Diam-diam, sebenarnya saya mengagumi Paula White. Bukan karena ia pengkhotbah yang cantik dan menawan tapi karena gaya berkhotbahnya yang dinamis dan articulate, ciamik deh.
Saya bilang, diam-diam, ini karena saya tidak mau diketahui mengagumi seseorang yang baik kehidupan pribadi, pelayanan maupun pengajarannya ‘under the spotlight’ (huh, dasar pengecut!). Apalagi karena saya tidak pernah belajar dari apa yang ia ajarkan atau khotbahkan. Kalau mau tahu kepada siapa saya banyak belajar membangun doktrin-doktrin saya, mereka adalah tokoh-tokoh Baptis seperti Rick Warren dan Albert Mohler. Dan setelah dididik dan dilatih oleh sekolah injili dan reform, dibesarkan oleh budaya pantekosta, terinspirasi oleh pejuang iman katolik dan berafiliasi dengan gereja karismatik maka latarbelakang theologia saya nggak ada bedanya dengan rujak bebek (manis asam asin lumat menjadi satu rasa tapi tetap bergisi, ehm)
Jadi, mendengar khotbah Paula White, sama seperti makan permen (manis rasanya tapi gisinya nggak ada). Di tambah dengan perceraian, lifestyle, movement-nya lengkap sudah ia menyandang gelar pengkhotbah celebrity, yang harusnya dihindari oleh hamba Tuhan bermartabat dan ingin menjaga nama baiknya seperti menjaga porselen dari cina. Sebenarnya sih, saya hanya sedikit sekali mendengar ia berkhotbah lewat You Tube atau sesekali menonton talk shownya. Kok bisa menghakimi sejauh itu ya?
Baru setelah di Indonesia saya membeli bukunya, iseng-iseng, karena terlanjur nyasar ke Toko Buku Imanuel. Buku yang sudah diterjemahkan, jadi saya belum pernah baca buku aslinya. Saya kaget, bercampur malu. Kaget, karena seluruh isi dari salah satu bukunya hampir sama dengan isi buku saya. Ibarat makanan, ingredient yang sama tapi diolah menjadi masakan yang berbeda. Yang satu Western Food yang lainnya makanan Asian Cuisine. Malu, karena dikira nyolong ide orang, walau sebenarnya orang nggak akan berpikir sejauh itu.
John Jeshurun bilang, gaya tulisan dan isi buku saya mirip dengan Dr. Cecil Osborne, terutama bukunya “The Art of Understanding Youself” Bahasa Indonesia-nya berjudul “Seni Memahami Diri Sendiri” terbitan BPK Gunung Mulia. Terus terang, yang sampai sekarang belum saya dapatkan kopinya untuk dibandingkan. Tapi saya pun meng-google Cecil Osborne dan tahu bahwa beliau adalah penulis dan psikolog Kristen yang sangat terkenal. Saya hampir ‘tersandung’ karena pujian itu. Apalagi saudara John menambahkan bahwa saya punya DNA yang sama dengan Dr. Cecil Osborne, please gw semakin penasaran.
Nah, waktu baca buku Paula, naskah terakhir buku saya sudah jadi dan diedit. Jadi, tidak ada satu noktah ide pun yang saya tiru atau diinspirasi dari tulisannya. Saya sampai berpikir ingin membatalkan menerbitkan buku ini, karena menganggapnya tidak authentic. Tapi setelah itu terpikir, tenaga, waktu, biaya, pengorbanan dan air mata untuk menulis buku ini yang tidak sedikit sehingga tidak ada alasan untuk mundur. Lagipula saya memang nggak nyolong ide kok.
Saya cuman bisa membandingkan, pengalaman hidup, pembentukan Tuhan yang dialami oleh Paula yang mungkin tidak jauh berbeda dari apa yang saya rasakan, alami dan saksikan. Demikian juga dengan privileges yang mendampingi setiap luka hati dan pengalaman pahit. Ternyata hidup ini kelihatan rumit simpulnya tapi sebenarnya simple saja. Esensinya adalah mengerti tujuannya dan hidup di dalamnya. Sekolah kehidupan itu mengajarkan materi yang sama kepada setiap individu, apakah ia orang barat atau timur, orang pulau atau daratan. Sama saja.
Daripada GRrrr memikirkan kesamaannya, saya mulai memikirkan bahwa pada dasarnya hampir semua masakan mengandung ingredient yang sama, tapi di tangan koki yang berbeda bahan-bahan tersebut menjelma menjadi masakan yang berbeda cita rasa yang memperkaya kasanah kuliner dunia.
Saya juga berhenti untuk menghakimi dan menilai orang lain apalagi hamba Tuhan (ini adalah usaha yang serius) lewat kegagalannya, kelemahannya, masa lalunya bahkan masa kininya. Selanjutnya belajar untuk melihat potensi, masa depan, pengampunan dan pemulihan yang dapat terjadi dalam kehidupannya. Pelayanan yang gagal bukanlah pelayanan yang telah berakhir. Karena pelayanan adalah anugerah bukan prestasi. Yang menerimanya, adalah manusia biasa yang penuh dengan kelemahan dan berpontensi untuk jatuh dan tersandung.
Tuhan juga tidak pernah mencari orang yang sempurna untuk dipakai-Nya bahkan tidak pernah berusaha menyempurnakan seorangpun. Sebab orang yang sempurna tidak bisa melayani dunia yang tidak sempurna ini.




May 17th, 2009 at 2:25 pm
Great Post! Kenapa sama atau mirip isi bukunya, because we serve the same God. Itu harusnya bukan jadi buat membuat ciut, malah jadi tambah semangat. Waktu buka halaman2 buku Paula tersebut pasti kaget, senang, takjub sekaligus meyakinkan bahwa pesan-pesan yang dikandung di kedua buku tsb memang dari Tuhan.
Imagine, someday your books will become best-sellers and will be published in many languages like Paula’s. But, deeply in my heart, I think that you won’t be like celebrity and change your lifestyle, because your passion to God and the people!
Sepuluh tahun lagi Joel and Matthew setiap hari akan selalu terinspirasi with their Super Mom! And you know, they kinda more like your assistants than your trouble maker (he..he). Imagine, with all of your experience, insight, wisdom, knowledge and education, and with God, you will succeed!
One more thing, dont forget with the help of your two smart assistants…he…he. Bravo, Mba Nancy!
May 18th, 2009 at 6:27 am
wow.
benar-benar inspirational.
thanks untuk blog ini, thanks untuk bisa memberi blessing kepada saya malam ini.
May 19th, 2009 at 12:02 am
Hello Nancy,
Same?? I have the same opinion with John. I am glad knowing that you have done finishing your book.
BTW, I have an award. It is fun to have you in my list as I have enjoyed every content of your post in your Blog.
Have great day.
May 29th, 2009 at 11:49 am
Ahaha.. ga ada yg baru di dunia ini kata pengamsal, semuanya sudah pernah dilakukan, semua yg terjadi sudah pernah terjadi, sehingga patut saja terjadi kemiripan2, seperti layaknya garis2 tangan, mirip semuanya, tapi tak sama, demikian juga pembentukan TUHAN, mirip2 semua karena penyakit kita, dosa2 kita, kelemahan2 kita toh itu2 juga, tapi tidak benar2 ada yg persis sama seluruh jalannya. Betul kata John, kita menyembah TUHAN yg sama dan karena itu maka benang merahNya, ada di dalam setiap karya anak2Nya, itu sebabnya jadi terlihat sama. Bukankah itu berarti Dia konsisten berkarya dalam kehidupan umatNya?
Go Nancy, go go go! Ga sabar rasanya menunggu bukunya terbit