Nancy Dinar on January 20th, 2008

Bagian ini adalah sebagian cuplikan diary saya tahun 2007. Sebelum membaca post ini sebaiknya membaca pendahuluanya di My Defined Moments 2007.

=================

11 April 2007

Seringkali aku berdoa “Lord, let me do something!”. Sejak tamat MDiv empat tahun lalu, menikah dan punya anak sepertinya tidak ada lagi sesuatu yang berarti yang aku lakukan. Selain dari pelayanan yang tidak banyak –dan sekarang praktis sudah tidak ada- hari-hariku diisi dengan menjadi istri dan ibu rumah tangga.

Peran sebagai istri dan ibu ini juga tidak mudah. Banyak penyesuaian pikiran, tingkah laku dan ekspektasi untuk menjadi istri yang baik. Sedangkan menjadi ibu pertama kali untuk seorang anak yang lahir prematur tanpa arahan dan bimbingan orang lain juga menguras tenaga. Terkadang ada perasaan bersalah dengan peran ini. Kok setelah sekolah sekian lama hanya tinggal di rumah mengurus anak dan suami? itupun rasanya tidak bisa aku lakukan dengan baik. Ya, aku merasa bukanlah seorang istri dan ibu yang ideal.

Ambisi dan mimpi yang dulu terasa semakin jauh. Mereka terbang bersama dengan hari-hari yang aku lewati. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun, dan tahun berlalu tanpa ampun tidak meninggalkan apa-apa selain guratan ‘aging’ diwajahku.

Hari ini sekali lagi aku berdoa “Lord, let me do something” Dalam benakku “doing something” adalah memiliki karir, menjadi berkat bagi banyak orang, sibuk dari pagi sampai malam.

Tapi…

Tuhan menyadarkanku akan satu hal. Bahwa apa yang aku lakukan saat ini adalah karir dan pelayanan. Kalau suami melayani sebagai gembala untuk domba-domba, aku melayani gembala dan anak-anaknya. Menjadi istri dan ibu adalah pelayanan dan tentu saja ini bukan pelayanan yang mudah dan gampangan. Banyak yang gagal di bidang ini. Banyak yang menyesal belakangan tapi tak kuasa untuk kembali memperbaikinya.

Hari ini ketika aku melihat Jozey yang beranjak dari usia tiga dan ketika aku mengelus perutku yang membesar menunggu kelahiran anak keduaku bulan depan, aku terjaga. Waktu-waktu seperti ini mahal dan langka. Waktu-waktu ini tidak akan pernah kembali. Anak-anaku akan terus bertumbuh dan semakin tidak membutuhkan aku. Waktu dimana aku sanggup menggendong anakku sangat singkat, dia bertumbuh sangat cepat dan menjadi berat. Mengapa tidak kunikmati saja waktu-waktu indah ini. Bukankah ini adalah salah satu anugerah yang patut disyukuri? Disamping itu aku tetap melayani Tuhan dengan caraNya.

Tags: , ,

6 Responses to “Melayani Dengan CaraNya”

  1. Wah…ternyata Mbak Nancy pernah juga ngalamin “pausing-point” seperti itu… Congratulations!
    Jadi terbawa deh! Soalnya aku barusan married! (hehehe…09Desember2007 lalu!) Kalau mau dibilang, honeymoon-nya sudah lewat, sekarang the real life belajar hidup beneran ama istri.
    BTW, everything can be allright! Ya kan, Mbak? We have faith!

    Tenkyu…udah baca tentang “Burung”-ku! :)
    Hehehe…ada lagi ntar yang mau aku kopi paste dari tempat laen, Mbak Nancy harus baca deh!

    So…have a great time! God bless you always!

  2. Hi Nancy, salam kenal juga. Makasih udah mampir blog aku n ngelink blog aku. :)

    Katanya, life is about choice… whatever ur choice, just enjoy it.

    wahh bentar lagi rumahmu tambah rame dong, Jozey pasti seneng mo punya dedek. Slamet yah, smoga proses lahirannya lancar.

  3. Hai Dewi, thank’s about commentnya. Hanya saja cerita ini ditulis tahun lalu, sekarang dedeknya Jozey udah 9 bulan. I just recall some of my diary last year. -:)

    Bless you..

  4. haduhhhh… ma’af yah, aku gak mention tanggalnya… kirain apdetan baru. :D

    crita2 dong ttg dua krucil kamu trus pasang fotonya, pasti seru banget yah punya 2 krucil. Aku jg pengen sih bikin atu lagi, maunya anak cowok… tapi blon progress, masih dalam tahap dipikirin. hahaha… *kapan jadinya?*

  5. Walaupun berbeda situasi sama mbak, tapi aku pernah ngalamin saat2 yang sama seperti yang mbak Nancy alami.. jadi, aku tau rasanya seperti apa..
    Satu2nya jalan untuk mengatasinya, hanya dengan bersyukur dan menikmati SEMUA yang Tuhan sudah berikan dalam kehidupan kita..
    Thanks for your inspiring post.. GBU!

  6. Hi Nancy, thanks dah masukin ke blogrollnya ya …
    Kayanya pengalaman Nancy hampir dialami semua ibu yang berlatarbelakang aktif, baik di dalam pelayanan, study maupun karir. Dan betul bu, … menjadi istri dan ibu adalah pelayanan dan juga karunia. Ngga semua orang bisa menjalaninya, saya aja ngga yakin bisa huehehe …

    Salam kenal ya. Gbu

Leave a Reply

Related Posts from the Past: