Nancy Dinar on March 11th, 2008

Para penggemar anjing sekalipun pasti tidak suka dengan tampang anjing yang satu ini. Tubuhnya kurus sehingga tulang rusuk nya yang berjajal tampak semua. Moncongnya panjang, sehingga lebih menyerupai moncong serigala daripada model moncong anjing peliharaan. Warna bulunya yang tipis adalah hitam kecoklatan, lebih tepat jika dibilang dekil. Wajahnya kelihatan sangar dan dan tidak ramah namun tidak ada orang yang berminat menjadikannya anjing penjaga karena ukurannya yang kecil. Dan yang terakhir anjing ini liar, tanpa pemilik! Ia senantiasa berkeliaran di samping halaman rumah kami yang luas. Tidak ada yang mau mendekatinya dan ia pun tidak ingin didekati siapapun.

Kesan saya pada anjing liar dekil itu adalah : sombong. Berbeda dengan anjing peliharaan lain yang imut-imut dan manja, menjilat-jilat kaki pemiliknya meminta kasih sayang, melakukan atraksi-atraksi yang menarik perhatian. Meskipun kebanyakan anjing-anjing peliharaan ini manja dan sombong tapi mereka memang pantas untuk dipuja.

Suatu hari anjing kurus jelek itu kelihatan mengandung. Oh my God, saya bahkan tidak tahu jenis kelamin binatang tak bertuan itu. Dan pada hari kami mengetahui bahwa anjing itu telah mengandung, malamnya ia melahirkan lima anak anjing yang lucu-lucu. Keadaan anak-anaknya tidak seperti induknya. Moncong mereka kelihatan lebih lucu, warna kulitnya juga indah-indah. Ada yang hitam, coklat, belang-belang, dan ada juga yang memiliki bulu bercampur warna-warna tersebut. Nyata bahwa pejantannya bukanlah anjing sembarangan. Mereka pasti lebih mewarisi kecantikan ayah mereka yang tidak ketahuan siapa.

Saya tidak bisa percaya kalau kelima anak anjing yang lucu tersebut pernah berada dalam perut anjing kurus itu. Satu-satunya yang membuat saya yakin adalah karena ia sedang menjaga kelima anaknya dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Induk anjing itu kelihatan berbeda pada saat merawat anak-anaknya. Naluri keibuannya membuat hati orang yang melihatnya iba. Dan karena adegan itu terjadi tepat dibawah jedela kamar tidur saya, maka saya berniat memindahkan mereka ke tempat yang lebih nyaman.

Karena tidak berani memindahkan mereka saya minta tolong adik saya untuk melakukannya. Dengan alat pengangkut darurat ia mendekati induk anjing dan anak-anaknya itu. Tinggal selangkah lagi sebelum tangannya menjangkau salah satu anak anjing tiba-tiba terdengar bunyi “GGGRRRRRRR!!!!!” Dengan mata merah dan penuh kemarahan induk anjing itu menatap mata adik saya seakan-akan berkata “Berani sentuh, Tanggung resikonya!” Niat baik kami akhirnya diurungkan. Dan sambil menunggu waktu yang tepat kami membiarkan mereka di tempat semula. Hanya saja kali ini kami memberikan makanan dan minuman untuk mereka.

Keesokan harinya, saya melompat bangun dari tempat tidur dan segera bersiap-siap untuk ke gereja pagi meskipun hampir terlambat. Saya berjalan melewati induk anjing dan kelima anaknya. Mereka sedang tidur dengan wajah damai dan bahagia. Kebahagiaan Sang induk karena bangga dengan kehadiran anak-anaknya, sedangkan anak-anak itu kelihatan tenang dan aman melekat di tubuh induknya. Sekilas saya melihat nampan berisi makanan dan minuman semalam telah kosong. “Pfuhhh..” dengan lega namun sedikit tergesa saya langsung berlari ke gereja.

Ibadah gereja kami dimulai jam 7 pagi dan biasanya selesai dalam waktu 3 jam kemudian. Setelah itu sebagai seorang pemudi yang aktif masih ada beberapa kegiatan lain yang tidak memungkinkan saya untuk pulang sebelum tengah hari. Dan setelah semua kegiatan selesai, waktu yang di tempuh dari gereja ke rumah sekitar 40 menit, sehingga hari itu saya baru bisa tiba di rumah hampir jam 2 siang. Sepanjang hari pikirannya saya selalu teringat anak-anak anjing yang lucu itu. Suatu saat induk itu tidak akan terlalu protektif lagi dan kami bisa mendekati anak-anaknya serta mengajak mereka bermain.

Setiba di rumah keadaannya sepi, orang-orang pasti sedang berpergian. Kaki saya melangkah melalui tempat dimana anjing-anjing itu berada dan ingin melihat keadaan mereka. Pasti orang rumah lupa memberi makan, kasihan pikir saya. Sedikit berlari saya mendapat mereka. Namun, pemandangan yang saya lihat sangat mencengangkan. Kelima anak anjing yang lucu itu telah meringkuk kehilangan nyawa. Ternyata tempat di bawah jendela kamar saya adalah tempat yang tidak terlindung sinar matahari. Sinarnya yang tanpa ampun itu telah mengeringkan tubuh kelima anak anjing yang baru hadir di bumi semalam.

Di samping mereka induk anjing yang kurus jelek itu kelihatan sangat sedih. Ia mondar-mandir gelisah, mungkin setelah menyadari bahwa kelima buah hatinya sudah tidak bergerak lagi. Ia mengeluarkan suara meraung lemah namun menyayat hati sebagai tanda rasa dukanya yang dalam. Saya berdiri masih dalam keadaan kaget dan tercengang dengan pemandangan itu. Sang induk yang kemudian menyadari kehadiran saya mulai menunjukkan gerakan seperti minta bantuan. Sekiranya ia bisa berbicaara bahasa manusia pasti inilah yang akan dikatakannya “tolong bangunkan anak-anak saya, sejak tadi mereka tidur dan tidak bergerak.. apa yang terjadi.. jangan biarkan mereka seperti itu, tolonglah mereka”. Saya tahu itu yang akan dikatakannya karena pada waktu saya mengulurkan tangan dan menjamah anak-anaknya ia tidak bereaksi marah seperti yang sudah-sudah.

Saya kemudian masuk ke dalam rumah dan meminta bantuan adik saya yang ternyata tertidur sampai siang dan telah melupakan binatang-binatang malang itu. Ia kemudian menggali lubang kecil di belakang rumah dan menangakat tubuh-tubuh kecil itu satu persatu serta memasukkan mereka ke dalam lubang tersebut. Upacara penguburan sederhana tersebut disaksikan oleh sang induk dan saya sendiri. Saya kagum melihat ketabahan dan kecerdasan induk anjing itu yang rela melepaskan kelima anaknya. Sangat berbeda dengan semalam waktu kami mencoba membantu memindahkan mereka.

Hari-hari berikutnya berbeda. Sang induk masih berkeliaran di sekitar halaman rumah kami dengan tampang sedih. Seringkali kami mendengar lolongan tangisannya yang menyayat hati pada waktu malam. Sedapat mungkin ia akan selalu berada di sekitar kuburan kecil tempat dimana anak-anaknya bersitirahat selamamnya. Sesekali ia mengedus gundukan itu mungkin ingin memastikan bahwa anak-anaknya masih berada disana. Waktu berlalu dan anjing kurus itu semakin kurus dan jelek. Kami berusaha melayani dia dengan memberinya makanan tapi kelihatannya ia tidak berselera untuk makan.

Saya lupa menghitung berapa hari sejak kematian anak-anaknya sang induk kelihatan sekarat. Makanan apapun yang kami berikan tidak dijamahnya. Dugaan kami ia ditabrak pengendara tidak bertanggung jawab dan menderita luka dalam. Tapi sebenarnya tidak ada yang benar-benar tahu kenapa. Mungkin juga karena duka hatinya yang begitu dalam.

Keadaannya benar-benar mengibakan. Dan seakan-akan tahu bahwa ia telah sekarat dan bau busuk mulai keluar dari tubuhnya ia tidak berani mendekati kami. Ia selalu berbaring di pekarangan belakang rumah tepat dekat pagar pembatas. Saya kemudian mulai memberikan makanan yang lezat yang pasti menggiurkan semua makhluk yang bernama anjing dimanapun. Tapi itupun tidak disentuhnya. Sisa-sisa makan hanya berserakan disekitar tempat ia berada. Dan ia terus berbaring di situ.. sampai suatu saat ia tidak mampu lagi untuk berdiri.

Pagi hari yang cerah di suasana desa tampat tinggal kami, saya bangun dan ingin melihat keadaan induk anjing yang telah menyita perhatian saya selama minggu-minggu terakhir ini. Dedikasi dan kesetiaannya sebagai seekor induk telah meluluhkan hati saya. Tampangnya memang jelek namun hatinya mulia. Namanya mungkin hanya anjing kampung yang liar dengan kecerdasan rendah, namun kasihnya telah mengalahkan bentuk kecerdasan intelektual anjing peliharaan berharga jutaan rupiah yang tinggal di dalam rumah-rumah gedung. Ternyata sesuatu yang dipandang hina oleh manusia memiliki instink yang jauh lebih manusiawi.

Ada perasaan sesal karena terlalu cepat menyerah waktu pertama kali ada niat memindahkan mereka, namun juga ada perasaan salut akan kepahlawanan induk itu membela dan menjaga anak-anaknya dari intervensi manusia. Ia pasti telah mengalami banyak kali pengalaman menyakitkan dengan makhluk yang bernama manusia. Ia sering di sakiti. Masuk akal karena ia adalah anjing kampung liar yang tinggal di komunitas yang tidak saja menganggap ia kotor tapi juga najis. Pantas jika ia tidak ingin didekati. Ia tidak mengerti kalau maksud kami adalah untuk menolong, karena ia tidak pernah menerima pertolongan atau kebaikan sepanjang hidupnya. Yang ada hanyalah teriakan, tendangan, dan lemparan batu karena kehadirannya tidak dikehendaki dimana-mana.

Kepahlawanan dan ketulusan induk anjing itu membuat saya berlari ke halaman belakang rumah untuk meihat keadaanya. Namun apa yang saya temukan saat itu adalah tubuh induk anjing tercantik di dunia yang sudah tidak bernyawa. Ia tergeletak di kebun di luar pekarangan kami berjarak beberapa meter dari gundukan kecil tempat anak-anaknya terkubur. Bahkan sampai pada akhir hidupnya induk anjing yang cerdas itu tahu diri, sehingga pada waktu ajal menjelang ia memilih tempat di luar yang agak jauh dari kami namun tidak terlalu jauh dari anak-anaknya.

Sekali lagi kami melakukan penguburan bagi induk anjing yang telah memberikan pelajaran berharga bagi saya itu. Saya menangis menyaksikan tubuhnya yang kurus kering dan berbau busuk itu ditutupi tanah.


Tags:

4 Responses to “Kasih Anjing Liar”

  1. hi.
    nice to know u. nancy
    hope we can be friends..

    i like this post…

    n i will read the other ur post.

    i like ur blog..

    take care.
    GBU

  2. Sebagai salah satu penggemar anjing, saya jadi terharu juga membaca tulisan di atas. Ada setidaknya dua hal yang terlintas dalam benak saya saat mulai menulis komentar ini.

    Pertama, kebanyakan orang tidak bisa menghargai hewan peliharaan, apalagi hewan liar (terutama anjing dan kucing) sehingga memperlakukannya secara tidak pantas. Ada orang yang memperlakukan hewan peliharaannya hanya sebagai pelengkap rumah tangganya. Tidak pernah menunjukkan kasih sayang sebagai tuannya. Bahkan meninggalkan anjing mereka tanpa makanan, sampai seorang teman saya dan saya berinisiatif memberi makan anjing tersebut.

    Kedua, dan inilah yang membuat saya merasa agak dilematis, belas kasihan kepada seekor hewan terkadang lebih gampang terwujud dalam tindakan nyata daripada terhadap sesama manusia. Dan tampaknya inilah gambaran nyata dari degradasi status manusia pasca kejatuhan ke dalam dosa. Saya akui, saya pun tak jarang masuk bilangan ini.

