Nancy Dinar on May 13th, 2009

Sebenarnya cuaca siang ini enaknya dipake untuk tidur. Hujan lebat, udara sejuk, rumah sepi, tapi anak-anakku sepertinya belum kehabisan energi untuk bermain dan bercanda. Teriakan dan omelan saya untuk mereka cepat tidur –supaya mami punya time alone- sama sekali tidak digubris mereka. Setelah 3 jam dalam pergumulan -saya hampir menyerah karena kepala terasa senut-senut- dengan sedikit paksaan dan bujukan serta iming-iming hadiah susu coklat hangat setelah bangun, barulah mereka terkapar.

Dari mana datangnya energi anak-anak saya itu? Menurut pengamatan saya, mereka rada beda dengan anak-anak lain yang sebaya. Sering, dalam hati, diam-diam, saya agak malu kalau sedang berada di tempat umum, anak-anak saya berlari-larian, berteriak, berguling-guling di lantai, bernyanyi keras dan sumbang dengan kosakata berantakan, sehingga saya sering mendapat teguran atau pandangan kesal dari penjaga atau pengujung lainnya.

“Jangan salahkan aku dong, emang situ nggak punya anak?”, “Aku bukan orang tua yang buruk dan tidak tahu mendidik anak!”, ” Mereka bukan anak-anak nakal, mereka cuman terlalu bergairah”, “Emang nggak liat ya, kalau aku juga sedang berjuang menenangkan mereka?” Saya sering menerangkan kepada orang-orang yang merasa terganggu itu dengan kata-kata tersebut lewat pandangan mata saya. Semoga mereka bisa mendegarnya. J

Sekarang saya mulai mendapati jawabannya. Sepertinya energi itu adalah factor genetic juga. Lihat saja hari ini, betapa gigihnya saya berjuang untuk menidurkan mereka agar bisa menjangkau laptop, memeriksa FB, membaca berita, menulis sesuatu sambil diitemani secangkir kopi susu. Sakit kepala itu pelan-pelan lenyap ketika ketika otak mulai diaktifkan setelah beberapa hari di-vakum-kan oleh tugas ibu rumah tangga.

Saya pun mencoba mengambil segi positifnya: Tanpa perlu disuruh atau diajar, si Joel – setelah beranjak dari terrible two-nya- jika sedang sendiri sepanjang hari menggambar, menyusun balok atau menciptakan kerajinan tangan. Dan adiknya Matthew, yang masih berusia 2 tahun, setiap hari memberikan saya alasan untuk berolahraga dan latihan beban tanpa perlu mengunjungi gym.

Lama kelamaan saya pun mulai membiasakan diri dan menikmati karunia ini…..

Tags:

3 Responses to “Masalah dalam Keluargaku”

  1. Hmmm…jangan-jangan Mba Nancy waktu kecil mirip juga ama mereka waktu sekarang nih yah?! He..he…

    About segi positifnya, wah boleh juga tuh…

  2. hihihi ..
    iya bu, saya juga kalau lagi bawa ben (anak saya) ke tempat bermain, lalu pas di ajak pulang dia ngga mau sambil nangis jerat jerit … suka jadi ngga pe de, ngerasa jadi pengganggu … sok sensi banget ya hehehe …

    setuju bu, jadi orang tua itu memang karunia yang luar biasa .. apalagi untuk menjadi seorang ibu … :)

  3. Siang Bu. nancy benar kata ibu tu bahwa anak kita yang masih kecil dan suka begitu menjadi karunia yang tidak banyak dimiliki banyak orang. jadi saya juga bersukur kalau anak saya (2 org) ini sama kelakuanya dng anak ibu apalagi yang kecil laki-laki wah

Leave a Reply

Bluehost.com
BlueHost.com

There is no website configured at this address.

You are seeing this page because there is nothing configured for the site you have requested.
If you think you are seeing this page in error, please contact the site administrator or datacenterresponsible for this site.



© 2003-2009 BlueHost.Com. Toll Free (888) 401-HOST(4678)