Nancy Dinar on November 20th, 2007

“Nancy, beli pita berwarna merah muda satu setengah meter di Toko ABC!” kata mama sembari memberikan uang seratus perak. Dengan penuh semangat saya meraih uang tersebut dan berlari ke toko yang dimaksud. Sepanjang jalan, saya terus menggumankankan “pita merah muda satu setengah meter, pita merah mudah satu setengah meter” berulang-ulang karena takut lupa akan pesan mama.

Walau toko ABC itu dekat tapi terasa jauh bagi anak seusia saya. Hari itu adalah perayaan ulang tahun pertama yang dipestakan. Di rumah mama sudah menyediakan kue-kue bermacam-macam, saya membantu menghitung dan memasukkannya kedalam plastic tiga biji-tiga biji. Undangan sudah dijalankan. Beberapa anak dekat rumah dan saudara sepupu akan ikut merayakannya, sedangkan yang akan memimpin acara itu adalah Ibu guru kelas satu dari sekolah.

Saya merasa telah menjadi seorang gadis dewasa apalagi diberi kepercayaan untuk pergi ke toko ABC yang jaraknya lumayan jauh karena harus melalui beberapa gang. Biasanya saya tidak diperkenankan pergi sejauh itu, mama sering berkata “hati-hati anjing, mereka suka makan tulang “. Sambil berkata demikian mama akan memastikan dengan bahasa tubuh dan raut wajahnya bahwa tulang yang dimaksud adalah tulang-tulang yang menonjol di tubuh saya. Saya takut pada kenyataan tentang anjing itu karena badan saya yang kecil dan kurus dibadingkan dengan anak-anak lain yang seusia. Dengan berkata demikian mama berharap dua hal: saya tidak akan bermain jauh dari rumah dan saya akan makan lebih banyak lagi.

Acara makan adalah kegiatan yang paling tidak saya sukai waktu itu. Seingat saya, terkadang harus terjadi tawar menawar harga berapa saya harus dibayar untuk sepiring nasi. Dan mengenai anjing, saya pernah terbirit-birit dikejar seekor anjing, membuat perkataan mama selalu menjadi ancaman. Namun saat itu, kebahagiaan karena ulang tahun yang akan dirayakan membuat saya berani melewati gang-gang yang terkenal banyak anjing galaknya. Di kota kelahiran saya, anjing adalah salah satu hewan favorit untuk dipelihara. Biasanya mereka dijadikan penjaga rumah untuk bulan Januari hingga November dan berada di atas meja untuk disantap pada bulan Desember saat Natal tiba.

Sesampai di Toko ABC saya melompat dan mencari encik penjual, tapi tak peduli berapa kali sudah saya mengulang pesan mama, saya lupa apakah yang dikatakannya “pita satu setengah meter atau satu meter setengah”. Saya belum tahu manakan yang lebih benar dari kedua istilah tersebut. Untung saya si encik mengerti maksud saya, walaupun saya tidak yakin benar.

Diperjalanan pulang saya memandang pita merah muda tersebut dengan takjub. Maklum hari ini bukan saja hari pertama ulang tahun saya akan dirayakan tapi juga hari pertama rambut saya akan diikat. Iya benar, seingat saya belum belum pernah rambut saya diikat atau dikucir sebelumnya bukan karena tidak ada pita tapi karena saya tidak berambut. Setidaknya sampai usia lima tahun saat itu, rambut saya masih tipis dan jarang-jarang tumbuhnya. Tidak heran kalau mama menyebut saya “gadis tujuh rambut delapan kutu” artinya lebih banyak kutunya daripada rambut. Dan hari ini pita merah muda ini akan menjadi saksi bahwa saya benar-benar telah beranjak dewasa dan pantas untuk dikucir.

O ya, mama juga telah meminjam kamera untuk mengabadikan moment bersejarah tersebut. Saya membayangkan wajah saya di foto dengan memakai pita tersebut. Pada jaman itu belum ada foto digital, jadi harus menunggu foto dicuci baru bisa melihat hasilnya. Menjadi ‘gadis’ dan ‘dewasa’ adalah dua kata penting . Sebelumnya di dalam foto-foto masa kecil saya, orang akan susah membedakan apakah saya anak cowok atau cewek, tapi dengan rambut yang diikat menjadi dua ditambah pita berwarna merah muda tentu tidak ada yang akan salah kaprah.

Acara ulang tahun berlangsung indah walau tidak meriah. Undangannya tidak banyak kok tapi sangat berkesan, karena itulah perayaan pertama dan terkahir ulang tahun masa kanak-kanak. Tahun-tahun berikutnya saya berpikir, jika seorang hanya merayakan ulang tahun sekali seumur hidup bukankan seharusnya diadakan pada saat ia berusia tujuh belas bukan lima!. Tapi saya tidak pernah menyesal.

Tags:

2 Responses to “Pita Merah Muda”

  1. Kalau tidak salah ingat, ulang tahun saya juga cuma dirayakan sekali. Hanya mengundang saudara dekat saja. Dan itu juga tidak pada ulang tahun ke-17. (Saya masih belum paham, mengapa usia tujuh belas tahun dianggap sebagai masa-masa yang paling istimewa, ya? Sampai ada istilah “sweet seventeen” segala.) Sayang, waktu itu tidak ada acara foto-fotoan. Hadiahnya waktu itu tas berkain jins yang karena kegedean kalau kupakai ke sekolah, jadi saya relakan untuk dipakai abangku.

    Yeah, mengenang masa lalu tentu menyenangkan. Jadi pengen tahu nih, kok foto perayaannya tidak dipasang saja untuk menghias tulisan di atas?

  2. HA..HA..HA.. fotonya ketinggalan di kampung.

Leave a Reply

Bluehost.com
BlueHost.com

[an error occurred while processing this directive]


© 2003-2009 BlueHost.Com. Toll Free (888) 401-HOST(4678)