  3. Bagus bgt ceritanya. Saya sampe nangis bacanya. Abis saya sendiri suka bgt ma anjing. Tp sayangnya Indonesia bukan tempat para anjing bisa hidup damai di jalan tanpa ada yg timpukin batu or malah bakar mereka hidup2. Saya pernah denger ceritanya dari temen, dia Muslim tp dia suka ma anjing, and dia punya anjing di rumah tp itupun dia mesti hati2 jangan2 sampe lepas karena rumahnya deket dgn mesjid. Dia kasih tau saya kalo dia liat org2 kampung sedang bakar induk anjing bersama anak2nya, hidup2. Bagaimana mereka bisa melakukan tindakan sekeji itu pada hewan? Bagaimana bisa anjing najis bagi mereka? Bagaimana bisa mereka membunuh anjing tanpa perasaan? Saya sering bilang ke temen2 Muslim saya kalo anjing itu punya nyawa, ciptaan Tuhan jg, mereka tidak bersalah tp kenapa mereka harus dibunuh oleh ciptaan Tuhan yg katanya berbudi pekerti. Emangnya Tuhan ga kasih tau untuk tidak membunuh hewan sekalipun? Tapi tentunya saya juga punya teman Muslims yg suka ma anjing. Mereka bilang, ga ada salahnya sayang ma anjing, toh mereka ada bacaan buat bersihin tubuh mereka. Anjing kan punya nyawa, ciptaan Allah jg, kenapa harus dijauhin. Dia bahkan kasih tau saya kalo tadinya dia jg anggap anjing itu najis banget tp suatu hari dia lihat seorang haji dengan anjingnya. Anjingnya itu tidur di dalam rumah. Bagaimana mungkin seorang haji memperlakukan anjing sebaik itu? Seorang haji pastilah lebih tau banyak tentang hubungan anjing dengan seorang Muslim, tp dia tidak menganggap anjing itu hina or pantas dibunuh. Itu yg buat dia berubah pikiran dan sekarang dia malah seperti seorang ibu untuk 2 anjing German Sheppard yg diurusnya. Semua anjing yg ketemu ma dia pasti langsung cium2 tangannya n dia pasti langsung gendong anjing itu.
    Bahkan Muslim2 yg saya temui di Mesir. Di Mesir kan rata2 Muslims, tp mereka tidak keberatan dengan anjing2 kampung di sekitar mereka, bahkan mereka memberi makan untuk anjing2 itu bahkan memeliharanya. Salah satu Muslim yg saya temui di sana bahkan memperlakukan anak2 anjing yg baru lahir penuh perhatian. Mereka bahkan tidah keberatan membiarkan anjing2 itu tidur di kursi. Saya langsung penasaran dan bertanya soal anjing dan Muslim. Dan dia bilang, di Mesir, Muslims2 disana ga benci ma anjing, mereka suka anjing, mereka bahkan tidak keberatan berdekatan dgn anjing. Kalo soal najis nya, toh ada bacaan dan mereka bisa membersihkan tubuh mereka. Jadi kenapa harus benci dan sampe membunuh anjing?
    Well, ga tau napa jd crita macem2 disini. Jangan marah ya. Saya tersentuh dengan ceritanya jd langsung dech, bablas.
    Saya cuma heran aja ma Muslim2 di Indonesia yg memperlakukan anjing sesadis itu. Saya jg pernah denger org Belanda yg ke Indonesia trus marah2 ma sekelompok anak2 yg lagi timpukin batu ke seekor anjing kampung.Tanpa ragu dia langsung marah and usir anak2 itu n gendong anjing itu. Trus dia ke pet shop n beli kandang, katanya dia mo bawa pulang anjing kampung itu ke Belanda. Hebat kan, org2 di Belanda pasti dpt kabar soal anjing itu.
    Ok dech.. Thanx.

  4. Hai Santy, terima kasih karena tulisan in jadi berkat buat kamu.
    Terma kasih juga untuk comment sepanjang ini. I think you are reading ‘between the lines’.
    Salam kenal neh…

Leave a Reply

Related Posts from the Past: