Nancy Dinar on November 2nd, 2007

Jari-jari saya menari di atas keyboard komputer. Meskipun saya bukan pengetik yang handal namun saya sudah sangat familiar dengan posisi setiap huruf. Refleks saya sudah cukup terlatih. Memang sesekali harus melirik juga karena selama puluhan tahun saya telah mengetik dengan cara yang salah. Sekarang saya sedang melatih diri untuk mengetik sesuai dengan kaidah sepuluh jari. Tidak mudah. Butuh disiplin dan penyangkalan diri untuk keluar dari comfrot zone selama itu.

Apa yang saya tahu namun tidak saya sadari adalah di setiap tuts komputer saya, terutama pada bagian alphabet tediri dari dua jenis huruf. Yang pertama alphabet Latin (ABC) dan kedua Hangul (huruf Korea). Huruf hangul ada disana sejak hari pertama saya membeli komputer ini. Namun, hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun, saya tidak pernah menggunakan Hangul tersebut. Mata saya sudah terbiasa mengabaikan keberadaan mereka padahal mereka mengambil tempat hampir 50% dari keyboard komputer saya. Ukurannya pun sebesar alphabet Latin. Saya tidak terpengaruh lagi dengan adanya huruf bulat dan pagar tersebut (ciri khas Hangul adalah bulat dan garis).

Sampai tiba saatnya saya perlu untuk mengetik dalam Hangul. Butuh waktu yang tidak sedikit bagi saya untuk mencari-cari keberadaan huruf demi huruf. Bukan hanya karena saya tidak familiar dengan posisi mereka, namun karena saya juga harus berkonsentrasi untuk tidak fokus terhadap alphabet Latin. Saya harus mengosongkan kepala, memilah-milah huruf, menahan refleks dan akhirnya mencari huruf yang saya perlu. Lima menit telah berlalu sebelum akhirnya saya selesai mengetik dua kata Hangul.

Tapi situasi ini tidak terjadi pada semua orang. Teman-teman Korea saya dapat mengetik dalam Hangul dan Latin sama cepatnya. Mereka telah terlatih untuk itu. Saya tidak.

Pagi ini saya merenung tentang kekurangan saya yang satu ini. Bukankah cara yang sama dipakai sebagian orang memandang dunia ini. Dunia tempat kita tinggal ini terdiri dari multi facet. Dalam satu situasi ada berbagai cara pandang. Orang bijak dapat melihat dari berbagai arah, sedangkan yang tidak hanya melihat satu arah. Ada kata yang tepat bagi orang-orang seperti ini: Picik. Ya, orang picik yang melihat hanya dari satu sisi.

Beberapa waktu yang lalu saya menonton acara “60 minutes” yang mewawancarai Joel Osteen (download from Youtube). Sebagai pemimpin gereja terbesar di Amerika, Joel Osteen dipandang sebagian kalangan sebagai terlalu muda tidak berpengalaman, tidak punya basic Theology, khotbah tidak berbobot, bahkan heretic . Mendengar kritik tentang dirinya, Joel Osteen menangis di depan kamera katanya, “Ratusan orang datang pada saya dan berkata, Joel, you’ve changed my life“. Kenyataannya, puluhan ribu orang ke gereja untuk mendengar ia berkhotbah, jutaan lainnya mendengar lewat TV dan internet. Apa yang salah jika kemudian mereka berubah?

Saya sedih jika ada sesama hamba Tuhan, pekerja ladang Tuhan saling begunjing dan menghakimi. Bukankah dari buahnya kita mengenal pohonnya. Darimana datang pertumbuhan yang demikian pesat, jika bukanTuhan? Hal yang sama dialami oleh gereja terbesar di dunia Yoido Full Gospel Korea. Beberapa tahun yang lalu Dr. Cho di-excomunicate karena pengajarannya dianggap tidak sejalan dengan mainstream Kristen Korea. Kalangan yang meng-opose Dr. Cho sama sekali tidak melihat atau mengkaji mengapa ada orang-orang datang berbondong-bondong ingin mendengar khotbah dan pengajarannya.

Bagi orang picik: fakta tidak penting.

Bagi orang picik menolak perbedaan, mengkritik, mencela, seakan-akan dapat dilakukan dengan refleks.

Ironinya, kebanyakan orang picik bukanlah orang bodoh. Kadang justru mereka terlalu berpendidikan dengan gelar berderet. Beda mereka dari orang bodoh adalah tingkat pengetahuannya yang tinggi . Persamaannya adalah pandangan mereka yang sempit!

Mereka telah terbiasa dengan cara pandang yang salah, melihat dari sisi yang sering mereka pakai. Seringkali cara pandang orang berasal dari kebiasaan-lebiasaan yang telah tebentuk sekian lama.Untuk melihat dari sudut pandang sebaliknya butuh usaha, keinginan dan ketetapan hati. Menjadi berbeda itu biasa. Menerima perbedaan itu yang luar biasa. Perlu latihan untuk bisa melihat dari sisi yang lain apalagi itu bukan cara kita.

Note:

Inilah salah satu sebab mengapa orang dewasa perlu Belajar Dari Anak Kecil. Anak-anak tidak memiliki presuposisi, tidak mengenal legalitas dan tidak dibatasi oleh aturan yang baku. Anak-anak yang dianggap orang dewasa bodoh justru memiliki kebebasan untuk menilai, mencipta, dan berkreasi.

Tags:

One Response to “Melatih Cara Pandang”

  1. kayak nya di gereja butuh kursus untuk belajar mengetik hangul..hehehe..
    thanks ya kak buat renungannya

Leave a Reply