Nancy Dinar on November 21st, 2008

Pada saat saya membaca RUU Pornografi pertama kali dan juga membaca komen-komen di blogsphere yang ada di hati saya adalah rasa pesimis dan ragu, bukan pada kekuatan hukum itu tapi pada mereka yang akan menjalankannya. Barangkali ini adalah bentuk rasa putus asa yang saya rasakan bersama dengan jutaan rakyat Indonesia lainnya yang menyaksikan bagaimana ‘hukum’ di Indonesia sering disalahgunakan.

Namun, setelah merenungkan sejenak, sebagai pelayan Tuhan saya sadar bahwa tidak baik mengambil sikap lemah dalam menyikapi hal-hal yang berbau pornografi. Tadi malam saya membaca, seseorang menulis bahwa pengguna Internet di Indonesia mengundu 40% situs pornografi. Beberapa waktu yang lalu saya juga pernah membaca, bahwa ***** (kata kotor) adalah kata yang paling tinggi di cari di search engine Indonesia. Ini semua membuat saya sadar bahwa sebenarnya bangsa Indonesia sedang menuju pada kerusakan akhlak yang lebih parah dari negara lain yang nota bene lebih bebas.

Saya juga membaca komen dari seseorang yang berkata “siapa sih pengguna internet yang nggak pernah melihat situs porno ?” atau dengan kata lain “Everybody is doing that”. Ini pendapat yang salah, yang benar adalah “Not everybody is doing that!”. Pendapat ini membuat saya harus turun gunung. Saya merasa terlalu subjektif dalam menilai karena posisi saya sebagai seorang pendeta dan ibu rumah tangga yang senantiasa tinggal di rumah, jauh dari hingar bingar dunia malam, kelap kelip lampu café dan hentakkan musik dikotik. Pula selama belasan tahun menggunakan internet saya belum pernah secara sengaja atau tidak sengaja nyasar ke situs yang demikian. Bagi saya itu adalah area yang invisible dan non-existence di internet. Tapi bisa saja sikap ini menjadi sikap yang sombong dan mengarah kearah kejatuhan.

“Sebab itu siapa yang menyangka, nahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh” (1 Kor 10:12)

Barangkali pendapat dan pengertian saya mengenai pornografi adalah biased dan naïve, karena jauhnya saya berdiri.

Pornografi bisa didefinisikan sebagai “seluruh materi yang bisa membangkitkan nafsu seks” sangat berbahaya karena bisa membuat orang kecanduan serta merusak baik individu, keluarga maupun masyarakat. Pornografi juga merupakan bentuk pelanggaran dan pemberontakan manusia pada nature Tuhan yang kudus. Keluarga dan gereja harus mengambil peran yang paling besar untuk menghambat penetrasi pornografi dalam masyarakat. Dan saya merasa punya tugas dan tanggung jawab untuk memberi ketegasan pada setiap pembaca agar :

“Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu. Sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:14-16)

Tags: ,

9 Responses to “Turun Gunung”

  1. yah kok brubah se ..gw malah lebih suka ma posting yg awal ttg UU porno.. malah gw jd mikir tenyata ada jg pdt yg open ma masalah gitu2, bkn hanya bisa kotak2in dosa n ga, ga bole n bole tp solusi rada ga jelas gt..

    jg ya yg namanya sex n porno ga hanya diindo la, smua dunia, smua manusia rata2 suka koq ma yg namanya sex .. bisnis yg paling menguntungkan yah yg ada nyerempet ke sex.. iya kan..heheh..

    btw ya kl ttg Tuhan, gw no comment hwahaha.. uda ngerti palingan ga bole kan.. pecuma dibahas .. paling seputar itu doank :p

    yg gw lebih suka yg initial post blg kl dilarang itu ga bkal nyelesaiin masalah, yg bagus se ngasi batasan or control..

    kyak jepang, itu negara bebas tmasuk yg namanya pornografi, ampe animenya jg hehhe.. tp liat tindak kriminalnya rendah banget kan.. kata tmen me, nyolong aja d jepang lgs masuk headline news..pdhal d negara2 laen tmasuk indo itu hal yg biasa banget ..

    bandingin lagi ya ma beberapa negara yg di blg negara agama, yg byk larangan ini n itu, kenyataannya itu negara paling banyak kan kejahatan tmasuk sex abuse

    so larangan blun tentu menjamin moral org itu jd lebih baek kan..

    skrang masalah gmana bs control n kasi batasan kan..kl mnurut gw se mendingan dilegalin aja smua, ga hanya pornografi, tp bs jg kyak tempet prostitusi n yg laen2.. biar smua transparan n bs dikontrol dgn kasi batasan2..misalnya batasan umur, training ntuk psk, informasi ntuk cegah penyakit kelamin, or yang laen apa gitu..ya kayak beberapa negara la..

    malah kl dilarang, makin banyak yg diem2, bknnya makin susah dikontrol..n jg spti mo blok website yg porno, bs di bobol jg kan, maenin aja dns nya hehehe.. pcuma aja si sbenarnya.. hihi

  2. btw yg statement:

    “Pornografi juga merupakan bentuk pelanggaran dan pemberontakan manusia pada nature Tuhan yang kudus”

    gmana dengan art salah satunya spti michaelangelo?

