Nancy Dinar on November 14th, 2007

Pada akhir Perang Dunia II seorang pemuda yang telah selesai bertugas melayani negaranya di medan perang menelpon orang tuanya. Ia berkata bahwa ia akan pulang dengan seorang teman. “Tapi Ma” katanya, “Teman saya ini cacat. Dia luka parah. Dia hanya punya satu tangan, satu kaki dan satu mata. Jadi saya pikir ia sebaiknya tinggal dengan kita” Sejenak hening. Tidak ada jawaban. Namun akhirnya sang ibu berkata “Baiklah, dia boleh datang dan tinggal di rumah kita sebentar saja”. Dari keraguan suara ibunya pemuda itu menyadari bahwa mereka sebenarnnya tidak ingin dibebani oleh orang cacat untuk waktu yang lama.

Dua hari kemudian orang tua tersebut menerima telegram yang mengabarkan bahwa anak mereka mati bunuh diri dengan melompat dari kamar hotel. Pada waktu mereka menerima mayat anak kesayangan mereka tersebut, ia hanya memiliki satu tangan, satu kaki, dan satu mata.

Orang tua tersebut tentunya sangat menyesal. “Ah seandainya saya tahu….”

Pada saat Yesus datang kedua kali ketika kita berada di penghakiman terakhir, akan banyak orang yang akan menyesal dan berkata “Ah seandainya saya tahu…”

Seaindainya saya tahu ada gelandangan yang butuh tempat tinggal .

Seandainya saya tahu ada pengemis yang butuh makanan

Seandainya saya tahu ada orang sakit yang butuh kunjungan

Seandainya saya tahu ada orang miskin yang butuh pakaian

Seandainya saya tahu bahwa membantu orang kecil dan hina berarti saya melakukannya untuk Tuhan. Seandainya saya tahu, tentunya saya akan masuk ke dalam Surga bersama-sama Yesus.

Namun sekarang semua terlambat. Keputusan sudah di buat. Dan keputusan itu di buat oleh Raja segala Raja, Hakim yang Agung. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” (Mat 25:44 - 26:1)

Tags:

Leave a Reply

Related Posts from the Past: