Nancy Dinar on December 6th, 2008

Satu Desember 2008 kaki saya kembali menjejakkan kaki di bandara Sukarno Hatta menghadapi beberapa bulan didepan untuk memulai penulisan buku perdana saya. Perbedaan mencolok antara kota Jakarta dan Seoul yang baru saja saya tinggalkan adalah temperature suhunya. Setelah berjuang bertahan dalam suhu membeku di bulan Desember saya harus juga harus berhasil menaklukkan teriknya matahari Jakarta membakar kulit saya yang kepucatan.

Seluruh harta saya di Jakarta adalah Matthew (anak kami), dua koper berisi pakaian dan perlengkapan lainnya serta peralatan rumah tangga darurat yang dipinjamkan saudara, semuanya diangkut menuju ke apartemen tempat tinggal kami sementara. Di sepanjang perjalanan saya berusaha menikmati tanah air, di balik kemacetan lalu lintas dan dimata kosong para pejalan kaki serta tegarnya semangat para pedagang di piggir jalan. Apa oleh-oleh yang bisa saya berikan bagi negara ini setelah meninggalkannya lebih dari delapan tahun?

Visi dan semangat saya yang menggebu-gebu untuk pulang ke Jakarta sebagian besar terserap oleh lesuhnya suasana yang juga menjawab keheranan saya dengan kawan-kawan yang dulunya memiliki semangat yang sama di Korea namun kemudian hilang melebur dengan 300 jt penduduk Indonesia lainnya ketika kembali ke tanah air. Semangat para pahlwan devisa untuk membangun negaranya dan menjadi pengaruh gugur di tengah sengitnya pertempuran mereka melawan keputusasaan dan kehampaan.

Lebih jauh, Krisis ekonomi global saat ini seakan mendorong jatuh ke jurang yang dalam ketika bangsa Indonesia sedang berusaha merangkak naik memperbaiki keadaan eknominya, ketika perlahan petumbuhan ekonomi mulai stabil dan pengharapan kebanyakan orang mulai tumbuh.

Masihkah ada mimpi untuk masa depan yang jauh lebih baik? Dan jika mimpi itu ada, apakah ada kekuatan untuk mewujudkannya menjadi kenyataan?

Beberapa hari saya harus mengembalikan semangat dan mengaktifkan kembali otak yang seakan ‘blank’, sebagian karena sibuk ngurusin pindah-pindah dan sebagian lagi karena perbedaan atmosfir.

Jadi, kalau hampir dua minggu nggak negepost bisa dimaklumi.

Tags: , ,

7 Responses to “Di Jakarta”

  1. Ah,….. so let me be the 1st (in here) to say, Welcome Home! (^^,)

  2. Saya ingin menyampaikan 3 ucapan selamat buat sahabatku bu Nancy :
    1.selamat datang kembali ke jakarta 2. selamat untuk mempersiapkan buku perdananya 3.selamat hari natal.

  3. Welcome Home bu … :)

    mungkin karena masih beradaptasi saja ya bu, ngga lama lagi pasti Bu Nancy sudah back on track hehehe …

    Gbu

  4. Honey,
    We (me/Joel) miss you and little Matt soooooo much.
    It is hard to get our eyes closed while thinking about you.

    Thanks GOD for skype … ^_^
    Just beware of the bandwidth … see you tonight
    (check my facebook … I was added new photos, and see how lovely are you)

  5. Welcome Home Nancy.

    Finaly in the next 2 days, you have posted the new one.

    Best Regards,
    Fida in PA

  6. Welcome home kak nancy…
    semoga buku perdananya cepat kelar…
    gud luck…

  7. internet jd lambat dunk ya.. ;) hehe

Leave a Reply