Archive for December, 2007

Cuaca 25 Desember terasa hangat, orang yang gandrung White Christmas bisa jadi kecewa karena tidak ada salju menutupi jalan-jalan. Tidak peduli lagu-lagu di setiap pelosok kota melantunkan “let it snow, let it snow” tapi snow-nya nggak turun-turun juga. Salah siapakah? Apakah ini akibat Global Warming? Semoga yang berkata Global Warming is just a myth bukanlah mereka yang mengharapkan tradisi salju turun di hari Natal.

Buat saya ini adalah Natal ke delapan di Korea. Pertama kali datang beberapa bulan menjelang Christmas, saya belum bisa membayangkan apa yang dinamakan dingin menusuk sum-sum tulang. Beberapa teman mengajari teknik Surviving Winter termasuk membeli sepatu boots kulit berhak tebal yang sedikit kebesaran mengingat kita perlu memakai kaso kaki beberapa lapis. Sebuah keputusan yang sangat tidak berhikmat karena Nando selalu menertawakan sepatu lucu tersebut, padahal kita berpacaran saja belum.

Saya pun biasa memakai baju berlapis-lapis lengkap dengan high neck, sarung tangan dan topi. Kebetulan winter pertama adalah yang paling parah di Korea. Kami harus berjalan di salju yang selutut dan sangat hati-hati menjaga keseimbangan badan supaya tidak jatuh terpeleset. Asrama sekolah saya waktu itu terkenal lebih dingin dari dari yang lain ditambah letaknya di daerah perbukitan.

Seringkali kedapatan saya meringkuk di kamar berselimut tebal menikmati hangatnya selimut listrik karena system pemanasan di asrama tidak memadai. Meskipun demikian kami harus siap sedia sewaktu-waktu dipanggil untuk membersihkan salju yang menutupi jalan masuk ke sekolah. Memang peran terbesar saya dalam membersihkan salju adalah berteriak memberikan semangat kepada kaum pria yang memegang sekop untuk bekerja lebih giat lagi. It was fun.

Itulah sebabnya saya heran karena tahun ini saya bahkan tidak memakai jaket tebal untuk keluar rumah. Ahh, apakah dengan demikian tradisi White Christmas telah berlalu? Saya kira tidak. White tidak selalu berarti salju. White juga bisa berarti pure and holy, mengingatkan kita untuk tetap menjaga hati agar tetap pure and holy tertutama dalam menghadapi tahun baru yang datang menghadang.

Hari-hari yang terbentang di depan kita masih kosong dan bersih, tergantung dengan apakah kita akan melukisnya. Akankah dipenghujung tahun kita mendapati lukisan itu berarti dan dengan bangga menyebutnya masterpiece ataukah sebaliknya? Dengan apakah kita akan mengisi hari-hari itu, dengan senyum dan tawa bahagia atau dengan hati duka dan derai air mata? It’s a matter of choice.

Weleh, kali ini kok nulisnya jagi ngalor ngidul, padahal tadinya pengen nulis tentang Christmas Wish and New Year Resolution (I have no clue, lol). Ya,ya, sudah menjadi tradisi pribadi saya selalu make a personal wish di hari Natal, seperti seorang anak kecil yang merengek minta kado natal pada Papanya. Sedangkan di tahun baru saya membuat beberapa list hal-hal yang perlu diimprove.

Tahun 2008 saya mengajak teman-teman di Korea untuk tidak mengambil satu langkah maju, karena selangkah maju hanya sedikit terpaut dari berhenti di tempat. Yang perlu kita lakukan adalah mengambil lompatan sejauh-jauhnya. Saya sendiri terus memotivasi diri untuk mengambil lompatan jauh itu. Sambil membayangkan visi yang Tuhan taruh dalam hati saya dan memikirkan cara untuk mewujudkannya. Menjadikan tahun yang baru lebih baik bahkan jauuuuh lebih baik dari sebelumnya seharusnya menjadi tradisi kita bersama.

Comments 4 Comments »

Comments 2 Comments »

Busy..busy..busy..! Akhirnya setelah tiga minggu tenang dan kesepian, Selasa lalu Nando dan Joel pulang membuat kehidupanku kembali berputar normal. Seperti biasa setelah berpergian jauh saya akan kebagian beres-beresin koper-koper, tas-tas, buku-buku, baju kotor dan bersih yang ujuibile banyaknya. Waktu pergi saya telah membekali mereka dengan pakaian hampir setengah isi lemari masing-masing yang ternyata setengahnya kembali utuh tidak pernah terpakai. Nando juga beli banyak bahan seperti buku dan CD mengikuti saran dokter untuk mematangkan Bahasa Indonesia Joel. Ditambah dengan makanan-makanan, titipan-titipan, barang-barang gereja pantas kalau mereka over weight. Dan seperti biasa juga saya kebagian ole2 kecil yang dibeli dari Duty Free bandara.

Hari ini rumah baru terasa lega. Semua sisa-sisa barang telah diberesin Nando demi melihat sebagian besar waktu saya adalah untuk menyiapkan dan menyuapi anak-anak makan. Ya, rumah kita tidak bisa seperti dulu lagi bersih, rapih, dan kinclong karena dua anak kami bermain-main dengan apa saja yang bisa mereka sentuh.

“Nan, dulunya Nancy rajin kan?” tanya saya sedikit mengurangi rasa bersalah melihat berantakannya rumah kita. “Sama, Nando juga dulu rajin.” Dan kita sama-sama tertawa.

 Tentu saja Nando melakukan sedikit ekstra pekerjaan hari ini selain karena kewajiban membantu istri juga karena untuk memberikan sedikit rileks dihari Anniversarry pernikahan kita yang ke-5. Tidak ada acara apa-apa untuk memperingati hari istimewa ini selain dari mimpi untuk membuat Anniversarry kami bisa diperingati lebih istimewa tahun-tahun berikutnya.

 Tadi malam kami bercakap-cakap sampai mulut ini nggak bisa kebuka lagi karena ngantuk. Nando bilang “Nancy, ada lima hal yang nando ingin nancy tahu, ‘I love you the way you are’”. Hening. Penasaran saya bertanya “Katanya Lima?” “Iya, lima kali I love the way you are, bahkan sepuluh kali” Jawabnya simple, like always.

 Kata-kata yang membuat saya un-comfortable menerimanya, I lost my self confidence. Dengan badan yang sedikit melar, rambut jarang karena rontok,  tidak pernah berdandan (kecuali ke gereja), kulit wajah yang dehidrasi karena usia, cuaca dan juga karena tidak pernah merawat diri, mandi dua hari sekali, memakai daster bekas hamil dan berlepotan dengan sisa makanan bayi, masih saja diberi compliment dari suami ‘I love you the way you are’!. Dalam hati saya berjanji untuk tampil lebih pantas sekedar membuktikan bahwa perasaannya tidaklah percuma.

 Ahhh, tapi keinginan tinggal keinginan. Baru saja saya bisa menidurkan dua jagoan kecil kita yang membutuhkan waktu hampir 2 jam sebelum ’robot’ terakhir menutup matanya. Cepat-cepat saya bangun krasak krusuk makan siang yang tertunda, melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul 3 sore ,mempercepat menelan gumpalan-gumpalan nasi yang turun tanpa rasa di tenggorokan dan akhirnya, duduk depan komputer untuk menulis! Saya baru sadar, bahwa dari bangun pagi sampai sekarang  saya bahkan belum sempat cuci muka dan gosok gigi. Oh..poor Nando! punya istri seperti ini.

Saya melirik baju yang menempel di tubuh saya: daster kotak-kotak dipadu dengan nebok (celana ketat untuk musim dingin) warna kulit. Iseng-iseng saya menundukkan kepala untuk mencium aroma badan saya, bau daging kecap, kimchi dan tuna (menu makan siang kami) bercampur dengan bau minyak telon , susu dan makanan bayi. Dalam hati saya berkata “untung musim dingin, saya bebas dari bau keringat”.

Sebenarnya dua bulan lalu, sedikit melankolik dan romantis saya bilang ke Nando, “Nanti untuk anniversarry kita tahun ini, nancy nggak usah dikasih hadiah apa-apa selain dari perbaiki CD wedding kita dan buat clip foto-foto kenangan untuk diupload di blogspot”. Saya pun telah memilih lagu kenangan yang paling romatis dan sesuai dengan kisah kita berdua. Namun melihat keadaan kami sekarang, rasanya saya masih perlu terus menunggu keinginan in terwujud.

Hari “kita” hampir berlalu, Sabtu adalah hari meetings -meeting demi meeting-, tapi Puji Tuhan yang lebih istimewa akan datang (Hari Natal maksudnya).

 

NB: untuk yang membaca tulisan ini maaf kalau ada kata-kata yang tidak berkenan. Selamat Natal dan Tahun Baru.

