Beberapa hari ini, nggak biasanya aku bangun lebih pagi dari fajar. Cuaca di musim gugur yang sejuk namun udara kering mengalir masuk melalui celah sempit jendela yang aku biarkan sedikit terbuka. Hidungku perih dan tenggorokkanku kering, tanda-tanda dehidrasi, karena di kamarku tidak ada humidifier. Bunyi kereta juga terdengar dari celah sempit itu karena rumah kami berhadapan dengan jalur subway.
Aku bangun bertanya Tuhan, what to do next? Kesempatan aku bisa sendiri tanpa gangguan adalah emas. Suamiku yang baik hati menginjinkan aku memiliki kamar sendiri sementara ia tidur dengan anak-anak. “Rasanya seperti tinggal di kos-kos-an dan masih single” kataku membuat ia bangga karena telah memberikan aku privacy yang selalu aku dambakan.
Aku memang butuh waktu dan tempat untuk bisa menulis buku pertamaku. Suatu kali ia membawa kedua anak kami dan meninggalkan aku sendirian di rumah. Rumah kami yang tidak begitu besar terasa sunyi dan lapang. Ideku langsung mengalir seperti air dan setelah menyelesaikan berlembar-lembar halaman, aku merasa betapa nyamannya hidup dan kata-kata mulai terangkai dengan gampangnya.
Namun, beberapa hari ini waktu di pagi hari yang tanpa gangguan aku punya. Aku mengambil laptop dan mencoba mengetik beberapa kalimat yang jadinya seperti kosong dan aneh. Ide ku hilang, kreatifitasku entah ke mana. Aku pikir barangkali karena aku membutuhkan secangkir kopi pagi ini. Tapi kopi pun tidak mengerjakan apa-apa di kepalaku. Ide gemilang yang tadinya aku miliki sudah sirna.
Kemana perginya aku tidak tahu. Ada selang waktu beberapa minggu dari waktu mereka muncul terakhir kali. Diantara waktu itu ada banyak yang harus dikerjakan terutama pindahan rumah yang proses beres-beresnya memakan waktu berminggu-minggu, bahkan belum selesai sampai sekarang. Barang yang dibongkar sekarang di tata kembali walau sebenarnya percuma karena anak-anak selalu menemukan cara untuk membongkarnya kembali.
Secangkir kopi hampir habis namun ideku yang pergi belum kembali. Ah…<–>
Tags: Daily Life, Memoir




May 11th, 2009 at 4:47 pm
sometimes it happen… when I cant think about anything… Feel like blank… But I know that its temporary
But sometimes it happen…
Semangat menulisnya ^^
May 13th, 2009 at 4:20 pm
Sesungguhnya, kasus ini pun sering terjadi pada saya, sekalipun bisa dikatakan saya telah lama berprofesi sebagai penulis atau wartawan. Dan setiap penulis biasanya punya cara masing-masing bagaimana mengatasi kekosongan ide padahal semangat menulis lagi datang. Yang saya lakukan biasanya, saya berhenti menulis. Lalu saya menggantinya dengan membaca atau menonton film, tv atau apa saja. Dan bila sampai beberapa lama tak ada tanda-tanda bagaimana untuk mengembangkan ide tulisan tersebut, maka saya melupakannya untuk sementara. Artinya, saya tak ingin membuang waktu memaksa diri untuk menulis, karena saya tahu hasilnya tak akan seperti yang saya harapkan. Namun, tidak jarang setelah saya menggumulkannya didalam doa dan meminta pertolongan Roh Kudus, ide itu kemudian datang bagaikan air mengalir hingga saya bisa menyelesaikan tulisan tersebut. The last but not least, menulislah dengan cinta !
May 13th, 2009 at 5:17 pm
Hello Nancy,
Hal yg biasa itu,Nancy. Kalau sudah begitu, jgn dipaksa. Berhenti dulu. Terkadang ide itu muncul tiba-tiba secara tak terduga pd saat kita sdg mengerjakan hal yg lainnya.
Salam dr PA
January 8th, 2010 at 3:08 pm
Hitamnya secangkir kopi menyimpan sejuta cerita, dan untuk menguaknya, kita harus meminumnya sampai habis.