Archive for July, 2008

Dengan apakah aku bisa membuktikan keberadaan Tuhan? Apakah dengan Ilmu Pengetahuan, dengan pengalaman pribadi, dengan rasio atau bukti-bukti? Aku tidak memiliki sedikit pun dari yang dimiliki oleh jutaan orang percaya yang saat ini membaktikan hidup mereka untukNya. Aku hanyalah bagian kecil dari gerakan besar yang ada di muka bumi ini. Aku hanya kebetulan mengalami kemelut, pengalaman pahit, doa yang tertunda, tapi siapa yang tidak mengalaminya?

Jika timbul pertanyaan yang mempertanyakan kedaulatan Tuhan, keadilanNya, apakah aku cukup memiliki bukti dan pengetahuan untuk itu? Bukankah aku hanyalah satu dari orang kebanyakan, tidak lebih dari yang rata-rata. Disisi lain, aku juga hanya penerima hadiah yang tidak pantas mempertanyakan pemberinya berapa nilai hadiah tersebut.

Tanpa anugerah aku pun tidak akan pernah sampai pada tahap seperti ini. Siapa manusia dengan kepandaiannya sendiri dapat mengerti apa yang telah Tuhan lakukan dan dari situ timbul iman percaya? Bukankah iman sendiri adalah anugerah?

Betapa tidak pantas ketika aku mulai menuntut Penguasa untuk melakukan apa yang kuinginkan. Betapa kecil dan terbatasnya pikiranku jika mempertanyakan keadilanNya. Hidupku sendiri seperti rumput dipadang , sebentar tumbuh, kering, kemudian terbang ditiup angin. Singkat dan pasti akan berakhir.

Ia memberi dan Ia mengambil. Semua yang kupunya datang daripadaNya. Aku datang telanjang ke dunia ini dan akan meninggalkannya dalam keadaan yang sama. Dari tidak ada aku menjadi ada, untuk mengalami kasih juga kegetiran. Ah, betapa sejujurnya akupun ingin pergi dan meninggalkan tubuh ini. Bagianku telah aku lakukan walau tidak sempurna. Dan sekarang adalah bagianNya.

Tidak ada yang dapat menghindar dari akibat dosa yang telah menghancurkan bumi ciptaan ini. Mengapa harus ada kelahiran? Mengapa tersenyum untuk satu lagi jiwa yang lahir untuk merana? Bukankan kita harus menangis karena telah menarik satu lagi makhluk surga dari tempatnya yang indah untuk hidup bersama kita di bumi fana ini?

Sesungguhnya seorang bayi dilahirkan untuk menderita demikian seterusnya hingga ia dipanggil pencipta. Itulah sebabnya, hal pertama dilakukan seorang bayi adalah menangis. Menangis karena tanpa kehendaknya sendiri dilahirkan. Menangisi hari-hari yang harus ia lewati sebelum menjadi tua, sakit, dan kembali ke asalnya. Apa yang bisa dibanggakan manusia dari hidupnya?

Maafkan aku, anak-anakku. Walaupun kehadiranmu adalah kehendak Penguasa tapi akulah yang dipercayakan membawa kalian pada kefanaan ini. Dengan sekuat tenaga aku akan mengasihi kalian tapi aku tak dapat berjanji untuk bisa melindungi kalian dari penderitaan dunia ini. Walau aku berharap dengan kasihku aku dapat mengurangi beban yang harus kalian pikul.

Jika dewasa nanti semoga kalian lebih bisa mengerti apa arti hidup yang singkat ini. Mengapa kalian harus hadir. Melihatnya sebagai satu anugerah dan bukan hukuman.

Comments 4 Comments »

Walau bumi terus berputar matahari terus bersinar, bulan dan bintang tidak kehilangan gemerlapnya aku tak mengerti ‘mengapa?’ . Walau roda kehidupan terus bergulir, business tetap berjalan, pasar modal terus dibuka, pekerja menerima upahnya dengan sukacita, aku bertanya ‘mengapa?’.

Walau bahu diusahakan bidang, kepala tegak dan bibir senyum; walau aku masih berdiri di mimbar untuk bersaksi dan berkhotbah; walau aku melihat wajah-wajah yang basah dengan air mata mendengar perbuatan-perbuatanNya; walau aku terus menerus menguatkan mereka yang lemah dan dalam kemelut supaya bertahan dan menang; walau aku terus berdoa untuk umatNya dan melihat doa itu dijawab meskipun mustahil karena memang mujizat masih terjadi; dan masih ada beribu ‘WALAU’ lainnya menandakan kehidupan di dunia masih berjalan seperti biasa.

Jari-jariku kapalan memetikkan gitar dan memencet tuts piano menyanyikan lagu mengatasi derita. Aku mengira dengan lagu dan penyembahan aku bisa lebih efektif mengungkapkan isi hati kepadaNya. Mataku yang bengkak tidak berhenti menelusuri Buku Penguasa mencari kekuatan, jawaban atau kemiripan cerita.

Entah apa yang dipikiran Penguasa ketika ia mempercayakan beban yang semakin lama semakin berat ini. Apakah aku kuat sekuat raksasa meskipun bodynya tidak lebih besar dari ukuran rata- rata. Atau karena aku perlu latihan khusus agar dengan ukuran ini otot-ototku bisa seperkasa Superwoman. Atau karena persediaan air mataku harus dikuras habis agar kolam penampungannya dapat dicuci bersih dan kalau perlu direnovasi agar bisa menampung lebih banyak air lagi. Mungkin juga aku harus dilatih untuk berdoa dan mengerang dalam sakit yang luar biasa agar bisa mengerti apa ’sakit’ yang sebenarnya.

Di mata Penguasa tidak ada hitung-hitungan ala penduduk bumi. Semua ada dalam dimensi kekekalan dan rencana global kerajaan. Meski beribu pertanyaan tapi tidak semua perlu jawaban dan tidak semua akan terjawab. Betapa kecilnya manusia dibanding dengan Penguasa yang memiliki titel “Berdaulat”. Betapa terbatasnya pikiran ciptaan ini sehingga tidak mungkin memahami apa yang dipikirkan Penciptanya.

Walau ada harapan agar Penguasa mengintervensi dan memutarbalikkan hukum alam, tak ada yang sanggup memaksaNya. Tak juga makhluk kecil penerima kasih anugerah yang dipungut dari yang terbuang. Dengan apakah ia akan menuntut Penguasa, apakah karena ketidakadilan di bumi ini yang sangat nyata, atau karena sikapNya yang seolah-olah tidak perduli sehingga kejahatan dan kehancuran ada dimana-mana? Sekali lagi hitung-hitungan ala penduduk bumi tidak berlaku bagiNya.

Meskipun isi hatinya terhadap penduduk bumi telah tertulis di dalam Buku-Nya, yang dipercayai cukup dan menyeluruh, tetap saja ada yang tinggal misteri karena disitupun tidak ada jawabannya. Tak seorangpun dapat bertanya mengapa ‘ia tidak mengerti’ karena jawabannya hanya ada di Buku Rahasia Penguasa.

Jika aku menghitung detik yang berlalu berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari dan hari berganti minggu demikian seterusnya, sekali lagi Penguasa tidak memakai cara hitung-hitungan ala Penduduk bumi ini. Jadi aku hapuskan saja prinsip aritmetika ini yang telah belasan tahun aku pelajari di sekolah. Semua tidak berlaku untuk memahamiNya. Alam ini fana dan meyesatkan, tidak bisa dipakai sebagai acuan atau ukuran. Bisa tertipu karenanya.

Sia sia semua usaha untuk mengerti Penguasa dengan alam yang diciptakanNya tapi tidak ditinggaliNya. Menaruh ciptaanNya dalam suatu system yang dinamakan ‘hukum alam’, tapi Ia sendiri tidak didalamnya. Tidak mengertilah dan bertanya-tanyalah, karena makhluk ciptaan kebingungan dengan cara kerja Penguasa yang ‘misterius’, kata yang khusus diciptakan untuk melukiskan betapa terbatasnya isi kepala manusia itu. Gagallah usaha manusia untuk memahami Rahasia Sang Penguasa.

Comments 5 Comments »

Louisiana Jones Acthitcountersite.com -->