Nancy Dinar on November 1st, 2008

Saya berterima kasih untuk teman-teman yang telah memperkaya wawasan saya sebelum menulis artikel ini lewat komentar2 mereka. On board, ada beberapa expert yang memang andal untuk menganalisa masalah ini. Boleh dikata lengkap deh, ada Binsar Sitorus (pendeta), Yudhi Gejali (dokter), Indra Karjianto (psikolog), Singal dan Sahala Napitupulu (penulis), Kandar (poet dan filsuf ? :)), Steffany Tan (specialis ayat Aliktab kita :) ); tidak lupa juga saksi hidup seperti Nelotte, Stefanus, Gie, David Hotary: serta komentator berharga lainnya, Gloria Limbong, Ruben Manik, Harry Simbolon, Min2, d~, Peter; bahkan kunjungan dari blogger Muslim yang ikuti koment Ajaran dan Kuro.

Baiklah saya akan mulai dari merangkum beberapa pendapat mereka ditambah dengan masukan dari beberapa buku dan artikel yang saya baca.

1.Depresi bisa diderita siapa saja.

“Depressi, sama siapapun bisa terjadi termasuk pada para pendeta atau penetua, jemaat kristen, atau setiap orang pada umumnya.” Singal

Steffany juga memberi daftar panjang tokoh alkitab yang juga mengalaminya (Abraham, Yunus, Ayub, Elia, Saul, Yeremia dan Daud) kalau boleh saya tambahkan tokoh dari Perjanjian Baru yaitu Yohanes Pembabtis, Yudas, dan Yesus Sendiri. Dari kesemuanya hanya Yudas yang berhasil melakukan “complete suicide”
J

Raksasa rohani seperti Charles Spurgeon dan Marthin Luther adalah contoh lain yang sangat significant. Spurgeon yang dikenal sebagai “Prince of Preaching” mengalami Clinical Depression sepanjang hidupnya. Ada saat-saat dimana selama berhari-hari ia tidak mampu untuk bergerak, kondisi ini membuatnya berulang kali ingin meninggalkan tugas mimbarnya. Penderitaannya karena depresi ini sangatlah berat sehingga satu-satunya penghiburannya adalah mendegarkan istrinya membacakan buku (W. Kirwan “Biblical Concepts for Christian Counseling”). More about Charles Spurgeon.

Marthin Luther suatu sisi mengalami perjuangan mengatasi masalah emosional.

Luther also saw several examples of depression. He used a variety of words to describe this problem. One finds words such as melancholy, heaviness (remember Wesley’s use of this term?) downcast, sad, depression, downhearted and dejection of spirit.” (source here).

2.Depresi berhubungan dengan masalah relationship.

“Namun manusia, perlu teman, perlu penghiburan, perlu berbagi rasa, perlu kita meletakkan diri diposisinya, supaya bisa kita obati, sebagaimana Tuhan Yesus datang sebagai manusia.” Singal

“Mengalami kebingungan, ..tidak dicintai, tidak dimengerti, tidak adil..” Stefanus

“Waktu itu aku masih belon kenal Tuhan sih. Aku decided to kill myself karena rejection and low self-worth sejak dari kecil, and juga pernah di abused sexually. Jadi bikin life tambah meaningless to me.” Nelotte.

Tuhan berkata “Tidak baik manusia itu sendiri saja” (Kejadian 2:18). Relationship atau hubungan adalah esensi dari kebutuhan manusia, kebutuhan untuk dicintai, mencintai; kebutuhan untuk merasa berarti, diterima, diakui; dan kebutuhan bersosialisasi dengan makhluk lainnya.

Harry S. Sullivan mengatakan “Personality is formed by the interpersonal relationship that an individual has, especially with close persons, during his entire lifetime…Personality consists of the characteristic way a person deals with other people in his interpersonal relationships”

3.Depresi adalah masalah spiritual.

“Depresi dan tekanan akan dialami setiap orang yang hidup di muka bumi ini .. perasaan2 tersebut biasanya akan di-amplifikasi (diperkuat seperti dengan sound system imajinatif) dan orang yang tidak memiliki iman dan janji Tuhan Yesus tidak aakn kuat menahannya.” Binsar Sitorus.

