Nancy Dinar on August 29th, 2008

Saya duduk depan CNN tak bergeming untuk mengikuti Democrats Convention coverage. Exciting dan kadang mewek. Ngaco memang, karena saya bukan American bukan pula Political Analyst .

Kalau ditanya mengapa, barangkali beberapa dari mereka memberi inspirasi bagi saya pribadi. Saya bisa menghubungkan pikiran dan pengalaman saya sendiri dengan kehidupan , kepribadian dan pengalaman mereka.

Barrack Obama

Calon presiden dari partai democrat ini saat ini dikenal sebagai ‘he gets all it takes to be an American President’ Ia memiliki  visi dan kemampuan yang menjanjikan bagi yang ingin pencari perubahan.

Obama dikenal dengan karisma yang membuat orang jatuh hati. Karisma membuat skill nya berpidato menjadi lebih efektif. Karisma membuat kepribadiannya bersinar. Karisma membuat ia menjadi bintang . Karisma membuat orang terkesima dan mengikutinya.

Obama muncul seperti hujan setelah musim kemarau. Ia tampil ketika orang Amerika sudah muak dengan status quo. Ia datang memberi pengharapan ketika orang mengalami kejatuhan. Ia berjanji untuk memberi perubahan ketika setiap orang membutuhkannya. Inilah yang dinamakan momentum.

Kehidupan Obama memberi saya inspirasi bukan karena ia pernah tinggal di Indonesia dan punya saudara Indonesia. Namun karena ia mewakili kaum minority dan outcasted. Kamu minoritas tidak mudah untuk mendapatkan pengakuan yang sama dengan kaum mayoritas. Mereka harus bersuara benar-benar keras agar bisa  didengarkan dan haknya diperjuangkan. Itulah yang saya rasakan selama 8 tahun sebagai orang asing, apa yang saya pikirkan, apa yang saya inginkan menjadi tidak penting. Sangat jarang saya bisa tampil untuk membuktikan “Look I’m Indonesian and I have a brain too”

Obama Speech

http://edition.cnn.com/video/#/video/politics/2008/08/28/sot.dnc.obama.part1.cnn

http://edition.cnn.com/video/#/video/politics/2008/08/28/sot.dnc.obama.part1.cnn

http://edition.cnn.com/2008/POLITICS/08/28/obama.transcript/index.html

Michele Obama

Dalam pidatonya berbicara sebagai seorang ibu, istri dan ordinary person. Ia juga selalu tampil bersahaja, tidak membuat orang lain terintimidasi dengan luxury, fancy dan beauty jauh berbeda dengan gaya para Hollywood celebrity yang di idolakan Amerika.

Ia membuat saya merasa bahwa wanita tidak perlu secantik Angelina Jolie untuk mendapatkan perhatian seorang pria yang berkualitas. Ia juga memberi kesan bahwa yang terpenting pada seorang wanita adalah ‘inner beauty’ dan pria yang cerdas seperti Obama mengenal dengan baik kecantikan yang tersembunyi itu.

Dan sebagai seorang ibu rumah tangga yang setiap hari bergelut dengan anak-anak, piring kotor, kain pel, dan popok bayi saya tidak bisa melihat ada pengharapan yang lebih besar seperti ketika melihat Michelle tampil dengna kedua anaknya.

Michelle Speech

http://edition.cnn.com/video/#/video/politics/2008/08/26/michelle.obama.long.cnn

Joe Biden

Calon wakil presiden Partai Democrat ini waktu pidatonya mengungkapkan kisah pahit yang ia alami ketika kehilangan istri dan anak dalam kecelakaan mobil. Semua tahu bahwa Joe Biden bukan hanya poltician yang sukses dan berada di puncak karirnya tapi ia juga orang biasa yang telah melewati masa-masa sulit dan traumatik.

Tadi malam Nando berkata “nancy, not through happiness we gain wisdom but through difficult time. God brings you through the tough time for a greater purpose” and I couldn’t more agree with my husband..

Joe Biden Speech :

http://edition.cnn.com/video/#/video/politics/2008/08/28/sot.dnc.biden.entire.cnn

Bill Clinton

Presiden US untuk dua periode ini adalah Salomo modern yang membawa negaranya para era damai, prosperity, increase. Clinton meninggalkan office dengan good report $500 billion surpulus yang menurut beberapa kalangan adalah cadangan untuk 30 tahun. Pemerintahannya juga menghasilkan pertambahan pendapatan perkapita sebanyak $7500. Namun, ia juga memiliki kelemahan yang mejadikannya figure yang paling banyak menuai kritik. Kelompok Clinton Haters menyerang dengan kata-kata pedas dan mengkritik semua gerak-geriknya. Mereka mencemooh kejatuhannya dengan Lewinsky, caranya berbicara, sakit hatinya karena kekalahan Hillary, kegiatan charitynya, mereka bahkan mengejek karena ia telah tua dimakan umur.

