Nancy Dinar on June 18th, 2008

Minggu lalu, saya, ibu mertua, anak-anak kami Joel (4) dan Mathew (1) mengadakan perjalanan dari Hong Kong menuju Macau. Kami akan mengunjungi gereja yang baru dirintis di Macau sekaligus mendapatkan perpanjangan ijin tinggal di Hong Kong.

Transportasi antara Hong Kong dan Macau hanya bisa ditempuh lewat laut dan memakan waktu sekitar satu jam. Tidak masalah, beberapa Ferry bermesin jet turbo tersedia setiap 30 puluh menit. Menumpang armada-armada ini tidak bedanya dengan berada di pesawat terbang karena kenyamanannya mengantar ratusan pelancong, commuter dan penjudi kelas dunia menuju Las Vegas Asia itu.

Namun, cuaca hari itu sangat buruk, hujan deras, kilat sambar menyambar, angin kencang. Sebagai informasi Hong Kong adalah kota yang cuacanya tidak bisa diprediksi, sesaat hujan lebat namun beberapa detik kemudian matahari bersinar cerah. Kota ini juga dikenal dengan bencana alam yang ekstrim terutama typhoon dan tanah longsor.

Hujan dan angin serta badai yang di lautan sangat ganas seakan tidak senang menyambut kunjungan pertama saya ke kota Macau. Kapal ferry tumpangan kami dihempas gelombang setinggi, oh God, I can’t describe it. Rasanya seperti sedang berada di jet coaster, permaianan yang paling tidak saya sukai. Bedanya jet coaster yang terdapat di Disneyland misalnya, hanya berlangsung selama lima menit dan semua penumpang tahu bahkan berekspektasi dengan turmoil buatan itu. Saat ini, tidak ada seorangpun yang memiliki keinginan lain selain dari menikmati perjalanan yang tenang dan damai serta selamat sampai tujuan.

Beberapa saat ombak membawa naik kapal kami naik dan detik berikutnya menghempasnya kebawa tanpa ampun. Para penumpang berteriak-teriak dan beberapa orang muntah-muntah. Saya sendiri pusing, mual dan ingin muntah juga namun berusaha untuk tetap tenang dan tidak mengangis. Meskipun sebenarnya dalam hati perasaan takut, tegang, panik, tentu saja concern utama saya adalah kedua anak saya yang juga sangat ketakutan. Saya berdoa, berbahasa roh, bertobat, let God knows that I love Him, anything. Saya dan mami bergantian memeluk Joel dan Mathew erat-erat , berdoa dan menenangkan mereka.

Di tengah perjalanan tiba-tiba layar TV menanyangkan bagaimana cara mengenakan pelampung diperagakan oleh seorang model yang rapih, ayu dan lemah lembut. Yang dengan tenang, lambat, penuh senyum, menaruh penampung di lehernya seakan khawatir tatanan rambutnya rusak karena pelampung tersebut. “Iklan meyesatkan!” kata saya dalam hati. “Keadaan bahaya, penumpang panik, tidak akan setenang itu dan lagi ngapain senyum saat sedang terjadi evakuasi?”

“Percuma!” kata saya lagi, masih dalam hati dan kesal sekali. “Mengapa peragaan itu ditayangkan sekarang? Mengapa tidak dari tadi sebelum kapal berangkat? Dimana kaptennya mengapa tidak memberi kata-kata yang menenangkan? Mengapa kami tidak diberi tahu sebelumnya supaya siap sedia menghadapi disaster ini? Apakah ada cara untuk kembali? Kapan kapten akan memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan atau kembali ke pangkalan? Kapan dan bagaimana proses evakuasi dimulai? Siapa yang akan menolong kami? Apakah di atas sudah ada helikopter yang sidap sedia? Dan bagaimana dengan Joel dan Mathew? Apa yang harus saya lakukan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya? Oh, God, is this the time?”

Pertanyaan-pertanyaan ini dan seribu pertanyaan berkecamuk dihati saya. Sampai akhirnya kami tiba di Macau setelah satu setengah jam diombang-ambing gelombang dan dihempas badai. Semua lewat, badai mungkin tidak seburuk yang saya kira. Kapal tidak tenggelam dan kami selamat.

Namun, saya belajar dua hal. Pertama, Be ready for the unpredictable!. Kata orang kita harus siap sedia bahkan untuk kemungkinan terburuk. Prediksikan hal-hal tidak terprediksi. Kesiapan dan informasi membuat kita lebih tenang dan berpengharapan. Kedua, pelajari prosedur keamanan. Seringkali ketika pramugari memperagakan prosedur evakuasi, para penumpang pesawat memalingkan wajah, pura-pura tidur, baca koran, seakan-akan itu adalah pertunjukkan yang paling membosankan dan sangat tidak diharapkan. Sang pramugari juga tahu bahwa peragaannya tidak diinginkan sehingga sering melakukannya dengan asal-asalan dan secepat mungkin meyelesaikan tontonan konyol tersebut. Padahal, jika situasi bebahaya itu tiba tidak ada seoragnpun yang memiliki waktu untuk belajar.