“Depresi karena bersalah ” Stefanny

“Kalo dari sudut pandang Kristen (mengacu pada pelajaran iGrow-APS), depresi berkelanjutan bahkan sampai ada intensi utk bunuh diri bisa jadi karena adanya ikatan kuasa jahat/kutuk yg belum dipatahkan.” Indra Karjianto

I’m not denying that depression can be spiritually induced. Guilt from having wronged and hurt others can bring it on. A sense of having failed to live out the will of God can give rise to depression. Certainly the fear of death and what might follow can sap the joy out of life. In such cases, meditation on scripture (especially the Psalms), prayer, and other spiritual disciplines often can make available what the Bible calls “the balm of Gilead” that heals the sin-sick soul (Jeremiah 8:22).(source here)

4.Depresi bisa disebabkan bermacam-macam factor.

“Masalahnya macem2: gara2 broken home lah, cerai, di phk, putus sama pacar, kesulitan ekonomi, dsb.” Gloria Limbong

“Secara medis, depresi ada yg disebabkan oleh alasan psikis, dan fisik. Kalo fisik,biasanya karena Gangguan keseimbangan Neurotransmitter,kurangnya Serotonin.” Yudhi Gejali.

“Depresi, saya setuju bisa dialami oleh setiap orang. Depresi itu bisa lintas agama, lintas partai,lintas suku dan lintas budaya. Mulai dari Artis, politisi, pendeta, wartawan, kaum awam, para blogger hingga komentator blog, semua rentan dengan stress dan depresi. Penyebabnya bisa macam-macam.” Sahala Napitupulu

Selain dari masalah spiritual, depresi juga disebabkan oleh factor-faktor lain yang tidak ada hubungannya dengan iman seseorang tapi berupa pola hidup dan factor genetic. Banyak kasus depresi juga ditemukan pada anak-anak dan bayi. Contoh lain adalah, kelelahan, diet dan exercise dan chemical imbalance.

5.Kesimpulan

Bertahun-tahun yang lalu saya menganggap bahwa depresi adalah sesuatu yang memalukan dan menunjukkan lemahnya iman seseorang. Waktu itu saya belum benar-benar mengenal istilah psikologisnya ‘dan menyebutnya sebagai ’spiritual breakdown’.

Mengetahui bahwa depresi bisa diderita siapa saja membuat saya punya kepercayaan diri untuk ‘come from the closet’ dan mengaku saya juga pernah mengalami depresi bahkan samapai usia 19 tahun pernah 3 kali mencoba untuk bunuh diri (lihat kesaksian saya disini). Percobaan yang terakhir membuat saya berhadapan muka dengan maut, pengalaman yang sangat menakutkan. Puji Tuhan karena Ia menyelamatkan dan membuat saya sadar bahwa hidup itu berharga.

Karena perjalanan hidup saya, maka Tuhan juga mempertemukan dengan orang-orang yang punya pengalaman serupa. Sama seperti C. Spurgeon yang tidak menganggap bahwa penderitaannya melawan depresi adalah dosa melainkan adalah cara agar ia lebih efektif melayani mereka yang juga mengalami masalah serupa.

Saya rasa jika kita tidak pernah mengalami pergumulan, hidup dalam kebahagian senantiasa, kita tidak bisa melayani orang-orang yang menderita.

Banyak hamba Tuhan yang membuat Kekristenan menjadi sesuatu yang menakutkan. Jika seseorang memiliki masalah emosi dengan gampangnya mereka berkata,

“Anda harus lebih banyak berdoa dan baca Alkitab!;

“Barangkali ada dosa yang belum diakui!”,

“Cobalah bertobat dan minta ampun!”; ”

“Mungkin Anda harus dilepaskan dari kutuk dan roh jahat”.

Inilah sikap saya beberapa tahun lalu sampai Tuhan membawa saya ke dalam ’spirital agony’ yang dalam dan lebih berhati-hati sebelum memberi label ‘rohani’.

