Salah satu teman kami bertanya, “Do they fight”? sambil melirik ke kedua anak kami yang terus membuat keributan di dalam mobil
“Yes, all the time!” jawab kami serempak.
Siapa yang dapat mencegah dua anak laki-laki usia 6 dan 3 tahun yang sehat, cerdas dan aktif untuk tidak berantem dalam sehari? Walaupun kami mencurahkan kasih sayang, menghindari acara TV yang mempromosikan kekerasan, mengajarkan nilai-nilai persaudaraan, ditambah dengan doa-doa, tumpangan tangan dan cerita Alkitab sebelum tidur, mereka tetap ribut jika berebutan apa saja.
Mereka membuat saya dan ayahnya menjadi “Hakim yang Bodoh “karena ketidakmampuan kami untuk memutuskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Siapa yang pantas duduk di kursi yang berwarna merah atau giliran siapa sekarang memakai komputer?
Meskipun sebagai orangtua kami berusaha adil, tapi apa arti ‘keadilan’ bagi anak berusia 3? Bagi nya, seluruh dunia adalah miliknya. Dan apa arti ‘mengalah’ untuk anak berusia 6? Baginya, Mami dan Daddy lebih sayang adik.
Namun, ada waktu-waktu di mana mereka membuat kami bangga dan terharu. Ketika mereka berpelukan dan saling meminta maaf tiga detik sesudah tonjok-tonjokkan. Ketika mereka tertawa girang dan bermain bersama. Ketika mereka saling memberikan pujian dan menjadi fan berat satu sama lainnya. Ketika bergandegan tangan menuruni tangga rumah. Ketika mereka saling membantu membangun balok-balok. Mereka bercanda, bersukacita, mengasihi satu sama lain.
Mereka membuat kami ingin melakukan apa saja. Mereka menarik kasih yang lebih dalam. Mereka membuat orang tuanya merasa puas.
Bukankah ini juga yang dirasakan oleh Bapa kita di surga, ketika melihat umatnya selalu rukun, bersatu, saling mengasihi dan saling mendukung. Bukankah ini yang akan membuat Ia bangga dan memenuhi segala kebutuhan kita bersama?
Perkelahian, pertengkaran, perseteruan, tidak akan mengubah kasih Tuhan kepada umatNya, tapi jelas mengubah jumlah berkat yang akan kita terima.
“Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.” (Mazmur 133:1-3)







September 6th, 2010 at 2:24 pm
wah2 menarik sekali
mengingatkan saya bahwa kasih Tuhan memang tak bersyarat.
btw untuk anaknya yang suka berkelahi :p
saya juga 4 bersaudara (mama saya 2kali melahirkan anak kembar), waktu saya masih kecil, saya sering berkelahi dan sangat nakal. Tapi seiring bertumbuhnya saya, saya terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Saya menyadari bahwa itu semua juga tidak lepas dari dasar yang dibangun orang tua saya sejak kecil (nilai2, sekolah minggu, dll). Dasar yang kuat itu membuat seorang anak bertumbuh lebih terkendali
salam kenal….
keep writing
GBU
September 17th, 2010 at 4:48 pm
Suatu pesan yg harus terus didengungkan, Nancy. Umumnya manusia memiliki rasa tak ingin merendahkan diri, entah itu malu atau memang gengsi–tidak mau–tapi utk itulah IA mengajarkan kita untuk saling mengsihi, yg artinya untuk mengasihi sesama terutam musuh, kita harus mau merendahkan diri.
Salam dari PA
November 9th, 2011 at 12:42 pm
http://skiespainter.blogspot.c.....angan.html.
?.
Scor ketemu anak anak tuch.
Tetapi berlagak orang orang yang telah dewasa dan bijaksana.
:d.
Lihat komentarnya?.
?.
Scor nyengir dech.
Secara intelektual maupun spiritual adalah rendah adanya.
Tetapi sembarangan mengkomentar.
Anak anak, bukan?.
From *Seseorang* *Raja*.
Tetapi malas naik tahta.
Karena di atas meja pasti banyak kerjaan.
~Mendingan cari uang.
Terus nge Thio Bu Khi & Tio Beng saja.
( Heavenly swords & dragon sabre, Chin Yung ).