Pernahkan saudara melihat seseorang yang ‘has it all’? Sukses dalam pelayanan, pendidikan, karir dan keluarga. Meskipun kelihatannya ia tidak memiliki alasan untuk itu atau ada lebih banyak orang yang berdasarkan kemampuan jauh melebihinya, kehidupannya benar-benar beruntung. Meskipun ngomong tak becus ia bisa berkhotbah dan membuat orang bertobat dengan mudahnya. Tanpa usaha keras ia bisa mendapatkan proyek besar atau tanpa pendidikan memadai ia bisa memilki karir bagus. Sementara kebanyakan orang harus merangkak dan bekerja keras, ia mendapatkan semua cuma-cuma.
Banyak yang menerima berkat cuma-cuma ini karena warisan yang diturunkan oleh orang tua, nenek atau buyutnya. Barangkali di garis keturunan orang ini ada ibu atau nenek atau tante yang dengan setia menabung atau berinvestasi. Investasi ini bukan berupa materi atau properti karena peninggalan semacam itu sangat mudah ludes. Ada bentuk tabungan atau investasi lain yang lebih panjang gunanya yaitu kemurahan hati, pelayanan, doa syafaat , setia beribadah, dan lain-lain. Bagi Tuhan semua yang kita lakukan untukNya tidak akan pernah sia-sia (lihat 1 Kor 15:58).
Kalau saat ini saya bisa melayani Tuhan dan menikmati semua berkat Tuhan yang istimewa itupun saya percaya karena ada orang-orang yang telah berinvestasi, terutama mereka yang berada di garis keturunan saya. Waktu kecil karena sering dititipkan dirumah oma saya. Dari situ saya banyak belajar dan memperhatikan kehidupannya. Oma saya adalah janda pensiunan tentara yang sangat sederhana, berjuang untuk menghidupi ke lima anak dengan jumlah pensiun yang tentu saja tidak memadai. Namun, kesehariannya ia selalu mengucap syukur dan bukannya mengeluh.
Tidak banyak, atau kalau boleh dikata belum pernah saya bertemu orang yang saleh seperti oma saya ini. Meski tidak diberkati dengan harta melimpah beliau tetap setia berdoa, beribadah , bahkan melayani Tuhan tanpa lelah. Pikiran, hati, dan perkataannya selalu dipenuhi dengan Firman Tuhan. Oma saya juga sangat takut Tuhan, hidup bukan untuk dirinya melainkan hidup untuk menyembahNya. Sekarang menjelang usia 87 masih sehat dan cantik serta semakin cinta Tuhan.
Setiap tahun waktu pulang berkunjung saya bertemu dengannya, ia selalu berkata “Mungkin tahun depan kita tidak jumpa lagi” (tahu kan maksudnya?).
Namun tahun ini beliau berkata: “Firman Tuhan berkata umur manusia 70 tahun dan kalau kuat 80. Saat ini oma hidup dalam usia bonus dari Tuhan. Oma sudah sering berdoa supaya dipanggil Tuhan, capek sudah, tapi kalau Tuhan beri umur panjang, ini supaya oma tetap berdoa untuk anak cucu.”
Berdoa adalah satu-satunya pelayanan yang bisa dilakukannya setelah beberapa tahun terakhir pendengaraan dan penglihatannya mengalami penurunan. Meski bukan pendeta atau penginjil, Oma saya berkhotbah hingga beliau beusia 80, melayani Tuhan di kebaktian kecil-kecil.
Tiba-tiba, Tuhan membuka mata rohani saya untuk mengenal seseorang ‘to whom the credits are due’. Inilah yang memberikan saya keberanian untuk step out dan rasa percaya diri bediri melayani Tuhan karena saya tahu ada seseorang yang telah menabung untuk saya. Sekarang saya mewarisi berkat turunan dari apa yang telah dilakukannya bagi Tuhan selama berpuluh-puluh tahun dengan setia.
Saya menjadi lebih yakin dan optimis dengan panggilan dan visi yang Tuhan berikan karena saya tahu, this is not all about me. This is about God’s people and this is about people who paid the price. Sebaliknya saya pun tahu bahwa pelayanan kami adalah investasi terbesar yang bisa saya wariskan untuk anak cucu kami. Mereka akan jauh lebih diberkati dari apa yang telah kami terima sekarang.
Untuk itulah, betapa saya ingin mengajak umat Tuhan siapa saja yang membaca tulisan ini untuk tetap setia kepada Tuhan karena apapun yang kita kerjakan tidak akan sia-sia. Anak cucu kita akan mewarisi pelayanan apapun yang kita berikan dengan tulus kepada Tuhan. Kalau kutuk menurut Firman Tuhan diturunkan sampai turunan ke tiga dan keempat terlebih lagi berkat Tuhan. Dan kalau penyakti seperti darah tinggi, diabetes, bahkan kanker bisa diturunkan terlebih lagi pelayanan dan perbuatan baik kita. Tuhan kita setia dan adil, tidak pernah berhutang dan murah hati.
Tags: Family, Spirituality



March 14th, 2008 at 11:55 pm
Bener banget apa yg Mbak Dinar katakan, karna bagi saya pribadi ibu saya menjadi pembuka jalan untuk berkat perkenanan Tuhan turun atas saya. Dan sekarang saya melanjutkan tongkat estafet berikutnya yg nantinya saya akan pass on ke anak2 dan terus mengalir. Karna Tuhan kita adalah Tuhan atas generasi. Allah Abraham, Ishak dan Israel.
Itu serunya jadi keturunan Ilahi, dan ake seneng baget kalau liat oma2 atau opa2 lagi doa, sangat menyentuh. Ini message yang penting banget buat generasi muda2 terutama mereka yg akan berkeluarga. Pasti banyak akan di berkati.
Wah keren banget deh ….
March 26th, 2008 at 2:30 am
Wah tulisan Mbak Nancy bener2 menyegarkan dan menguatkan sekali. Memang sih saya masih muda, justru karena saya masih muda saya jadi semakin rindu untuk mewariskan banyak hal baik dan benar untuk anak cucu saya nanti
Gbu mbak …
March 27th, 2008 at 8:42 am
Dave, saya sering menemui motivasi utama orang mengikuti Tuhan adalah berkat materi. Sering memang Tuhan memberkati kita dengan harta juga, tapi untuk ini kit atelah menerima upahnya. Namun, ada orang-orang yang tetap setiap mengikut Tuhan meskipun miskin dan susah. Buat mereka ini, anak cuculah yang akan menerima upah ibadah mereka; selain dari upah yang di surga tentunya.