Nancy Dinar on April 21st, 2009

Pagi hari ketika seisi rumah sibuk memasak, membuat sarapan, menyiapkan anak sekolah, seseorang datang bertamu. Seorang gadis, atau lebih tepatnya ibu muda yang berusia awal 30-an namun telah memiliki seorang anak remaja. Bau minuman keras tercium dari tubuhnya yang kecil. Jari-jarinya menjempit rokok yang hampir habis. Ketika saya meliriknya, kelihatan juga bekas sayatan pisau di kedua lengannya.

Saya mengenalnya sejak kecil, karena kami dibesarkan dalam satu lingkungan. Anak bungsu yang dimanja lahir dari orang tua yang melayani Tuhan sebagai pendeta dan penginjil. Banyak anggota keluarganya yang lain juga terjun ke dalam dunia pelayanan.

Sayang, ia memilih untuk menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda. Mengandung di usia remaja, ia akhirnya memiliki tiga orang anak dari pria-pria yang berbeda. Teman saya ini dikaruniai Tuhan suara yang indah dan bakat untuk bermain musik. Tapi talenta itu dipakainya untuk menjadi penyanyi di café dan klab malam, menuntun hidupnya menjadi semakin kelam. Ia mengaku terpaksa menjalani kehidupan malam untuk memberi nafkah anak-anaknya karena sampai sekarang ia tidak memiliki suami atau pasangan tetap. Keluarganya tidak mau ambil pusing, mereka sudah putus asa dan malu dengan perbuatan si bungsu ini.

Setiap orang memiliki luka dalam hatinya. Teman saya ini juga demikian. Meskipun dibesarkan dari keluarga yang tidak jauh dari kegiatan gereja dan pelayanan tetap saja ada yang tidak beres dalam hatinya. Banyak anak-anak dari keluarga hamba Tuhan menyimpan kepahitan dan bertumbuh menjadi orang dewasa yang bermasalah.

Apakah itu pilihan hidup? Atau nasib buruk? Apakah Tuhan menyelamatkan sebagian anggota keluarga dan mengijinkan anggota lainnya tersesat?

Terus terang, banyak hal tidak saya mengerti. Mengapa dari seorang yang setia dan mengasihi Tuhan bisa lahir anak-anak yang kehidupannya hancur berantakan. Meski dikelilingi oleh orang yang mengasihi dan percaya Tuhan tetap masih ada orang-orang tertentu yang salah jalan.

Salah seorang professor saya di Seminary yang memiliki jejeran gelar dan salah satunya adalah MD (Medical Doctor) adalah anak missionary dan pendeta. Seorang Calivinist sejati yang percaya Tuhan memilih orang-orang tertentu berdasarkan kedaulatan-Nya. Ceritanya, mereka dibesarkan oleh orang tua dan kakek nenek yangmelayani dan cinta Tuhan. Mereka menjadikan morning devotion sebagai rutinistas keluarga setiap hari, dimana seluruh anggota berdoa dan membagikan Firman Tuhan. Seharusnya dari keluarga tersebut lahir anak-anak yang memiliki iman yang kuat. Memang ada yang akhirnya menyerahkan hidupnya untuk dipakai Tuhan sebagai gembala dan guru seperti professor saya ini. Ia meninggalkan karir di dunia kedokteran di Amerika dan beralih menjadi professor di salah satu seminary di Korea Selatan. Namun ada juga saudaranya yang menolak anugerah Tuhan. Entah mengapa, Doa dan Firman Tuhan yang dilakukan keluarga itu bersama-sama selama puluhan tahun tidak memiliki dampak apa-apa dalam kehidupan saudaranya itu. Ia hanya memilih untuk tidak percaya akan adanya Tuhan (atheist).

Mengapa ini terjadi???

Orang ingin jawaban, demikian juga saya dulu. Dalam buku saya “Turning HURT into HOPE”, saya mencoba membahasnya. Hal ini adalah salah satu bahasan yang penting untuk dimengerti oleh setiap orang percaya. Banyak yang kecewa dan mempertanyakan Tuhan dan keadilan-Nya. Mereka mempersalahkan Tuhan untuk pengalaman buruk, luka hati dan ketidakadilan yang ada. Apa yang ada dalam hati Tuhan sebenarnya?

Tags: , ,

Leave a Reply