Ini memberi saya palajaran bahwa kosekuesinya sebagai pemimpin kita ‘prone to critisism’. Tidak perduli apapun yang telah kita lakukan atau sukses yang telah kita bawa tapi people never get enough. Orang cepat sekali lupa dengan apa yang baik dari seorang pemimpin tapi apa yang jelek akan membekas di hati mereka. Leaders, they praise you and then nail you.

Bill Clinton Speech

http://edition.cnn.com/video/#/video/politics/2008/08/27/sot.dnc.clinton.entire.cnn

Hillary Clinton

Memang selama kampanye ini Hillary mejadi less popular, banyak journalist dan media yang memuat liputan negatif tentangnya. Banyak yang salah kaprah dengan menerjemahkan confidence-nya sebagai arrogancy. After all, di Convetion she clarified all. Pidatonya yang mendukung pencalonan Barrack Obama menunjukkan bahwa ia bukan saja tough dan intelegent tapi juga tulus dan berhati besar.

Selama ini Ia hanyalah menerjang aral yang menghalanginya untuk melakukan apa yang ia anggap terbaik untuk negaranya. Saya mengerti, seorang wanita harus berjuang lebih keras untuk bisa mendapatkan equality. Seorang wanita harus benar-benar significant dan special sebelum dipercayakan menjadi pemimpin. Inilah yang dialami Hilary. Ia sudah biasa untuk berjuang dan menerjang untuk mendapatkan pengakuan yang sekiranya ia seorang pria pastilah tidak perlu usaha sebesar itu.

Hillary adalah First Lady Amerika pertama yang memiliki professional karir ketika masuk gedung putih. Ia juga first lady pertama yang mengantongi PhD. Meski memiliki independen karir, ia juga tidak lepas dari feminitasnya serta dedikasinya sebagai seorang istri dan ibu, dan bagaimana cara ia menghadapi perselingkuhan suaminya membuat saya tahu bahwa ia juga ‘believe in love’.

Pada saat melihat Hilary, saya merasa, ‘a woman can make it’. Tidak perlu menjadi cowboy untuk memimpin. Tidak perlu menjadi terminator untuk memenangkan hati orang. Tidak perlu kumis dan janggut untuk berkuasa. Dan tidak perlu otot untuk mencapai puncak.

She didn’t win the race, but Hilary indeed wins people’s heart.

Hilarry Speech

: http://edition.cnn.com/video/#/video/politics/2008/08/26/sot.dnc.hillary.clinton.unite.cnn

Full coverage of Democrats Convention

http://edition.cnn.com/ELECTION/2008/conventions/

http://edition.cnn.com/video/#/video/politics/2008/08/29/dnc.super.wrap.cnn

(Tulisan ini sudah saya edit seperlunya, pertama, karena kepanjangan. Kedua, ada hal-hal yang terllau personal untuk di publikasikan)

Tags: , ,

7 Responses to “How Democrats Inspired Me”

  1. Hmmm… wow
    It is lovely to having wife with global awareness like you …
    And I am agree 110% with you.
    I Love You Honey…!!! ^_^

    NB:
    I’d never know that you are a Democrat!
    (kidding!)

  2. ya iyalah mending pilih obama dari bush yg doyan perang

  3. Hehehe..Biarkanlah mereka bertanding, dan…mereka sama-sama tidak pernah mengikutkan Tuhan dalam pertandingannya agar berpihak, iya kan?!. Kita juga tidak tau apa yang dipikir Tuhan (menurutku) meski kita percaya itu telah difirmankan olehNya.
    Salam kenal.

  4. he..he.. terima kasih Pak Singal, saya nggak memihak kok apalagi bawa-bawa Tuhan. Hanya terinspirasi dengan ‘jalan hidupnya’ aja tapi bukan ‘Political Values’-nya.
    I am not that smart to analyze any kind of political game. Saya hanya ordinary Mom yang banyakan memakai ‘Perasaan’ untuk menilai.

    Salam kenal juga.

  5. Waaw…Analisa yg cukup Panjang :D

    menurutku semua orang bisa menjadi seorang Presiden.
    Tapi kita tunggu dulu setelah dia duduk disana… apakah teriakan2 dia saat kampanye bisa dipertanggungjawabkan?? ;)

    btw, postingan ini sangat bagus mbak :D

  6. Hi Ibu Nancy,

    Whew! What an analysis!
    I am glad to know that I am not the only one of Barack Obama’s Indonesian fan. :)

    BTW, terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak di blog saya.

    Salam Kenal,
    Ungke

  7. Hidup obama, semoga sukses jadi presiden

Leave a Reply