Nancy Dinar on November 10th, 2008

Jika ada kesempatan untuk berbuat baik lakukanlah segera, itu mungkin kesempatan terakhir anda.

Di suatu siang hari bolong, jam satu siang, matahari bersinar terik membakar gosong kulit setiap pengelana yang nekad berada di jalanan. Panas yang membakar datangnya tidak hanya dari atas, namun pantulannya di jalan yang beraspal dan tanah kering tandus juga menambah parah teriknya. Keadaan seperti ini seharusnya cukup menyadarkan setiap orang akan dosa-dosanya dan tidak menuju ke neraka.

Angkutan umum tidak terlalu ramai, barangkali sebagian besar sopir beristirahat atau menunggu di poll karena jam begitu tidaklah banyak penumpang lalu lalang. Saya naik angkutan umum yang biasa disebut mikrolet itu dan menjadi penumpang pertama dan satu-satunya. Seperti biasa saya mengambil tempat di sudut agar tidak di geser-geser penumpang lain mengingat perjalanan saya cukup panjang. Dalam posisi seperti ini biasanya saya tidak ingin diganggu karena adalah waktu dimana saya membiarkan pikiran ini mengembara, entah menghayal, bermimpi atau berimajinasi.

Selang beberapa waktu naiklah seorang yang sangat tua. Barangkali usianya belumlah mencapai tujuh puluh tahun namun keadaannya sangatlah memiluhkan. Badannya kurus dan renta, wajahnya dipenuhi benjolan-benjolan sebesar kacang polong, matanya merah dan bersinar lemah dan badanya mengeluarkan bau yang tidak sedap entah disebabkan oleh penyakitnya atau oleh pakaiannya yang lusuh. Ia mengambil tempat duduk di depan saya yang walau berusaha tidak perduli tapi sesekali mengamatinya.

Perjalanan belumlah panjang ketika sopir angkot itu bertanya kepada orang tua tadi “pak mau turun di mana?”. Dan dengan suara berat dipaksakan ia menjawab “rumah sakit!”.

“Aduh pak, kenapa tidak bilang dari tadi, itu Rumah sakitnya sudah lewat. Bapak turun di sini saja dan ambil angkot lain” kata sopir itu tanpa belas kasihan sedikit pun. Orang tua itu terlalu lemah sehingga membutuhkan waktu yang tidak cepat untuk keluar dari angkot tersebut. Saya satu-satunya penumpang lain disitu tapi badan saya kaku menempal di jok mobil. Hati saya berteriak keras “ayo, tolong orang tua itu”. Namun badan saya tetap tidak bergerak. Sekali lagi suara hati saya berteriak bahkan lebih keras lagi “pegang tangannya, goblok!” . Tidak juga saya lakukan

Dan ketika kedua kakinya menginjak tanah sang sopir langsung menacap gas dan pergi meninggalkan orang tua itu yang sedang berjuang menjaga keseimbangan dan mengibas debu yang dihasilkan roda –roda angkot tersebut. Saya memandangnya dari kaca mobil, dengan penuh belas kasihan dan rasa bersalah. Entah apa yang menahan tubuh ini dan membuatnya tidak bekerja sama dengan akal sehat dan suara hati. Saya seharusnya dapat menolong orang tersebut, menegur sopir yang tidak manusiawi, membantunya turun, mengantarnya ke RS, menghubungi keluarganya, atau apa sajalah. Namun semua tidak saya lakukan. Kenyamanan telah mengalahkan keinginan untuk berbuat baik. Perasaan tidak ingin ditepotkan telah mendiamkan teriakan suara hati nurani. Dan sekarang saya punya masalah, karena wajah orang tua itu terus membayang mengikuti kemana saya pergi : ke sekolah, waktu makan atau mejelang tidur.

“Apa yang terjadi jika seandainya orang itu adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menguji saya?” tanya saya dalam hati. “Habislah reputasi saya sebagai anak Tuhan jika orang itu memang adalah malaikatnya” terus menerus saya berkata pada diri sendiri sekan-akan ingin menghukumnya dengan perasaan bersalah.

Tiga hari kemudian, ayah saya berkata bahwa seorang tak dikenal telah meninggal di rumah sakit tempat ia bekerja yang adalah rumah sakit tujuan orang tua tersebut ketika saya bertemu dengannya. Dan ia tidak memiliki keluarga atau siapapun. Saya tidak punya kesempatan untuk melihat tampang mayat tersebut, namun dalam bayangan saya orang tua itulah yang terbaring di sana. Jika benar, saya telah kehilangan kesempatan untuk berbuat baik yang terakhir kali buatnya.

