Nancy Dinar on December 14th, 2007

Pertama kali bertemu muka dengan Pak Shim yaitu hari pertama menginjakkan kaki di Korea. Kami sudah sering berkoresponden lewat email sebelumnya karena beliau adalah International registrar sekolah yang akan saya masuki. Kesan saya orangnya rapih, detail dan sangat terorganisir. Dan walapun usianya jauh lebih tua dari ayah saya namun kelihatan sehat, kuat serta semangat hidup yang tinggi.

Murid yang lain merasa tidak cocok dengan tata caranya yang menurut mereka suka ngatur, aturannya yang kaku dan mengekang, terutama tentang masalah-masalah di asrama. Pantas, karena murid-muridnya bukan anak remaja lagi, kebanyakan sudah berkeluarga dan termasuk pemimpin rohani di negaranya. Tapi bagi saya beliau orangnya baik dan penuh perhatian. Dia sering mencari-cari cara bagaimana memberikan saya part time job buat supaya ada tambahan uang saku.

Bapak Shim mempunyai anak lelaki semata wayang yang sudah sangat siap untuk menikah. Terasa ia begitu khawatir karena anaknya belum serius dengan satu wanita pun. Mengingat usianya saat itu memang sudah pantas untuk menimang cucu. Saya sering bertanya mengapa cuman punya anak satu. “Well..” katanya seraya menarik napas dalam-dalam dan manaikkan pundaknya, ia selalu menjawab dengan tatapan mata menyimpan seribu misteri.

Suatu hari ia mengundang saya ke rumahnya yang apik, membawa tour untuk melihat setiap sudut rumah termasuk kamar tidurnya.

“This is my bedroom, double bed as always, one of the reasons that we have only one child” katanya sambil menggoda saya (lol). Bapak Shim terkenal sangat bangga dan mengasihi istrinya yang jauh lebih muda dan cantik.

Tahun demi tahun beralu, saya telah lama menyelesaikan sekolah dan Bapak Shim pun telah retired, namun kami masih sesekali bertemu untuk lunch atau ngobrol di Coffee Shop. Bulan April tahun ini, kami bertemu lagi. Ia membawa kabar gembira, katanya

“Saya mau mengundang kamu untuk acara pernikahan anak saya”, katanya sambil mengeluarkan buku saku dan spidol untuk mencatatnya bagi saya.

“Oh ya, akhirnya menikah juga??” saya pun ikut bersemangat melihat sukacitanya

“Kapan?” tanya saya.

“Oktober tanggal 22!”.Katanya, yang berarti enam bulan kemudian.

Mendekati hari H-nya, rasanya sulit untuk memenuhi undangannya. Saat itu Nando sedang tugas ke luar negeri, anak saya sulung sedang demam tinggi, dan walaupun Yohanes , staff gereja kami bersedia menemani saya masih berpikir tentang repotnya berpergian dengan dua bayi. Ingin rasanya mengurungkan niat untuk memenuhi undangan itu. Namun, mengingat betapa pentingnya event ini bagi Bapak Shim, yang sudah mengundang kami berkali-kali, lewat telpon, lewat pos, lewat makan siang. Bukan itu saja, saya satu bagaimana rasa khawatirnya dulu, usianya yang sudah 72 tahun, dll. Saya tidak punya alasan yang lebih layak untuk menolak.

Pergilah kami ke pesta itu. Pesta yang mewah dan megah. Pengantin yang tampan dan cantik. Saya menyalami tangan Bapak Shim dan berkata “No wonder you were waiting that long, she is beautiful” Dulu saya pernah menyodorkan beberapa kenalan Korea tapi Ia sangat picky dalam soal ini. Banyak standar yang dibuatnya untuk calon menantu, bahkan saya sendiri pun tidak lolos seleksi (lol).

Beberapa hari kemudian beliau menelpon untuk mengucapkan terima kasih. Saya masih terus memberi pujian yang tulus tetang pestanya yang mewah, pengatinyan yang rupawan serta makannya yang lezat. “You must be spent a lot of money”, saya bercanda dan ia tertawa.

“Jujurnya, ada profesor seminary yang protes, katanya, pesta orang Kristen di Korea tidaklah perlu semewah itu tapi saya menjawab ini yang pertama dan terakhir lagipula tidak semua biaya dari saya” Saya mendengar nada suara yang bangga dan senang.

“Saya berdoa tahun depan Anda akan segera menimang cucu…,

“I am not sure if I’ll live that long”, jawabnya lemah ,

“Sure, you will!” tukas saya sungguh-sungguh.

Ya, Bapak Shim seperti telah menyelesaikan tugasnya yang paling penting dalam hidup, sehingga membuat dia siap menghadap Sang Kuasa kapan saja.

Well, apa yang terpenting dalam hidup kita? Dengan itulah seluruh upaya, tenaga, pikiran kita tertuju. Bagi saya itulah yang dinamakan Puncak. Ada puncak-puncak kecil, yaitu setiap milestones hidup yang kita lewati tapi ada juga puncak yang tertinggi dimana Sang Pencipta akan menjemput kita. Dan pada saat waktu itu tiba, sudahkan Anda mengerjakan yang terpenting dalam hidup?

Tags: ,

One Response to “Yang Terpenting Dalam Hidup”

  1. ivansebastianlayonardo
    May 30th, 2008 at 5:05 pm

    kalo sekolah bahasa di korea bisa kerja part time juga ya???
    biasanya program bahasa palink lama berapa thn??
    tolong dibalas ya.. saya ingin sekali sekolah di korea…

Leave a Reply