap saja ada yang tinggal misteri karena disitupun tidak ada jawabannya. Tak seorangpun dapat bertanya mengapa ‘ia tidak mengerti’ karena jawabannya hanya ada di Buku Rahasia Penguasa.

Jika aku menghitung detik yang berlalu berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari dan hari berganti minggu demikian seterusnya, sekali lagi Penguasa tidak memakai cara hitung-hitungan ala Penduduk bumi ini. Jadi aku hapuskan saja prinsip aritmetika ini yang telah belasan tahun aku pelajari di sekolah. Semua tidak berlaku untuk memahamiNya. Alam ini fana dan meyesatkan, tidak bisa dipakai sebagai acuan atau ukuran. Bisa tertipu karenanya.

Sia sia semua usaha untuk mengerti Penguasa dengan alam yang diciptakanNya tapi tidak ditinggaliNya. Menaruh ciptaanNya dalam suatu system yang dinamakan ‘hukum alam’, tapi Ia sendiri tidak didalamnya. Tidak mengertilah dan bertanya-tanyalah, karena makhluk ciptaan kebingungan dengan cara kerja Penguasa yang ‘misterius’, kata yang khusus diciptakan untuk melukiskan betapa terbatasnya isi kepala manusia itu. Gagallah usaha manusia untuk memahami Rahasia Sang Penguasa.

Comments 5 Comments »

 

“Petama-tama aku mohon maaf telah lancang menulis surat buat bapak karena bapak sendiri tidak mengenali diriku. Aku Ginanjar (bukan nama sebenarnya) yang sedang mendapatkan kesulitan yang sangat besar gara-gara minuman keras. Aku telah berbuat kesalahan, kini aku mendekam di penjara. Aku membutuhkan bantuan, suapaya hukumanku bisa diberi keringanan. Aku telah di fonis 12 tahun mudah-mudahan bapak merasa kasihan dan mau membantuku. Kasihan keluargaku sekarang pada ikut menderita terutama anak dan isteriku. Aku sendiri tidak menyangka bahwa perjalanan hidupku akan seperti ini. Tolonglah aku biar kehidupanku tidak hancur, aku kasihan pada anakku, dia belum tahu wajah bapaknya. Padahal rencanaku tahun ini aku mau pulang, tetapi aku malah berbuat kebodohan gara-gara minuman keras, sampai aku tidak sadar sama sekali dan aku telah membunuh seseorang.

Setidaknya sudilah bapak mau membantuku biar aku diberi keringanan dalam persidangan ini. Aku minta maaf yang besar-besarnya telah memohon pertolongan kepada bapak. Sampai disini dulu surat saya. Apabila ada kata-kata yang tidak berkenan di hati aku mohon maaf yang sebesar-besarnya.”

=========

Ini adalah surat yang kami terima beberapa waktu yang lalu dari seseorang yang tidak kami kenal dan sekarang mendekam di salah satu penjara di Korea. Sejenak saya terpana membaca surat ini. Sungguh sedih jika ada seorang ayah yang merantau jauh untuk mencari nafkah dengan menjadi TKI akhirnya bernasib demikian. Terbayang anak istri yang sedang menantinya di tanah air. Ingin rasanya membantu, tapi apa daya? Kami bahkan bukan pengacara. Keputusasaan mencari bantuan hukum di negeri orang ditambah rasa bersalah yang besar terhadap keluarganya, telah menghantar suratnya kepada kami.

Semuanya karena ‘minuman keras’ katanya. Minuman yang membuatnya tanpa sadar telah melakukan tindakan yang tidak akan terlintas di kepalanya jika ia tidak mabuk. Pada saat efek minuman itu hilang ia berhadapan dengan dua kenyataan : tubuh tak bersalah yang terkapar tanpa nyawa dan masa depannya yang gelap tak berarah ! Tidak ada pintu untuk kembali. Tidak ada pilihan  selain pengadilan yang sudah pasti akan menjatuhkan hukuman pada diirnya. Bukan pada ‘minuman keras’ yang telah mengendalikannya, bukan juga pada penjual ‘minuman keras’ yang dengan mudahnya ditemui disetiap sudut kota.

Penyesalan selalu datangnya belakangan. Itu sebabbya ia disebut ‘penyesalan’. Jika ia timbul sebelum semuanya terjadi ia akan dinamakan ‘kebijaksanaan’. Seorang ayah yang bijaksana yang mengasihi keluarga, yang merantau meraup jutaan rupiah setiap bulan. Seroang kepala keluarga yang merencanakan masa depan anak-anaknya, memenuhi kebutuhan rohani dan jasmani mereka. Seorang beragama yang tahu membedakan pergaulan yang merusak dan yang membangun. Seorang dewasa yang tahu bahwa ‘minuman keras’ hanya menipu dengan kenikmatan sementara dan tidak bisa dijadikan tempat pelarian. Seorang laki-laki bisa mengendalikan dirinya. Ah, seandainya pikiran-pikiran inilah yang diturutinya…

“Minuman Keras’ katanya. Pemakainya disebut alcoholic, ketergantungan padanya disebut Alcoholism. Alcoholism yang tebukti telah menjadi penyebab tindakan kriminal seperti pembunuhan, perkosaan, penganiayaan, perampokan dan lain lain. Ia juga alasan keluarga menjadi disfungsional, rumah tangga berantakan, pertikaian, perceraian, perseteruan dan pemberontakan anak terhadap orang tua. Ia juga adalah penyebab utama kecelakaan di jalan raya, tabrak lari, dan pelanggaran lalu lintas lainnya.

Untuk istilah kedokteran ia disebut ‘disease’. Bagi psikolog ia dikenal dengan julukan ‘disorder’. Bagi genetiscists ia adalah ‘hereditary’. Bagi rohaniawan ia dikenal sebagai ‘bondage’ . Dokter akan Memberikan medication dan detoxicifcation, psikolog akan memberikan therapy dan psychotherapy. Rohaniawan akan mendoakan dan mengadakan peperangan rohani.

Come on…apapun namanya tidakkah manusia sadar bahwa pandemic in telah membunuh manusia lebih banyak dari musibah bencana alam manapun. Tidakkah kita sadar bahwa ia telah megacaukan akal sehat dan mengendalikan pikiran dan tubuh manusia yang seharusnya dipakai untuk memuliakan Tuhan?. Mengapa memberi tempat baginya dalam hidup kita? Mengapa memakai alasan “asal tidak mabuk’, “asal tidak kecanduan” “asal tidak terlalu sering”, “hanya untuk bersosialisasi”.

Mengapa memberi jalan baginya dalam hidup kita? Ia yang telah menyebabkan seorang laki-laki membunuh, pengedara menabrak mati anak kecil, suami menganiaya isterinya, ayah meninggalkan keluarganya, anak muda kehilangan masa depan, bayi lahir cacat. Ia adalah teroris paling kejam namun paling mudah ditemui.

Jika saja di hati manusia ada sedikit kebijaksanaan..?

Comments 4 Comments »

Percayakan Anda pada mujizat? Pernakah Anda mendengar cerita seseorang yang mengalami mujizat atau malah Anda sendiri pernah mengalaminya?

Untuk masalah mujizat, Dunia Kekeristenan terdiri dua golongkan, tiga untuk persisnya.

Golongan pertama (liberal )yang percaya bahwa mujizat adalah Myth. Cerita mujizat yang terjadi di dalam Alkitab adalah pandangan penulis tentang apa yang diyakininya sebagai mujizat, meskipun sebenarnya tidak demikian. Semua ada penjelasan logis untuk setiap kejadian supra natural.

Golongan kedua (konservatif) yang percaya bahwa mujizat itu ada dan terjadi. Mereka juga percaya akan ke-authentic-an dan inerrancy dari Alkitab. Meskipun demikian dari golongan konservatif in terbagi lagi atas dua golongan : golongan konservatif pertama yaitu mereka yang percaya bahwa mujizat telah berakhir pada jaman Kisah Para Rasul. Dan golongan konservatif kedua yaitu mereka yang percaya bahwa mujizat masih terjadi sekarang.

Golongan ketiga (Netral)adalah mereka ‘in between’ these two tension. Mereka adalah orang-orang yang ‘wait and see’: Melihat baru percaya. Kemungkinan mereka adalah orang-orang Kristen ‘keturunan Thomas’. Orang-orang yang tidak mau mengambil resiko salah atau ditertawai jika imannya tidak bekerja. Hatinya percaya tapi rationya menentang. Jika mujizat terjadi mereka akan berusaha mencari jawaban secara logic dulu dan setelah gagal mereka akan membiarkan waktu menjawabnya.

Tahukah Anda bahwa ada lebih banyak orang Kristen golongan pertama dan ketiga daripada gologan kedua? Dan dari yang golongan kedua ini ada yang lebih banyak golongan kedua- pertama daripada gologan kedua -dua?

Apa yang Anda percayai? Dan bagaimana dengan saya sendiri?

Well, saya tergolong pada Golongan Konservatif Kedua. Dengan iman saya percaya Tuhan sanggup melakukan mujizat, percaya semua yang terjadi dalam Alkitab memiliki ‘literaly meaning’, percaya juga bahwa mujizat masih terjadi sekarang bahkan yang lebih besar dan dahsyat dari yang tercatat di Alkitab -seperti janji Tuhan-.

Tapi saya juga bisa tergolong dalam golongan ketiga dalam hal ‘kehati-hatian’ menilai apa yang dikira orang mujizat. Dan saya tidak pernah menyetujui ide dari golongan liberal dan golongan konservatif pertama.

In fact, saat ini saya sedang menanti terjadinya mujizat….

Comments 12 Comments »

“Nggak bisa, kita nggak bisa tinggal di Indonesia” kata Nando lewat telpon semalam. Dari suaranya kedengaran kalau dia capek dan kesal. Nando dan anak sulung kami Joel ,memang sedang ada di Jakarta saat ini. Mulanya saya mengira dia ketinggalan busway atau sedang kecopetan sehingga kesal seperti itu.

“Kenapa?” tanya saya pengen tahu . Selama ini saya memang sering mengajukan pertanyaan seperti, ‘Kapan kita akan pulang Indonesia?’ atau ‘Akankan kita selamanya tinggal di Luar Negeri?’ yang hampir pasti jawabannya adalah “Kita berdoa ya?”. Dan saya pun harus puas dengan jawaban tersebut.

Tapi sekarang tiba-tiba ada alasan mendadak yang membuatnya mengambil ketetapan hati untuk tidak mau tinggal di Indonesia.

“Sudah satu jam di sini belum bisa kebuka” , masih kedengaran kesal. Nah apalagi nih, kok jauh dari istri malah pake buka-bukaan segala.

“Saya bahkan tidak bisa buka nancydinar.com” lanjutnya, membuat saya akhirnya mengerti kemalangan apa yang sedang dihadapi suami saya. Bukan ketinggalan bis, bukan kecopetan, bukan juga lagi buka-buka-an, tapi ia sedang struggle dengan sambungan internet di warnet.

Dulu , pada saat status saya masih sebagai full time mom, saya tidak bisa mengerti apa daya tarik internet dan mengapa penting memiliki komputer yang canggih. Saya lebih senang berpikir bagaimana menyajikan makanan yang enak untuk makan siang atau jenis masakan apa lagi yang perlu dieksplore. Menyenangkan keluarga dengan masakan adalah hobi saya. Tidak heran kalau saya sering menghabiskan waktu berjam-jam di dapur hanya untuk menyiapkan makan siang.

Sekarang, berlama-lama di dapur terasa membuang-buang waktu karena hobi baru saya yang pantas diberi gelar ‘mom on the blog’. Jika ada yang bertanya “Masak apa hari ini, Nancy?” saya akan jawab “Apa saja yang penting cepat dan bergizi”

Saya dapat merasakan pandangan mata Nando jika saya mulai berlama-lama di depan komputer. Mengetik draft, mengedit, review, publish, ngelayap ke blog tetangga, dll, yang tentu saja jika mau diikutin semua membutuhkan waktu seharian. Suami saya yang hobi makan terutama masakan istri pasti merasa kehilangan.

Tidak ada protes sih, karena pada dasarnya Nando lah yang selalu mendorong saya untuk menulis dan membuat blog. Halangan utama saya sebelumnya , pertama karena persoalan membagi waktu dan kedua karena masalah gaptek. Perlahan-lahan ia mulai mengajar apa makna istilah-istilah aneh tapi familiar karena mirip dengan nama-nama jenis kue dan snack seperti: page, blogroll, dashboard, plugin, feed, dll, sampai saya kemudian bisa ditinggal dan belajar mandiri (ceile, kayak anak SD aja).

Sejak itu, saya bisa mengerti mengapa Nando sangat betah di depan komputer dan mengapa internet itu perlu. Semakin banyak hal-hal yang dapat kami kerjakan bersama-sama. Sekarang, Nando sering memuji dengan mata berbinar-binar “Istriku sekarang sudah canggih ya”, yang membuat saya tersipu-sipu dengan pipi memerah (norak, ah!) tapi paling tidak membuat saya semakin percaya diri untuk berselancar di dunia blogging ini.

Comments No Comments »

Selain dari ‘Negeri Ginseng’ nama lain Korea adalah “Republik of Plastic Surgery’ karena tingginya minat masyarakat untuk memperbaiki bentuk wajah dan tubuh melalui operasi plastik. Spesialis bedah plastic selalu full book menjadikan bidang ini sebagai pilihan pertama setiap mahasiswa yang kuliah kedokteran, diikuti oleh bidang opthamology dan Dermatology. Ketiga bidang yang erat hubungannya dengan kecantikan.

Musim gugur seperti sekarang ketika para siswa SMU telah lulus dan akan memasuki Universitas, para Plastic Surgeon menuai won (mata uang Korea) karena ribuan calon mahasiwa ini akan mendatangi mereka untuk dipermak wajahnya. Mata besar dan berkelopak, dagu lancip dan hidung mancung adalah impian anak-anak muda ini. Meskipun 75% orang Korea lahir tanpa kelopak mata tidak masalah lagi karena operasi untuk membentuk kelopak hanya $800. Dengan pertumbuhan ekonomi yang dialami Korea sekarang, jumlah segitu bukanlah apa-apa. Bukan hanya anak muda, para orang tua pun tidak segan untuk mengambil resiko dan membawa anak-anak mereka ke plastic Surgeon sedini mungkin. Sebuah survey yang diadakan di Seoul dan sekitarnya mengatakan 77.5 percent wanita di atas 18 tahun merasa membutuhkan operasi plastic. Dan diantara mereka 62 percent sudah melakukannya menjadikan operasi plastic sudah menjadi suatu pola hidup yang sangat biasa (the Korea Time 22/11).

Saya pun pernah tergoda untuk lebih mempercantik diri dengan cara un-natural ini. Suatu hari saya menghubungi seorang dermatologist (bukan plastic surgeon), sekedar ingin tahu biaya untuk memperhalus dan menghilangkan bintik-bintik di wajah dengan teknologi terbaru yang sedang gencar diiklankan. Ia menjawab $400-600 untuk sekali pertemuan dan typically membutuhkan satu sampai lima pertemuan. Menghitung biaya yang demikian besar akhirnya saya mundur dari niat ini. Terpikir masih banyak hal penting lainnya yang dapat dikerjakan dengan jumlah tersebut. Lagipula jika memang saya punya uang banyak, bukankah lebih baik melanjutkan sekolah untuk mengisi kepala yang pasti efeknya lebih panjaaang.

Suami saya sering berkata bahwa kecantikan dan ketampanan hanya setipis kulit ari. Artinya jika setiap orang dikupas kulitnya tampang mereka akan sama semua.

Beberapa alasan mengapa orang ingin cantik/tampan:

1.Looks defines sucsess. Orang yang berwajah cantik mendapatkan berbagai kemudahan mulai dari mencari teman, pacar bahkan perkerjaan. Seseorang yang menarik lebih muda mendapatkan kepercayan yang tentu sangat diperlukan bagi sebagian perusahaan untuk menarik pelanggan. Demikianlah, salah satu tujuan para wanita maupun pria melakukan operasi plastik untuk memperbaiki kekurangan atau mempercantik diri adalah sebagai modal sebelum melamar kerja.

2. Cultural trend. Dulunya orang percaya dengan inner beauty, namun sekarang dengan bergesernya nilai-nilai personal dan menjamurnya budaya konsumerisme bergeser pula apa arti kecantikan sebenarnya. Media massa meliputi TV, majalah, internet, juga ikut mendifine apa yang dinamakan kecantikan: mata besar, tulang pipi tinggi, bibir seksi, rahang tipis, rambut panjang, tubuh tinggi dan skinny, membuat mereka yang tidak termasuk kategori tersebut menjadi minder dan merasa tidak diterima.

3. Not Dare to be Different. Yang ini adalah budaya orang Korea yang homogenous, perbedaan adalah aib. Dari trend berpakaian, cara dandan, pendidikan, bisnis semua sudah ada standardnya. Karena tidak ingin dirinya menjadi aneh dan alienated apalagi diberi label ugly, seseorang rela mempertaruhkan credit card dan nyawanya di sayat pisau bedah.

(Bersambung)

Foto : Courtesy of Time Asia Online.

Comments 7 Comments »

Petama kali saya mengenal makhluk yang bernama komputer yaitu pada awal tahun 1990an. Waktu itu operating systemnya masih memakai MS DOS. Apa yang bisa saya lakukan dengan komputer itu pun hanya sebatas mengetik tugas-tugas sekolah, sedangkan hiburan yang ada paling banter hanya bermain tetris dan solitaire.