Pengalaman ini mengubah saya untuk tidak menunda untuk mengulurkan tangan bagi yang membutuhkan. Pertama mereka mungkin adalah malaikat yang menjelma, kedua itu mungkin kesempatan terakhir bagi kedua pihak. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok.

Banyak orang Kristen yang merasa terlalu nyaman berada di dalam gedung gereja yang ber AC dan berkarpet tebal. Para pendeta juga lebih senang melayani di tempat yang menjanjikan uang daripada menjanjikan jiwa. Sementara itu di sekitar kita masih banyak malaikat-malaikat yang berkeliaran menyerupai pengemis, gelandangan, pengamen dan anak-anak kecil di lampu merah.

Terlalu banyak orang yang membutuhkan berada di sekitar kita yang tentu tidak masuk akal jika kita harus menolong semuanya. Namun, paling tidak ulurkan tangan kepada orang yang Tuhan kirim kepada Anda.

Tags: ,

7 Responses to “Malaikat di dalam Mikrolet”

  1. Memang tak mudah mengambil keputusan ketika hati bertolak belakang dengan pikiran kita (yang sedang bergelung kenyamanan). Nice Article..tapi rasanya tak perlu berlama-lama menyesali keadaan ini. Karena kita semua yakin bahwa selama masih ada nafas dalam badan kita, berarti masih ada banyak kesempatan untuk berbuat baik. GBU

  2. Shalom kak Nancy,

    wah sepertinya saya juga pernah ngalamin, tapi kadang kita merasakan mao menolong tetapi kog kaki dan tangan ga mao kerja sama….jd teringat firmanNya…..

    Matius 25:45
    Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku

    dak dik duk!!! wah mesti tobat saya nya !!!..hiks hiks hiks..

  3. Hi..
    aku juga pernah ngalamin seperti ini.. kepada anak kecil..
    tapi aku tidak menolongnya..
    dan aku teringat sama anak kecil itu.. selama beberapa hari..

    Memang susah yah untuk prakteknya.. karena belum terbiasa hehe..

  4. Baca entry ini malah jadi ingat teman yg hobinya naik kereta api ke kantornya pdhl dia pny mobil dan supir, dia bilang itu adalah salah satu cara untuk beramal, dan dia memang punya banyak cerita ttg membelikan segelas aqua buat ibu2 pemulung, beli mainan buat anak kecil, membayarkan tiket buat org yg tidak dikenal, dll yg dia lakukan setiap ada kesempatan sampai2 ga heran lagi liat dia tergerak utk ini itu soalnya mmg dia kayak begitu. Entry ini membuat saya merenungkan tindak-tanduk teman tersebut. Hmm…itu rupanya yg dilihat oleh teman saya ketika naik kendaraan umum, kesempatan2 untuk mempraktekan keperdulian.

  5. iya benar…
    aku juga sering seperti itu..
    aku mau nolong tapi ndk jadi karena zona kenyamanan aku..
    membaca artikel ini membuat aku jadi tau ternyata banyak yang masih membutuhkan uluran tangan kita. karena memang kita di berkati untuk memberkati orang lain.

    aku juga punya tulisan sejenis.. kalo sempat baca yah.. :)
    http://meywal.byethost13.com/2.....an-mereka/

  6. mat sore bu nancy
    saya mau bilang kalo saya baru coba-coba bikin web music rohani
    memang lagunya masih sedikit tapi akan saya tambah terus setiap saya online.. kalo mau coba kunjungi blog saya yah bu.. makasih JBU

  7. Syalom,

    Saya juga pernah ngalamin seperti ini. Waktu itu saya jalan pulang dari kuliah, terus didekat sebuah kantor (yang waktu itu sepi karena hari Jumat sore) ada seorang ibu yang batuk-batuk. Waktu saya perhatikan, batuk ibu tersebut sudah parah sampai mengeluarkan darah. Tapi saya hanya berjalan saja tanpa menghiraukan. Yang ada dipikiran saya hanyalah harapan bahwa ada orang lain yang bisa menolong… tapi hal ini terus menjadi beban dalam pikiran (yang belum pernah saya ceritakan pada siapa-siapa) bahkan setelah 3 tahun kemudian.

    Kata-kata Tuhan Yesus mengenai apa yang kita perbuat bagi salah satu saudara, maka kita perbuat juga bagi-Nya, terus terngiang-ngiang dalam telinga.

    Salam Kasih,
    Christian

Leave a Reply

Related Posts from the Past: