Saya tidak menyangka bahwa tulisan saya tentang “Pendeta Kaum Homo” di blog ini maupun Jawaban.com mengundang banyak respons. Ternyata banyak yang berminat tentang topik ini. Sayang comment dan respon yang ada di luar dugaan saya.
Secara pribadi saya tidak menganggap dan tidak setuju dengan pandangan yang menganggap bahwa LGBT sesat. Yang saya maksud sesat adalah tindakan ‘misleading’ dari Pastor Mel White sebagai pemimpin agama yang mempraktekkan, mendukung, mengkampanyekan, memperjuangkan HS. Tindakan ini berarti menutup pintu bagi ribuan atau puluhan ribu kaum HS yang semula memiliki keinginan untuk berubah.
Pandangan sinis, prejudice, judgmental dan penolakan mentah-mentah dari orang Kristen juga menjadi salah satu penyebab bagi pada HS untuk menjauhi gereja yang tentunya juga menutup kesempatan bagi mereka untuk dilayani secara efektif. Jika karena orientasi seksual mereka berdosa, siapakah yang tidak? Siapa yang sanggup melewatkan satu hari saja tanpa berbuat dosa? Membenci dosa tidak sama dengan membenci pelakunya.
Masih banyak anggota masyarakat yang menganggap HS sebagai penyakit menular atau borok mengerikan. Di Indonesia, kaum Gay dan Transgender bahan lelucon dan ejekan (drama, komedi TV mempertontonkan stereotype gender dgn ejekan). Tidak terbayangkah bahwa mereka juga manusia sama dengan kita juga yang butuh penerimaan dan apresiasi diri?
Kebanyakan orang yang terlibat hubungan HS yang saya temui memiliki latar belakang kehidupan yang sulit sejak masa kanak-kanaknya walau sebagian juga karena terpengaruh lingkungan setelah dewasa. Mereka adalah orang-orang paling membutuhkan dukungan dan belas kasihan. Dengan orientasi seksual mereka sudah cukup menderita karena merasa lain dari yang lain. Sikap penolakan masyarakat selanjutnya juga membawa mereka pada perasaan terbuang dan tertolak sehingga membuat jalan pemulihan menjadi lebih sulit.
Jadi, bagaimanakah seharusnya sikap kita sebagai orang Kristen?
Kontroversi Mengenai Homoseksuality
Sebelum mengambil sikap sebaiknya kita harus mengerti latarbelakang dan kontroversi mengenai Homoseksualitas ini. Sejak tahun 1972, HS tidak lagi dianggap sebagai disorder atau kelainan jiwa dengan diluarkannya HS dari DSM-IV. Sejak saat itu the American Psychiatric Association) menjadi ‘leading force’ yang mendidik masyarakat untuk menerima HS sebagai suatu bagian dari variasi seksual yang normal. Orang tua dididik untuk menerima anak-anak yang memiliki orientasi HS sebagai anak yang normal, para prsikolog dan konselor tidak diperbolehkan melayani HS yang ingin berubah orientasi seks (re-orientasi seksual/conversion therapy), dan
orang yang menentang HS disebut Homophobia.
Pendapat ini bertolak dari argument yang mengatakan bahwa usaha apapun yang dilakukan untuk mengubah seorang homoseks menjadi heteroseks akan gagal. Seseorang yang telah mengikuti therapy reorientasi kemudian gagal sangat besar kemungkinan menderita depresi, anxiety atau mental disorder lainnya,
Menurut APA, HS adalah immutable (tidak bisa diubah) karena orientasi seksual ini bukanlah pilihan seseorang. Mereka percaya bahwa HS dilahirkan, beberapa penelitian yang diadakan juga mendapati bahwa ada kelainan hormone dan fungsi otak dari penderita HS. Tekanan sosial, gagalnya therapy reorientasi, diskrimimasi masyarakat dipercaya menjadi sebab para HS semakin menderita dan meningkatnya angka bunuh diri di kalangan mereka.
Di kubu lain yang tidak kalah panas, adalah kelompok yang percaya bahwa HS adalah pilihan hidup, perubahan orientasi seksual bukanlah suatu halyang tidak mungkin asal ada keinginan yang kuat dari yang bersangkutan. Pendapat ini tentunya sebagian besar di support oleh kalangan Kristen Evangelical dan kelompok psikolog yang jumlahnya semakin hari semakin bertambah.
Mereka berpendapat bahwa (1) Perlunya otonomy seseorang yang ingin berubah (maksudnya, jika ada yg HS yang mau berubah tidak boleh ditolak) (2) Perlunya menghargai nilai-nilai budaya dan pandagan agama mengenai prilaku seksual (3) Memperhatikan dan mengakui bahwa ada bukti-bukti dari reorientasi seksual yang sukses.
Tulisan saya berikutnya dalam Bahasa Inggris (belum sempat diterjemahin).
Lesson Form Mel White
As Christian we learn from Mel White experience that claim any religious effort he’s done was in vain. He thus concludes that his orientation must therefore normal and God-ordained. Although his view seems to be simplistic but he found tremendous supports.
What Christian Counselor and Therapist may react to such approach? Should we abandon the Biblical framework for the secular counterpart? Because many therapists including Christian been silent and just follow the authority. Some therapist although believes the abnormality of homosexual are been afraid from disqualification. Many researchers have been intimidated into trading truth for silence (Anderson).
Media in the other part play a big role to promote homosexuality. Famous person without reluctance declare their homosexual orientation and seem proud of it. Movies portray gay and lesbian honestly and desirably. News reports homosexual family and their children. Newspaper and magazine wrote about homosexual people and their story interestingly. The face of homosexual world described attractive and fascinating. People are more used to this exposure.
Christian Perspective
Ray Anderson suggests his Christian Perspective upon Homosexuality:
- First, there are no positive statements in the biblical literature regarding same sex relations, regardless of what the context may be. At best, those who argue that same sex relations which take commitment and loving human partners are within God’s
purpose must argue from silence. - Second, the scriptures of both Old and New Testament appear to make no distinction between homosexual orientation and homosexual acts. Indeed, the concept of a psychological or biological predisposition to homoerotic relations appears to be modern one, quite foreign to biblical worldview.
- Third, the moral issues relating to homosexuality is an orientation or a practice but by the way in which one’s sexuality is related to the intrinsic nature of human personhood as created in the image of God.
- Fourth, a theological and pastoral approach to the issue of homosexuality within the church must take into account a wider spectrum of biblical teaching than merely the few texts which condemn specific homosexual acts.
What choices we have?
Christian counselors along with most churches can avoid argumentation or they can openly against it. But neither of these two approaches will be successful. Homosexual person will avoid come to the church a place where they are not belongs. Ex-gay ministries conducted by churches will gain less popularity in its effectiveness. Church becomes a place only with perfect people who have heterosexual orientation.
These are some choices we have toward gay and lesbian friend in the church:
Be prejudice
And they will find people who will tolerate them
Be ignorant
and they will go to the community that recognize them
Be reluctant
and they will figure out another way to be significant
Be judgmental
and they will walk-off to the people who agree with them
or
Be a solution
where they find support and compassion
Friend, we are different but we’ll grow together
not according to your way
not even mine
but according to the Way, the Truth and the Life
Nancy’s Suggestions for Solution
Each individual has been trough different situation. Although according to research there are violent and abuse elements in childhood experience of those who has homosexual orientation, but the upbringing may vary. Christian cannot view homosexual solely in one motive alone.
I agree with Anderson who says Christian and pastors should take wider spectrum to view homosexuality. Regarding the homosexual orientation may ground not limited to one factors but multiple causes, therefore the solution we offer should be based on variety.
The approach should begin from Christian family and then going to affect other.
Multi-approaches of homosexual solution could be:
a. For our children and family:
1. Prevention
Prevent our children from misleading understanding about homosexuality.
Prevent our children with a strong Christian faith and values.
2. Protection
Protect our children to the violent and abuse cause by parents or significant other.
Protect our children from unfitted environment lead to deformation of Christian values.
b. For Gay and Lesbian Fellows:
1. Intervention
Give intervention to the children and adult who has homosexual orientation with care and acceptance.
2. Correction
Give correction to misunderstanding of the unchangeable of homosexuality with education, information and research results.
3. Reorientation
Give whatever effort to do reorientation with supportive and uniquely approach to each individual.
Baca juga Revisi tulisan ini di ”Homoseksualitas: Tadir atau Pilihan?
Tags: Church, Gay, Homoseks, Psychology, Spirituality



October 24th, 2008 at 10:40 pm
emang ada ya yg sukses brubah dari HS?
dalam arti sukses ampe dia dah tua and dah mninggal misalnya, ga balek2 lagi ke HS..
klo yg gw liat se, dr tmen, tmennya tmen, nyokap tmen, bosnya cousin, etc, etc ..mirip2 si Mel White.. uda brusaha setengah mati tp akhirnya nyerah n kembali jd HS ..
sorry gw aga skeptic dalam hal ini .. hehehe..:D
October 24th, 2008 at 10:50 pm
bole nanya lagi ga mengenai:
“Sayang comment dan respon yang ada di luar dugaan saya”
kenapa bisa diluar dugaan? dugaan awalnya respond yg gmana?
October 24th, 2008 at 11:13 pm
@d~: saya berasumsi bahwa kalangan Kristen punya pengertian yang lebih mengenai kontrovresi HS, tapi ternyata tidak. Mereka banyak yang melihat dari suatu sisi dan cenderung judgmental tanpa memberikan solusi. Tentu saja apa yang tertera dalam Alkitab adalah benar, dan HS adalah perbuatan dosa.
Namun yang kita perlukan adalah solusi dan pola pelayanan yang efektif, kan? Untuk itu perlunya pendekatan dari berbagai sudut.
Just, please read the rest of the article. Saya rasa sudah jelas bagaimana pandangan dan solusi yang saya usulkan.
October 25th, 2008 at 10:51 am
iya gw ngerti
sebenarnya si kenapa gw tetarik ama topik2 kyak gini karna gw sendiri lesbian. Gw declare ini bukan karna gw proud of it. Gw ga bkal segampang ini expose diri di my real life, mungkin buka diri di dunia virtual lebih nyaman buat gw, resikonya dikit karna ga ada jg yg tau sapa gw sebenarnya kan hehehe..
Posisi gw se skrang, gw masi insist ama jalan hidup yg gw pilih skrang, apapun konsekuensinya gw terima. Cuma gw sadar jg sapa se gw, ampe sepede gitunya yakin kalo jalan gw yg paling benar, gw sadar masi ada kemungkinan yg laen kan, so gw masi membuka diri ntuk hal2 laen walo masi lom mau ntuk brubah :p
cuma ntuk masalah ini, gw masi mikir kalo yg namanya homsex ‘mang ga bisa disembuhin – ampe kapanpun orientasi tetep ke sejenis. Yang gw liat si yg bisa diubah hanya respond dr orientasinya aja. Dalam arti itu org ga mau jadi HS (have relationship and/or sex ‘ma sejenis) walo rasa tetarik ma sejenis slalu ada..
n gw curious ama jalan pikiran HS yg model trakhir..so let me know dunk klo ada “bukti” mang org2 itu bisa betahan ampe akhir, dalam arti yg uda btahan ampe tua banget.. kl masi aga muda2 n yg lom tua2 amat gitu kan masi ada kemungkinan mreka balik lage ke HS..yg model gini uda banyak gw nemuin…
gitu aja se.. peace hehehe
October 25th, 2008 at 5:24 pm
@Nancy Dinar: Untuk informasi lebih lengkap mengenai HS minsitry silahkan kunjungi website: http://www.exodus-international.org/ DAN
http://www.focusonthefamily.co…..ntity.aspx
dan untuk Real Stories dari ex-lb:
http://exodus.to/content/blogcategory/25/148/
October 25th, 2008 at 5:38 pm
@d~: Sis, langkah pertama untuk pemulihan adalah PENGAKUAN bahwa bahwa you have a problem. Saya bertemu dengan ex-lb di gereja, apakah mereka telah bebas dari orientasi seksnya atau sekedar quit practice, who knows? Untuk bisa menjawab ini tentu saja perlu melihat case by case. Misalnya, latar belakang keluarga, masa kanak-kanak, onset (mucul perasaan itu pertama kali), intesitas (seberapa sering mucul perasaan itu), impulsivity (sejauh mana ia bisa menahannya), atau faktor biologis dan lingkungan lainnya (mana dari kedua faktor ini yang berpengaruh lebih kuat). Juga ditentukan oleh pelayanan yang sudah mereka terima, seberapa jauh mereka terlibat dalam HS dan seberapa kuat ketetapan hati mereka.
Ingat,
Jika Anda berpendapat bahwa HS adalah faktor biologis, genetik, takdir, berarti tidak ada jalan untuk berubah.
Jika Anda berpendapat bahwa HS adalah pilihan hidup maka selalu ada jalan untuk proses penyembuhan.
Depart from mainstream Christian, yang menganggap bahwa HS adalah semata-mata pilihan hidup, saya berpendapat ada kemungkinan (???) faktor biologis dan fungsi otak juga, mengingat otak kita ini terdiri dari milyaran interkoneksi yang jika ada terjadi kesalahan sedikit saja bisa mempengaruhi kondisi emosi dan psikologis ybs.
Namun tidak berarti HS tidak bisa disembuhkan.
Jika Anda mengasihi Yesus dan tahu bahwa Ia juga mengasihi Anda, percayalah bahwa Ia tidak menaruh kita dunia untuk menderita selamanya. Pengalaman dan kepribadian kita terbentuk untuk suatu tujuan.
Don’t give up. “Dimana ada kemauan pasti ada jalan” begitu pepatah dulu.
Please let me know kalau saya bisa menghubungi Anda lewat email!
October 27th, 2008 at 10:59 am
Anda itu siapa? gw ya? huehehe just kiddin..
it’s ok kok.. lama2 gw get used to it
yg bisa gw simpulin so far, HS bisa brubah klo penyebabnya bisa diketahui kan? n gw setuju jg se, kl dibilang penyebab HS ga bisa disamain smua, harus dilihat case by case.