Pada akhirnya yang akan menetukan menang atau kalah seseorang bukanlah jenis pertandingannya tapi hasil akhirnya!

Saya juga ingin sekaligus menjwab pertanyaan d~

“cm ga tau napa masi ragu aja, klo ada masalah malah buat gw makin takut beharap ke arah Tuhan. Gw lebih suka mikir kl ‘mang hidup mang gitu ya, ga bkal pena adil. Kalo kita menderita masi byk kok org yg sneng hati ganti’in posisi kita, n jg masi byk yg unbeliever yg bisa betahan kok tanpa Tuhan. Juga gw ga bkal tau kl gw pcaya ma ga pcaya ada bedanya ga” (aduh ini masih bahasa SMS).

Apa perbedaan orang Percaya (Kristen) dan Tidak Percaya (non Kristen)?

Jika dalam hal masalah, tidak ada bedanya. Orang percaya maupun tidak sama sama akan mengalami masalah dalam hidupnya bahkan kadang kala orang percaya lebih banyak masalahnya.

Jika dalam hal penyelesaian masalah, sedikit bedanya. Ini tergantung dari kedewasaan rohani, mental, pendidikan, personality, karakter, dll. Jadi kepercayaan hanya memainkan salah satu factor saja.

Jika dalah hal pengharapan (hope), disinilah perbedaan besarnya. Seandainya manusia adalah pemain trapeze (acrobatic yang melompat dari tali ke tali dalam permainan circus), maka Yesus Kristus adalah jala-jala penahannya. Kadang kala para pemain acrobat ini tidak mempergunakan jala tersebut sama sekali karena pada dasarnya mereka sudah sangat ahli dalam permainan ini. Namun, jala tersebut memberikan mereka rasa percaya diri untuk lebih bermain cantik bahkan melakukan manuver yang berbahaya. Mereka tahu jika mereka jatuh, maka akan ada yang menahannya.

Tags: , ,

6 Responses to “Pandangan Kristen tentang Depresi”

  1. btw, ngikutin laskar pelangi ga..gw suka ma lagunya nidji, klipnya ada di youtube koq..aga mirip2 ma points diatas..kl kita harus punya mimpi di hidup ini (tgantung ma vision or tujuan hidup kale ya), tapi walo yg kita harapin ga kecapai karna dunia ga adil ..ya tp tetep aja bsukur ma yg maha kuasa, afterall lo masi punya cinta dr org2 yg lo kasihi hehhe..jd ga plu ampe depresi2 amat hehhe

  2. Shalom Kak Nancy,

    Ya benar kak, setiap orang pernah mengalamin depresi, tetapi ada 3 hal yang sangat penting dalam hidup kita didalam kekristenan( yang saya dapatkan dari kesaksian pastor Benny hari ini ) yaitu:

    1.terbang ( apa yang dimaksud dengan terbang ? )
    Disaat terbang, pastor Benny melihat kemuliaan Tuhan yang luar biasa, mujizat terjadi saat melayanin Tuhan,begitu semagat, begitu mengebu2,mengalami semagat yang luar biasa.

    2.berlari
    Disaat berlari, timbul kekosongan dalam hati. Mang masih melayani dan bermain keyboard tetapi hanya menganggap rutinitas. Timbul kebosanan dalam diri.

    3.berjalan
    Disaat berjalan, inilah yang terberat bagi setiap orang dan seperti yang dialami pastor Benny, merasa Tuhan dah meninggalkannya, dan saat meragukan keberadaan Tuhan, saat * sorry * dah muak yang namanya kekristenan karena kehilangan papanya yg tercinta plus harus duduk di kursi roda 2 bulan karena jatuh. Dalam hatinya dia bertanya kepada Tuhan, mengapa papanya harus pergi dalam usia yang relatif muda yaitu 59 taon, padahal masih banyak yang mau dikerjakan bareng,saat masih memerlukan sosok seorang ayah, dan ditambah masalah mengapa dia harus jatuh dan duduk di kursi roda? Padahal dia melayani Tuhan, menginjil kemana2,ke pelosok2 kampung2, dihadapan ribuan orang bahkan pernah hanya 3 orang jemaat tetapi mengapa?????

    Pada saat berjalanlah Tuhan melihat keteguhan hati kita masing2 apakah kita tetap setia kepadaNya? Apakah kita masih menaatiNya?

    Yes 40:29-31

    40:29
    Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.

    40:30
    Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung,

    40:31
    tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

    Jika saat kita terbang, terbanglah setinggi2nya…Jika berlari jangan coba2 untuk terang tetapi berlarilah terus jangan berhenti dan nantikanlah Tuhan untuk memberikan kekuatan baru untuk menjadi seperti rajawali.

    Jika berjalan, berjalanlah tetapi jangan meninggalkan Tuhan meskipun saat ini saat depresi kita karena orang yang menanti2kan Nya tidak menjadi lelah.

    Demikian kesaksian dari pastor Benny yang akhirnya memilih tetap setia dan taat meskipun Tuhan sudah memanggil orang yang dikasihinya dengan mengambil contoh abraham yang rela mengorbankan anaknya ishak, serta mengambil contoh Tuhan Yesus yang setia dan taat sampai mati sehingga mengoyakkan tirai yang membatasi kita dengan kekudusan Tuhan sehingga kita bisa dekat dan masuk ke dalam hadiratNya.

    Dan khusus untuk @d~…jika kita semua masih bernafas berarti Tuhan masih ada, karena oksigen yang kita hirup tidak dapat di lihat dan di cek keberadaan nya..cuma bisa dirasakan dan dihirup. Apa jadinya kalo Tuhan menarik sedikit saja nafas kita…yang pasti kita akan megap2 hehehehe. Dan jika tahu perbuatan tuh salah napa harus melakukan nya? kita tidak bisa salahkan seorang anak kecil karena tidak tahu membedakan perbuatan salah or benar? sorry d~ cuma saya merasa heran kalo baca komentarmu hahahaha…..Gbu

    God bless u kak Nancy…jia yiuuuuuuuuuu muachhhhhh!!

  3. apus comments aja :D tq ya.
    btw register make ~ ga bisa ya

    ga bisa nahan hati komentar si setep hehueu..

    gw juga kdang heran loq baca komentar lo..
    plain pna nulis ini ne, kdang gw ngerasain yg sama..
    baca smua disni hanya buat gw mikir apa emang gw kurang beriman ya.. ato gue mang selama ini hanya wasting time doank “masi” berharap sesuatu yang invisible and yet has to be believed itu ada, ato emang Tuhan sebenarnya gak ada..

    huehue lo pasti makin heran lg kan :p ga bkal pena nyambung se mnurut gw..gw tau, gw salah tempat kl mo bahas ini disini :D.. palingan mentok2 avoid “why”.. ga tau jg kalo gw - thinkin..whahaha ..ga tau d ..lg males mikir..

  4. Dear Nancy,

    I am so proud of you. Everytime I visit here, I always have great time to read your great posting. I really enjoy reading your writings. You have talent in it.

    About my event, yeaaaa, posting cepetan ya. Boleh di Blogmu atau di http://www.kabarindonesia.com bila memang Nancy ingin postingannya menjadi berkat lebih banyak orang lagi. Daftar jadi Penulis di sana dgn klik ‘Daftar Jadi Penulis’ dan stlh account diaktifkan, maka Nancy sudah siap utk kirim tulisannya di sana. Jadi Nancy tinggal kirim link-nya saja baik si Blog Nancy atau/dan di http://www.kabarindonesia.com

    I can not wait to read your entry.

    Regards from PA

  5. trims, udah kukunjungi nech blogmu Nancy, aku akan baca2 dengan detail about depresi dan Hamba Tuhan. Trimakasih. GBU

  6. Depresi? hmm saya pernah tuh apalagi urusan kuliah..Tp kl namanya orang percaya pasti bisa mengatasi..”Do your best and God will do the rest” ya kan?
    Menarik ni tulisannya…bakal sering kesini nih :D

    Gbu

Leave a Reply