“Petama-tama aku mohon maaf telah lancang menulis surat buat bapak karena bapak sendiri tidak mengenali diriku. Aku Ginanjar (bukan nama sebenarnya) yang sedang mendapatkan kesulitan yang sangat besar gara-gara minuman keras. Aku telah berbuat kesalahan, kini aku mendekam di penjara. Aku membutuhkan bantuan, suapaya hukumanku bisa diberi keringanan. Aku telah di fonis 12 tahun mudah-mudahan bapak merasa kasihan dan mau membantuku. Kasihan keluargaku sekarang pada ikut menderita terutama anak dan isteriku. Aku sendiri tidak menyangka bahwa perjalanan hidupku akan seperti ini. Tolonglah aku biar kehidupanku tidak hancur, aku kasihan pada anakku, dia belum tahu wajah bapaknya. Padahal rencanaku tahun ini aku mau pulang, tetapi aku malah berbuat kebodohan gara-gara minuman keras, sampai aku tidak sadar sama sekali dan aku telah membunuh seseorang.
Setidaknya sudilah bapak mau membantuku biar aku diberi keringanan dalam persidangan ini. Aku minta maaf yang besar-besarnya telah memohon pertolongan kepada bapak. Sampai disini dulu surat saya. Apabila ada kata-kata yang tidak berkenan di hati aku mohon maaf yang sebesar-besarnya.”
=========
Ini adalah surat yang kami terima beberapa waktu yang lalu dari seseorang yang tidak kami kenal dan sekarang mendekam di salah satu penjara di Korea. Sejenak saya terpana membaca surat ini. Sungguh sedih jika ada seorang ayah yang merantau jauh untuk mencari nafkah dengan menjadi TKI akhirnya bernasib demikian. Terbayang anak istri yang sedang menantinya di tanah air. Ingin rasanya membantu, tapi apa daya? Kami bahkan bukan pengacara. Keputusasaan mencari bantuan hukum di negeri orang ditambah rasa bersalah yang besar terhadap keluarganya, telah menghantar suratnya kepada kami.
Semuanya karena ‘minuman keras’ katanya. Minuman yang membuatnya tanpa sadar telah melakukan tindakan yang tidak akan terlintas di kepalanya jika ia tidak mabuk. Pada saat efek minuman itu hilang ia berhadapan dengan dua kenyataan : tubuh tak bersalah yang terkapar tanpa nyawa dan masa depannya yang gelap tak berarah ! Tidak ada pintu untuk kembali. Tidak ada pilihan selain pengadilan yang sudah pasti akan menjatuhkan hukuman pada diirnya. Bukan pada ‘minuman keras’ yang telah mengendalikannya, bukan juga pada penjual ‘minuman keras’ yang dengan mudahnya ditemui disetiap sudut kota.
Penyesalan selalu datangnya belakangan. Itu sebabbya ia disebut ‘penyesalan’. Jika ia timbul sebelum semuanya terjadi ia akan dinamakan ‘kebijaksanaan’. Seorang ayah yang bijaksana yang mengasihi keluarga, yang merantau meraup jutaan rupiah setiap bulan. Seroang kepala keluarga yang merencanakan masa depan anak-anaknya, memenuhi kebutuhan rohani dan jasmani mereka. Seorang beragama yang tahu membedakan pergaulan yang merusak dan yang membangun. Seorang dewasa yang tahu bahwa ‘minuman keras’ hanya menipu dengan kenikmatan sementara dan tidak bisa dijadikan tempat pelarian. Seorang laki-laki bisa mengendalikan dirinya. Ah, seandainya pikiran-pikiran inilah yang diturutinya…
“Minuman Keras’ katanya. Pemakainya disebut alcoholic, ketergantungan padanya disebut Alcoholism. Alcoholism yang tebukti telah menjadi penyebab tindakan kriminal seperti pembunuhan, perkosaan, penganiayaan, perampokan dan lain lain. Ia juga alasan keluarga menjadi disfungsional, rumah tangga berantakan, pertikaian, perceraian, perseteruan dan pemberontakan anak terhadap orang tua. Ia juga adalah penyebab utama kecelakaan di jalan raya, tabrak lari, dan pelanggaran lalu lintas lainnya.
Untuk istilah kedokteran ia disebut ‘disease’. Bagi psikolog ia dikenal dengan julukan ‘disorder’. Bagi genetiscists ia adalah ‘hereditary’. Bagi rohaniawan ia dikenal sebagai ‘bondage’ . Dokter akan Memberikan medication dan detoxicifcation, psikolog akan memberikan therapy dan psychotherapy. Rohaniawan akan mendoakan dan mengadakan peperangan rohani.
Come on…apapun namanya tidakkah manusia sadar bahwa pandemic in telah membunuh manusia lebih banyak dari musibah bencana alam manapun. Tidakkah kita sadar bahwa ia telah megacaukan akal sehat dan mengendalikan pikiran dan tubuh manusia yang seharusnya dipakai untuk memuliakan Tuhan?. Mengapa memberi tempat baginya dalam hidup kita? Mengapa memakai alasan “asal tidak mabuk’, “asal tidak kecanduan” “asal tidak terlalu sering”, “hanya untuk bersosialisasi”.
Mengapa memberi jalan baginya dalam hidup kita? Ia yang telah menyebabkan seorang laki-laki membunuh, pengedara menabrak mati anak kecil, suami menganiaya isterinya, ayah meninggalkan keluarganya, anak muda kehilangan masa depan, bayi lahir cacat. Ia adalah teroris paling kejam namun paling mudah ditemui.
Jika saja di hati manusia ada sedikit kebijaksanaan..?

Entries (RSS)