Headline »

March 21, 2013 – 8:15 pm |

Buku “KOREA, A to Z” menggambarkan segala sesuatu yang ingin diketahui oleh orang Indonesia baik untuk sekedar menambah pengetahuan, pendamping memahami K-Drama, traveling, kuliah, bekerja  bahkan berimigrasi. Dilengkapi dengan foto-foto baik dari koleksi pribadi maupun …

Read the full story »
Relationship

Single, Husband and Wife, Friendship, Love

Personal Stuffs

Journal, Memoir, Traveling

Relationship

Single, Husband and Wife, Friendship, Love

Family

Parenting, Education, Career, Job

Spirituality

God’s Love, Biblical Figures, Spiritual Growth, Theology

Home » Family, Korea

Apa? Persiapan Masuk Universitas sejak dari TK?

Submitted by on September 2, 2013 – 11:33 amNo Comment

tk“College starts from kindergarten”. Pernah dengar istilah ini? Inilah fenomena yang terjadi di negara-negara berkembang, atau negara yang sistem pendidikannya masih terjebak pada sistem era indutrialisasi. Ya, ini bisa dikatakan termasuk Indonesia dan South Korea. Penasaran, apa sih persamaan sistem pendidikan Indonesia dan South Korea yang memegang peringkat ke 2 World Best Education?

Ciri-ciri utama sistem pendidikan era industrialisasi yang dianut baik oleh Indonesia maupun Korea, pertama, adalah sistem pendidikan linear. Tujuan dari jenjang pendidikan dari TK sampai SMA akan berkulminasi pada ujian masuk perguruan tinggi. Jika ditanya sejak kecil apa cita-cita seorang anak, mereka menjawab, mau jadi dokter, insinyur, guru, atau president, yang semuanya hanya bisa dicapai setelah melewati jenjang universitas.

Persamaan kedua, adalah standarisasi.  Baik Indonesia maupun Korea menggolongkan anak pintar dan tidak pintar dengan melihat hasil ujian standarisasi (atau ujian nasional.) Sedikit beda saja, di Korea ujian hanya ada pada saat masuk universitas yang disebut Suneung, sementara di Indonesia sejak bangku SD. (*)

Mengapa diperlukan ujian standarisasi semacam ini?

Dengan meningkatnya populasi penduduk maka tidak semua lulusan sekolah menengah bisa ditampung di universitas. Ujian standarisasi diadakan dengan tujuan utama menyeleksi calon mahasiswa. Mengingat pertumbuhan penduduk terus meningkat, sementara pembangunan universitas  baru sedikit, maka ujian masuknya pun dibuat semakin selektif. Tidak heran jika zaman 15 atau 20 tahun lalu, persiapan masuk perguruan tinggi diadakan pada kelas 3 SMA atau tidak lama setelah lulus, sekarang persiapannya semakin mundur, sejak SD bahkan, dalam beberapa kasus,sejak Taman Kanak-kanak. Itulah sebabnya, bagi orang yang mampu, menjejali anak-anak mereka dengan berbagai les untuk mendongkrak nilai sekolahnya.

Mereka yang hasil testnya paling tinggi akan masuk ke universitas ternama dan menduduki fakultas favorit, sebagian bahkan sekolah diluar negeri. Sementara mereka yang hasil testnya lebih rendah harus puas masuk universitas swasta atau yang tanpa nama. Harapannya setelah lulus sarjana mereka akan mudah mendapat pekerjaan dan mewujudkan cita-cita mereka jadi dokter, insinyur, guru dan president tersebut. Namun, sekali lagi karena populasi penduduk terus meningkat maka kualifikasi tenaga kerja pun semakin tinggi. Pekerjaan yang dulu dikerjakan lulusan SMA sekarang dikerjakan oleh sarjana. Pekerjaan yang dikerjakan sarjana, sekarang  untuk yang master. Demikian seterusnya. Sekali lagi, bagi orang yang mampu, bukan saja memberi les-les untuk mendongkrak nilai sekolah, tapi juga berbagai les ekstra untuk memberi nilai tambah kepada anaknya.

Sampai kapan ini berlangsung? Sampai terjadi perubahan sistem pendidikan. Namun sayangnya, perubahan sistem pendidikan yang dianut suatu negara tidak mudah, meskipun sudah sangat mendesak.

Mengapa mendesak? Karena era industrialisasi sudah lewat, diganti oleh era moderinisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan informasi yang sangat pesat. Kebutuhan tenaga kerja bukan lagi dinilai dari ijazah dan nilai-nilai sekolah, melainkan dinilai dari inovasi dan kreatifitas. Mereka yang bisa melebur ke pasar, atau yang bisa mencapai jenjang kesuksesan tinggi, adalah mereka yang berani keluar dari sistem pendidikan linear dan standard tersebut. Mereka itu antaranya adalah Bill Gates, Steve Jobs, Mark Zukerberg, yang memililih drop out perguruan tinggi untuk memulai inovasi sendiri. Bagi mereka, universitas tidak ada manfaatnya, karena tujuan mereka bukan untuk menjadi pekerja melainkan menjadi pencipta lapangan pekerjaan.

Jadi, bagaimana mempersiapkan anak-anak kita untuk tantangan masa depan ini? Menurut saya ada dua hal yang harus kita tanamkan dan kembangkan dalam diri anak-anak kita.

1. Kreatifitas.

Mari mulai dari kabar buruk terlebih dahulu: kreatifitas initidak bisa didapatkan di sekolah. Pakar kreatifitas Ken Robinson, dalam kuliah Ted Talks-yang berjudul “Schools Kills Creativity” berpendapat bahwa sistem sekolah kita sekarang tidak memberi ruang bagi anak-anak untuk berkreasi karena, ya, itu tadi, sekolah dirancang untuk ujian standarisasi. Anak-anak belajar hanya untuk mencapai nilai terbaik dari ujian ini, bukan untuk mengembangkan kreatifitas mereka.

Kabar baik tentang kreatifitas ini:  semua orang secara alami dilahirkan sebagai makhluk kreatif! Manusia memiliki intuisi untuk menciptakan sesuatu.  Kreatifitas inilah yang harus terus dikembangkan. Karena seperti otot, yang semakin dipakai semakin kuat, demikian juga dengan kreatifitas. Semakin banyak berkreasi makan semakin kreatiflah seseorang. Semakin banyak mencipta maka ide untuk mencipta lebih mudah muncul.

2. Entrepreneurship

Entrepreneurship adalah bagaimana kreatifitas tadi menjadi inovasi yang dapat memberi nilai tambah bagi komunitas. Dengan kata lain, bukan sekedar menjadi businessman tapi menjadi business leader. Entrepreneur adalah orang memiliki kemampuan untuk melihat jauh ke depan dan memakai sumber daya yang ada, dan dengan tingkat kreatifitas yang tinggi menciptakan produk yang sesuai.

Jiwa entrepreneurship bisa dilatih dan diajar sejak kecil. Anak-anak dibina bukan untuk kreatif saja tapi juga memakai imajinasi mereka menciptakan bisnis dan mencari keuntungan. Kalau kreatifitas seperti otot, maka enterperneur seperti otak yang memberi perintah pada otot untuk berfungsi semestinya.

Inilah yang akan modal untuk masa depan anak-anak kita. Jadi, sebagai orang tua kalau kemampuan keuangan kita terbatas, dan kita harus memilih mana yang terbaik untuk pendidikan anak kita, pilihlah kursus atau les yang tujuannya untuk mengembangkan kreatifitas dan entrepreneurship mereka.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.