Nancy Dinar on March 30th, 2009

Setiap kali pesawat take off, landing atau mengalami turbulence saya pasti keringat dingin, cemas dan takut. Tidak perduli sudah puluhan kali atau ratusan kali naik pesawat perasaan ini selalu ada. Jeleknya, ini adalah moment yang tidak bisa dihindari karena posisi kami yang tinggal di luar negeri yang tentu ingin sesering mungkin pulang ke tanah air. Juga tidak bisa dihindari karena tuntutan zaman dan pekerjaan yang mengharuskan orang-orang seperti saya mengalahkan ‘phobia’ ini.

Tunggu dulu, apakah ini phobia? Apakah ini jenis ketakutan yang tidak wajar atau irasional? Apakah penumpang lain di dalam pesawat terbang tidak mengalami apa yang saya rasakan? mengingat mereka dapat santai, tidur nyenyak, baca koran pada saat take off dan landing.

Kalau ini phobia, saya berusaha mengingat kapan pertama kami perasaan ini muncul dan kira-kira apa penyebabnya. Phobia sering berasal dari trauma atau hal-hal yang tidak diketahui.

“Apakah karena takut mati?” sering saya bertanya dalam hati.

“Bukankah mati adalah keuntungan bagi orang Kristen?” Jawab saya sendiri sambil menghibur diri.
Bukan, bukan karena takut mati.

“Apakah karena takut proses kematiannya?” lanjut saya menyelidiki diri sendiri.

“Ah, tidak juga!” kata hati saya selanjutnya, “bukankah mati karena pesawat terbang sangat cepat dan pasti”
Setelah beberapa waktu menyelidik, saya mulai tahu jawabannya.

Liputan media yang bombastis tentang kecelakaan pesawat terbang membawa fokus massa pada bahayanya perjalanan lewat udara. Padahal setiap hari ada ribuan atau ratusan ribu pesawat yang sukses yang tidak pernah mendapatkan liputan. Semakin banyak mendengar berita-berita seperti ini maka meningkatkan kecemasan orang pada saat berhadapan langsung dengan situasi yang sebenarnya.

Bukan hanya berita tentang pesawat terbang, tapi berita –berita lain yang disuguhkan media massa cenderung untuk membangkitkan phobia, ketakutan dan kecemasan masyarakat.

Suami saya menelpon tadi malam (ia di Korea dan saya di Indonesia),
“Hati-hati ya, sekarang kejahatan dan kriminalitas meningkat di Jakarta”

“Memang kan berita di Indonesia seperti itu” jawab saya
“Tidak, sekarang tambah intens, karena faktanya kejadiannya semakin banyak. Mungkin pengaruh krisis ekonomi juga, semakin banyak orang stres”

Tidak disadari kita telah berada dalam suatu lingkaran setan yang diciptakan oleh media yang tujuannya hanya untuk mencari profit tanpa memiliki visi mendidik rakyat. Berita kriminal bukan hanya meresahkan masyarakat tapi juga memberikan contoh kepada orang lain untuk melakukan kejahatan serupa atau yang disebut copy cat crime.

Kemarin (29/3) terjadi lagi pembunuhan massal di North Carolina,USA menewaskan 8 orang pasien sebuah nursing home. Berita di CNN merangkaikan kejadian ini dengan kejadian serupa belum lama ini di Alabama yang memakan korban 10 jiwa, di Illinois seseorang menembak pendetanya dan melukai 2 jemaat lainnya, di Jerman seorang remaja menembak mati 15 orang. Semua kejadian ini terjadi dalam satu bulan.

Apa yang harus kita lakukan? Apakah harus diberikan batasan kepada media massa untuk meliput berita yang tergolong meresahkan? Apakah perlu di beri aturan baru dalam menaikkan berita supaya tidak memprovokasi golongan tertentu?

Ini tentunya akan dikembalikan pada kebebasan pers itu sendiri.

Menurut saya kebebasan pers adalah kemandirian suatu media massa dalam menyajikan berita, berlandaskan pada visi dan filsofi perusahaannya serta tanggung jawabnya terhadap kemajuan dan ketentraman bangsa. Media yang didikte oleh kebutuhan masayarakat tanpa mempertimbangkan efek buruknya sebenarnya adalah pers yang tidak bebas.

Jika sebagai seorang ibu saya menuruti semua keinginan anak-anak saya dalam hal makanan, tentu sepanjang hari mereka akan memakan coklat, permen, es krim dan snack lainnya. Memang makanan-makanan seperti ini memberikan mereka kesenangan sementara karena mereka tidak menyadari akibat jangka panjangnya. Tapi sebagai seorang ibu yang bijak dan bebas saya bisa mengendalikan tuntuan anak-anak saya tersebut, membatasinya dan memberikan makanan begizi sebagai makanan pokok mereka.
Saya berharap media massa juga memiliki beban dan tanggung jawab yang sama ketika mereka memasarkan produk mereka kepada masyarakat.

2 Responses to “Takut Naik Pesawat”

  1. Bombastis. Lain daripada yang lain. Kontroversial. Rasanya itulah yang menjadi pertimbangan media dalam memasarkan produknya. Alasannya, masyarakat sekarang tidak akan tertarik dengan apa produk yang dipasarkan seandainya produk tersebut tidak bisa menarik minat. Dilirik saja tidak, apalagi dibeli.

    Tampaknya hal tersebut berangkat dari fakta bahwa masyarakat secara umum menggemari hal-hal yang demikian. Di televisi saja kita bisa menghitung sejumlah tayangan yang mengupas masalah kejahatan secara mendetail. Konon lagi di surat kabar (meski kebanyakan diangkat oleh surat kabar yang kurang [atau justru tidak] berbobot). Karena sepertinya hal-hal tersebut menimbulkan kecemasan, tapi menarik rasa ingin tahu. Sama halnya dengan kisah-kisah mistis yang beberapa waktu lalu marak ditayangkan.

  2. Agak susah memang kalau media kita hanya menyajikan apa yang disukai oleh pemirsa kebanyakan. Tampaknya sisi bisnis media ini menjadi sangat diperhatikan sementara sisi edukasi masyarakat semakin dipinggirkan.

    Saya yakin mereka pun mau menjadi idealis dengan memberikan pendidikan bagi masyarakat. Mungkin yang menjadi kendala, apakah tayangan yang baik itu akan diapresiasi seperti tayangan yang hanya mencerminkan kekerasan atau degradasi moral lainnya?

    Tapi, apa yang bisa kita lakukan ya? Apa kita harus berkumpul dalam satu wadah untuk “menggebrak” media? Paling mereka hanya menanggapi “ah, itu kan hanya himbauan dari segelintir kelompok…suara mereka tidak mewakili kelompok kebanyakan.”

    ahh…berharap pemerintah baru saja? Berharap mereka benar-benar menjalankan Pembukaan UUD 45 “…mencerdaskan kehidupan bangsa…” dalam hal ini media massa nasional.

Leave a Reply