Nancy Dinar on January 17th, 2009

Saya terpaku di pinggir sudut pagar pembantas antara rumah kami dan tetangga sebelah. Satu persatu teman bermain saya masuk ke dalam rumah dan masing-masing menerima satu mangkok jajanan sore buatan ibu mereka. Dengan gembira mereka melahapnya seakan-akan tidak ada orang yang memperhatikan bahkan sekan lupa pada asyiknya permainan yang baru saja kami mainkan. Saya mencoba menebak apa isi dari mangkok kecil yang mereka pegang itu melalui senyuman bangga dan tatapan kasih ibu mereka ketika menyerahkan makanan itu kepada keempat anaknya.

“Nancy” suara ayah saya memanggil memberikan alasan bagi saya untuk segera meninggalkan pemandangan yang tidak mengenakkan itu -pengalaman yang tidak pernah saya alami sebagai seorang anak- dan berlari masuk ke dalam rumah. “Masuk!” kata papa saya yang sedang berdiri di depan pintu rumah.

Sayapun masuk ke dalam rumah kami. Rumah saya bilang, tapi sebenarnya hanya sepetak kamar memanjang yang di bagi tiga bagian. Di bagian depan adalah ruang kerja ayah, bagian tengah kamar tidur dan bagian belakang adalah dapur. Belum lama kami pindah ke rumah kontrakan itu dari rumah besar nenek saya sebelumnya. Berapa tragedy baru saja terjadi dalam keluarga kami : diusir dari rumah nenek yang membuat ayah dan ibu saya kehilangan mata pencarian mereka, adik saya yang baru dilahirkan meninggal dunia, kecurian barang di rumah baru kami, dan sekarang ibu saya pergi dari rumah meninggalkan kami.

“Sudah berapa kali Papa bilang ndak boleh main di rumah orang! ” katanya yang saya jawab dengan anggukan tanda mengerti walau sulit untuk mentaatinya.

Saya langsung menuju dapur dan disambut oleh ibu saya dengan satu mangkok jajanan sore yang juga tidak kalah lezatnya. Saya meraih mangkok tersebut, duduk di bangku dapur dan mamakannya dengan nikmat. Buat saya mendapatkan perhatian seperti itu sangatlah indah apalagi perut saya benar-benar kosong dan tidak terisi apa-apa sepanjang siang.

Isi dari mangkok kecil itu adalah kopi dan gula, satu-satunya bahan yang bisa dimakan di dapur kami. Dan yang berperan sebagai ibu sekaligus anak dalam drama singkat tersebut adalah saya sendiri.

Meski masih berusia tujuh tahun hidup saya penuh imajinasi dan mimpi pada umumnya terpengaruh buku cerita dongeng yang saya baca. Walau tidak dapat memenuhi semua kebutuhan fisik kami namun ayah saya sangat perduli untuk memenuhi kebutuhan otak kami, mengajar membaca sejak dini dan menyediakan buku untuk dibaca, tidak harus dibeli karena paling tidak seminggu sekali saya diajak ke penyewaan komik milik temannya. Terkadang cerita – cerita hayalan itulah yang menjadi hiburan bagi saya menghadapi kenyataan hidup serhari-hari.

Cerita Cinderela, snow White, dongeng HC Anderson, bukankah adalah cerita-serita klasik dari generasi-generasi yang memberikan harapan bagi mereka yang kurang beruntung bahwa meskipun jelek dan miskin suatu saat hidupnya akan berubah ketika dipersunting oleh pangeran yang tampan dan kaya raya. Pesan dari cerita itu, asal saja manusia mau bertahan, menjaga hati yang murni dan berkarakter baik, kemiskinan akan segera berakhir. Kebaikan dan kejahatan selalu mendapat akan mendapat ganjarannya masing-masing.

Saat masih kanak-kanak mudah untuk bermimpi tentang masa depan ala dongeng Cinderella, namun suatu saat mimpi-mimpi itu punah ketika orang berhadapan dengan kenyataan hidup yang sebenarnya dan mendapati bahwa dongeng tinggallah dongeng dan kenyataan bukanlah dongeng. Kita tidaklah hidup di negeri anta berantah dan tidak ada pengeran tampan dan kaya sekaligus baik hati. Banyak mimpi masa kanak-kanak yang pupus di tengah jalan bagai bunga mawar yang tidak pernah mekar menebar keharuman dan keindahannya.

Saat menelan kopi dan gula merasakan pahit bercampur manis menjadi satu di dalam mulut kecil saya, tanpa sadar bahwa demikian juga tahun-tahun yang terbentang di depan saya, kebahagiaan dan kesedihan melebur menjadi satu menjadi apa yang disebut dengan kehidupan.

Setelah saya beranjak dewasa bermimpi tentang sesuatu yang lebih baik akan datang menjadi cara saya untuk bertahan dan melewati masa-masa pergumulan. Selalu kemenangan adalah hasil dari perjuangan, pertarungan dan daya tahan.

Hayalan menjadikan hidup lebih mudah. Namun jangan berhenti sampai disitu saja jadikan itu impian dan pupuklah menjadi visi.

3 Responses to “Hidup Dari Mimpi”

  1. Mba Nancy, ketemu lagi…

    Bubuk kopi+gula saya juga pernah menikmatinya waktu kecil :)
    Rasanya emang penuh sensasi…
    Tapi paling enak lagi kalo ada susu bubuknya….komplit deh…
    Aku tuh dari TK,SD,SMP ampe SMA ga ada jajan lho Mba, jadi harus jadi ‘pemulung’ atau ‘usaha’ sendiri kalo mau jajan. Pas kuliahan barulah beda!

    Sama, masa kecilku juga penuh kesedihan, cobaan, ntar kalo diceritain bisa-bisa lebih pangjang dari postingan ini…he..he

    Aku waktu kecil ga punya mimpi, tapi dari kecil kalo tanding cerdas cermat alkitab selalu menang. Truz, waktu SD aja aku pernah baca abis seluruh alkitab. Yah…rupanya dari kecil udah ada panggilan toh..

    Membaca dongeng HC Anderson, yah..itu kegiatan yang paling asyik-waktu itu baca/minjem di taman bacaan. Bener, cerita Hans Anderson bikin kita suka bermimpi, mengembangkan pola pikir, sikap, harapan dan ketekunan. Yang paling penting “Good Guys always win! 8)

    Btw, postingan ini, sama topiknya dengan postinganku hari ini…

  2. Banyak orang yang masa kecilnya tidak sebaik yang diharapkan, tetapi kemudian menjadi orang besar. Daud mengalami penolakan pada masa mudanya, ‘dilupakan bapanya’, mungkin malah tidak dianggap anak. Dianggap remeh oleh abang-2nya. Barangkali itu yg membuat dia sering sendirian dan berimajinasi, lalu lahirlah banyak Mazmur yang sampai sekarang menjadi berkat.
    Yusuf juga harus mengalami masa2 yg tdk enak pada masa mudanya yg kemudian membentuk dia menjadi leader yg kuat. Morris Cerullo berjumpa dgn Tuhan pada masa remajanya yg mengubahnya menjadi penginjil. Ia tinggal di panti asuhan, New Jersey. Alm Kenneth E. Hagin berasal dari keluarga broken home yg miskin. Ayahnya meninggalkan keluarganya waktu ia masih kecil dan ibunya sakit-2an. Tentunya masih banyak contoh-2 lain. Pada masa-2 yg tidak itulah mereka bertemu Tuhan dan kemudian hidup mereka berubah dan menjadi berkat bagi banyak orang. :-)

  3. Saya suka menambahkan kata “imajinasi” selain “mimpi” atau “impian”. Impian akan masa mendatang, yang kita sebut harapan, menjadi semakin kaya dengan imajinasi. Dibumbui dengan tekad dan kemauan untuk melaksanakannya, tentu akan lebih nikmat. Masalahnya hanya kesabaran untuk menjalankannya. Jangan lupa juga, keduanya sangat bermanfaat sebagai bahan bakar untuk menulis. :)

Leave a Reply