Nancy Dinar on October 25th, 2008

Isu kontroversial mengenai homoseksualitas

Topik mengenai homoseksualitas saat ini sedang menjadi isu hangat bukan hanya di Indonesia saja namun di seluruh dunia. Di dalam negeri, sudah semakin banyak gay dan lesbian yang ‘come from the closet’ dan secara terang-terangan menyebutkan identitas diri mereka. Stigma masyarakat yang menganggap prilaku ini sebagai ketidaknormalan sedikit demi sedikit mulai terkikis.

Di Amerika, kalangan Kristen seperti kebakaran jenggot menghadapi kenyataan bahwa masayarakat yang di dukung oleh media massa dan kekuatan politik semakin serius memperjuangkan hak-hak kaum homoseks seperti pernikahan sejenis, adopsi anak, dan hak  lainnya yang juga diterima oleh pasangan berbeda jenis.

Kalangan Kristen konservatif mengkhawatirkan jika Amerika yang selama ini menjadi acuan dari banyak Negara melegalkan pernikahan sejenis maka negara lain diberbagai belahan dunia  juga akan mengikutinya. Ini berarti semakin tersudutnya praktek nilai-nilai konservatif  Kristen.

Para pemimpin agama di Amerika juga memprediksikan  jika Undang-undang pernikahan sejenis disetujui, gereja akan dipaksa (demi hukum) untuk melangsungkan pernikahan para gay dan lesbian; demikian juga sekolah-sekolah akan memperkenalkan dan mengajarkan pernikahan sesama jenis sebagai suatu pilihan yang wajar.

Mengapa kalangan homoseks kian mendapat perhatian dan kesempatan untuk memperjuangkan hak-hak mereka?

Salah satu sebab utamanya adalah stereotype masyarakat yang selama ini memandang homoseks sebagai aib yang memalukan. Di tanah air homoseks dan transgender adalah sasaran lelucon. Pandangan masayarakat yang menghakimi dan penolakan mentah-mentah ini menjadikan kaum homoseks ekslusif, membentuk kelompok sendiri, dan setelah mendapatkan kekuatan yang cukup merenggut kembali hak-hak mereka yang hilang selama ini.

Memenangkan kaum homoseks tidak bisa dengan cara antipati terhadap orientasi yang telah mereka anggap takdir atau nasib mereka. Tidak juga dengan sikap toleransi dan penerimaan tanpa syarat karena  prilaku ini sangat jelas bertengangan dengan Firman Tuhan. Kedua sikap yang ekstrim ini tidak akan memberikan solusi bagi para kelompok homoseks yang pada dasarnya juga sedang mencari jawaban dan jalan untuk berubah. Pada kenyataannya, banyak penderita kelainan orientasi seksual yang sedang bergumul dan butuh pertolongan.

Jika demikian apakah sikap yang harus kita ambil  sebagai orang Kristen?

Pilihan atau Dilahirkan?

Sebelum mengambil sikap sebaiknya kita harus mengerti latarbelakang dan kontroversi mengenai Homoseksualitas ini.

Sejak tahun 1972,  di Amerika, homoseksualitas tidak lagi dianggap sebagai mental disorder atau kelainan jiwa dengan dikeluarkannya dari daftar DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder).

Sejak saat itu pula para psikolog dan psikiater Amerika  menjadi ‘leading force’ yang mendidik masyarakat untuk menerima homoseksualitas sebagai suatu bagian dari variasi seksual yang normal. Usaha mereka antara  lain adalah mendidik orang tua dan guru untuk menerima anak-anak yang memiliki orientasi homoseksual sebagai anak yang normal, mencabut license konselor/therapist  yang melayani re-orientasi seksual (conversion therapy), serta memberi label kepada kelompok yang menentang homoseksualitas sebagai homophobia.

Sikap dan pendapat mereka ini bertolak dari argument yang mengatakan bahwa usaha apapun yang dilakukan untuk mengubah seorang homoseks menjadi heteroseks akan gagal. Seseorang yang telah mengikuti therapy reorientasi kemudian gagal sangat besar kemungkinan menderita depresi, anxiety atau mental disorder lainnya.

