Sehari sesudah Natal tahun 2004, kami menerima telpon dari seorang jemaat bahwa keluarganya yang tinggal di Aceh sedang mengalami bencana. Kami hanya berdoa, menunggu dan berharap tidak ada sesuatu yang buruk terjadi. Kabar yang kami dengar sehari sesudah kejadian korban yang meninggal sekitar 5000 orang. Satu dua hari sesudah Tsunami menghantam Aceh tidak ada yang tahu pasti berapa banyak korban jiwa yang ditelan bencana tersebut kerena terputusnya sarana transportasi dan komunikasi.
Seperti jika mendengar berita musibah lainnya dari tanah air, kami mengira bahwa kejadian ini biasa-biasa saja. Tapi tidak disangka bahwa berita tentang korban dan kerusakan yang parah terus bertambah. Setiap hari jumlah korban meningkat drastic 5000, 25.000, 50.000, 100.000, dan akhirnya 200.000 jiwa!
Nando segera menelpon tv kabel supaya menyambungkan CNN di tv kami. Setiap hari saya mengikuti berita ini dengan dada berdebar-debar. Benar, tidak seorangpun keluarga saya yang tinggal di sana. Aceh, bahkan kedengaran sebagai negeri antah berantah yang nun jauh di sana. Daerah itu juga dikenal sebagai serambi mekah dan sikap antipati mereka terhadap Kekristenan. Dari cerita yang yang saya dengar gereja dan umat Kristen dianiaya di sana.
Namun, saat itu semua itu tidak ada artinya. Belas kasihan memenuhi hati saya. Saya gelisah dan mulai bolak-balik di depan TV sambil sesekali menggendong anak saya yang masih bayi. Air mata mulai mengalir dan semangat nasionalisme mulai terusik. “Saya harus berbuat sesuatu” itulah kata-kata yang senantiasa terulang-ulang di dalam hati. Berbuat sesuatu, tapi apa? Apa bisa dilakukan seorang ibu dengan anak kecilnya menolong salah satu musibah terbesar dalam sejarah tersebut?
Beberapa hari telah lewat dan saat itu kami mengadakan malam doa pergantian tahun. Tidak ada acara tukar kado atau makan-makan enak seperti biasanya. Semua dalam keadaan prihatin dan berduka untuk Negara Indonesia. Apalagi setelah ada konfirmasi bahwa keluarga jemaat kami termasuk dalam korban yang meninggal.
Doa malam kami haturkan sebagian besar untuk Indonesia, para korban dan keluarganya. Suami saya memberikan kata-kata yang membangkitan semangat patriotisme bagi yang hadir. Selama berahun-tahun tinggal di luar negeri kadang lupa dengan kesusahan di tanah air. Jauh dari kampung halaman bisa membawa orang lupa bahwa kita adalah bagian dari bumi pertiwi. Biasanya begitu, tapi tidak saat kami mendengar berita duka ini.
Terkadang gemas dengan media dalam negeri yang lambat dan tidak tanggap dengan musibah ini. Berita yang gencar justru dari luar negeri. Berdasakan berita-berita ini kami pun mengambil inisiatif malam itu juga untuk turun ke jalan mencari perhatian publik. Hal yang tidak pernah kami lakukan dan tidak biasa di Korea. Dengan bekal poster yang kami buat malam itu juga, di tengah cuaca yang benar-benar beku (minus 3-5 derajat), semalam-malaman tidak tidur, kami pun turun ke jalanan.
Tidak disangka bahwa aksi dadakan itu mendapat respon yang luar biasa. Uang receh yang kami terima mengalir sampai 1 juta won (10 juta rupiah) membuat kami semangat untuk mengulangnya lagi. Kali ini target berikutnya adalah subway-subway dan membentuk tim yang lebih banyak lagi. Setelah main petak umpet dengan panjaga akhirnya seluruh tim pulang membawa sumbangan yang lebih banyak lagi.
Saya terharu dengan teman-teman yang nekad membawa poster dan kotak sumbangan di jalan-jalan, wajah dan jaket mereka sama tebalnya. Berbekal bahasa Korea sepotong-potong, mereka belajar bagaimana berkata “ tolonglah saudara-saudara kami di Aceh”.
Ketika salah satu tim yang ditempatkan di Itaewon, dekat base Amerika, seingat saya ada juga di antara mereka yang sinis. “I can’t care” kata salah seorang pejalan kaki bule sewaktu membaca poster besar yang bertuliskan “I care”. Herman, salah satu anggota tim yang tidak mengerti bahasa Inggris dengan tulus dan senyum lebar berkata “thank you sir, God bless you”. Kalimat yang sudah dihafalnya berulang-ulang. Sikap mereka berubah ketika mengetahui bahwa kami adalah orang-orang Kristen dan aktifis gereja. “Mengapa perduli, bukankan mereka membeci kalian?” ada juga yang bertanya seperti itu. “Sebab mereka juga saudara!” itulah jawaban kami .
Walau banyak yang acuh secara keseluruhan simpati yang kami terima mengalir, apalagi setelah diketahui bahwa korban yang terbanyak asalnya dari Indonesia. Beberapa stasiun TV meliput kegiatan kami bahkan membuat film documentary. Gereja Galilliee mengadakan konser amal dengan mengundang artis Kristen Korea yang terkenal mengumpulkan dana yang juga tidak sedikit. Akhir dari semuanya adalah sukses yang tidak pernah kami bayangkan, berawal dari hati yang terusik kemudian berubah menjadi momentum yang besar.
Di tengah kesusahan perbedaan tidak menjadi masalah. Perbedaan agama, kepercayaan ideology, suku, ras, semua menjadi lebur karena kasih menutupi setiap perbedaan.
Saya rasa setiap orang berpontensi untuk melakukan hal-hal yang besar kalau saja hatinya cukup terganggu. Ada energy dan semangat yang membuahkan kreatifitas, keberanian dan kenekadan. Coba bayangkan seringkali potensi orang terkubur hidup-hidup karena sikap yang malu-malu dan takut salah. Kadang kala keberanian itu baru muncul jika keadaan menjadi terdesak atau kasih yang tak terbendung.
Carilah sesuatu yang bisa membuat anda ‘crosing the line’, sesuatu yang mengusik hati nurani dan membangkitan kasih yang berani. Apakah itu karena melihat anak yang putus sekolah, orang tua yang ditinggalkan keluarga, atau tuna wisma yang berkelana. Biasanya orang yang pernah merasakan susahnya hidup akan lebih mudah tergerak hatinya. Sakit yang terpendam di dalam hati akan terasa ringan jika kita hidup untuk menolong orang lain yang nasibnya lebih malang lagi.



May 7th, 2009 at 11:44 am
Kasih itu luar biasa memang
Mendorong dan memampukan kita untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dari yang pernah kita bayangkan…
Salam kenal mbak nancy, senang membaca tulisan anda.
May 11th, 2009 at 10:47 pm
Wah..kak nancy..bila ingat waktu itu, saya sangat terharu..apalagi Herman adalah group dari kami di itaewon.ingat waktu suhu sudah sangat dingin, poster yang kita pegang sampai terjatuh kita tidak merasakannya haaa.haa(sebab tangan sudah sangat beku.)Tetapi semua tidak menurunkan semangat kita, untuk pencarian dana tersebut. ingat juga kita yang memaki kaos tangan di beri oleh penjual kaos tangan oo..bener-bener saat itu respon luar biasa dari setiap orang yang melihat kita.Puji Tuhan..Kita tetap kuat dan tidak merasa Sakit karena cuaca dingin yang menerpa tubuh kita, yang kita rasakan hanya satu Secepatnya mambantu saudara kita di Aceh yang diterjang badai Tsunami.Semangat kita bisa diumpakan seperti kekuatan Tsunami yang meluluhlanthakan Aceh.ingat kata-kata kita yang terbatas hanya mengucap”Dhoa juseyo,Please help me countri…!!!