Nebuchadnezzar memiliki alasan untuk berbangga hati. Tahta yang ia warisi menjadikan ia Penguasa agung kerajaan Babylonia dan Media. Daerah kekuasaan dynastinya meliputi seluruh wilayah Timur Tengah. Jika Salomo dikenal sebagai Raja Israel yang membawa kemakmuran, perdamaian serta membangun Bait Allah yang megah maka Nebukadnezar dikenal karena membangun kembali kejayaan kerajaan Babylon dari kehancuran yang ditinggalkan oleh Asyria dan Niniweh. Tekadnya adalah untuk membangun ibu kota terindah di dunia. Kita masih bisa menyaksikan kejayaan Raja Nebukadnezar dari peninggalannya berupa Taman Gantung Babylon, taman maha indah yang ia buat untuk istrinya yang merupakan satu dari tujuh keajaban dunia.
Dalam pembangunan ibu kota Babel tidak ada bahan yang dihemat, termasuk emas, perak, tambaga, batu mulia dan kayu cedars. Kuil-kuil tua di renovasi. Tembok lama di dirikan lagi, kokoh dan berlapis-lapis. Gedung-gedung megah di bangun. Bala tenaga kerja yang tidak terhitung banyaknya didatangkan dari seluruh penjuru negeri. Namanya pun menjadi masyur di seluruh dunia.
Semestinya ia sudah tergolong orang percaya ketika menyaksikan bagimana Tuhan menyingkapkan arti mimpinya lewat Daniel (Dan 2). Ia juga bukan hanya sekali menyaksikan mujizat Tuhan, dengan mata kepalanya sendiri ia melihat bagaimana Tuhan meluputkan Sadrkah, Mesakh dan Abednego dari dapur api, bahkan ia memerintahkan seluruh rakyatnya untuk menghormati Tuhan karena kejadian ini. (Dan 3:29). Tapi ia sendiri terlalu sombong untuk tunduk menyembah Allah. Dengan kesuseksan dan kejayaan yang ia nikmati saat itu tidak ada makhluk yang dianggapnya lebih tinggi dari dirinya.
Nebukadnezar digambarkan sebagai pohon yang bertambah besar dan kuat yang tingginya mencapai langit dan terlihat sampai ke seluruh bumi, yang daun-daunnya indah dan buahnya berlimpah-limpah dan padanya ada makanan bagi semua yang hidup, yang dibawahnya ada binatang-binatang di padang dan di dahan-dahannya bersaragn burung-burung di udara.
Namun Tuhan merasa perlu mendidik Raja besar ini dengan suatu ujian yang membuat 7 tahun hidupnya merana. Pohon yang tinggi dan kuat itu pun di tebang dan dibinasakan. Hanya saja dalam kasih anurgerahNya masih disisakan jalan untuk pemulihan. Tunggulnya masih tinggal di dalam tanah, terikat rantai besi dan tembaga…bersama-sama dengan binatang-binatang di padang…
Sebuah tablet yang terdapat di British Museum melukiskan keadaannya sebagai “kehidupannya menjadi tidak ada berarti baginya… ia tidak menunjukkan kasih kepada anak-anaknya…keluarganya seperti sudah tidak ada” Tapi yang dilukiskan dalam kitab Daniel jauh lebih buruk lagi yaitu ia makan rumput seperti lembu dan tubuhnya basah oleh embun dari langit, sampai rambutnya menjadi panjang seperti bulu burung rajawali dan kukunya seperti kuku burung.
Tentu anda dengan mudah menyebutkan orang yang anda kenal yang memiliki tipe Nebukadnezar ini. Mereka yang telah mencapai puncak kehidupan, sukses, kaya dan dihormati sebagia besar karena daya juangnya yang besar. Beberapa diantaranya memang memulainya dari nol. Dalam keadaan ini mereka merasa bangga dan tidak perlu mengakui Tuhan. Sebagian menganggap Tuhan sebagai mitos sebagian lagi menganggapNya sebagai Pencipta yang telah pensiun. Sebagian menganggapnya sebagai Penguasa tanpa kuasa dan sebagian lagi menganggapNya sebagai Allah yang tidak perduli.
Dunia bisa saja dipenuhi oleh orang agnostic yang bersandar pada reason dan akal budi, tapi Tuhan tetaplah Penguasa. Ia sanggup membuat raja seagung Nebukadnezar tunduk menyembahNya, ia juga sanggup melembutkan hati manusia yang keras. Dan seperti akhirnya mengutip pengakuan Nebukadnezar sendiri “Jadi sekarang aku, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Sorga yang segala perbuatanNya adalah benar dan jalan-jalanNya adalah adil, dan yang sanggup merendahkan mereka yang berlaku congkak” (Dan 5:37).



January 23rd, 2009 at 2:39 pm
Terima kasih, madame Nancy, sungguh postingan ini telah memperkaya saya dalam melihat kembali kitab Daniel. Sangat memberkati.
January 25th, 2009 at 4:56 pm
Judul menarik dengan pembahasan yang apik. Jadi bukan alasan bagi kita untuk iri pada mereka yang “seperti pohon besar” tetapi tidak percaya Tuhan. Tetap lebih baik menjadi pohon yang terus ada dalam pemeliharaan Tuhan. Karena dalam pemeliharaan Tuhan, bukan besar kecil ukurannya tetapi buah yang tetap yang mampu menjadi berkat bagi banyak orang.
March 2nd, 2009 at 2:03 pm
halo nancy, saya turut berduka dengan kepergian om john namun saya tidak ingin mengomentarinya saat ini. Saya cuma mau tau keadaan dan keberadaan kamu saat ini. salam dariku untukmu sekelaurga by maink kdi