Menurut APA (American Psychological Association) Ameracan Psychiatric Association, homoseksualitas adalah immutable (tidak bisa diubah) karena orientasi seksual ini bukanlah pilihan seseorang. Mereka percaya bahwa orientasi seksual dilahirkan. Beberapa penelitian yang diadakan juga mendapati bahwa ada kelainan hormone dan fungsi otak dari penderita homoseks. Tekanan sosial, gagalnya therapy reorientasi, diskrimimasi masyarakat dipercaya menjadi penyebab para homoseks semakin menderita serta meningkatnya angka bunuh diri di kalangan mereka.

Di kubu lain yang tidak kalah panas, adalah kelompok yang percaya bahwa homoseksualitas adalah pilihan hidup.  Perubahan orientasi seksual bukanlah suatu hal yang tidak mungkin asal ada keinginan yang kuat dari yang bersangkutan. Pendapat ini tentunya sebagian besar di support oleh kalangan Kristen konservatif  dan kelompok psikolog/prikiater yang jumlahnya semakin hari semakin bertambah.

Argument mereka juga berdasarkan penelitian yang yang mengubungkan adanya pengaruh factor lingkungan terhadap penyimppangan prilaku seksual. Misalnya, hubungan antara ibu-dan anak perempuan yang tidak harmonis (bagi homoseks wanita) dan absennya figure ayah bagi (homoskes pria). Ketidakmampuan seorang anak laki-laki beradaptasi dengan anak kelompok bermainnya (yang sejenis) juga bisa menjadi factor penyebab.

Dapat dikatakan bahwa penderita homoseks kemungkinan besar adalah anak-anak yang tidak dekat dengan ayahnya, mereka yang berulang kali mengalami penolakan atau mereka yang memiliki figur ayah yang ‘kejam’.

Faktor penyebab lainnya adalah semakin gencarnya promosi homoseksualitas yang dipimpin  oleh media massa (tv, majalah, film) dan tokoh masyarakat, meningkatnya jumlah gay activist yang secara terang-terangan memperjuangkan hak-hak mereka, serta bertambahnya simpati  dan toleransi masyarakat bagi kelompok ini. Semua ini membantu memperkuat indentitas diri kaum homoseks dan menutup pintu bagi mereka untuk mencari jalan keluar.

Homoseksualitas dalam Alkitab

Ray Anderson, seorang counselor Kristen menegaskan bahwa tidak satupun kalimat yang  mendukung homoseksualitas di dalam Alkitab apapun konteksnya. Baik Perjanjian maupun Perjanjian baru  bahkan tidak pernah  membedakan antara orientasi seksual dan preaktek homoseksual. Menurutnya, konsep mengenai pengaruh psikologis dan biologis yang menjadi landasan hubungan homoerotic adalah konsep zaman modern dan merupakan konsep yang asing dalam Alkitab.

Meskipun Yesus tidak pernah secara langsung menentang homoseksualitas tapi di dalam Perjanjian Baru Rasul paulus dengan jelas mengutuknya, “Janganlah sesat! Orang cabul, peyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah” (Do you not know that the wicked will not inherit the kingdom of God? Do not be deceived: Neither the sexually immoral nor idolaters nor adulterers nor male prostitutes nor homosexual offenders” will inherit the kingdom of God.

Homoseksualitas digolongkan bersama dosa immoral lainnya. Penyembah berhala, pezinah, banci (male prostitute) dan pemburit (homoseks) ditulis dalam analogy pararel. Kata Homseksuality (Pemburit) dalam terjemahan bahasa Inggris lainnya disebut ‘sodomite’. Menurut Furnish, kata sodomite ini berarti intercourse dengan sesama pria.

Idea ‘male prostitute’ berasal dari bangsa penyembah berhala disekeliling Israel. Secara konstan bangsa Israel diperhadapkan pada sikap immoral bangsa-bangsa ini yang menganggap homoseksualitas sebagai kreatifitas bahkan mempekerjakan ’male prostitute’ di rumah-rumah ibadah mereka. Bagi beberapa kebudayaan, homoseks dianggap sebagai orang suci, contohnya orang Atena, Indian Eskimo, dan suku-suku di Amerika Utara (Cole).

Sementara itu, bagi orang Israel homoseksualitas adalah kejahatan dan dosa. Tidak heran jika Tuhan melarang kawin campur antara orang Israel dengan bangsa-bangsa tetangganya. Orang Yahudi menganggap homoseksualitas sama dengan penyembahan berhala. Dalam Perjanjian Baru homoseksualitas bahkan dipandang sebagai hawa nafsu yang memalukan dan tidak wajar. “Karena itu, Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar” (Roma 1:26-27).

