Nancy Dinar on November 16th, 2007

Petama kali saya mengenal makhluk yang bernama komputer yaitu pada awal tahun 1990an. Waktu itu operating systemnya masih memakai MS DOS. Apa yang bisa saya lakukan dengan komputer itu pun hanya sebatas mengetik tugas-tugas sekolah, sedangkan hiburan yang ada paling banter hanya bermain tetris dan solitaire.

Sekarang tujuhbelas tahun kemudian, apapun dapat saya lakukan di depan komputer. Membaca berita, Alkitab, renungan pagi; mendengar khotbah, music, menonton film; chatting dengan teman, bersosialisasi, membangun komuniti; conference, sekolah, belajar, main game dan masih banyak lagi. Bahkan kalo malas keluar rumah shopping online juga jadi pilihan. “The world is on your fingertips”, begitu istilahnya. Padahal dibanding dengan tech-savvy user, saya masih tergolong kaum yang “gaptek” gagap teknologi.

Saat ini hampir setiap orang terdaftar pada satu atau lebih situs komuniti seperti friendster, myspace, cyworld, facebook, segi3 ( baru khusus buat orang Indonesia, bantu promosi); sekedar jadi anggota mailing list seperti, yahoogroups, googlegroops; atau ngeblog gratis di mutiply, blogspot, blogger, wordpress dan masih banyak lagi (gak tau semua).

Bukan hanya orang dewasa dan kaum muda saja yang gandrung dengan teknologi internet , tapi sampai ke remaja dan anak-anak bahkan bayi pun sudah di expose dengan dunia maya ini. Di Korea 90% pemuda remajanya menjadi anggota situs komuniti Cyworld (sumber: wikipedia). America punya Myspace dan di Belgia ada Cyberspace yang saat ini telah memiliki 12.000 anggota bayi yang baru lahir dan janin yang masih dalam perut (sumber: the Korea Times, 11/14). Jadi jangan heran kalau di situs ini foto profile anggotanya berupa gambar sonogram.

Dengan adanya gaya hidup seperti ini terbentuklah suatu generasi baru yang benar-benar beda dengan generasi sebelumnya. Mereka dikenal karena early exposure terhadap komputer dan internet. Generasi ini disebut Generasi Z, yaitu anak-anak yang lahir sesudah tahun 1996 dari orang tua yang lahir 1965-1985 (Generasi X), ciri khasnya adalah kedekatannya dengan sosialisasi ala dunia maya dan semakin jauh dengan sosialisasi dunia nyata

Di Amerika sudah sangat lumrah jika gereja punya website yang bisa broadcast ibadah minggu dan berbagai fasilitas lainnya. Demikian juga di Korea, rata-rata gereja yang besar memiliki internet dan TV broadcasting. Ada banyak virtual congregation atau jemaat yang enggan ke gereja tapi bisa mau mengikuti ibadah dari rumah masing-masing. Jeleknya, yaitu jemaat yang menjadikan internet gereja seperti belanja di online shopping: suka beli; tidak suka cari yang lain. Semuannya hanya dengan fingertips dan remote control.

Bagi saya, website gereja yang lebih tech-trendy dan tech-savvy bukan sebagai pengganti pekumpulan saudara seiman di rumah Tuhan. Namun, ini sebagai jembatan untuk menjangkau mereka yang tidak terjangkau pada ibadah minggu. Oleh karena itu, jadi orang Kristen jangan ketinggalan, gaptek (seperti saya) atau “butek” buta teknologi (yang ini parah deh), paling nggak bisa familiar dengan internet untuk memetik berbagai manfaat darinya. Kita juga harus memikirkan bagaimana mejangkau Generasi Z atau kalau tidak mereka akan terhilang selamanya di dunia maya tanpa pernah menginjak lantai gereja.

Tags: , ,

6 Responses to “Gereja dan Internet”

  1. Allow Ibu Nancy,

    salam kenal…

    Ternyata ada Indonesian Christian Blogger juga nih ^_^

    Nice blog, Ibu !

    Saya blogroll ya ^_^

    Share the Gospel via the net ;-)

    GBU

  2. Thank you Tammy,
    I’ve visited ur bolg. You have a good site and I learned something from u since I am a new blooger on the block. I changed my blogroll categories in order to have more links and accomodate blogger friends. See U.

  3. Saya kira situs gereja yang baik tidak hanya menjadi sarana pemersatu dan komunikasi antarjemaatnya saja, tapi juga yang bisa merangkul semua orang percaya. Salah satunya tentu dengan menyediakan beragam bahan yang bisa dinikmati oleh jemaat gereja lain juga. Dengan kata lain, tidak eksklusif. Di Indonesia, ada beberapa situs gereja yang cenderung menggantikan warta jemaat, hanya supaya kelihatan keren. Tapi malah tidak bisa dipelihara dan terbengkalai begitu saja, lalu tenggelam.

    Karena sempat ditugaskan mengulas situs, saya malah menemukan situs yang menarik, yang rasanya cocok untuk menjangkau Generasi Z tersebut. Coba deh kunjungi situs ini: Dare2Share. Bagian Culture Commision-nya bagus. Cuma mungkin perlu disesuaikan karena lebih kena ke budaya Amerika.

  4. Benar kata kamu Raka, tapi apa yagn saya tulis sebenarnya ada pada konteks orang-orang Korea yang memilih-milih Broadcasting Gereja sesuai dengan seleranya. Kalau suatu hari ia mendengar khotbah tentang pengampunan, dan hatinya tidak siap untuk mengampuni dia pindah ke chanel yang lain. Jadinya kan nggak bisa dewasa rohani.

    Ya, itu karena menjamurnya gereja yang memiliki Internet dan TV broadcastingnya (di Korea). Di sisi lain banyak keuntungannya seperti sarana untuk menjangkau orang, menjadi media infomasi dan komunikasi, media untuk interaksi komunitas gereja, menjadi resources renungan dan khotbah dll(seperti yang sudah kamu kemukakan). Tapi dilain pihak sarana itu juga menjadikan orang-orang Kristen manja dan milih-milih.

    Oya, terima kasih ya untuk situs rujukannya. Ngomong2 saya pernah beberpa kali submit situs ke sabda tapi gak dimuat. What’s wrong?

  5. Tapi dilain pihak sarana itu juga menjadikan orang-orang Kristen manja dan milih-milih.

    Iya juga, ya? Sebenarnya, waktu pertama membaca judul tulisan di atas, yang langsung terlintas di benak saya adalah gereja virtual dalam arti sebenarnya. Kalau dipikir-pikir, akses internet di Korea kan jahu lebih kencang daripada di Indonesia. Coba saja kalau sebuah situs menampilkan ibadah secara virtual. Pendetanya cukup berkhotbah dari kantor gerejanya, demikian pula musisinya, sedangkan jemaatnya tinggal mengakses internet dari rumahnya saja. Lalu agar terlihat seperti persekutuan, masing-masing memakai fasilitas kamera web.

    Konsep yang rasanya akan mengundang kontroversi. Kalau sudah begitu orang tidak akan lagi datang ke gereja. Lalu ramai-ramailah orang akan memberi definisi baru terhadap persekutuan.

    Ngomong2 saya pernah beberpa kali submit situs ke sabda tapi gak dimuat. What’s wrong?

    Hmm, mendaftar untuk publikasi elektronik, maksudnya? Kalau boleh tahu mendaftar apa saja, ya? Silakan hubungi saya lewat e-mail. Nanti Senin — kami libur Sabtu dan Minggu — akan saya minta teman saya mendaftarkan publikasi yang dimaksud.

    Omong-omong soal theme, saya baru belajar sesuatu dari teman saya. Karena sifatnya blog pribadi, bukan yayasan, ia menyarankan saya untuk tidak terlalu sering ganti theme karena cenderung tidak menunjukkan kepribadian. (Jadi ingat, kemarin dengan yang sekarang sudah yang keempat.) Jadi, theme Natal itu cuma untuk Desember saja deh. (Masih bingung untuk memilih theme yang lebih nyaman.) Terima kasih sudah sering berkunjung. Tuhan memberkati.

  6. Tidak Ada Unsur Tuhan dalam Yesus

    Trinitas tuhan itu 3 (tiga). Ada yang menafsirkan tuhan itu tiga tapi dalam satu oknum. Jadi Anak Tuhan (Yesus), Tuhan Bapa, Roh kudus adalah tiga nama dalam satu oknum Yesus.

    Menurut Islam tidak ada unsur ketuhanan dalam Yesus. Allah adalah oknum / zat terpisah dari fisik Yesus.

    Bukti Allah adalah zat terpisah?

    Dalam Injil waktu disalib Yesus memanggil-manggil “eli-eli lama sabakhtani .. “Tuhan tuhan jangan tinggalkan aku”.

    Jadi Tuhan Allah adalah oknum terpisah dari tubuh Yesus yang manusia.

    Juga pada ayat lainnya menunjukkan bahwa Tuhan Allah adalah unsur terpisah diluar diri Yesus.

    Lalu yesus menengadah keatas (langit) dan berdoa “Bapa, Aku mengucap sukur kepadamu karena engkau telah mendengarkan Aku,…. Engkaulah yang mengutus Aku. (Yohanes 11:41:42).

    Pada waktu itu datanglah Yesus dan Nazaret di Tanah Galilea dan ia dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes. Pada Saat Ia keluar dari air, ia melihat langit terbuka dan Roh seperi burung merpati turun ke atas Nya. lalu terdengarlah suara dari sorga: “Engkaulah Anakku yang kukasihi kepadamulah aku berkenan.”(Markus 1: 9-11).

    ***

    Menurut Injil Yesus pun sebagai manusia bukan kelas 1 tapi manusia kelas 2, bukan manusia pilihan.

    Bukti yesus bukan manusia pilihan

    Yesus merasa lapar. Dari jauh melihat pohon Ara yang berdaun, Yesus mendekatinya barangkali saja ia menemukan buahnya, tapi ia tidak menemukan buahnya hanya daunnya saja lha wong bukan musim Pohon Ara berbuah. Maka kata Yesus (marah)”jangan lagi seorang pun makan buahmu!” (Matius 11:12-14).

    Suatu ketika ketika yesus melewati pohon Ara itu lagi Pohon itu sudah kering sampai keakarnya…. Petrus nyelutuk “Rabi, lihatlah Pohon yang kaukutuk sudah kering” (Matius 11:20-21)

    Perlu dicatat pertama,

    Yesus mendatangi pohon ara yang tidak berbuah karena bukan musimnya.

    Yesus tidak memahami ilmu botani ilmu pertanian yang sederhana tentang kapan pohon berbuah. Padahal kapan pohon berbuah petani yang tidak sekolah SD pun tahu.

    Masa sih Yesus kalah sama pengetahuan petani yang tidak lulus SD yang bukan Anak Tuhan.

    Jadi dapat disimpulkan Yesus bodoh.

    Kedua,

    Yesus mendoakan supaya pohon itu bernasib jelek. padahal pohon itu tidak bersalah. Akhlak yesus tidak mulia, pohon yang tidak bersalah ia kutuk hingga mati kering.

    Dapat disimpulkan Yesus berakhlak rendah.

    Ini adalah bukti bahwa jangankan unsur Tuhan lha wong unsur manusia pada Yesus (menurut Al Kitab) adalah bukan kelas satu bukan manusia pilihan.

    Disebutkan juga bahwa Yesus peminum anggur (arak).

    “Yohanes Pembaptis tidak makan roti dan tidak minum anggur (arak) tapi anak manusia (Yesus) makan (roti) dan minum (anggur), dan kamu berkata lihatlah Yesus seorang pelahap (makannya rakus) dan peminum sahabat pemungut cukai dan orang berdosa (Lukas 7:34).”

    Jadi maksud kata Aku dan Bapa satu atau Bapa dalam aku harus diartikan aku (manusia) dan bapa (tuhan) adalah satu tujuan yaitu menegakan kebenaran dimuka bumi.

    Sekiranya Oknum Tuhan menyatu dalam diri Yesus, maka ketika Yesus mati pada jam 3 (tiga) sore berarti saat itu didunia tidak ada Tuhan.

    Ini kan tidak bisa diterima secara logis bahwa Tuhan pernah mati, meskipun mati sementara.

    Yesus sekarat dan matilah Yesus (Markus 15:37).

    Mereka sampai kepada yesus dan melihat yesus sudah mati (Yohanes 19:33).

    Yesus sendiri tidak pernah menganjurkan memanggilnya dengan julukan Tuhan.

    “Bukan setiap orang yang memanggilku Tuhan Tuhan akan masuk kedalam surga melainkan dia yang melakukan kehendak Bapakku di Surga (Hukum Allah dalam Taurat). (Matius 7:21).

    +++

    Bagaimana kalau Tuhan itu Tiga tapi terpisah?

    Maksud Anda Tiga oknum Tiga Tuhan yang terpisah seperti di bawah:

    1.

    Trinitas dari India : Brahma-Syiwa-Wisnu
    2.

    Trinitas dari Mesir : Iziris-Auzuris-Huris
    3.

    Trinitas dari Yunani : Zeus-Poseidon-Pedos
    4.

    Trinitas dari Romawi : Jupiter-Neptune-Pluton

    Itu adalah tidak bisa karena Yesus pernah bilang Tuhan itu Satu bukan Tiga.

    Hukum yang utama adalah Tuhan Allah itu Satu (Markus 12:28-33)

    +++

    Quran Tentang Trinitas dan Anak Tuhan

    Sesungguhnya kafir lah orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu oknum dari yang tiga. Padahal Allah hanya Satu! (Quran Maidah : 73)

    Dan mereka berkata “Allah punya Anak”
    sesungguhnya kamu yang berkata demikian telah mendatangkan sesuatu hal yang sangat ngawur, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu dan bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh karena (mereka) telah menuduh Allah punya Anak, adalah hal aneh kan bahwa Allah punya anak”
    (Quran Surat Bunda Maria : 90).

    Orang-orang yahudi berkata “Uzair (Ezra) itu anak allah dan orang nasrani berkata “almasih (kristus) anak allah” demikian ucapan mereka meniru omongan orang-orang kafir sebelumnya. Allah pasti mebinasakannya, bagaimana mereka dapat berpaling?. (Quran surat Taubah :30)

Leave a Reply