<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Takut Naik Pesawat</title>
	<atom:link href="http://nancydinar.com/2009/03/30/mengenai-phobia-dan-kebebasan-pers/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nancydinar.com/2009/03/30/mengenai-phobia-dan-kebebasan-pers/</link>
	<description>Engaging Contemporary Issues with Christian Thought</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 13:38:31 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
	<item>
		<title>By: Willie</title>
		<link>http://nancydinar.com/2009/03/30/mengenai-phobia-dan-kebebasan-pers/comment-page-1/#comment-584</link>
		<dc:creator>Willie</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Apr 2009 03:06:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nancydinar.com/?p=1121#comment-584</guid>
		<description>Agak susah memang kalau media kita hanya menyajikan apa yang disukai oleh pemirsa kebanyakan. Tampaknya sisi bisnis media ini menjadi sangat diperhatikan sementara sisi edukasi masyarakat semakin dipinggirkan. 

Saya yakin mereka pun mau menjadi idealis dengan memberikan pendidikan bagi masyarakat. Mungkin yang menjadi kendala, apakah tayangan yang baik itu akan diapresiasi seperti tayangan yang hanya mencerminkan kekerasan atau degradasi moral lainnya?

Tapi, apa yang bisa kita lakukan ya? Apa kita harus berkumpul dalam satu wadah untuk &quot;menggebrak&quot; media? Paling mereka hanya menanggapi &quot;ah, itu kan hanya himbauan dari segelintir kelompok...suara mereka tidak mewakili kelompok kebanyakan.&quot;

ahh...berharap pemerintah baru saja? Berharap mereka benar-benar menjalankan Pembukaan UUD 45 &quot;...mencerdaskan kehidupan bangsa...&quot; dalam hal ini media massa nasional.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Agak susah memang kalau media kita hanya menyajikan apa yang disukai oleh pemirsa kebanyakan. Tampaknya sisi bisnis media ini menjadi sangat diperhatikan sementara sisi edukasi masyarakat semakin dipinggirkan. </p>
<p>Saya yakin mereka pun mau menjadi idealis dengan memberikan pendidikan bagi masyarakat. Mungkin yang menjadi kendala, apakah tayangan yang baik itu akan diapresiasi seperti tayangan yang hanya mencerminkan kekerasan atau degradasi moral lainnya?</p>
<p>Tapi, apa yang bisa kita lakukan ya? Apa kita harus berkumpul dalam satu wadah untuk &#8220;menggebrak&#8221; media? Paling mereka hanya menanggapi &#8220;ah, itu kan hanya himbauan dari segelintir kelompok&#8230;suara mereka tidak mewakili kelompok kebanyakan.&#8221;</p>
<p>ahh&#8230;berharap pemerintah baru saja? Berharap mereka benar-benar menjalankan Pembukaan UUD 45 &#8220;&#8230;mencerdaskan kehidupan bangsa&#8230;&#8221; dalam hal ini media massa nasional.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: indonesiasaram</title>
		<link>http://nancydinar.com/2009/03/30/mengenai-phobia-dan-kebebasan-pers/comment-page-1/#comment-583</link>
		<dc:creator>indonesiasaram</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Apr 2009 12:25:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nancydinar.com/?p=1121#comment-583</guid>
		<description>Bombastis. Lain daripada yang lain. Kontroversial. Rasanya itulah yang menjadi pertimbangan media dalam memasarkan produknya. Alasannya, masyarakat sekarang tidak akan tertarik dengan apa produk yang dipasarkan seandainya produk tersebut tidak bisa menarik minat. Dilirik saja tidak, apalagi dibeli. 

Tampaknya hal tersebut berangkat dari fakta bahwa masyarakat secara umum menggemari hal-hal yang demikian. Di televisi saja kita bisa menghitung sejumlah tayangan yang mengupas masalah kejahatan secara mendetail. Konon lagi di surat kabar (meski kebanyakan diangkat oleh surat kabar yang kurang [atau justru tidak] berbobot). Karena sepertinya hal-hal tersebut menimbulkan kecemasan, tapi menarik rasa ingin tahu. Sama halnya dengan kisah-kisah mistis yang beberapa waktu lalu marak ditayangkan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bombastis. Lain daripada yang lain. Kontroversial. Rasanya itulah yang menjadi pertimbangan media dalam memasarkan produknya. Alasannya, masyarakat sekarang tidak akan tertarik dengan apa produk yang dipasarkan seandainya produk tersebut tidak bisa menarik minat. Dilirik saja tidak, apalagi dibeli. </p>
<p>Tampaknya hal tersebut berangkat dari fakta bahwa masyarakat secara umum menggemari hal-hal yang demikian. Di televisi saja kita bisa menghitung sejumlah tayangan yang mengupas masalah kejahatan secara mendetail. Konon lagi di surat kabar (meski kebanyakan diangkat oleh surat kabar yang kurang [atau justru tidak] berbobot). Karena sepertinya hal-hal tersebut menimbulkan kecemasan, tapi menarik rasa ingin tahu. Sama halnya dengan kisah-kisah mistis yang beberapa waktu lalu marak ditayangkan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