Pealyanan terpadu sebagai solusi

Orang Kristen bisa memilih untuk menerima keadaan homoseks apa adanya atau menolak mereka. Namun, kedua pilihan ini tidak akan membawa solusi. Banyak kaum homoseks yang sebenarnya terjebak dalam dunia yang tidak diinginya dan butuh jalan keluar.

Sebagai orang Kristen yang percaya pada seluruh kebenaran Alkitab, kita menyadari bahwa awal dari masalah emosional manusia adalah terputusnya hubungan dengan Tuhan. Dosa dan kematian adalah konsekuensi dari kejatuhan ini. Oleh karena itu pemulihan hubungan dengan Tuhan melalui Yesus Kristus adalah satu-satunya pintu masuk pada pemulihan emosional secara keseluruhan.

Setiap individu pasti pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Meskipun penelitian membuktikan adanya element ‘abuse’ pada masa kanak-kanak mereka yang mempunyai orientasi homoseksual namun pengalaman masa  lalu mereka pasti beragam. Ini berarti  kita tidak bisa memandang homoseksulaitas hanya dari satu sudut padang.

Anderson selanjutnya menyarankan untuk menanggapi issue homoseksualitas dalam kerangka spectrum yang lebih luas. Orientasi homoseksualitas bisa saja disebabkan oleh berbagai kasus, oleh karena itu solusi yang ditawarkan hendaknya berdasarkan berbagai pertimbangan.

Pendekatan yang paling efektif seharusnya dimulai dari keluarga Kristen. Pendekatan terhadap homoseksualitas yang terpadu dapat meliputi:

a. Bagi Keluarga Kristen:

1. Pencegahan

Perlengkapi anak-anak kita dengan iman dan nilai Kristen yang kuat.

Perlengkapi anak-anak kita dengan pandangan yang Alkitabiah mengenai homoseksualitas sebelum TV, majalah, teman-teman dan lingkungan membantu medefiniskan homoseksulatias sebagai prilaku yang normal untuk mereka.

2. Perlindungan

Lindungi anak-anak kita dari physical dan emosional abuse baik dari orang tua maupun keluarga dekat lainnya.

Lindungi anak-anak kita dari lingkungan dan pergaulan yang merusak nilai-nilai Kristen.

b. Bagi Kaum Homoseks:

1. Intervensi

Beri intervensi bagi anak-anak dan orang dewasa yang menunjukkan orientasi homosekual dengan penuh pengertian dan penerimaan (tidak dengan sikap menghakimi).

2. Koreksi

Berikaan koreksi jika terlanjur ada anggapan yang salah mengenai homoseksualitas sebagai prilaku yang tidak bisa diubah, kenyataanya homoseksualitas bukan sesuatu hal permanent dan banyak kesaksian dari mereka yang telah telepas darinya.

3. Reorientasi

Berikan usaha apapun itu (konseling, psikotherapy, bimbingan rohani) untuk membantu mereka berubah namun harus dilakukan dengan cara yang supportif dan unik  dengan melihat setiap pribadi kasus demi kasus.

Tags: , ,

8 Responses to “Homoseksualitas : Takdir atau Pilihan?”

  1. btw yg gereja dipaksa ntuk nerima merit sejenis, itu hanya dugaan doank kan? kayaknya legal lebih ke benefit kyak medical, taxes, etc..
    yg pas CA and MA legal, setau gw civil doank d, ga religius..kl pun religius pasti lbh milih gay church la, ngapaen jg masuk greja org straight heuhehe..

    btw yg ada d alkitab kan beda, yg skrang kebanyakan HS kan hanya sayang doank bkn karna mang berontak ma Tuhan, bkn karna ga puas sex, etc..

    dr bahas2 d tempet laen, pengertian gw yg slalu buat salah karna merit hanya define ntuk cowo n cewe doank, so d luar itu tetep dosa ..lepas mo HS or straight kl da sex d luar merit ya jd salah..

    jd kl ga lakuin sex, gpp … cm masalahnya kebanyakan HS ya lakuin sex heuhehe.. :p

    dulu gw mikirnya, kenapa seq harus dibuat ribet, kl suka ma sejenis artina HS, kl suka ma lawan jenis artinya straight. Karna gw ga pena suka ma cowo so gw lez dunk hehhe.. n jd HS kan sebenarnya ga ngerugiin sapa2, juga suka ma suka..yg slalu jd masalah kan karna diblg itu salah..tmasuk yg point diatas…d alkitab blg ga bole, tp tetep ga jelas ga bolena napa.. kenapa sayang bs jd salah .. hehehe cliche abis se alasanna ..i know :P

    kl masa lalu, ya..gw kdang suka binun kebanyakan baca teori2, kdang buat gw mikir2 n match ma idup gw.. cm tetep aja itu uda uda lewat kan, masa lalu ga bkal pena berubah.. n itu jg ga pna ngerubah yg skrang which is perasaan suka ma sejenis..

    kl dlbg masuk neraka ya mo gmana lg, kayaknya uda pasrah se hihihi :D

    nancy lohan aja blg asik ma cewe dia huehue :D

  2. Saya rasa tergantung pada PILIHAN yg dibuat.
    Ketika seorang gay memutuskan utk Takut akan Tuhan dan Menghormati Firman-Nya serta mau Melakukan Firman-Nya, saya percaya, Tuhan akan memberi dia kekuatan dan kemampuan untuk melepaskan diri dari orientasi seksual tsb.

    Saya punya seorang teman yg dulunya adalah gay selama bertahun-tahun. Namun pada suatu hari, dia menyadari bahwa kehidupannya tidak memuliakan Tuhan. Akhirnya dia mencari Tuhan, bersimpuh di hadirat-Nya dan memohon ampun. Ajaib..Tuhan menolongnya memberikan kekuatan utk melepaskan diri dari belenggu dosa tsb.

    Sekarang teman tsb sudah menikah dengan seorang wanita dan dikarunia anak. Bahkan terakhir ketika saya berjumpa, dia terlibat dalam pelayanan di Gereja. Jadi kesimpulannya sederhana, Mau atau tidak untuk berubah? Kalau mau dan memilih utk itu, saya percaya Tuhan akan menolong.

    Ingat loh, Tuhan tidak menciptakan dan mengawinkan Adam dgn Adam…But Adam dgn hawa.

  3. Nah itu tuh judul-nya pas, saya baca di tulisan seorang kawan blogger yang berkisah ttg homoseksualitas, pada akhir tulisannya teman tersebut memilih kata: pilihan, untuk merangkum kisahnya ttg seorang perempuan yg akhirnya menjalin hubungan dgn sesama jenis karena trauma masa lalu.

    Kalau pilihan berarti secara sadar dia melakukannya, bukan soal bisa atau tidak bisa, tetapi soal mau atau tidak mau. Sedangkan kalau takdir, berarti sudah dari sananya begitu, bukan mau atau tidak mau tapi sudah masuk ke bisa atau tidak bisa sehingga kesalahan berada ada dilemparkan kepada yg menciptakan (salah design atau damage product).

    Saya pny teman blogger yg dulunya lesbian dan sekarang tidak lagi, dan menurut kesaksiannya dia bisa sembuh karena dia mau. Saya melihat bhw dia sangat gigih mempertahankan kedekatannya dengan TUHAN, dan benar2 mau melihat larangan di Alkitab sebagai sebuah larangan yg tidak perlu diperdebatkan, walaupun awal2nya dia mmg memperdebatkannya, namun akhirnya, penerimaannya terhadap larangan tsb-lah yang menarik dia keluar dari ‘lembah’ yg dijalaninya dan puji TUHAN, kini dia menjadi normal.

  4. Gw jg punya temen tuh – hihi ga mau kalah – :p

    yg awalnya uda berusaha ntuk brubah tp nyatanya balek lagi..
    n nyokap tmen gw jg ada yg uda merit n punya anak then akhirnya cerai n balek ke ex cewenya yg dulu :P

    point gw se, harus tetep perhatiin kl ada aja fenomena yg “gagal” jgn fokus yg “sukses sementara” nya aja dunk ..
    misalnya kayak si Mel White, uda brusaha segala cara kan cm tetep ga bisa..

    kl perhatiin yg “gagal” ini artinya emang ada yg ga jadi pilihan kan ..

