Pernahkah anda melucu dan pendengarnya tidak tertawa? Well, saya sering mengalaminya. Bukannya tertawa malah mereka tegang dan bingung membuat saya salah tingkah apalagi jika kejadiannya di depan podium pada saat sedang menyampaikan khotbah. Namun, the show must go on. Satu-satunya yang tertawa di ruangan itu adalah saya sendiri. Bukan pada leluconnya yang sudah saya hapal dan ceritakan berulang-ulang tapi pada kenyataan ‘alangkah lucunya ada pelawak yang tidak lucu’.
Mungkin saya tidak ahli dalam hal melucu seperti TJ Waltije yang bisa membuat siapa saja geli dan terpingkal-pingkal dengan gayanya yang konyol. Walau sebenarnya saya punya bakat alami karena beberapa orang berpendapat tampang saya lugu dan bego. Sebenarnya saya sering berhadapan dengan diskriminasi seperti ini dan tidak lolos seleksi jika syarat utamanya adalah ‘tampang cerdas’.
Dulu pernah seseorang yang saya kenal baik memandang saya dengan pandangan tulus iklas dan berkata “Dek, tampangmu kok blo’on sih?”. Saya pulang menangis sepanjang jalan, beberapa sahabat saya berusaha membujuk. “Kamu tidak bodoh Nan, orang itu cuman tidak tau apa isi kepalamu?” J Tapi saya tetap menangis sehingga kami menjadi tontonan umum. “Nggak, kamu tidak tahu. Aku sedih karena dia bukan orang pertama yang ngomong begitu!”
Saya hampir percaya bahwa memang saya tidak memiliki otak yang cukup berat dan sekarang harus menerima kenyataan bahwa saya juga tidak berpotensi untuk menjadi anggota Extravaganza.
Dunia sepertinya tidak adil, karena dalam ruangan saya biasanya orang paling pertama tertawa dan geli dengan lelucon yang masih harus dicerna oleh orang lain. Ketika orang lain akhirnya sadar bahwa mereka sedang mendengar lelucon dan seharusnya tertawa, saya malah sudah tertawa untuk lelucon berikutnya.
Untung saja ada yang menyadari bahwa walau tidak lucu saya sebenarnya lucu. Dia itulah suami saya. Waktu kami masih berteman, setiap hari pasti
penuh canda tawa. Suatu hari dia berkata, “mungkin kalau kita menikah, rumah tangga kita akan seperti pertunjukkan sirkus”. Maksudnya pertunjukkan sirkus yang punya banyak atraksi mendebarkan dan lucu. Demikianlah adanya, kami pun menikah. Kami tertawa dan melucu tanpa disengaja setiap hari dan kemudian menghasilkan keturunan yang juga lucu lucu.
Hidup ini ibarat sungai yang memiliki dua sumber mata air. Yang satunya menghasilkan tawa dan yang lain menghasilkan air mata. Hidup ini juga sama seperti kata suami saya, ibarat permainan sirkus. Ada adegan mendebarkan dan mengandung resiko dan ada badut lucu yang konyol untuk menghibur. Satu dan lainnya saling melengkapi.
Meskipun memiliki tampang bego dan blo’on, tapi dengan wajah yang sama, saya juga mendengar orang-orang berkata “Nancy, kamu punya karisma”. Saya tersenyum, menerima dua kenyataan ini sebagai compliment yang utuh. Yang satu bukan pujian dan yang lainnya bukan ejekan. Keduanya adalah dua mata air yang berbeda dalam satu pribadi yang sama.



June 1st, 2009 at 3:49 pm
Hahaha… dapat menertawakan diri sendiri adalah sbh kualitas yg bagus
June 1st, 2009 at 7:50 pm
Aduh, saya sampai tidak tahu harus berkomentar apa. Tulisan Sis Nancy yang jujur membuat saya tertawa sendirian, sambil berpikir (kok ada ya yang berani bilang begitu kepada seseorang yang menurut pendapat saya Cantik?) saya sampai buka2 photo anda..dan tidak mendapati “kebegoan” yang dimaksudkan orang itu.(ini beneran..saya gak muji, cuma bilang berdasar fakta yg ada lho)
June 2nd, 2009 at 2:23 am
haha.. Nens, selama setaon sekelas di SMA dulu menurut aku kamu tuh baik, lucu, banyak tawa en selalu ceria. Memang kamu kelihatan lugu hehe.. tapi gak kelihatan blo’on kok. Sejam ngomong dengan kamu bisa ketahuan kalo kamu itu intelligent loh!!!
June 2nd, 2009 at 2:49 am
kak Nancy…hehehe
yg pasti kak Nancy tampang nya ga gitu alias bloon
malah saya selalu salut kepada kak Nancy yg menurut saya ..seorang wanita yg mendekati prefect..( bukan memuji tapi mang dari hatiku dan saya selalu berpikir kog saya ga bisa seperti kak Nancy )
di kehidupan sehari2 kita sering memang sering kita jumpain hal2 demikian tapi jangan kita langsung cap orang tuh bloon…
” DUNT JUDGE THE BOOK BY THE COVER “
June 2nd, 2009 at 10:36 am
@ G, I was trying to laugh at myself, accept what people think that I disagree
@Riris, the two dimension facts may alot of different with three dimension.
emang foto sekarang sudah dimodernized.
@Carla, hehehe, Carla, thank you if you think that way. That’s the other side of a coin.
@Steffany, ‘mendekati perfect’, not even close. Kadang, aku cuman memainkan peran yg penting (dan harus) saja. But don’t judge the book by its cover, tells it all.
Kenyataannya yang jujur, aku banyak menerima diskriminasi jika sudah menyangkut gender, race, nationality, fisical appearance. Period. To be able to laugh at our self is a good medicine. Lowered my expectation to self and think others greater, is a lifelong lesson that I’ve to learned.
July 27th, 2009 at 9:29 am
sekali-kali lawakan itu boleh dong gak lucu…………
hehehehee……..