Archive for April, 2008

Siapakah orang yang terpandai yang pernah hidup? Jika pertanyaan ini dilontarkan, pikiran yang terlintas di kepala kebanyakan orang adalah Albert Eisntein, Leonardo Da Vinci, Thomas Alfa Edison, Isaac Newton, Mozart, atau sederetan nama terkenal lainnya.

Tapi jawabannya bukan mereka. Orang yang paling pandai yang pernah hidup bernama William Sidis. Jika orang normal memiliki IQ 90-110, Albert Eistein sebagai prototype jenius memiliki IQ 160, Sidis memiliki IQ yang ‘out of scale’. Diperkirakan IQ-nya berkisar 250-300.

Menurut ibunya, Sidis mulai berbicara pada usia 4 bulan dan membaca Koran pada usia 18 bulan. Pada usia 8 tahun ia mengajari dirinya sendiri bahasa Latin, Yunani,, Rusia, Prancis, Jerman, Ibrani, Armenia dan Turki. Ia akhirnya dapat menguasai 40 bahasa dan kabarnya ia bisa belajar bahasa dalam satu hari. Ia menyelesaikan SD dalam 7 bulan, Sekolah Menengah 6 minggu dan lulus Kedokteran Harvard dan MIT pada waktu berusia 11 tahun.

Sayangnya William Sidis meninggal pada usia 46 tahun karena stroke dan sejarah hampir tidak mencatat apa-apa tentang dia. Ia tidak punya peninggalan seperti jenius lainnya. Ia tidak memiliki apa-apa yang bisa disumbangkan bagi peradaban manusia padahal ia lahir di abad ke 20. Hidup dan potensinya sia-sia karena tidak ada keinginan untuk menyumbangkan sesuatu bagi kepentingan dunia.

Kepandaian tidak menentukan kontribusi dan pengaruh yang kita berikan bagi sesama. Dampak bagi umat manusia hanya datang dari keinginan atau desire untuk melakukan dan mengembangkan dan potensi yang kita miliki. Itulah yang menentukan tingginya puncak hidup seseorang.

Kebanyakan kita tidak dilahirkan sebagai orang jenius, namun kita adalah makhluk yang diciptakan sesuai dengan image Tuhan. Kepada kita telah diberikan kemampuan yang unik oleh Sang Pencipta. Tujuan Tuhan agar manusia bisa memuliakanNya dan menjadi penguasa atas ciptaanNya yang lain. Jangan sia-siakan potensi yang Tuhan sudah investasikan dalam hidup kita. Temukan dan kembangkan.

Comments 6 Comments »

Saya duduk terpaku di depan  komputer. Telapak tangan dingin berkeringat, kepala pusing dan dada sesak. Sepanjang hari saya jadi murah marah dan tersinggung bahkan untuk masalah yang sepele. Rasanya kesal dan out of control. Ingin sekali mencari kambing hitam dan melemparkan kesalahan kepadanya. Sayang tidak ada kambing di Korea, lagi pula ‘kesalahan’ yang akan dilemparkan juga tidak ada.  

Berbulan-bulan  sudah saya mengurus dokumen untuk program doktor dan browsing untuk segala kemungkinan grant dan scholarship. Saat pintu hampir terbuka, transcript dari universitas di Indonesia belum bisa diurus. Alasannya, unik dan cuman ada di Indonesia: libur bersama, fakulty cuti, demo mahasiswa, huru-hara, kemudian libur lagi… so on. Mak…! deadline sudah dekat. Beberapa tahun ini rencana untuk melanjutkan sekolah  selalu ada saja halangannya. Kalau orang bilang mimpi itu gratis, rasanya nggak juga: it has prices!.

Dan itu hanya salah satu masalah saja, masalah-masalah lain seperti orang tua sakit berat, anak-anak rewel dan butuh perhatian, pekerjaan rumah  menumpuk dan tumpang tindih , dsb…

Nando selalu memberi semangat dan berkata “bisa kok sayang” yang rasanya seperti satu karung beras dipikulkan ke pundak saya, bertambah sekarung tiap kali ia mencoba menghibur.

Saya pun menarik diri dari depan komputer dan mulai merenung: mengapa Anxiety ini datang?

=====

Anxiety adalah alarm bahwa kita sedang berhadapan dengan situasi yang berbahaya. Reaksi ini normal dan natural, sama seperti rasa takut, marah atau senang.

Anxiety muncul  jika situasi menjadi tidak pasti, keadaan tidak terkontrol, tangung jawab bertambah, tugas menumpuk, keinginan tidak tercapai, tekanan berat dan tuntutan betubi-tubi.

Anxiety menyerang jika kita menyambut rasa  khawatir, takut, cemas dan risau dan menjamu mereka.

Dan sebagai orang Kristen, anxiety adalah tanda bahwa kita sedang mengambil alih pekerjaan yang seharusnya menjadi bagian Tuhan. Anxiety bisa juga berarti signal bahwa jalan yang akan kita ambil bukanlah kehendak Tuhan.

Ada yang menghitung bahwa kata seperti “Jangat takut…”, “do not fear..”, “ don’t be afraid..!”, terdapat sebanyak 365 kali  dalam Alkitab, yang berarti paling tidak satu kali dalam sehari Tuhan ingatkan kita bahwa “He is in control”

Tuhan ingin kita mensyukuri berkat-berkatnya. Tapi berkat-berkatNya itu tidak bisa dinikmati jika hati kita kacau balau. Perasaan takut, khawatir dan cemas membuat pandangan rohani kabur sehingga perkerjaan Tuhan menjadi tidak berarti. Karena mata rohani tidak bisa melihat dengan jelas, kita terpaku dengan pintu yang tertutup dan meratapinya sehingga gagal melihat pintu-pintu yang sedang dibukakan Tuhan. 

Hari itu setelah menyadari semua ini, saya menarik napas panjang dan mengembalikan semua pada tempatnya. Bagian Tuhan menjadi bagianNya dan bagian saya menjadi milik saya. That’s all. Ada rasa syukur dan tenang, karena saya percaya everything is in God’s  control.

Comments 4 Comments »

Louisiana Jones Acthitcountersite.com -->