Dari pengalaman gw, gw juga lihat banyak penyebab orang jadi HS. Ada bebrapa yg karna pengen coba2, pengaruh lingkungan, ato sekedar “pelarian”. Biasanya,kalo yg kyak gini, ga bertahan lama2 amat, klo uda bosen sendiri, ato masalah awalnya uda selesai bkal brubah sendirinya.
Cuma, gw masi mikir kalo tetap aja ada beberapa HS, yg penyebabnya blun bisa dipastiin kenapa, yg bkn karna pilihan dia. Seperti kita hidup didunia ini, ada beberapa hal yg diluar pilihan kita kan, misalnya kita ga bisa milih lahir dikeluarga gmana, warna rambut apa, etc. Dalam konteks HS, gw masi mikir, rasa suka or ketertarikan jg bkn suatu pilihan. Dalam arti kita ga bisa ngatur perasaan kita ntuk suka ma sapa aja. Yg bisa diatur hanya gmana reaksi kita ama ketertarikan itu, n mungkin ini bisa jadi pilihan.
Mungkin bisa diblg seperti faktor diatas yg impulsivity (sejauh mana ia bisa menahannya).
Kembali lagi ke individu masing2. Menurut gw, tiap orang itu punya level elasticity-nya masing2. Ada org yg karna motivasi tertentu, bisa menahan ga jadi HS. Cuma skrang permasalahannya, sampai sejauh mana bisa menahan ketertarikannya kan. Party balloon yg terbuat dr rubber juga, klo kelamaan ditiup pecah juga. Mungkin itu juga yg dialamin ama Mel White. Dia uda brusaha kan nahan ntuk jd HS, tp ampe batas tertentu, akhirnya meledak juga. Kalo gw blg se, tindakan yg skrang Mel White lakuin bkn sesat, tp dia produk gagalnya gereja dr proses reorientasi dia hehehe
Gw bisa ngerti si yg dilakuin Mel White, ato beberapa org yg uda pede banget ntuk milih jalan sebagai HS. Namanya jg manusia sosial, pasti butuh pasangan. Kecuali org itu ga keberatan jg single. Tapi kebanyakan, kyaknya butuh pasangan deh, lepas dari itu HS ato non-HS. Kalo akhirnya uda mencoba segala cara, supaya bisa tertarik ama lawan jenis, n akhirnya tetap ga bisa. I think, ga ada pilihan lagi ntuk org itu. Mreka kan deserve jg ntuk bahagia kyak yg non-HS.
klo mo email, email aja .. you got my email rite..asal isinya jgn kotbain aja heuhehe
kl pendek2 taro di YM jg gpp se, coz gw jarang2 ngecek email gw yg itu
October 27th, 2008 at 11:02 am
o ya.. kelupaan..thanks ya 4 the links
October 27th, 2008 at 11:13 am
@d~: GOOD!
Mengenai email, saya mau melayani ‘if you think you have problems’! Otherwise, let’s just be friends ..:)
October 27th, 2008 at 11:27 am
kalo gw uda putus ama cewe gw aja ya, baru gw anggap itu problem huehue..
thanks again
October 28th, 2008 at 10:05 pm
gw iseng googling ur name, n then ktemu ur article di site laen..lupa nama sitenya
cewe lez itu sama ma yg di cite diatas ya? kasian jg ya..
community nya mang org2 indo ya? mm ..kl gw se ga gaul ma community gitu, hanya kenal beberapa aja, mostly tmen2 gw straight..
ga kebayang aja klo kyak dia.. uda ga ada pacar ..ga ada tmen lg, trus ga stress ya dia?
hehhe penasaran aja
October 29th, 2008 at 8:43 am
@d~: aku nggak ngerti maksud kamu apa? ‘cite’ yang mana? abis baca apa sih..?
Mengenai artikel di site lain, selama ini yang minta izin muat artikel saya hanya dari Jawaban.com, lain dari itu pasti plagiarism.
October 29th, 2008 at 10:54 am
http://hicinternational.org/in.....;Itemid=77
bukan ya.. gw salah dunk huehehe.. sorry deh.. just forget it..hehe
October 29th, 2008 at 10:59 am
e gw baru realize kalo mang link ke ur blog.. kemaren se gw view as pdf file..skrang pdf filenya malah uda ga ada..
October 29th, 2008 at 11:53 am
@d~: oh HIC-online? I am its Director. Mau daftar?
October 29th, 2008 at 10:13 pm
ga ngajak salah org ne? jelas ga mau la’ gw, baca yg ini ‘da pusing ‘pa lagi yg itu ..everyday is nightmare.. hwahaha.. :p