“Nggak bisa, kita nggak bisa tinggal di Indonesia” kata Nando lewat telpon semalam. Dari suaranya kedengaran kalau dia capek dan kesal. Nando dan anak sulung kami Joel ,memang sedang ada di Jakarta saat ini. Mulanya saya mengira dia ketinggalan busway atau sedang kecopetan sehingga kesal seperti itu.
“Kenapa?” tanya saya pengen tahu . Selama ini saya memang sering mengajukan pertanyaan seperti, ‘Kapan kita akan pulang Indonesia?’ atau ‘Akankan kita selamanya tinggal di Luar Negeri?’ yang hampir pasti jawabannya adalah “Kita berdoa ya?”. Dan saya pun harus puas dengan jawaban tersebut.
Tapi sekarang tiba-tiba ada alasan mendadak yang membuatnya mengambil ketetapan hati untuk tidak mau tinggal di Indonesia.
“Sudah satu jam di sini belum bisa kebuka” , masih kedengaran kesal. Nah apalagi nih, kok jauh dari istri malah pake buka-bukaan segala.
“Saya bahkan tidak bisa buka nancydinar.com” lanjutnya, membuat saya akhirnya mengerti kemalangan apa yang sedang dihadapi suami saya. Bukan ketinggalan bis, bukan kecopetan, bukan juga lagi buka-buka-an, tapi ia sedang struggle dengan sambungan internet di warnet.
Dulu , pada saat status saya masih sebagai full time mom, saya tidak bisa mengerti apa daya tarik internet dan mengapa penting memiliki komputer yang canggih. Saya lebih senang berpikir bagaimana menyajikan makanan yang enak untuk makan siang atau jenis masakan apa lagi yang perlu dieksplore. Menyenangkan keluarga dengan masakan adalah hobi saya. Tidak heran kalau saya sering menghabiskan waktu berjam-jam di dapur hanya untuk menyiapkan makan siang.
Sekarang, berlama-lama di dapur terasa membuang-buang waktu karena hobi baru saya yang pantas diberi gelar ‘mom on the blog’. Jika ada yang bertanya “Masak apa hari ini, Nancy?” saya akan jawab “Apa saja yang penting cepat dan bergizi”
Saya dapat merasakan pandangan mata Nando jika saya mulai berlama-lama di depan komputer. Mengetik draft, mengedit, review, publish, ngelayap ke blog tetangga, dll, yang tentu saja jika mau diikutin semua membutuhkan waktu seharian. Suami saya yang hobi makan terutama masakan istri pasti merasa kehilangan.
Tidak ada protes sih, karena pada dasarnya Nando lah yang selalu mendorong saya untuk menulis dan membuat blog. Halangan utama saya sebelumnya , pertama karena persoalan membagi waktu dan kedua karena masalah gaptek. Perlahan-lahan ia mulai mengajar apa makna istilah-istilah aneh tapi familiar karena mirip dengan nama-nama jenis kue dan snack seperti: page, blogroll, dashboard, plugin, feed, dll, sampai saya kemudian bisa ditinggal dan belajar mandiri (ceile, kayak anak SD aja).
Sejak itu, saya bisa mengerti mengapa Nando sangat betah di depan komputer dan mengapa internet itu perlu. Semakin banyak hal-hal yang dapat kami kerjakan bersama-sama. Sekarang, Nando sering memuji dengan mata berbinar-binar “Istriku sekarang sudah canggih ya”, yang membuat saya tersipu-sipu dengan pipi memerah (norak, ah!) tapi paling tidak membuat saya semakin percaya diri untuk berselancar di dunia blogging ini.
Tags: Blogging, Daily Life, Family, Personal



November 17th, 2008 at 10:25 pm
huehue lucu ..
gw bs ngerasain se, mang diindo lelet abis internetnya…
kapan ya pemerintah indo mo dukung it infrastructure biar bs kayak sg or malaysia ..