Pertama kali mengenal pasangan ini justru pada saat yang paling menyedihkan. Ketika itu, saya mendapat telpon dari kawan suami bahwa ada sepasang orang Indonesia yang kehilangan bayinya. Mereka sedang di rumah sakit dan menanti tim dokter yang akan membakar (kremasi) tubuh mungil berusia enam minggu tersebut.
Sehari sebelumnya, saya sendiri baru saja kehilangan calon bayi pertama yang berumur 10 minggu karena keguguran. Masih dalam kondisi lemah, namun ada keinginan untuk membantu pasangan tersebut. Pada saat kami bertemu dengan mereka, sang ibu sedang meraung-raung di lantai karena berduka. Ia menangis dan memanggil-manggil anaknya. “Nak, jangan tinggalkan mama, nak bawa mama ikut nak…mama saja yang mati… gimana mama bisa hidup begini??” Rasa kehilangan saya sepertinya tidak ada apa-apanya dengan penderitaan ibu ini.
Sebut nama mereka Bapak dan Ibu Agus. Sang suami guru Matematika, sang istri guru Fisika. Bertahun-tahun mereka mengabdi kepada Negara sebagai guru SMP, tapi akhirnya memutuskan untuk mengadu nasib sebagai pekerja illegal di Korea. “Gajinya kecil bu, kami bekerja sudah belasan tahun tidak punya apa-apa” kata Ibu Agus. “Saya mau ke Amerika dan sudah dapat visa 5 tahun, tapi suami saya ditolak, kami akhirnya memilih Korea” begitu cerita mereka ketika saya bertanya mengapa mereka ada disini.
Bertahun-tahun sudah mereka menikah tanpa dikaruniai seorang anak pun. Dan pada saat usia sang istri sudah tidak muda lagi, lahirlah anak semata wayang ini. Namun, karena situasi Korea Selatan yang terlalu keras buat pekerja-pekeja illegal membuat anak ini tidak bisa bertahan. Cuaca bulan January yang sangat dingin ditambah dengan seorang ibu yang sendirian dan tidak berpengalaman ternyata membawa maut. Bayi itu tubuhnya terlalu lemah untuk menelan susu yang diberikan dengan penuh kasih sayang oleh ibunya. Dokter mengatakan bahwa paru-parunya dipenuhi air susu, itulah penyebab kematiannya.
Bulan-bulan berikutnya saya mengenal pasangannya itu lebih dekat walau jarang bertemu. Saya melihat mereka tabah dan kuat seperti sudah melupakan kejadian tersebut. Mereka selalu kelihatan berduaan dan mesra. Teman-teman berkata, mereka selalu bergandengan tangan kalau berjalan.
Tepat satu tahun kemudian, saya melahirkan anak laki-laki di hari yang sama dengan kelahiran anak mereka. Kami seperti ada kontak perasaan karena kebetulan-kebetulan ini.
Bapak dan Ibu Agus bercerita bagaimana beratnya pekerjaan mereka. Tugas mereka adalah mencuci mobil-mobil mewah dengan manual di lapangan terbuka. Membersihkan, men-steam, me-vaccum, menyabun, melap, dll. “Kalau musim dingin bu, aduh minta ampun deh. Sementara melap disini disebelah sana sudah membeku, jadi saya harus cepat-cepat. Kalau jadi es, mobilnya bisa tergores. Tubuh dan tangan sering terasa kaku dan mati rasa” cerita Ibu Agus. Saya mendengarkan sambil melirik ke dua belah tangannya. Ya, kedua belah tangan yang mungil tapi kasar itu adalah bukti kebenaran ceritanya. Musim dingin di Korea bisa mencapai minus 10-20 derajat celcius.
Untungnya, hari-hari berat mereka kemudian terisi dengan kehadiran dua ekor anjing. Mereka sangat mengasihi kedua anjing tersebut. Setiap pagi waktu berangkat kerja, anjing-anjing itu dengan setia ikut menemani. Pada saat mereka bekerja, kedua makhluk itu akan diikat tidak begitu jauh dari pandangan. Jalinan hati yang dalam akhirnya tertanam diantara mereka. Ibu Agus seakan-akan mendapatkan tempat untuk mencurahkan naluri dan kasih keibuannya.
Setelah beberapa tahun bekerja mereka memutuskan untuk pulang. “Enough is enough”, begitu kira-kira perasaan mereka bekerja di Korea. Namun, mereka tidak ingin meninggalkan kedua anjing kesayangannya ini. Dan karena untuk mengurus ijin membawa binatang peliharaan tidak mudah, maka Pak Agus pulang lebih dahulu untuk mengurus surat-suratnya.
Selama kepergian suaminya, Ibu Agus benar-benar sendiri. Tidak ada kawan lagi untuk bercakap-cakap. Ia tidak mengerti bahasa Korea. Ia tidak bisa berkomunikasi dengan rekan sekerja. Kedua ekor anjing inilah tempat ia mencurahkan isi hatinya. Mereka seakan mengerti Ibu Agus yang berbicara bahasa Indonesia becampur logat Jawa. Mereka seperti bisa menghibur rasa kesepian dan beban berat yang harus ditanggung Ibu Agus. Dan bagi Ibu Agus mereka adalah segala-galanya.
Ternyata waktu, usaha, biaya yang dibutuhkan untuk membawa pulang binatang peliharaan tidak mudah. Mereka mengeluarkan uang tidak sedikit untuk pengurusan surat ijin belum lagi dengan tekanan batin yang semakin berat ditanggung Ibu Agus semenjak kepergian suaminya. Diam-diam salah satu anjingnya dijual majikannya tanpa sepengetahuannya. Kejadian ini menggores luka yang sangat dalam dan kemarahan yang tak kunjung padam dihatinya. Saya tidak pernah melihat Ibu Agus menderita seperti itu bahkan pada waktu ia kehilangan bayinya.
Lewat setahun usaha mereka untuk membawa pulang anjingnya akhirnya berhasil. Surat ijinnya keluar. Entah berapa uang dan air mata yang dikorbankan. Dan akhirnya Ibu Agus pulang ke Tanah Air dengan seekor anjing yang telah dianggap sebagai anaknya sendiri.
Tags: Inspirational



Leave a Reply