Comments No Comments »

Pertama kali bertemu muka dengan Pak Shim yaitu hari pertama menginjakkan kaki di Korea. Kami sudah sering berkoresponden lewat email sebelumnya karena beliau adalah International registrar sekolah yang akan saya masuki. Kesan saya orangnya rapih, detail dan sangat terorganisir. Dan walapun usianya jauh lebih tua dari ayah saya namun kelihatan sehat, kuat serta semangat hidup yang tinggi.

Murid yang lain merasa tidak cocok dengan tata caranya yang menurut mereka suka ngatur, aturannya yang kaku dan mengekang, terutama tentang masalah-masalah di asrama. Pantas, karena murid-muridnya bukan anak remaja lagi, kebanyakan sudah berkeluarga dan termasuk pemimpin rohani di negaranya. Tapi bagi saya beliau orangnya baik dan penuh perhatian. Dia sering mencari-cari cara bagaimana memberikan saya part time job buat supaya ada tambahan uang saku.

Bapak Shim mempunyai anak lelaki semata wayang yang sudah sangat siap untuk menikah. Terasa ia begitu khawatir karena anaknya belum serius dengan satu wanita pun. Mengingat usianya saat itu memang sudah pantas untuk menimang cucu. Saya sering bertanya mengapa cuman punya anak satu. “Well..” katanya seraya menarik napas dalam-dalam dan manaikkan pundaknya, ia selalu menjawab dengan tatapan mata menyimpan seribu misteri.

Suatu hari ia mengundang saya ke rumahnya yang apik, membawa tour untuk melihat setiap sudut rumah termasuk kamar tidurnya.

“This is my bedroom, double bed as always, one of the reasons that we have only one child” katanya sambil menggoda saya (lol). Bapak Shim terkenal sangat bangga dan mengasihi istrinya yang jauh lebih muda dan cantik.

Tahun demi tahun beralu, saya telah lama menyelesaikan sekolah dan Bapak Shim pun telah retired, namun kami masih sesekali bertemu untuk lunch atau ngobrol di Coffee Shop. Bulan April tahun ini, kami bertemu lagi. Ia membawa kabar gembira, katanya

“Saya mau mengundang kamu untuk acara pernikahan anak saya”, katanya sambil mengeluarkan buku saku dan spidol untuk mencatatnya bagi saya.

“Oh ya, akhirnya menikah juga??” saya pun ikut bersemangat melihat sukacitanya

“Kapan?” tanya saya.

“Oktober tanggal 22!”.Katanya, yang berarti enam bulan kemudian.

Mendekati hari H-nya, rasanya sulit untuk memenuhi undangannya. Saat itu Nando sedang tugas ke luar negeri, anak saya sulung sedang demam tinggi, dan walaupun Yohanes , staff gereja kami bersedia menemani saya masih berpikir tentang repotnya berpergian dengan dua bayi. Ingin rasanya mengurungkan niat untuk memenuhi undangan itu. Namun, mengingat betapa pentingnya event ini bagi Bapak Shim, yang sudah mengundang kami berkali-kali, lewat telpon, lewat pos, lewat makan siang. Bukan itu saja, saya satu bagaimana rasa khawatirnya dulu, usianya yang sudah 72 tahun, dll. Saya tidak punya alasan yang lebih layak untuk menolak.

Pergilah kami ke pesta itu. Pesta yang mewah dan megah. Pengantin yang tampan dan cantik. Saya menyalami tangan Bapak Shim dan berkata “No wonder you were waiting that long, she is beautiful” Dulu saya pernah menyodorkan beberapa kenalan Korea tapi Ia sangat picky dalam soal ini. Banyak standar yang dibuatnya untuk calon menantu, bahkan saya sendiri pun tidak lolos seleksi (lol).

Beberapa hari kemudian beliau menelpon untuk mengucapkan terima kasih. Saya masih terus memberi pujian yang tulus tetang pestanya yang mewah, pengatinyan yang rupawan serta makannya yang lezat. “You must be spent a lot of money”, saya bercanda dan ia tertawa.

“Jujurnya, ada profesor seminary yang protes, katanya, pesta orang Kristen di Korea tidaklah perlu semewah itu tapi saya menjawab ini yang pertama dan terakhir lagipula tidak semua biaya dari saya” Saya mendengar nada suara yang bangga dan senang.

“Saya berdoa tahun depan Anda akan segera menimang cucu…,

“I am not sure if I’ll live that long”, jawabnya lemah ,

“Sure, you will!” tukas saya sungguh-sungguh.

Ya, Bapak Shim seperti telah menyelesaikan tugasnya yang paling penting dalam hidup, sehingga membuat dia siap menghadap Sang Kuasa kapan saja.

Well, apa yang terpenting dalam hidup kita? Dengan itulah seluruh upaya, tenaga, pikiran kita tertuju. Bagi saya itulah yang dinamakan Puncak. Ada puncak-puncak kecil, yaitu setiap milestones hidup yang kita lewati tapi ada juga puncak yang tertinggi dimana Sang Pencipta akan menjemput kita. Dan pada saat waktu itu tiba, sudahkan Anda mengerjakan yang terpenting dalam hidup?

Comments 1 Comment »

“Nggak bisa, kita nggak bisa tinggal di Indonesia” kata Nando lewat telpon semalam. Dari suaranya kedengaran kalau dia capek dan kesal. Nando dan anak sulung kami Joel ,memang sedang ada di Jakarta saat ini. Mulanya saya mengira dia ketinggalan busway atau sedang kecopetan sehingga kesal seperti itu.

“Kenapa?” tanya saya pengen tahu . Selama ini saya memang sering mengajukan pertanyaan seperti, ‘Kapan kita akan pulang Indonesia?’ atau ‘Akankan kita selamanya tinggal di Luar Negeri?’ yang hampir pasti jawabannya adalah “Kita berdoa ya?”. Dan saya pun harus puas dengan jawaban tersebut.

Tapi sekarang tiba-tiba ada alasan mendadak yang membuatnya mengambil ketetapan hati untuk tidak mau tinggal di Indonesia.

“Sudah satu jam di sini belum bisa kebuka” , masih kedengaran kesal. Nah apalagi nih, kok jauh dari istri malah pake buka-bukaan segala.

“Saya bahkan tidak bisa buka nancydinar.com” lanjutnya, membuat saya akhirnya mengerti kemalangan apa yang sedang dihadapi suami saya. Bukan ketinggalan bis, bukan kecopetan, bukan juga lagi buka-buka-an, tapi ia sedang struggle dengan sambungan internet di warnet.

Dulu , pada saat status saya masih sebagai full time mom, saya tidak bisa mengerti apa daya tarik internet dan mengapa penting memiliki komputer yang canggih. Saya lebih senang berpikir bagaimana menyajikan makanan yang enak untuk makan siang atau jenis masakan apa lagi yang perlu dieksplore. Menyenangkan keluarga dengan masakan adalah hobi saya. Tidak heran kalau saya sering menghabiskan waktu berjam-jam di dapur hanya untuk menyiapkan makan siang.

Sekarang, berlama-lama di dapur terasa membuang-buang waktu karena hobi baru saya yang pantas diberi gelar ‘mom on the blog’. Jika ada yang bertanya “Masak apa hari ini, Nancy?” saya akan jawab “Apa saja yang penting cepat dan bergizi”

Saya dapat merasakan pandangan mata Nando jika saya mulai berlama-lama di depan komputer. Mengetik draft, mengedit, review, publish, ngelayap ke blog tetangga, dll, yang tentu saja jika mau diikutin semua membutuhkan waktu seharian. Suami saya yang hobi makan terutama masakan istri pasti merasa kehilangan.

Tidak ada protes sih, karena pada dasarnya Nando lah yang selalu mendorong saya untuk menulis dan membuat blog. Halangan utama saya sebelumnya , pertama karena persoalan membagi waktu dan kedua karena masalah gaptek. Perlahan-lahan ia mulai mengajar apa makna istilah-istilah aneh tapi familiar karena mirip dengan nama-nama jenis kue dan snack seperti: page, blogroll, dashboard, plugin, feed, dll, sampai saya kemudian bisa ditinggal dan belajar mandiri (ceile, kayak anak SD aja).

Sejak itu, saya bisa mengerti mengapa Nando sangat betah di depan komputer dan mengapa internet itu perlu. Semakin banyak hal-hal yang dapat kami kerjakan bersama-sama. Sekarang, Nando sering memuji dengan mata berbinar-binar “Istriku sekarang sudah canggih ya”, yang membuat saya tersipu-sipu dengan pipi memerah (norak, ah!) tapi paling tidak membuat saya semakin percaya diri untuk berselancar di dunia blogging ini.

Comments No Comments »

Suatu hari yang sibuk di subway saya bertemu dengan seorang wanita yang menarik perhatian saya. Apa yang istimewa dari wanita tersebut? Wajah penuh keriput, bibir dower, hidung jelek, rambut jarang tiga warna dan make up yang dipaksakan. Perkiraan saya wajahnya kelihatan jauh lebih tua dari usia dia sebenarnya . Sangat kontras dengan wajah-wajah muda, cantik dan belia dengan dandan modern disekelilingnya. Secara umum orang akan melihat dia dan teringat akan Yzma, musuh dalam selimut Kuzco (yang sering nonton cartoon Walt Disney pasti tahu).

Saya memandangnya terpesona, karena tiba-tiba dalam hati saya ingat Firman Tuhan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dan wanita yang berdiri di depan saya ini juga merupakan salah satu contoh image Allah. Kebayang nggak sih, kalau Tuhan wajahnya demikian? Nggak rela rasanya. Para pelukis selalu menggambarkan Yesus sebagai seorang yang sangat tampan yang kalau hidup di jaman sekarang pasti bisa dijadikan model bahkan mungkin diberi julukan ‘man of the year’ atau ’sexiest man alive’.

Tapi demikian Firman Tuhan, dan saya percaya. Wanita itu adalah ciptaan Allah yang creative, the ultimate intelligent being yang tentu sangat suka variasi. Jika semua wanita mirip Angelina Jolie dan setiap pria seperti Brad Pitt, betapa tidak kreatifnya Allah kita itu. Jika kita melihat sekeliling, ada orang yang putih, kuning, coklat dan hitam; mata belok, sipit; tubuh pendek, tinggi, gemuk, kurus. Bagi Allah semuanya itu indah, “Maka Allah melihat segala yang dijadikaNya itu sungguh amat baik.” (Kej 1:31)

Entah kenapa, tiba tiba dijaman modern ini manusia mulai menentang Allah dan seleraNya. Menggolong-golongkan sebagai yang jelek dan cantik, baik dan buruk, padahal penciptanya sendiri tidak pernah mengkategorikan seperti itu.

Saya punya anak dua orang, yang seorang bermata besar yang memukau setiap orang Korea yang menjumpainya “wah…matanya bagus ya” begitu sering saya dengar. Anak saya yang kedua, tidak memiliki mata seperti kakaknya, boleh dikata matanya hampir sama seperti kebanyakan bayi yang lahir disini. Saya jarang mendengar orang-orang mengangumi mata anak bungsu saya karena kebayakan orang Korea terobsesi dengan mata besar dan berkelopak serta menjadikan itu sebagai tolok ukur kecantikan.

Bisa saja mereka memasang label, yang ini cakep yang itu tidak cakep padahal dimata saya kedua anak saya sangat ganteng tidak bisa dibandingkan mana yang lebih satu sama lainnya. Jika ada yang mengklasifikasikan mereka sesuai dengan selera mereka sendiri, It’s about themselve not about my sons.

Demikian juga dengan Tuhan yang tidak henti-hentinya mengagumi anak-anakNya siang dan malam, dengan penuh cinta kasih dan kekaguman, sama seperti yang saya rasakan pada anak-anak saya. Tapi kemudian ada orang-orang yang mulai mengejek, menghina, mengatakan mereka jelek, bodoh, dsb. Yang punya anak, pasti bisa membayangkan gimana rasanya jika ada yang berkata anak kita jelek atau bodoh.

Setiap malam saya selalu berkata kepada anak sulung saya (yang sudah agak ngerti),
“Jozey kamu anak hebat, pintar, ganteng, special, dan anak yang sangat berharga, the Bible tells you so”
Dan ia sering melanjutkan “Ia Jozey hebat seperti power rangers” (heros favoritnya)
“kalau besar mau jadi apa?” kadang saya bertanya
“Mau jadi robot” jawabnya
“Ya, robot is hero means you’re going to be a hero helping many people” kata saya mengarahkan dia dari hobinya akan tokoh-tokoh heroic.

Apakah dengan demikian nantinya jadi besar kepala atau jadi sombong? tanya sebagian orang. I don’t think so. Saya mengatakan apa yang sebenarnya menurut Firman yang saya percayai. Saya sedang menanamkan rasa percaya diri dan self image yang benar kepada mereka sedini mungkin. Jika saya tidak mengatakan siapa mereka sebenarnya sekarang, maka teman-teman mereka atau media massa akan mengatakan siapa mereka sebaliknya nanti.

Comments 4 Comments »

Louisiana Jones Acthitcountersite.com -->