Nancy Dinar on November 3rd, 2007

“Tiba-tiba aku sadar dan terjaga. Aku tidak pernah menyangka bisa berada di tempat yang seperti ini. Dalam suatu ruangan yang gelap, kotor dan berbau. Aku dapat merasakan suasana yang mencekam dan melumpuhkan sendi-sendi dan ototku. Aku mencoba untuk melangkah, tapi…ups hampir saja! Dapat kurasakan bahwa tempat ini sangat berbahaya. Naluriku mengatakan bahwa ada banyak jebakan yang terpasang.

Aku semakin tidak berdaya. Ingin rasanya cepat keluar dari tempat ini, tapi aku bahkan tidak dapat melihat apa-apa. Aku juga tidak cukup berani untuk melangkah, terpikir satu dua jebakan dapat menghancurkan hidupku. Aku mulai berpikir dan mengingat kembali mengapa aku bisa berada di tempat seperti ini. Tapi sulit untuk membawa ingatanku ke masa lalu. Aku lemas, tenaga terkuras dan susah berkonsentrasi. Mengapa aku berada disini, sendirian, terpojok, ketakutan, terjebak? Dimana teman-teman yang lain? Mengapa mereka tidak bersama dengan aku? Dimana penolongku berada?

Samar-samar ingatanku mulai kembali. Ya, aku ingat bahwa aku telah salah melangkah. Aku salah mengambil jalan. Waktu itu aku terlalu sibuk untuk mendengar dan mengerti instruksi yang diberikan oleh Penolongku. Ada sedikit kekacauan dan keributan disekelilingku yang membuatku sulit mendengar suaranya. Tiba-tiba aku melihat suatu tempat yang indah dan menarik dan aku ingin pergi ke sana. Kemudian aku berjalan. Sayup-sayup aku mendengar suara Penolongku untuk berbalik, tapi aku tidak peduli. Tempat itulah tujuankku, aku ingin berada di sana. Perjalanan yang kami lewati telah membuatku capai dan gerah. Aku tak mengerti mengapat Penolongku tidak mengijinkan aku mendapat sedikit penghiburan. Karena itu akupun terus berjalan….

Dan aku tidak ingat apa-apa lagi, sampai aku terjaga dan mendapati diriku di sini. Sendiri. Ketakutan. Mencekam. Aku mulai merintih dan menangis. Aku kehabisan akal dan tak sanggup menolong dirikku sendiri. Aku tahu banyak musuh yang sedang mengincar ku. Aku yakin bahwa Penolongku akan sanggup membereskan semua ini dan mengeluarkan aku dari sini. Tapi aku tidak tahu dimana dia berada sekarang, aku pasti telah melangkah terlalu jauh dari dia.

Seandainya aku taat dan mendengarkannya, aku tidak akan berada di tempat ini. Terbayang waktu-waktu indah bersama dia. Bercanda dan berbagi. Dia penuh kasih dan selalu siap menolong. Karena itu aku menyebutnya Penolong. Berjalan bersama dia adalah masa-masa yang paling manis. Aku tidak perlu khawatir dengan apapun juga karena ia selalu menyediakan. Dan aku tak pernah takut dengan musuh siapapun karena dia selalu siap membelaku. Yang perlu aku lakukan adalah berjalan mengikutinya, mendengar instruksi dan taat. Dia berjanji akan membawaku ke suatu tempat yang paling indah. Tidak mudah ke sana. Tapi ia sudah melewati jalan itu dan tahu apa yang harus ia lakukan. Saat ini aku merasa kehilangan dia. Aku merindukan dan membutuhkan dia. Dimana dia berada sekarang?

Tiba-tiba aku melihat suatu sinar, makin lama makin terang. Mataku tidak sanggup melihatnya lagi. Kegelapan membuat mataku tidak terbiasa dengan terang yang menyilaukan ini.Segera aku mengenali bahwa sinar itu berasal dari Penolongku yang datang mencari aku.

Keadaan menjadi terang benderang sehingga aku dapat melihat betapa kotor dan berbahayanya tempat ini. Aku pun dapat melihat diriku sendiri yang kotor dan penuh luka yang sekarang mulai terasa sakit dan perih. Aku pasti telah melewati tempat-tempat yang sangat berbahaya. Aku tidak berani menatap apalagi berbicara padaNya.

Kemudian aku mendengar dia berkata “Diam di tempat, aku akan mengeluarkan engkau dari sini setelah menyingkirkan semua jebakan itu” Dan akupun diam menanti sambil melihat dia bekerja. Dia mulai mengangkat setiap jebakan berbahaya. Aahh, dia selalu tahu apa yang harus dilakukan. Membutuhkan waktu yang tidak sedikit dan tidak mudah untuk menyingkirkan semua itu. Setelah itu dia mulai membersihkan tempat yang kotor itu. Akupun bisa melihat tangan dan tubuhnya yang terluka karena pekerjaan itu. Keringatnya bercucuran menandakan dia sedang melakukan pekerjaan yang sangat berat. Sampai semuanya beres dan dia berkata “Sudah selesai, marilah kepadaku dan aku akan menunjukkan jalan yang harus kamu lalui”

Akupun datang padanya denga penuh rindu. Berharap hari-hari yang pernah kujalani bersama dia dapat kembali.”

Tags:

Leave a Reply

Related Posts from the Past: