Nancy Dinar on November 12th, 2007

[youtube QNfkaH6rMqc]

Musim gugur (autumn) selalu indah. Bukan hanya karena daun-daun yang berubah warna menjadi merah, kuning dan coklat emas bak lukisan masterpiece, tapi juga cuaca yang sejuk kadang dingin yang kontras dengan teriknya musim panas. Seluruh element ini seringkali membangkitkan rasa romantisme dalam hati . Tidak heran banyak pasangan yang mengikrarkan cinta mereka atau menikah di musim ini. Ingat film romantis Richard Gere dan Alyssa Milano Autumn in New York yang terkenal dengan setting musim gugur yang mempesona.

Apa sih yang membuat Autumn itu special. Bagi saya yang senang memperhatikan keindahan cipataan Tuhan, melihat sesuatu yang unik dari perubahan daun-daun di musim gugur tersebut. Bukankah keindahan itu menandakan bahwa akhir hidup mereka hampir berakhir. Pada puncaknya, saat daun-daun itu berwarna coklat keemasan berarti tidak lama lagi mereka akan gugur dan jatuh ke bumi.

Daun-daun ini bagi saya seperti hero. Pada waktu mereka dilahirkan, ‘musim semi’ kita sebut, mereka begitu indah dan semarak. Orang-orang merayakannya dengan sukacita dan kegembiraan, menikmati bunga-bunga indah berwarna-warni yang mendahului kelahiran mereka. Setelah itu pada musim panas, daun-daun inilah yang akan menjadi tempat perteduhan bagi kulit yang menderita akibat sengatan matahari. Dan hampir sesaat di penghujung hidup , mereka seakan-akan ingin menampakkan keindahan terbaik sebelum akhirnya jatuh ke tanah, kering dan menyatu dengan bumi membawa kesuburan. Setiap fase hidup mereka berguna dan membawa sukacita.

Suatu hari saya merenung membayangkan apa yang terjadi jika saya menjadi tua dan mendekati ajal? Apakah saya akan menyesali hidup ini dan menyanyikan lagu “Yesterday when I was young”, banyak hal yang seharusnya dapat lakukan. Atau akankah saya bersyukur dan siap menghadap pencipta sambil berkata “I surrender all”. Puas dan bahagia ketika mendengar Sang Master berkata “Marilah kepadaku hai hamba yang baik dan setia ikut dalam kebahagiaan Tuannmu.” (Mat 25:21,23)

Tidak, saya tidak mau menyia-nyiakan masa muda dengan tidak melakukan hal-hal yang tidak berarti. Hidup terlau singkat untuk disia-siakan. Saya percaya Tuhan memiliki banyak hal untuk orang-orang yang ingin hidupnya berguna dan efektif. Selalu ada jalan untuk menjadikan hidup ini lebih indah.

——————————————————————–

Pada waktu engkau lahir semua orang tertawa dan engkau menangis, hiduplah sedemikian rupa sehingga pada waktu engkau meninggal semua orang menangis dan engkau tertawa (Anonim)

Tags:

One Response to “L’Autunno”

Trackbacks/Pingbacks

  1. Hidupku di Korea

Leave a Reply