Suatu saat, kami mendengar bahwa ada salah satu gereja besar Korea yang ingin membuka pelayanan untuk orang Indonesia. Setelah berdoa untuk beberapa waktu karena tidak ingin salah melangkah, kami akhirnya berjumpa dengan salah satu deaconnya. Deacon wanita separuh baya tersebut segera menghubungkan kami lewat telpon dengan pendeta yang in charge buat orang asing. Setelah beberapa tahun di Korea kami sangat maklum dengan hierarchy seperti ini. Dari hasil pembicaraan dengan pendeta tersebut kami menetapkan waktu untuk bertemu jam 12.30, dua minggu setelahnya.
Tiba hari H-nya pertemuan itu. Nando telah memilih setelah jasnya yang paling baik, abu-abu mengkilat hadiah ulang tahun dari jemaat tahun lalu. Tentu saja saya bangga dengan suami saya yang tinggi dan ganteng itu, apalagi berat badannya sedikit turun karena kami sedang dalam bulan puasa. Setelah memikirkan baju apa yang akan saya kenakan, akhirnya saya puas dengan blus bermerk Zara yang dibeli di Hong Kong pada saat ada sale besar-besaran. Blus coklat keemasan dipadu dengan rok hitam yang setiap kali saya kenakan selalu dapat pujian “sekarang kurusan ya?” .
Kami tiba di gereja itu yang memang diakui sangat besar dan megah, apalagi jika dibandingkan dengan gereja Galillee tempat kami melayani 8 tahun terakhir. Gedung gerejanya modern dan luas. Kami mengenal senior pastornya lewat internet gereja . Ia pernah mengadakan KKR besar di salah kota utama Indonesia yang kabarnya dihadiri 120 ribu orang dalam 3 malam.
Menelusuri jalan dan tangga menurun membawa kami ke sebuah tempat makan yang sangat luas dan padat, karena memang jam itu adalah waktu makan siang. Deacon wanita itu telah berdiri di depan pintu dan menyambut kami masuk ke dalam menuju meja pendeta in charge yang sedang duduk dengan para koleganya.
Ia berdiri menyalami Nando dan melirik saya pada waktu Nando berkata “ini istri saya”, kemudian mempersilahkan kami makan. Tanpa basa-basi pendeta itupun duduk kembali di tempatnya dan melanjutkan perbicangan yang tadi terpotong, meninggalkan kami berdua berdiri terpaku bersama deacon wanita itu yang terus membujuk kami untuk makan. Dan setelah tahu bahwa kami sedang berpuasa ia pun mencari meja lain yang kosong, tepat di belakang pedeta in charge itu.
Nando dan saya yang sedang menggedong Mathew duduk menghadapi meja kosong menanti agenda selanjutnya. Deacon wanita itu kelihatan sibuk yang tidak kami mengerti apa, dan pendeta itu pun acuh membuat kami canggung dan bertanya-tanya. “Shhh, Nan, bukankah kita harus bertemu pendeta itu?, kok sekarang dicuekin?” otak saya mulai bekerja. “Iya, nggak ngerti kenapa” jawab Nando sepeti biasa berusaha sepositif mungkin tanpa komentar lebih lanjut.
Kami duduk di meja kosong itu, Mathew mulai gelisah merengek minta turun, jam terus berjalan, hati terus bertanya, sampai kemudian deacon wanita itu datang dan mengajak kami pindah ke coffee shop di sebelah ruang makan yang juga dipadati oleh berpuluh-puluh orang. Sekali lagi ia pun meninggalkan kami di sana. Anak saya semakin gelisah dan minta turun dan berjalan-jalan. Saya membawanya berjalan mengitari koridor-koridor gereja sambil berdoa, “apakah ini tempatnya?” Banyaknya jemaat yang lalu lalang tidak ada satupun yang menaruh perhatian pada ibu yang sedang berjuang ini. Gereja itu sangat besar dengan jemaat sekitar 8000 orang dan juga melayani beberapa negara asing.
Beberapa kali saya kembali ke coffee shop tempat nando duduk dan mendapati ia sedang sendiri mengutak-atik PDA, “ah, deacon itu belum datang juga, kita harusnya sudah kembali ke gereja” kata saya dalam hati.
Kali keempat saya kembali dan mendapati mereka berdua sedang berbicang-bincang, tanpa pendeta in charge, teman-temannya yang lain telah pergi meninggalkannya. Ketika saya mendekati mereka, terlihat bahwa situasinya sangat tidak menyenangkan. Deacon itu gelisah dan canggung di tempat duduknya. Bahasa Korea Nando yang pas-pasan membuat komunikasi nya tidak lancar dan Mathew yang rewel membuat situasi semakin sulit.
“Apa bapak pendeta akan pindah ke gereja ini?” tanya itu. “Tidak, itu tidak mungkin, saya bekerja untuk Gallilee dan itu sudah 8 tahun tidak mudah untuk pindah” kata Nando. “Kalau memang jadi, istri saya yang akan melayani di sini” perhatian mereka berdua kemudian langsung beralih pada saya. Saya bisa menangkap apa yang digelisahkan deacon ini.
“Chipsanim (sebutan deacon dalam bhs Korea), kami punya beban untuk orang Indonesia yang tinggal di sekitar gereja Anda ini. Kami tidak minta dibayar. Kalian tidak perlu memikirkan bagaimana harus membayar kami, karena kami self supported. Saya percaya jika pelayanan ini datangnya dari Tuhan maka Ia yang akan menyediakan.” Seketika aura gelisah diwajahnya berubah menjadi senyum dan bibirnya mengucapkan “kamsahamnida (thank you)” sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia kemudian dari hati ke hati menerangkan bagaimana mereka (para deacon) harus harus mengeluarkan uang secara pribadi untuk pelayanan ini dan gereja tidak memiliki dana untuk membayar hamba Tuhan asing.
Kami akhirnya berpamitan walau pembicaraan belum selesai karena telah mendapatkan keyakinan bahwa ini bukan tempat untuk kami. Mereka sama sekali tidak siap untuk melayani komunitas orang Indonesia dan memiliki praduga yang negatif terhadap kami. Kami merasa sikap acuh dan enggan mereka muncul karena menganggap kami sedang mencari bantuan keuangan, yang sama sekali tidak dalam pikiran kami saat itu.
Di perjalanan kami membahas sikap pendeta in charge yang acuh dan arogant tersebut. Saya secara pribadi banyak salah kaprah dengan hamba-hamba Tuhan yang mengaku-ngaku punya hati misi tapi secara bersaamaan bersikap negatif terhadap hamba Tuhan asing. Saya menyaksikan bagaimana misionary Korea di perlakukan seperti malaikat ketika melayani di Indonesia, tapi merasa bahwa kami tidak sedikitpun di pandang sebelah mata.
Untuk orang-orang seperti ini Tuhan Yesus sangat tegas menegur dan memperingatkan,
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri. (Matius 23:15).
Saya bersyukur bahwa di surga nanti, Tuhan tidak akan menggolong-golongkan hamba Tuhan berdasarkan suku, bangsa dan ras, tidak juga dengan seberapa besar ukuran gereja yang dilayani. “Ministry is something that we receive and not somenthing that we achieve” (Rick Warren). Apapun yang sedang kita layani adalah kepercayaan yang diberikan Tuhan bukan berdasarkan kemampuan dan kepandaian kita melainkan karena kasih anugerah serta rencana Kerajaan-Nya.




May 2nd, 2009 at 4:36 pm
Sepertinya ini adalah masalah semua komunitas, selalu ada penggolongan dan pengelasan. Gak di Indonesia gak di korea. Tidak hanya antar gereja tetapi juga didalam gereja.
Tq untuk sharingnya mbak, karena membuat saya semakin percaya bahwa karena semua tempat sama pasti ada seperti itu.
Yang terpenting adalah mulai fokus pada visi yang dipercayakan kepada kita…
Regards
JAf