Hari Senin betepatan dengan Tahun Baru Cina, yang biasanya selalu hujan, adalah hari dimana ayah saya akan dikebumikan. Sejak subuh hujan mengguyur kota Manado yang dalam bulan bulan terakhir ini hampir setiap hari hujan. Saya yang semalam tidak tidur berdoa memohon supaya hujan berhenti mengingat seluruh acara ibadah dan pemakaman akan kacau balau jika hujan turun. Walau hujan kemudian berhenti namun cuaca sangat mendung, awan gelap padat dan berat hingga jam 10 pagi sama seperti jam 6 pagi padahal 2 jam lagi acara pemakaman akan dimulai.
Saya kemudian mengajak beberapa orang bedoa bersama meminta campur tangan Tuhan, sama seperti Elia yang berdoa dengan sungguh-sungguh supaya hujan tidak turun dan hujan tidak turun, demikian hari itu kami berdoa. (Yakub 5:17). Tuhan kemudian mendengar doa kami sehingga tidak lama kemudian awan gelap berlalu dan hari berubah menjadi cerah. Seluruh acara berjalan dengan lancar dan luar biasa. Banyak orang heran karena hari itu hujan tidak turun sama sekali.
Ini bukan satu-satunya mujizat yang terjadi. Kami mengalami banyak mujizat lewat kejadian ini. Tuhan Maha Kuasa itu menyertai setiap detail acara dan memenuhi setiap kebutuhan. Saya merasakan kekuatan dan pengiburan menghadapi kehilangan orang tua yang paling saya kasihi dan kagumi. Saya tidak pernah menyangka waktu yang paling saya takuti sejak dulu terlewati dengan sukacita dan ucapan syukur yang tidak terkira. Meski selama 4 hari jenazah disemayamkan saya tidak tidur sekejapun dan hampir tidak makan tapi ada kekuatan fisik yang luar biasa.
Hampir 2 tahun yang lalu ayah saya mulai sakit-sakitan yang beberapa bulan kemudian di diagnosa sebagai tumor atau kanker ganas di dalam ususnya. Secara medis ayah saya tidak punya harapan hidup lama. Siapapun yang meilhat kondisinya tahun lalu dapat menyaksikan penderitaannya yang luar biasa. Namun berkat iman dan doa, mujizat terjadi karena ayah saya mengalami kesembuhan dan pemulihan baik secara fisik dan rohani. Dari terbaring tanpa daya di tempat tidur sampai bisa kembali beraktifitas ringan. Perutnya yang buncit menjadi rata dan tubuhnya bak tengkorak berjalan pulih seperti sedia kala.
Ia menikmati masa lebih dari 6 bulan dalam keadaan sehat yang tentu saja membuat terkejut banyak orang. Dalam acara pemakaman ini saya mendengar bagaimana kisah ayah saya menjadi kesaksian. Banyak orang yang telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ayah yang hampir mati dibangkitkan kembali dan diberikan kesehatan oleh Tuhan.
Ayah kami meninggal pada hari Jumat pukul 18.30 dalam pelukan mama atau istri terkasih dan adik saya dalam keadaan tenang dan damai tanpa ada sakit berat sebelumnya. Selama beberapa hari ia hanya mengeluh pilek atau perkiraan malaria. Lebih dari semua itu ayah saya dalam keadaan puas dan bahagia dengan kehidupannya. Akhir-akhir hidupnya ia sangat dekat dengan Tuhan, bediam di kamarnya sambil mendegar lagu rohani dan membaca Alkitab.
Meskipun saya selalu berharap ayah bisa bertahan hidup panjang dalam fisik yang sehat untuk terus bersaksi kepada umat Tuhan ttg apa yang telah ia alami, tetapi Tuhan memliki rencana yang lebih baik. Saya sadar bahwa tugas untuk bersaksi mengenai perkerjaan Tuhan dalam kehidupannya menjadi tugas kami sebagai anak-anak, istri, teman dan keluarga dekat yang telah melihat sendiri mujizat Tuhan ini. Ia yang melepaskan setiap orang percaya dari kesesakan. Ia juga yang memberi pengharapan bagi setiap orang percaya bahwa perpisahan hanyalah sementara karena suatu saat nanti kita akan berjumpa di seberang sana.




January 27th, 2009 at 5:56 pm
“Saya sadar bahwa tugas untuk bersaksi mengenai perkerjaan Tuhan dalam kehidupannya menjadi tugas kami sebagai anak-anak, istri, teman dan keluarga dekat yang telah melihat sendiri mujizat Tuhan ini. Ia yang melepaskan setiap orang percaya dari kesesakan. Ia juga yang memberi pengharapan bagi setiap orang percaya bahwa perpisahan hanyalah sementara karena suatu saat nanti kita akan berjumpa di seberang sana”
Kematian bagi orang Kristen adalah seperti sebuah pesta perpisahan, disana ada dukacita yang mendalam karena kehilangan seseorang yang dikasihi, juga ada sukacita atas penyertaan TUHAN kepada orang yang dikasihi dan pengharapan yang kuat akan perjumpaan kembali di masa datang….
Tetap jadi berkat dalam tulisannya kak Nancy! Tuhan memberkati
January 27th, 2009 at 6:38 pm
Kesaksian yg sangat indah, saya mengalaminya juga ketika ayah saya meninggal thn 2003 yll, justru setelah dinyatakan bersih dari kanker. Ya, ayah saya juga terkena kanker usus besar, dan kemudian dalam proses pemulihan setelah operasi, terkena stroke sbb tdk bisa minum obat darah tingginya. Justru dalam kelemahannya kami bnyk melihat kuasa TUHAN bekerja, bukan hanya untuk papa, tetapi juga dalam kehidupan kami sekeluarga dan pribadi lepas pribadi.
Terimakasih untuk kesaksian ini, saya semakin yakin bhw sukacita yg tidak dapat dijelaskan dengan kata2 atau akal-budi itu mmg bukan berasal dari dunia ini, melainkan anugerah, juga sebuah iman bhw kita sudah memperoleh hidup yg kekal.
GBU and family.
((((((Hugssss)))))
January 28th, 2009 at 1:03 am
Terhima kasih Soegianto, G, I get encouragement from people like you…benar, nggak ada yg bisa menjelaskan mengapa orang percaya bisa berusukacita sementara berdukacita, berpesta dalam perkabungan.
G, is it really true? Great is our Lord!