Hidup kita juga sering mengalami badai, ada yang kecil dan ada yang besar, ada yang bisa diprediksi dan ada yang tidak. Penuhi diri kita dengan informasi dan prosedur penyelamatan jauh sebelum semuanya terjadi. Salah satu sumber informasi yang paling andal adalah Firman Tuhan. Misalnya, Tuhan berkata barangsiapa yang mengikut Yesus harus memikul salibnya, membuat setiap orang Kristen harusnya tahu bahwa kekeristenan tidaklah semata-mata kekayaan, kemakmuran, hidup penuh berkat, bebas dari setiap masalah. Prediksikan masalah, penolakan, pengkhianatan, kegagalan, sakit penyakit dan kematian. Kita tidak akan luput dari hal-hal yang demikian. Menjadi Kristen adalah menjadi manusia biasa yang memiliki Tuhan yang luar biasa.

Tags: , ,

4 Responses to “DI Hempas Badai”

  1. Shalom Mba Nancy …
    Setuju banget … kita harus selalu siap untuk hal2 yang kita tidak bisa prediksi, makanya kita disebut laskar / prajurit ya? Seorang prajurit senantiasa berlatih tanpa harus tahu kapan dia berperang, karena yang penting dia siap.

    Ngealantur sedikit, .. jadi inget kisah murid-murid Tuhan Yesus di saat mereka sedang naik perahu dan badai datang ( Lukas 8 ), sementara Tuhan Yesus sedang asik-asik tidur nyenyak …

    Murid ketemu masalah, mereka berseru kepada Tuhan, dan Tuhan menjawab. Sampai di sini sepertinya polanya sudah benar ya, manusia menghadapi masalah, untuk solusinya mereka datang kepada Tuhan. Bukankah Tuhan juga ngga suka kalau kita mengandalkan manusia?

    Tapi apakah jawaban Tuhan kepada murid2 setelah ia menenangkan badai itu? …lalu kata-Nya kepada mereka: “Di manakah kepercayaanmu?”

    Jadi di saat kita menghadapi badai kehidupan, mungkin persiapan mendasar yang harus kita lakukan adalah melatih iman kita untuk senantiasa percaya bahwa badai hanyalah sebuah nama yang berada di bawah nama Yesus. Sehinggan apapun juga konteks permasalahannya, kita sudah beriman dahulu…

    Thanks untuk sharingnya mba,…:)
    Gbu

    Oh ya, blog saya pindah, tolong link nya di update ya mba nancy.

    Berarti ada sesuatu yang seharusnya ada di dalam diri kita ( dan murid2 Tuhan pada saat itu ), yaitu iman.

  2. mbak.. tulisannya bagus bagus, ada juga yang bikin mupeng. minta ijin di link ya?

  3. Istri-ku dan 2 jagoan kecil ku,

    Dengar kejadian itu, perasaan ini langsung nyess…
    Pagi itu di CNN ada berita mengenai Taifun di HK, trus langsung ingat rencana Nancy & our kids perpanjang visa di Macau. Wuah, harap-harap cemas …
    Sore itu waktu telepon Nancy, hati lega … tapi juga bersyukur… Tapi kasian si Joze sama Matt yah, mereka jadi trauma.
    Gimana next month?

    Honey, you are fantastic, on that situation .. still got something to put in your blog … ^_^
    Bulan depan liat-liat ramalan cuaca dulu baru ke Macau,yah … (*_*)

    You are the best !!!

    Husband

  4. Buat David
    Lucu, waktu peristiwa itu yang aku ingat adalah cerita ttg Tuhan Yesus dan murid2Nya juga. Aku sering ceritain ke Joel ttg cerita itu dan bagaimana Tuhan menghentikan badai. Jaid inilah saat yang tepat untuk mempraktekkan iman kami. Walau badai nggak benar-bena rbehenti seperti di dalam cerita Alkitab, tapi kami selamat. :-) Itu yang penting. Itung-itung naik jet coaster gratis.

    Buat Juli
    Terima kasih karena sudah bisa jadi berkat

    Buat My Husband
    Thank’s for taking time for give comment to my blog, this is unlikely you, but you did it anyway (out of love ^_^).
    We are missing you everyday…
    See you soon…(rasanya lamaaaaa sekali ya?)

Leave a Reply