  3. @d~: aku sebenarnya udah janji dihati nggak mau respon comment lagi, and let the post talk about itself, tapi kayaknya terpancing terus ama kamu deh d~. :) thank’s anyway.

    Visi tulisan saya kan ‘engaging contemporary issues with Christian thought’, demikian juga waktu nulis postingan pertama itu, dasarnya adalah ‘Christian Thought’ meskipun tidak tertulis disitu.

    Di dalam Alkitab ada tuh namanya Taurat, yang kalau dimodernkan UU Porn itu masuk kategorinya, sifatnya menunjuk dosa, membuat manusia merasa bersalah kemudian menghukum. Taurat mengatur ritual dan tata cara manusia seperti ritual menyembah, makan-minum, kawin mawin, dan segala tetek bengek lainnya sampai ke hal berhubungan seks.

    Semuannya tentu untuk maksud baik, mencegah manusia berbuat dosa. Prinisipnya lakukan : diberkati, melanggar: dikutuk.

    Tapi untung saja Yesus datang dan menyempurnakan Taurat itu dengan Hukum kasih Anugerah, mengambil sisi kutuknya dan memberikan sisi berkatnya bagi yang percaya tentunya.

    “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib, Jadi hukum tuarat adalah penuntun bagi kita sampai Yesus datang supaya kita dibernarkan oleh iman (Gal 3:13,24)

    Hukum taurat sendiri tidak menyelamatkan bahkan tidak membuat manusia kapok berbuat dosa, malah dgn hukum taurat orang jadi mengenal dosa (referensinya panjang ada di kitab Roma dan Galatia, gw nggak bahas sini deh, entar bikin lu pusing lagi:) )

    So, I think I didn’t take back my words. UU Porn for me, will not be effective! But I decide to support anything to prevent the socialization of pornography, while in the other hand give room for democracy and freedom of choice. Let people choose and respect their choice.

  4. oh.. jd aga ngerti..

    mm.. kl Dia yg dulu aga otoriter, skrang Dia jd lebih pengertian dunk ya hihihi…

    mang negatipnya apa se balas comment, mala ga kesannya jd cuekin ya kl ga respon.. hehe :p

  5. Kalo saya melihatnya, UU Pornografi itu sifatnya reaktif, bukan antisipatif, mungkin itu yg menjadi ganjalan. Tapi saya juga setuju bhw adalah baik melakukan tindakan untuk mencegah meluasnya pornografi, dan kalau saat ini satu2nya cara adalah dgn UU P itu, so be it!

    Hanya aja, sy sungguh2 berharap pemerintah memikirkan dan benar2 memperhatikan pembinaan moral generasi muda sejak dini. Bukankah pembekalan itu sebenarnya yang sangat perlu. Tanpa pembekalan yang tepat tetapi dengan sigap menyediakan tongkat untuk memukul dan pedang untuk menebas, yg terjadi adalah bilur dan tumpahnya darah terus menerus. Percuma saja.

  6. Shalom kak Nancy,

    s7 dengan pendapat kak Nancy…..Tuhan memberikan jalan..manusia memilih..tergantung pd kita mao memilih jalanNya or jalannya lucifer……??? up to our self…….

  7. I read all comments, think of it, and consider about it.I want to learn to receive criticism and differences without talk it back. Let me see myself, my idiocy and sometime my misjudgment view in other’s perspective.I don’t want to argue, defense, but It’s hard :)

    Beside, Not every person who leave comment really want a reply, sometime they just stop by and give me a job! Not you d~

  8. syalom, mat malam..
    maaf lama balas nya..
    saya mau bilang akustik piano nya udah ada silahkan ambil code nya di blog saya.. makasih. JBU

  9. Hi Nancy,

    Turun gunung is a right action. Many people that they think they are good people don’t want to spread their life with their action ‘Turun gunung’ They just see from their perspective only without comparing other factors.

    Great thought!!!

    BTW, Congratulations!!! Your name is mentioned at my recent posting.

    Have great day,
    GBU

Leave a Reply

Related Posts from the Past: