Sejak mengenal Yesus pertama kali, saya banyak mengalami puncak dan lembah. Saya telah menyaksikan bagaimana Tuhan lewat Roh Kudusnya bekerja. In fact, saya percaya diberikan beberapa karunia roh. Saya mengalami masa-masa dipakai Tuhan dan menyaksikan mujizat. Melihat orang bertobat dan hidupnya diubahkan Tuhan.
Namun ada saatnya saya juga berada di lembah. Saat seperti itu Allah menjadi lain dan tidak ‘terkenali’. Ia bukan seperti Tuhan yang biasanya, penuh kasih, perduli, menjawab doa, memberi kekuatan, mengampuni dosa. Ia terasa jauh, dingin dan tidak terjangkau.
Tak perduli berapa lama dan berapa banyak saya menyaksikan pekerjaan Tuhan, dalam hati saya pernah timbul keraguan: “apakah Tuhan benar-benar ada?” atau “jika Tuhan benar-benar ada apakah ia perduli?” atau “mengapa Tuhan meninggalkanku?”
Saya tidak tahu apa yang dialami saudara, tapi jika saudara mengalami seperti yang saya alami maka anda juga mengalami apa yang dialami nabi-babi besar seperti Elia dan Yohanes bahkan Tuhan Yesus.
Elia, setelah mengalami kemenangan di gunung Karmel lari ketakutan dan bersembunyi karena di ancam Izebel. Setelah Tuhan memakainya untuk membunuh 400 nabi Baal, menurunkan api dari langit, mengadakan hujan, tiba-tiba ia tidak yakin jika Tuhan sanggup melepaskannya dari tangan seorang wanita.(I Raja2 19)
Yohanes pembabtis setelah lebih 30 tahun melayani Tuhan, hidup di hutan dgn makan madu dan belalang, membaptis Tuhan Yesus, menyaksikannya mujizat yang dilakukan Yesus, kemudian bertanya “apakah benar Ia Mesias yang akan datang itu atau adakah yang lain?” (Matius 11)
Bahkan Yesus pada saat tergantung di kayu salib berseru “Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”
MENGAPA???
Ada 4 Penyebab orang berada dalam keraguan ttg Tuhan
1. Kelelahan
Setiap kemengangan akan diikuti oleh masa kekelaman. Sehabis berperang prajurit akan merasa kelelahan. Baik secara fisik, mental, rohani jika kita terlalu lelah maka iman kita akan menjadi lemah. Saat itulah iblis akan menaruh keraguan dihati kita.
Elia merasa lelah setelah pertarungannya dengan nabi2 Baal bahkan dgn tangannya sendiri ia telah membunuh mereka (1 Raj 19:1), maka kelelahanlah ia.
Tidak perduli berapa banyak mujizat yang kita saksikan. Seperti bangsa Israel di Padang Gurun yang menyaksikan mujizat, jika kita lelah maka kita lemah.
Solusi: Berjaga-jaga. Jangan terlalu lelah. Kita haru menjaga stamina rohani. Minum multivitamin dan makanan bergisi akan menjaga stamina kita. Exercise akan menjaga kebugaran kita. Maksudnya secara fisik , jiwa dan roh kita harus menjaga stamina kita.
2. Kesendirian
Pada waktu menerima ancaman Izebel Elia memilih meninggalkan bujangnya dan lari sendiri (1 Raj 19:3). Kesendirian membuat kita lemah. Kita butuh fellowship, persekutuan dan saudara. Jika saudara lemah maka saudara yang lain bisa menguatkan.
Jangan tinggalkan pertemuan ibadah dan pelayanan. Ini salah satu kesalahan Elia. Elia lari dari pelayanannya di ayat 9 dan 13 Tuhan bertanya : “apa yang sedang engkau kerjakan disini elia?” Kemudian di ayat 15 Tuhan berkata” Pergilah kembalilah ke jalanmu…”
Ada tugas penting yang akan diberikan Tuhan tapi Elia jatuh dalam dosa “mengasihani diri sendiri”. Jika kita meninggalkan pelayanan kita tidak melayani maka focus kita akan beralih ke diri sendiri.
Iblis seperti singa yang mengaum-ngaum mencari cela untuk menjatuhkan kita jika lengah (1 Pet 5:8).Keadaan sendiri memudahkan pekerjaannya ini!
Solusi: Jangan malu untuk minta batuan doa dan sharing masalah. Dan jangan pernah meninggalkan pelayanan dengan alasan ‘need time alone’.
3. Kekecewaan (1 Raj 19, Mat 11)
Baik Elia maupun Yohanes mengalami kekecewaan ini. Di ayat 10 Elia berkata: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan…” Elia tidak menyangka bahwa Tuhan akan membawa ia ke situasi yang sulit setelah apa yang telah ia lakukan bagi Tuhan.
Demikiannya juga dengan Yohanes yang tentu berharap bahwa Yesus akan mengeluarkannya dari penjara, tapi tidak dilakukannya.
Kita juga sering kecewa dengn Tuhan jika apa yang kita harapkan tidak menjadi kenyataan, terutama jika kita sudah giat dan setia.
Solusi: Jawaban Yesus di Matius 11:6 “berbahagialah orang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku! Kekecewaan akan menguasai kita, jika kita ijinkan.
4. Penderitaan
Penderitaan Yesus di kayu salib karena memikul dosa-dosa kita. Penderitaan terberat karena Yesus harus menanggung hukuman yang harusnya menjadi milik kita.
Solusi: know your purpose!!
Hidup tanpa tujuan membuat frustasi. Tapi purpose atau visi menguatkan bahkan di saat paling kelam sekalipun.

Entries (RSS)
June 15th, 2008 at 4:32 pm
Yah…satu lagi mbak..
Terlalu Jenuh…
(itu sama ga ya dengan “kelelahan”, yang seperti mbak bilang)
June 16th, 2008 at 8:46 pm
yup.. janganlah berlari dengan sia-sia..
karena kesia-siaan membawa kekecewaan…
tapi berjalan dan berlari bersama Jesus tidak akan pernah mengecewakan…