Sekarang tujuhbelas tahun kemudian, apapun dapat saya lakukan di depan komputer. Membaca berita, Alkitab, renungan pagi; mendengar khotbah, music, menonton film; chatting dengan teman, bersosialisasi, membangun komuniti; conference, sekolah, belajar, main game dan masih banyak lagi. Bahkan kalo malas keluar rumah shopping online juga jadi pilihan. “The world is on your fingertips”, begitu istilahnya. Padahal dibanding dengan tech-savvy user, saya masih tergolong kaum yang “gaptek” gagap teknologi.

Saat ini hampir setiap orang terdaftar pada satu atau lebih situs komuniti seperti friendster, myspace, cyworld, facebook, segi3 ( baru khusus buat orang Indonesia, bantu promosi); sekedar jadi anggota mailing list seperti, yahoogroups, googlegroops; atau ngeblog gratis di mutiply, blogspot, blogger, wordpress dan masih banyak lagi (gak tau semua).

Bukan hanya orang dewasa dan kaum muda saja yang gandrung dengan teknologi internet , tapi sampai ke remaja dan anak-anak bahkan bayi pun sudah di expose dengan dunia maya ini. Di Korea 90% pemuda remajanya menjadi anggota situs komuniti Cyworld (sumber: wikipedia). America punya Myspace dan di Belgia ada Cyberspace yang saat ini telah memiliki 12.000 anggota bayi yang baru lahir dan janin yang masih dalam perut (sumber: the Korea Times, 11/14). Jadi jangan heran kalau di situs ini foto profile anggotanya berupa gambar sonogram.

Dengan adanya gaya hidup seperti ini terbentuklah suatu generasi baru yang benar-benar beda dengan generasi sebelumnya. Mereka dikenal karena early exposure terhadap komputer dan internet. Generasi ini disebut Generasi Z, yaitu anak-anak yang lahir sesudah tahun 1996 dari orang tua yang lahir 1965-1985 (Generasi X), ciri khasnya adalah kedekatannya dengan sosialisasi ala dunia maya dan semakin jauh dengan sosialisasi dunia nyata

Di Amerika sudah sangat lumrah jika gereja punya website yang bisa broadcast ibadah minggu dan berbagai fasilitas lainnya. Demikian juga di Korea, rata-rata gereja yang besar memiliki internet dan TV broadcasting. Ada banyak virtual congregation atau jemaat yang enggan ke gereja tapi bisa mau mengikuti ibadah dari rumah masing-masing. Jeleknya, yaitu jemaat yang menjadikan internet gereja seperti belanja di online shopping: suka beli; tidak suka cari yang lain. Semuannya hanya dengan fingertips dan remote control.

Bagi saya, website gereja yang lebih tech-trendy dan tech-savvy bukan sebagai pengganti pekumpulan saudara seiman di rumah Tuhan. Namun, ini sebagai jembatan untuk menjangkau mereka yang tidak terjangkau pada ibadah minggu. Oleh karena itu, jadi orang Kristen jangan ketinggalan, gaptek (seperti saya) atau “butek” buta teknologi (yang ini parah deh), paling nggak bisa familiar dengan internet untuk memetik berbagai manfaat darinya. Kita juga harus memikirkan bagaimana mejangkau Generasi Z atau kalau tidak mereka akan terhilang selamanya di dunia maya tanpa pernah menginjak lantai gereja.

Comments 6 Comments »

 

Gedung-gedung mewah, interior yang wah, ful AC, full karpet, siapapun akan betah. Sayangnya yang boleh masuk hanya orang-orang tertentu. Pastikan orang-orang itu bermobil, pakaian bersih dan rapi, orang-orang berstatus, bisnisman, berduit…

Membangun gedung-gedung mewah tidak mudah. Proses pengumpulan dana menguras tenaga. Yang miskin dan yang kaya ikut berpartisipasi, karena itu untuk kepentingan rohani. Gedung-gedung mewah itu akan menjadi gereja. Disitu akan berkumpul berbagai kalangan untuk membicarakan banyak hal: situasi politik, keadaan sosial, ekonomi negara. Juga dibicarakan tentang hidup yang lebih baik, berkelimpahan, kemakmuran, kesejahteraan, kesuksesan yang semua itu untuk anggotanya.

(more…)

Comments No Comments »

Louisiana Jones Acthitcountersite.com -->