Anak pertama kami lahir tujuh minggu sebelum waktu yang diperkirakan dokter. Dengan berat 2,2 kg, 49 cm, badannya keriput berwarna kekuningan, paru-paru dan livernya belum berfungsi sempurna. Karena itu kami tidak bisa langsung memeluk apalagi membawanya pulang. Ia harus menginap di ruang NICU.
Delapan belas hari adalah waktu yanga sangat lama buat kami menunggu. Kami hanya diberikan waktu 2 kali sehari untuk menjenguk. Setiap kali dengan sarung tangan, topi dan jubah yang steril, memandang makhluk kecil tak berdaya dalam tabung inkubator. Berbagai selang dan suntikan dihubungkan ke dalam tubuhnya. Salah satunya yang dimasukkan dari hidung sampai ke dalam dalam tenggorokan. Saya khawatir dia kesakitan karena seluruh alat bantu tersebut.
Di rumah saya tidak henti-hentinya mencuci baju bayi, menyetrika, melipat, serta mempersiapkan segala keperluannya ketika nanti bisa dibawa pulang. Sebagian karena kasih sayang yang melimpah, sebagian lagi karena rasa bersalah melihat keadaanya.
Waktu harinya kami bisa membawa pulang Joel, kami senang bercampur panik. Bayangkan selama ini seluruh keperluannya diatur dan disediakan Rumah Sakit, sekarang semua tanggung jawab itu menjadi milik kami. Saya masih takut memeluknya erat-erat, takut tulang-tulangnya patah. Saya melepas baju rumah sakit yang tidak modis itu dan menggantinya dengan baju yang sudah saya siapkan. Seketika tubuhnya tenggelam karena baju itu sangat kebesaran padahal itu adalah ukuran terkecil yang bisa kami dapatkan di toko.
Ketegangan memuncak, seringkali suami dan saya bertengkar, kami bingung dan penuh ketidaktahuan. Tubuhnya masih sangat kecil dan rapuh. Jadwal tidur kami jungkir balik. Jadwal makan apalagi. Saya baru menyadari bahwa ‘life is never be the same again’, hidup kami berubah dalam semalam. Dan tidak pernah akan sama lagi.
Semua orang tua punya ceritanya sendiri ketika anak mereka lahir. Ada yang sama dengan cerita saya, ada yang beda. Tapi semua pasti setuju kalau anak kita mengubah hidup kita selamanya.
Apa yang terjadi 2000 tahun lalu ketiak bayi Yesus dilahirkan? Dampak apa yang dibawa oleh bayi itu bagi orang tuanya? Kelahiran Yesus bukan hanya mengubah kedua orang tuanya, tapi juga mengubah baik orang-orang disekitarnya maupun yang jauh di negeri antah berantah.
Inilah apa yang mereka alami:
1. Yusuf dan Maria (Mat 1:19-20)
Seperti banyak pasangan muda lainnya yang sedang dimabuk asmara dan dipenuhi mimpi-mimpi, hidup mereka berubah dalam
sekejap. Untuk sementara mimpi mereka berantakan dan apa yang mereka alami seperti musibah. Apa alasan yang pantas bagi keluarga dan masyarakat mengenai kehamilan Maria di luar nikah? Namun, ketaatan dan penyerahan hidup mereka akhirnya memulihkan musibah menjadi mujizat.
Sejak saat itu hidup Yusuf dan Maria adalah menjadi alat Tuhan. Rencana dan impian mereka tentu berubah, tapi untuk sesuatu yang jauh lebih mulia.
2. Orang Majus (Mat 2:11-12)
Mulanya para Orang Majus ini mencari bayi yang dilahirkan berdasarkan bintang yang mereka lihat. Ilmu dan kepercayaan mereka akhirnya membawa mereka ke Yerusalem berhadapan dengan Herodes. Apa yang seharusnya menjadi pertemuan yang indah dari seorang ‘calon raja’ dan penyembahnya menjadi rencana malapetaka. Setelah bertemu dengan bayi Yesus, orang-orang majus itu diperingatkan malaikat untuk mengubah haluan dan tidak bertemu Herodes lagi.
Pertemuan dengan Yesus memberikan perlindungan dan pimpinan Tuhan terutama untuk mengubah haluan karena bencana ada di depan mereka. Mereka luput dari maut dan rencana jahat Herodes.
3. Para Gembala (Luk 2:8-20)
Dari banyak golongan manusia, bangsawan, cedikiawan, pengusaha, tentara, pemungut cukai, dll, para gembala inilah yang mendapatkan kehormatan untuk melihat agungnya hadirat dan kemuliaan Tuhan. Bisa dimaklumi karena Yesus dilahirkan di kandang domba, para gembala adalah profesi yang paling pantas untuk diundang.
Undangan untuk mengalami hadirat dan kemuliaan Tuhan diberikan untuk seluruh kalangan. Tapi seringkali dari kalangan yang terkecil dan terbuanglah undangan ini lebih ditanggapi. Tuhan dekat dengan mereka yang tidak diperhitungkan dunia.
4. Herodes (Mat 2:16-17)
Ketika Herodes tahu bahwa ada bayi istimewa yang dilahirkan di Yerusalem, Ia merasa terancam. Terlebih lagi rencananya untuk membunuh bayi tersebut gagal karena orang majus yang berjanji akan menemuinya tidak pernah muncul lagi batang hidung mereka. Herodes mengambil keputusan keji untuk membunuh seluruh bayi di Betlehem dan berharap salah seorang dari mereka adalah Yesus. Tentu saja, Herodes dengan segala kekuasaan, ilmu pengetahuan dan kekejiannya tidak bisa menghalangi rencana Tuhan untuk dunia ini.
Rencana Tuhan tetap akan terlaksana apapun penghalangnya. Kita tentu ingin menjadi bagian bagi terlaksanya rencana ini bukan penghalang.



Leave a Reply