Nancy Dinar on October 30th, 2007

Anak saya Joel yang berusia tiga setengah tahun mengisi hari-harinya dengan menggambar dan bermain. Pertama kali memegang pencil dan buku gambar ia hanya bisa mencoret-coret yang bagi kami orang dewasa tampak seperti benang kusut tanpa makna. Tapi tidak bagi Joel, semua ada artinya. Jika saya menunjuk suatu garis tidak beraturan dan bertanya “Ini gambar apa?” Dia dengan yakin dan percaya diri akan menjawab “Gambar pesawat!” Dengan sedikit mengernyitkan dahi dalam hati saya berpikir “Apa persamaan antara coretan-coretan itu dengan pesawat?”

Namun itu beberapa bulan yang lalu. Saat ini Joel sudah lebih mahir mencoret-coret, menggambar atau menyusun balok mainannya. Dengan imajinasinya ia bisa menggambar apa saja dan membangun apa saja. Tentu saja semua yang belum pernah dilihat oleh mata atau timbul dalam hati orang dewasa. Dengan seketika ia bisa mencoret atau menggambar apa yang sedang dilihatnya di TV. Sesuatu membutuhkan waktu berjam-jam bagi orang dewasa untuk mengolah, menggambar atau menyusun dapat dilakukannya dalam hitungan detik. Kami sebagai orang tua hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan berguman “Dapat ide dari mana dia?”

Seringkali orang dewasa harus belajar dari anak anak kecil. Mereka tidak dibatasai dengan presuposisi, legalitas atau hal yang baku. Mereka bisa membangun apartemen 12 tingkat tanpa fondasi, anjing berkaki tiga, robot bertangan lima, mobil beroda tujuh. Mereka juga bisa menggambar manusia bermata satu, wajah tanpa telinga, ikan yang bisa terbang atau kuda tanpa kepala. Pesawat yang mereka buat bisa berjalan di jalan raya, mobil bisa berjalan di rel dan kereta bisa terbang. Kepolosan telah membuat mereka kreatif dan jenius.

Anak-anak bisa menciptakan apa saja karena mereka tidak tahu aturan-aturan main yang dibuat orang dewasa. Mereka juga belum mengenal batasan dan kaidah yang dibuat oleh institusi-institusi bernama sekolah. Di sekolah ini jenius-jenius kecil kita akan diajar menghitung 1-10 dan membaca A-Z. Mereka kemudian harus menghapal dan mengingat hal-hal yang sudah tertulis. Mereka harus setuju dengan apa yang telah ditetapkan sebagai suara mayoritas. Jika tidak, akan menerima hukuman atau mendapat nilai yang rendah. Inilah yang seringkali menjadi akhir dari penemuan penemuan penting karya Albert Eistein kecil kita.

Bahkan dalam hal Kerajaan Surga Yesus menyuruh kita orang dewasa menyambutnya seperti anak kecil. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barang siapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” (Mark 10:15).Orang dewasa harus mengamati dan belajar dari karakter anak kecil. Dan saya percaya bukan hanya dari kepolosan, keluguan dan kejujuran mereka namun juga dari kretifitas dan kecerdasan mereka yang murni.

———————————————————

Sebuah pencil dan impian dapat membawa Anda ke mana saja. (J. Meyers)

Tags: ,

4 Responses to “Belajar dari Anak Kecil”

  1. *manggut2*

    Setujuu.. seringkali orang dewasa ngerasa mereka lah yg ‘mengajari’ anak kecil padahal lbh sering justru kita yg banyak belajar dr mereka yaa :D

  2. Tapi kadang anak kecil sangat gampang meniru sifat orang dewasa :D bisa jadi orang tuanya sendiri ;)

    Katanya seh begitu.. :D
    btw, nomor rumah ini sudah sukses nempel pada kategori SAHABAT di tempatku, Tante :D

    Makasih sebelumnya..
    Bless u too

  3. Terima kasih Manik, kamu sudah terlebih dulu aku link.

Trackbacks/Pingbacks

  1. I AM A CLAY » Blog Archive » Orang Picik

Leave a Reply