Dalam menjalankan peran sebagai orangtua seringkali kita bertanya-tanya. Apakah prilaku anak kita normal? Apakah pola pengasuhan kita sudah benar? Bagaimana cara mendisiplinkan anak dengan tepat? Bagaimana menerapkan disiplin yang efektif tanpa melukainya secara psikologis?
Bagi saya ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada putusnya selama kita mengemban tugas sebagai orang tua. Sejak anak-anak kita kecil sampai mereka dewasa, bahkan ketika mereka sudah mandiri, peran kita sebagai orang tua tidak mengenal masa pensiun. Saya menulis bukan sebagai orang tua yang sempurna dan serba tahu tapi justru berangkat dari kebingungan saya sendiri sebagai seorang ibu. Tahun-tahun yang saya lewati dipenuhi kecemasan dan rasa ingin tahu. Emosi dan tenaga terkuras dalam pencarian jati diri, kadang terjepit di antara peran sebagai ibu dan wanita karir.
Ternyata, peran sebagai orang tua adalah proses. Kemampuan itu tidak datang seketika kita membawa pulang bayi dari rumah sakit. Tidak juga menjadi sempurna ketika ketika kita berhasil membawa mereka ke gerbang kesuksesan. Sebagaimana manusia berkembang, demikian juga proses pengasuhan kita berkembang. Dari tidak ada menjadi ada. Dari baik menjadi lebih baik.
Beberapa hal yang perlu kita ketahui untuk memiliki pola asuh yang lebih baik.
Pola Asuh Bukan Berdasarkan ‘Common Sense’
Bingung seringkali diakibatkan oleh ketidaktahuan. Dengan belajar dan mencari
informasi tentu akan menambah pengetahuan pola asuh kita. Generasi kita sekarang berbeda dengan generasi orang tua kita dulu. Kalau orang tua kita, kalangan generasi baby boomers, belum semaju sekarang dalam hal ekonomi maupun pendidikan. Mengasuh anak hanya berdasarkan common sense. Tentu saja banyak yang berhasil. Anak-anak mereka sukses setelah dewasa. Tapi tidak sedikit juga yang melukai dan mengecewakan.
Apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua adalah menyadari kekurangan-kekurangan pola asuh yang kita terima sebelumnya. Apa saja sakit hati atau luka yang berusaha kita pendam. Mungkin orangtua kita kurang dalam menunjukkan kasih sayang. Atau mereka terlalu keras jika menerapkan disiplin. Ada juga orang tua yang terlalu protektif dan tidak memberikan ruang bagi anak-anaknya berkarya. Sementara orang tua yang lain memiliki terlalu banyak aturan sehingga anak-anak mereka merasa terkekang.
Dengan menyadari kekurangan orang tua kita ini kita bisa mengevaluasi pola asuh kita. Apakah pola asuh kita sebagai kompensasi dari orang tua kita? Jika orang tua kita terlalu mengekang kita cenderung menjadi orang tua yang memberikan kebebasan. Atau bisa jadi pola asuh kita adalah cerita lama yang diulang kembali. Jika orang tua kita terlalu keras, kita akan bersikap keras kepada anak-anak, karena hanya itulah pola asuh yang kita tahu.
Berangkat dari kesadaran ini kita menuju kepada pola asuh yang lebih baik. Tanpa menyadari dan mengobati luka masa lalu, anak-anak kita akan menjadi satu generasi ‘korban’ lainnya. Keputusan ada di tangan kita sebagai orang tua melanjutkan pola lama yang salah atau memulai dengan sesuatu yang sama sekali baru.
Pola Asuh Berdasarkan Perkembangan Anak
Bagaimana membedakan anak kita yang berbeda usianya. Apakah sikap kita kepada anak kita yang berusia 2 tahun sama dengan sikap kita kepada anak yang berusia 7? Tentu tidak. Dalam milestones perkembangan anak 2 dan 7 berbeda. Kemapuan mental dan sosial mereka juga beda. Oleh karena itu, kita juga harus memperlakukan mereka dengan beda. Kepada anak 2 tahun. Kita hanya membuat peraturan sederhana “tidak boleh” dan “boleh”. Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar mengapa kita melarang mereka bermain pisau dapur ibu. Tapi untuk anak yang lebih besar kita harus memberikan alasan yang masuk akal ketika kita membuat aturan. Misalnya, mengapa kita tidak mengijinkan mereka untuk menonton sesuka hati, padahal teman-temannya yang lain diijinkan orang tua mereka.
Mana yang normal dan tidak normal bagi anak kita tergantung pada tahap perkembangan mereka. Untuk itulah kita perlu tahu supaya tidak bingung bersikap. Kita tentu akan lebih santai kalau tahu bahwa anak usia 2 yang disebut terrible two cenderung melawan apapun yang kita katakan. Ini bukan kenakalan atau pemberontakan. Ini adalah kewajaran. Yang perlu kita pelajari adalah cara yang pandai untuk menghadapi mereka.
Demikian juga dengan anak remaja kita yang bertingkah laku tidak terkontrol. Teriakan mereka “Ma, Pa, saya bukan anak kecil lagi!” menyakitkan. Bagi kita itu adalah penolakan bentuk kasih sayang kita untuk mereka. Sementara itu bagi mereka itu adalah teriakan frustasi karena merasa tidak di beri kepercayaan. Bagi sebagian remaja yang tidak mampu meneriakkan kata hati memberontak lewat perbuatan. Bolos sekolah, tawuran, minggat, free seks, rokok, alkohol dan narkoba, adalah bentuk lain dari pemberontakan mereka.
Tidak ada orang tua yang berharap akan melewati masa-masa sulit ini ketika sedang merawat bayi lucu dan menggemaskan mereka. Sebagian orang tua merasa sedang bermimpi buruk. Mereka berusaha mencari jawabannya, apa yang salah dari pola asuh mereka?
Tidak ada jawaban yang memuaskan semua pihak. Tapi apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua adalah memahami tahapan perkembangan anak-anak kita. Ini akan memudahkan kita mengantisipasi, bertindak dan mengambil keputusan.
Pola Asuh Berdasarkan Interpretasi Positif
Sebagai orang tua kita juga menghadapi anak kita berdasarkaan interpretasi tentang tingkah laku. Misalnya, ketika anak kita yang berusia 3 tahun punya temper tantrum di meja makan. Orang tua serta merta berpikir, apakah anaknya merengek karena ingin dessert atau ia sedang merengek karena sakit perut? Kemudian kita juga berpikir, apakah wajar untuk anak 3 tahun punya tantrum seperti itu di meja makan?
Orang tua yang percaya bahwa anak mereka memang sengaja bertingkah laku
salah, akan berpikir untuk menghukum mereka. Semakin sering kita punya persepsi bahwa anak kita memang sengaja untuk berprilaku buruk, semakin sering kita menghukum mereka. Hasilnya anak akan menjadi kasar dan agresif.
Contohnya di kelas waktu saya menyuruh anak kelas 2 SD mendekorasi lembaran kerja mereka dengan tema valentine, ada seorang anak yang protes dengan keras. Jika persepsi saya anak ini tidak sopan dan tidak patuh tentu saya akan memberikannya disiplin yang sepadan. Tapi sebelum memberi label negatif, saya bertanya “Apa yang tidak kamu sukai dari valentine?”, “Apakah kamu sedang kesal hari ini?” Saya percaya bahwa ada sesuatu terjadi yang membuatnya tidak suka dengan valentine bukan karena ia tidak patuh atau tidak sopan.
Saya akhirnya tahu bahwa anak tersebut sedang mengalami masa sulit dalam keluarganya. Kedua orang tuanya sudah berpisah. Ada banyak masalah emosi yang muncul dalam keluarga ini yang tentu sangat berat ditanggung anak berusia 8 tahun. Ia tidak mengerti mengapa orang harus saling mengungkapkan kasih. Memikirkan hal tersebut tentu membuat ia merasa sangat tidak nyaman. Dan karena anak seusia dia belum pandai menyembunyikan atau menyamarkan emosi, ia mengekspresikannya.
Belajar berpikir netral kalau tidak positif membantu kita dalam menghadapi anak-anak. Saya tidak percaya ada anak yang nakal. Persepsi kita sebagai orang tua atau gurulah yang membuat mereka nakal. Demikian juga tidak ada anak yang malas, tidak punya motivasi atau manipulatif. Semuanya adalah label yang diberikan oleh orang dewasa dalam kebingungan dan keputusasaan menghadapi anak-anak mereka.




Leave a Reply