“Banyak orang yang menderita karena perbuatan saya. Penderitaan yang akan muncul kemudian juga tidak bisa dibilang. Saya tidak dapat melakukan apa-apa karena tekanan ini. Saya tidak bisa membaca atau menulis. Hidup dan mati bukankah hanyalah dua nature yang berbeda?”
Itu adalah sebagian dari pesan singkat yang diltulis oleh bekas presiden Korea Selatan sebelum menemui ajalnya dengan cara melompati tebing setinggi 30 meter, dinihari Sabtu 23 May 2009.
Eks-presiden yang sedang dalam penyidikan sehubungan dengan kasus suap sebesar $6.4 juta itu tidak sanggup menahan tuduhan dari hati nuraninya sendiri. Setelah beberapa hari menyendiri dan menolak makan, Roh mengambil keputusan ini.
Sebelum menghadapi eksekusi ia telah menghukum dirinya sendiri dengan berkata , “Jangan menyesal. Jangan salah siapa-siapa. Semua ini adalah takdir. Tolong jasad saya dikremasi dan buatkan kuburan kecil di dekat rumah.” Kremasi adalah pilihan dari sebagian besar masyarakat Korea dengan pertimbangan ekonomis dan efisiensi, namun tidak biasa untuk mereka yang memiliki status, kedudukan atau yang meninggal dalam usia lanjut. Boleh dikata kremasi bukanlah pilihan untuk mengubur negarawan sekelas Roh Moo Hyun.
Pada saat menduduki jabatan tahun 2003, Roh memang mengambil sumpah untuk berperang melawan korupsi. Sebagai bekas pengacara dan pejuang hak azasi manusia Roh dikenal sebagai politisi yang bersih.
Apa sebenarnya yang dipikirkannya sebelum mengambil keputusan naas seperti itu?
Dalam suratnya tentu saja tersirat rasa bersalah, depresi, dan keputusasaan. Baginya, mati atau hidup tidak memiliki perbedaan.
Sebagai warga negara asing yang tinggal di Korea selama 9 tahun, saya menganggap keadaan negara ini tidak bisa dibandingkan dengan tanah air tercinta Indonesia terutama dalam hal korupsi-korupsian. Jauh. Saya tidak pernah mengalami adanya pungutan liar selama berurusan dengan briokrasi. Tidak ada ‘uang tilang’, ‘uang administrasi’ atau ‘uang rokok’ sejauh yang saya tahu. Bahkan tidak ada uang tip untuk restoran atau delivery. Tukang reparasi selalu menerima fee berdasarkan receipt yang mereka pegang dan menolak kelebihannya. Mereka terlalu gengsi untuk menerima persenan macam itu. Dalam hal ‘uang haram’ kesan saya untuk negara ini baik-baik saja.
Meskipun Korsel masih tergolong negara yang angka korupsinya tinggi tapi pemerintah dan rakya
t dengan serius memeranginya. Dengan kepribadian dan mentalitas mereka, menurut saya, tidak akan sulit untuk berubah.
“Saya sangat malu terhadap teman-teman sebangsa. Saya menyesal telah mengecewakan anda semua.” Kata Roh Moo Hyun kepada wartawan beberapa waktu lalu. Kemudian ia menulis di websitenya “Anda harus segera melupakan saya. Saya bukan lagi simbol dari nilai yang sedang anda kejar. Saya tidak lagi pantas untuk berbicara atas nama demokrasi, kemajuan dan keadilan”
Rasanya tidak enak membicarakan kejelekan seseorang yang sudah meninggal. Pemerintah pun telah menutup kasusnya menyusul tragedy ini. Selama hidupnya Roh dikenal sebagai negarawan yang bersih dan seperti itulah ia ingin dikenang. Godaan sesaat telah membuyarkan mimpinya, namun sebelum menerima tuduhan, cacian, ejekan, ia mengakhiri semuanya. Orang-orang akan tetap merasa kehilangan dirinya. Selamanya ia dikenang sebagai seorang yang bersih dan bertanggung jawab untuk kesalahan yang diperbuatnya, meski hukumannya dieksekusi dan dijalaninya sendiri. Baginya nama baik lebih berharga daripada permata mulia.
Bagaimana dengan politisi di negara kita? Saya geli campur gemes melihat para pejabat yang bergelimang harta dan kekayaan berlenggang kangkung di jalanan. Meskipun ada KPK yang telah berhasil menangkap beberapa diantaranya tapi rasannya mustahil untuk mengadili semua yang bersalah. Penjara pasti tidak cukup. Lagi pula siapa yang akan memerintah? Rasanya kecil besar pejabat-pejabat kita semuanya korup. Jika mereka bersih, maka sistemnya yang kotor. Mana bisa yang bersih hidup di air yang kotor? Jika mereka tidak gugur, mati, tentunya akan bermutasi dan menyesuaikan diri.
Adakah rasa bersalah yang menggelitik hati nurani mereka? Paling tidak lewat peristiwa ini.
Read More about Roh Moo Hyun Life, Death and Scandal.
Tags: Arti Hidup, Politic




May 27th, 2009 at 1:33 pm
Sebuah tulisan terbagus dari sekian artikel berbahasa Indonesia mengenai kematian Roh Myoo-hun yang saya baca siang ini. Berhasil mengungkapkan pesan besar yang disampaikan almarhum. Bravo!
Ibu Nancy, Anda sangat layak menjadi penulis profesional. Atau, profesi itukah yang Anda tekuni sekarang ini?
Salam dari Jakarta,
Maman Gantra
May 27th, 2009 at 5:59 pm
Saya bukan penulis profesional Pak. Hanya ibu RT biasa yg sering tergelitik hatinya. Baru belajar untuk menulis buku, agar semua sesak dalam hati dapat ditumpahkan semua.
Terimakasih untuk datang berkujung ke blog ini.
August 18th, 2010 at 11:37 am
keren nih pak roh moo-hyun, pemimpin kayak gini yg dibutuhkan bangsa indonesia, pemimpin g sadar diri… gak kayak pejabat kita, udah korupsi milyaran, waktu disidang tenang2 aj pakai baju rapi, pakai kopyah dll, untuk bapak/ibu pejabat koruptor mending sgera sadar diri deh ato bunuh diri saja…
August 18th, 2010 at 11:53 am
pemimpin yg sadar diri maksudnya… tulisan diatas, he2
August 18th, 2010 at 11:58 am
seandainya ya pejabat kita pada sadar diri kayak mantan presiden korsel ni, kalo pejabat kita udah korupsi milyaran, bikin rakyat sengsara… eh malah tenang2 aj, waktu disidang juga nyante banget… psycho!