    nah loq hehehe… :P

    kl mnurut gw ya yg subjektip abiez hehehe..
    kl emang pelarian karna sakir hati n laen2 emang ga bs bertahan lah, paling ga betah jg ama sejenis …
    n kl pun ada yg mau brubah kyak diatas tu, gw masi mikir itu bkn karna Tuhan, blg aja kl emang ga ketemu2 pasangan same sex yg cocok, gagal trus, ato tekanan keluarga, lingkungan.. etc.. etc..
    Tuhannya kan hanya ntuk pembenaran aja tp bkn alasan utamanya :p

    btw, aga lucu jg si, dulu gw sempet sewot ma org yg entah kenapa malah crita kl dia mau putus ma cewenya coz alasan Tuhan yg blg kl lez itu salah bla..bla….Yg buat gw bete abiz, dia kan uda tau kl gw ga bs nerima kata putus. Koq mala blg gw se, ya pasti gw ga setuju ma keputusan dia. Seharusnya kan dia pegi ke org2 kristen or pdt yg jelas2 dukung dia..bkn salah tempat n nyari masalah dengerin gw yg jelas2 ga setuju..
    en.. kl gw bandingin ma gw skrang…ngapaen jg gw nulis2 disini.. ma org2 yg jelas2 ga bkal ngerti n setuju ma gw heuhehe..

    tenyata gw ga beda2 amat ma tmen gw itu hihihi :D ..

    ga penting si yg bagian ini..
    biar ada lucu2nya aja jd aga sante .. abiez koq kayaknya pada serius2 ya org2 disini hihi.. perasaan gw aja kale ya :p

  5. Shalom,

    Saya mendapat kesaksian bahwa homoseksual dapat berubah, coba cek disini…Tuhan memberkati !!!

    http://hk.youtube.com/watch?v=.....re=related

  6. jelas org yg di youtube itu mau brubah, la dia pengen jd pdt hihihi :p

    tetep aja claim of success dr HS slalu jd kontraversial :P

    katanya mc.kinsey, spektrum dr sex activity. Bs dbld kl midpoint itu bisex, n point laen yg xtrim, straight n satunya HS. So kl org masi bs brubah, artinya dia ga di point xtrim.

    Klao dia di Xtrim HS, ga bisa brubah, n ga ada pilihan :p hihihi..

  7. wah ada juga yg bahas beginian :p hahax
    kalau aku mau berpendapat buat si d~ menurutku si HS yg akhirnya kembali lg itu krn dia kalah dan tdk dapat mempertahankan kemauannya. Karena yg namanya dosa itu mengikat, dan harus di lepaskan dengan kemauan yg kuat dari si pelaku. Lagian soal yg km blm pernah jatuh cinta dengan cowok, kurasa (yah bisa salah seh) km ada kepahitan sama cowo or bisa aja kan blm ada cowo yg emang memikat hatimu, tapi bukan berarti tidak ada. Karena, aku yah tdk bisa cinta pada semua wanita yg ada di dekatku, walaupun cantik, karakter mantap dan sebagainya.

    Yah intinya seh dari qt mau berubah gak, kan dah tau kalau itu berdosa, ada kemungkinan utk kembali berbuat dosa selama qt hidup dalam tubuh daging ini, tapi ada gak keinginan utk kembali ke jalan yg Tuhan tetapkan?? kalau tdk mau balik ya udah terima konsekuensi dari hukum dosa itu. Tapi kalau mau, aku yakin Tuhan akan memberikan qt kekuatan utk berubah, saya juga sampe saat ini ada dosa yg susah buaaaangeeeetttt utk di lepaskan. Tapi saya akan berusaha terus utk tdk jatuh lg. Mari qt saling mendoakan, trus sapa tau km ketemu aku trus bisa jatuh cinta ^,^ wkwkwkwk

  8. apakah bisa seorang gay or lesbian tetap menjadi seorang kristen??

    point-nya kan hanya gay or lesbian. bukannya Kasih diatas segala-galanya. apabila ada seorang HS tapi dia pelayanan dan hidupnya mengikuti semua aturan Firman (kecuali HS-nya itu sendiri),

    sebenarnya inti Kristen itu Kasih kan??
    dying banget tau jd HS yang masih Kristen n mau keep on doing ministry

Leave a Reply

Bluehost.com
BlueHost.com

[an error occurred while processing this directive]


© 2003-2009 BlueHost.Com. Toll Free (888) 401-HOST(4678)