Setelah beberapa minggu ini disuguhkan dengan topik-topik yang berat, I just want to a take break for a moment, menyajikan sepenggal kehidupan kami di Korea, sekaligus sebagai Partisipasi dalam Fidda Abbot Contest.
Mari pandang sekeliling, dimanapun Anda berada, dan temukan keindahan dibaliknya. Di tengah kemacetan ibu kota, di balik mata pedagang kaki lima, di sela-sela tugas menumpuk dan target yang diburu. Masih adakah dunia ini mengingatkan kita pada pencipta?
“Karena apa yang tidak nampak daripadaNya, yaitu kekuatanNya yang kekal dan keilahianNya, dapat nampak dari pikiran dan karyaNya”
Tahun ini adalah musim gugur yang ke-sembilan di Korea. Saya masih terus menghitung waktu sambil melihat daun-daun itu jatuh. Berapa lama lagi saya masih diberi kesempatan menikmati kemanjaan alam ini. Daun-daun keemasan di penghujung hidup mereka, sebentar lagi akan kering, layu, dan bersatu dalam debu. Teriknya musim panas tidak lagi terasa, menggigilnya musim dingin belum lagi tiba dan musim menuai sebentar lagi akan datang menambah semaraknya.
Tidak pernah sekalipun saya melewati musim gugur ini tanpa mengabadikannya dalam bentuk gambar. Demikian juga hari ini, sambil menikmati matahari yang bersembunyi dibalik awan, memberikan kesempatan pada keluargaku menikmati sejuknya suasana. Tanpa emosi saya berkata “seandainya ini adalah Indonesia”. Suami saya juga berkata iya.
Ternyata keindahan ini belumlah lengkap karena kami tidak berada di bumi pertiwi. Daun-daun keemasan tidak bisa mengganti kenangan akan kampung halaman, wajah handai taulan dan hangatnya rasa persaudaraan.
Di halam rumah kehidupan saya di Korea ada dua taman. Taman yang pertama ditanami bunga-bunga indah berwarna-warni, harum, menyejukkan sanubari. Taman yang kedua tumbuh semak belukar, berduri dan sering melukai.
Setiap pagi saya bangun dan memutuskan di taman manakah akan saya habiskan hari itu.
Jika saya memutuskan menghabiskan hari di taman yang pertama, maka, Korea ini adalah negara yang indah. Tansportasi umum yang nyaman dan aman. Musim berganti empat kali setahun mempertegas keindahan bukit –bukit yang tergeletak rapih di sepanjang Sungai Han. Penduduknya berkulit mulus, tubuh semapai dan wajah cantik rupawan.
Jika saya memutuskan menghabiskan hari di taman yang kedua, maka, Korea ini tidaklah lebih dari sebuah negara kaku yang tidak memiliki tempat bagi orang asing. Sempitnya rumah yang kami tinggali dan mahalnya biaya hidup perhari. Masyarakatnya hidup homogen, monoton dan memiliki standard yang baku. Di balik polesan make up menawan mata-mata indah itu adalah bekas sayatan pisau bedah sehingga menghasilkan kencatikan yang palsu.
Taman hidup itu adalah pilihan. Keindahan dan keburukan adanya di telapak tangan. Hari ini saya merenung, memandang daun-daun yang berguguran, menyadari bahwa hidup ini sangat singkat. Sesungguhnya dunia ini adalah panggung sandiwara, dimana ceritanya telah diatur oleh Sang Sutradara. Manusia hanya turut memainkan peran kecilnya, kadang tertawa, kadang menangis, namun semua hanyalah sementara.




November 7th, 2008 at 1:11 pm
ah, betapa senangnya bisa merasakan hidup di tanah seberang yang indah, teratur dan high tech. tapi, ibu pertiwi selalu berbisik memanggil untuk pulang, ya? jangan khawatir. dimanapun kita hidup, Allah Yang Maha Baik pasti menyediakan semua keindahan untuk kita. selamat menikmati hidup yang indah ini….
November 7th, 2008 at 2:53 pm
Tapi..kadang2 kita ngotot juga ya mau mengatur jalannya cerita, haha…
Bener2 sangat indah entry ini, jadi membayangkan duduk di taman dan membiarkan daun2 keemasan itu jatuh satu2 disekeliling, tapi…pastinya dingiiiiin…. anginnya itu loh..
November 7th, 2008 at 4:40 pm
Jadi pengen kesana mbak
November 7th, 2008 at 5:35 pm
Dear Nancy,
What a very sweet and beautiful entry you have made. I felt inside of your writing when I was reading.
CONGRATULATIONS!!! You have made a great entry and thank you so much for your great support in participating at my special event.
Have great autumn!!!
Fida in PA
November 9th, 2008 at 1:47 am
Shalom kak Nancy,
Dalam banget blog ini, membuatku merasa sangat penting menghargai setiap ciptaanNya. Membuatku sadar akan dunia ini masih banyak orang2 yg masih tidak menghargai or percaya akan firmanNya. Kita tidak pernah bisa mengerti panggung sandiwara yg harus kita perankan, hanya Dia yg tahu…( benar sekali ). Tetapi kita manruh harapan dan percaya Tuhan akan mengakhiri panggung sandiwara kita dengan happy ending..Halleluyaaaaaa!!!
Mzm. 106:24
Mereka menolak negeri yang indah itu, tidak percaya kepada firman-Nya
Pkh. 3:11 Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir
November 16th, 2008 at 8:14 pm
suatu saat aku ingin ke korea menikmati keindahan alam, makanan khas dan belanja di toko2 kosmetik korea
Nancy, aku udah kirim email yah… thank you ^^
November 17th, 2008 at 7:40 pm
Dear Nancy,
Would you send me your complete address (ZIP Code) to me? All the supporters and contestants do the same thing.
Thank you and have great blessing!
febri_70@yahoo.com